Together but not the same

Together but not the same
Episode 6 : Choice



Ara hanya termenung dikamar itu. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Bahkan air matanya mungkin sudah habis. Mata bengkak dan juga kepala yang sakit. sangat miris.


Ia tidak menyangka Xavier sampai bertindak sejauh ini. Ia berfikir Xavier adalah orang yang sangat baik, namun ternyata itu hanya cover saja. Ia bahkan bisa berubah menjadi sosok yang tak pernah Ara lihat.


Ara melihat jam di atas nakas di samping tempat tidurnya, hari sudah malam. Dan ia sangat lapar. Orang tuanya belum pulang dan bibi We ntah pergi kemana. Ia sendirian dirumah besar itu. Ia kembali memeluk dirinya.


*****


Siang itu disebuah ruangan bernuansa hitam duduk seorang lelaki tampan lalu memberi perintah kepada sekretaris nya.


"Batalkan semua kontrak kerja sama dengan perusahaan Barton. Dan berhenti menyalurkan dana kepada perusaan itu."


"Tapi tuan. Bagaimana jika ayah anda tahu mengenai masalah ini? Tuan besar pasti akan marah besar." Sekretaris sekaligus asisten nya itu hanya bisa menunduk. Ia sangat kenal dengan Tuannya itu. Jika ada yang membuat nya marah. Maka bersiaplah untuk akibatnya.


"Perusahaan ini sudah menjadi milikku. Jadi dia tidak akan bisa ikut campur urusanku. Sekarang kerjakan apa yang aku suruh."


"Baik tuan. Akan saya laksanakan." laki-laki itu pamit undur diri menyisakan seorang lelaki tampan yang hanya menatap jalanan padat dari jendela ruang kerja nya.


"Aku tidak akan pernah melepaskan mu Ara. Kau hanya milikku. Kau yang mengundang sisi gelap ku kembali. Dan jangan salahkan aku jika aku berbuat sampai sejauh ini." Ucap Xavier dengan senyum miring di bibirnya.


*****


Diruang tamu keluarga Barton sudah duduk nyonya besar rumah itu. Dia masih menunggu suaminya, tadi ada telpon masuk dan suaminya itu pergi untuk mengangkat telpon terlebih dahulu.


Tidak lama Anthony datang dengan raut wajah pucat. Mengapa tidak. Tiba-tiba sekretaris nya memberi tahunya jika Perusahaan Baxy membatalkan semua kontrak kerja sama dan juga menarik semua dana yang telah diberikan. Baxy Company merupakan investor terbesar di perusahaannya.


"Apa yang terjadi sayang? Kenapa wajah mu pucat? Apa terjadi sesuatu? Ayo duduklah terlebih dahulu." Tanya Marga khawatir.


"Perusahaan milik Xavier menarik kontrak dan juga dana yang telah mereka berikan. Mereka juga menuntut agar perusahaan kita segera membayar kerugian yang ditimbulkan perusahaan kita. Salah satu staff keuangan perusahaan ternyata sudah menyelewengkan dana proyek dan juga memalsukan laporan tentang proyek itu."


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Xavier orang yang sangat baik. Ia tidak mungkin melakukan itu. Kita harus bicara kepadanya sayang." Marga mengusap lengan suaminya. Ia harus menenangkan suaminya. Ia takut penyakit suami nya akan kambuh jika terus berfikir.


"Aku akan mencoba berbicara dengan Xavier besok. Kau tenang saja sayang. Aku akan segera menyelesaikan masalah ini. Ia sangat mencintai putri kita. Jadi ini tidak akan sesulit itu." Anthony harus menyelesaikan masalah ini segera. Ia tidak ingin istri dan putri nya menderita karena kebangkrutan nya.


Namun tanpa mereka sadari Ara berdiri di tangga rumah itu. Ara mendengar semua percakapan itu. Ia jadi merasa sangat bersalah. Gara-gara dia ayah dan ibunya harus mendapat masalah. Ia harus berfikir sekarang. Xavier sangat licik. Ia pasti akan melakukan segala cara.


"Aku tidak bisa terus berdiam diri. Aku akan pergi ke perusahaan Xavier. Jika perlu aku akan memohon agar ia tidak membatalkan kontrak itu." Ara menghapus air matanya dan segera berlari ke kamarnya. Mengambil tas dan segera pergi.


*****


Ara sampai didepan Baxy Company. gedung bertingkat mewah ini sangat indah. Tapi ia tidak ada waktu untuk mengagumi itu. Sekarang ia harus pergi menemui Xavier.


Ara memasuki lift dan menuju lantai 30. Lantai dimana ruangan Xavier berada. Ia sampai dimeja sekretaris Xavier.


"Apa Xavier ada didalam?"


"Tuan Xavier sedang rapat saat ini nona. Tapi jika nona mau menunggu sebaiknya tunggu di ruangan tuan saja. Mari saya antar." ucap lelaki itu menuntun Ara menuju ruang kerja Xavier.


Aril lalu berlalu pergi dari ruangan itu. Ia harus memberi tahu Tuannya jika nona Ara telah menunggu di ruangannya.


Ara menatap ruangan itu dengan kagum. desain nya sangat sesuai dengan Xavier. Ada jendela kaca besar dibelakang meja kerja itu. Sehingga orang yang berada didalam ruangan ini dapat melihat pemandangan gedung-gedung tinggi dan juga jalan raya dibawah.


Saat Ara tengah mengagumi ruangan itu, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka menampilkan Xavier dengan setelan kemeja yang rapi. Rambut acak-acakan tidak membuat ketampanan nya berkurang sedikitpun.


"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau sudah menentukan pilihan?" ucap Xavier melangkah tegas kearah Ara yang berdiri di samping meja kerjanya.


"Aku ingin bicara berdua denganmu." Ara yang melihat Xavier berjalan kearahnya tiba-tiba merasa gugup sekaligus takut.


"Apa kau sudah tau berita jika perusahaan ayahmu akan bangkrut karena ada penyelewengan dana perusahaan?" Xavier memojokkan Ara ke meja kerjanya, Ia mengurung Ara dengan tangan disisi tubuh Ara.


"Aku tahu kau yang melakukannya Xavier. Hentikan semua itu. Kau tidak bisa melibatkan keluarga ku dalam permasalahan kita." Ujar Ara dengan berusaha tenang.


"Aku sudah katakan padamu sayang." Xavier mengusap rambut halus itu lalu berkata " Kau tidak akan bisa pergi dariku. Kau hanya milikku seorang. Semua yang ada pada dirimu adalah milikku." ucap Xavier sambil menghirup aroma rambut Ara. Hah. Ia benar-benar candu dengan wangi tubuh wanita didepannya ini.


"Kau yang membuat ku ingin pergi darimu Xavier. Kau memperlakukanku dengan kasar. Kau bahkan memperlakukan seperti wanita bayaran mu." Ucap Ara dengan gemetar.


"Aku sudah katakan padamu. Aku paling benci penghianatan Ara. Dan kau sudah memancing emosi ku pada malam itu. Jadi kau tidak bisa menyalahkan ku sepenuhnya." Tekan Xavier. Ia lalu menjauhkan tubuhnya. Mengambil sesuatu dimeja kerjanya.


"Kau harus tanda tangani ini jika kau mau perusahaan keluargamu kembali seperti semula. Tapi jika kau menolak. Kau dan keluarga mu harus siap-siap menghadapi kebangkrutan itu. Dan kau harus ingat Ara. Aku tidak akan pernah membiarkan kalian hidup dengan tenang."


"Aku ingin membaca kontrak itu terlebih dahulu."


Ara membaca kontrak itu dengan seksama. Isi kontrak itu menyebutkan jika ia tidak boleh meninggalkan Xavier sedikitpun. Tidak boleh dekat dengan laki-laki lain. Ia juga harus selalu mendengarkan dan melakukan apapun yang Xavier suruh. Ia juga harus dijaga oleh penjaga yang akan Xavier utus.


Ara membaca kontrak itu dengan miris. Hidupnya akan benar-benar berada ditangan Xavier. Tidak akan ada kebebasan. Tapi ia melakukan semua ini demi keluarganya. Ya. Keluarganya tidak boleh menderita hanya karena dirinya.


"Aku akan menandatangani ini. Tapi kau harus berjanji untuk tidak membatalkan kontrak itu. Kau juga harus berjanji akan membuat perusahaan keluarga ku kembali normal. Kau harus berjanji Xavier." Ucap Ara dengan memohon. Tidak papa ia berkorban. Ia tidak peduli kebebasannya direnggut. Yang ada dipikirannya hanya keluarganya.


"Aku berjanji. kau bisa pegang janjiku."


Ara menandatangani kontrak itu dengan tangan gemetar. Ini memang keputusan yang sulit. Tapi hanya ini jalan yang harus ia tempuh.


Tanpa Ara sadari, Xavier tertawa didalam hati. Ara nya memang bodoh. Seharusnya Ara membaca kontrak itu dengan teliti. Setelah ini Ara akan menjadi miliknya selamanya.


"Aku sudah menandatangani nya. Dan aku harap kau akan menepati janjimu."


Setelah mengatakan itu Ara berlalu pergi. Ia tidak kuat jika harus melihat wajah Xavier yang tanpa merasa bersalah itu. Namun satu hal yang Ara tahu.


Ia telah salah mencintai seorang Xavier.


Xavier melihat pintu yang sudah tertutup itu. Ia lalu duduk di kursi kebanggaan nya. Melihat tanda tangan yang ditorehkan Ara di atas kontrak itu. Setelah ini Xavier akan pastikan hidup Ara tidak akan pernah tenang lagi.