Together but not the same

Together but not the same
Episode 28 : Nauseous



...🍁🍁🍁🍁...


Ara terbangun dengan rasa pening pada kepalanya. Kenapa dirinya sudah berada dikamar mansion Xavier? Seingatnya ia masih tidur didalam pesawat. Ara bahkan tidak sadar telah sampai di New York. Mungkin karena ia terlalu lelah menangis.


Ara lalu berdiri berjalan kearah mandi untuk membersihkan diri. Ara melihat wajahnya di cermin, sangat menyedihkan. Matanya bengkak, lingkaran hitam juga muncul.


Setelah Ara membersihkan diri, ia pun langsung bergegas kebawah untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan.


"Apa Xavier sudah berangkat?" Ara bertanya pada pelayan yang bernama Ina. Ina sedang menyajikan sarapan untuknya.


"Sudah nona. Tuan Xavier berangkat pagi sekali. Tuan juga berpesan agar nona tidak melakukan aktivitas yang berat. Saya permisi nona." Pelayan itu membungkuk lalu pergi dari sana.


Ara hanya diam. Saat Ara baru memakan sarapan itu sesuap, tiba-tiba ia merasa mual yang hebat. Ara segera berlari ke kamar mandi terdekat memuntahkan makanan yang ia makan.


"Huekkk huekkk." Ara menyeka mulutnya. Bau makanan itu sangat tidak sedap.


Ina datang dengan keadaan panik melihat majikannya muntah-muntah setelah memakan masakannya. "Nona kenapa? apa terjadi sesuatu pada nona? Apa makanannya tidak enak nona? saya bisa memasakkan yang lain untuk nona." Ina membantu Ara membersihkan muntahannya.


"Tidak perlu. Aku tidak berselera makan apapun. Bau makanannya sangat tidak enak. Mungkin karena efek hamil. Antar kan saja aku ke kamar."


Ina mengangguk. Membantu Ara berjalan naik ke kamarnya. Setelah muntah itu, Ara menjadi pusing. Ia juga lemas. Ara memejamkan matanya.


Ketika ia mengingat kejadian kemarin hatinya menjadi sakit. Apa setelah bosan nanti Xavier akan meninggalkannya? Atau Xavier hanya menginginkan anaknya saja?


Ara membuang jauh-jauh pikirannya. Ia tidak boleh berpikir terlalu keras. Ara tidak boleh membuat janinnya dalam bahaya.


Ara memejamkan matanya mencoba tidur. Perutnya berbunyi, tapi setiap ia memakan makanan ia akan kembali memuntahkannya.


Ara pun tertidur dengan keadaan lapar.


Sementara di ruangan kantornya Xavier tampak fokus dengan pekerjaannya. Akibat dari liburannya, banyak pekerjaan yang tertunda. Xavier harus menyelesaikan pekerjaannya secepatnya.


Ponselnya berbunyi, ternyata panggilan dari mansion. Xavier mengangkat panggilan itu.


"Halo?"


"Tuan ini saya dari mansion. Nona Ara belum makan apapun karena muntah terus tuan. Setiap nona makan ia akan merasa mual. Saya takut nona akan sakit jika tidak memakan apapun tuan."


Xavier mengerutkan keningnya. Kemarin Ara terlihat baik-baik saja. Apa karena kehamilannya? Anaknya itu benar-benar membuat Ara kesusahan.


"Sekarang dimana dia?" Xavier menutup dokumen yang ia baca sejenak.


"Sekarang nona sedang tidur di kamar tuan. Apa yang harus kami lakukan tuan?" Pelayan itu khawatir jika Ara tidak mengisi perutnya Ara akan sakit.


"Panggil dokter pribadi ku ke mansion untuk memeriksanya. Saya akan segera pulang." Xavier mematikan panggilan itu. Hah. Masalah datang silih berganti. Setelah satu selesai, pasti akan datang yang lainnya. Sekarang ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya agar ia bisa melihat kondisi Ara.


Setelah Xavier mematikan panggilan, pelayan itu pun memanggil Takuma untuk memeriksa kondisi Ara.


Sekitar tiga puluh menit kemudian Takuma pun sampai di mansion megah itu.


"Dimana Ara?" tanya Takuma langsung pada topik.


"Nona Ara sedang ada di kamarnya tuan. Mari saya antar." Pelayan itu menuntun Takuma menuju kamar majikannya.


Pelayan itu datang lalu mengetuk pintu.


"Nona, dokter Takuma datang untuk memeriksa nona." Pelayan itu masuk dan mempersilahkan Takuma untuk masuk.


Ara terbangun dari tidurnya.


"Ada apa?" Kenapa Takuma bisa ada dikamar nya?


"Nona, saya tadi sudah mengetuk pintu lalu mengatakan jika dokter Takuma datang untuk memeriksa nona."


"Baiklah."


"Apa kau belum makan apapun sejak pagi?"


Ara menggeleng. "Belum, aku tidak bisa memakan apapun. Ketika baru sesuap, aku akan langsung muntah."


"Baiklah, aku akan memberikanmu vitamin, juga harus menginfus mu agar tetap dapat mengganti cairan tubuh.


Takuma mulai melakukan pekerjaannya dengan telaten.


"Jangan terlalu banyak berpikir, dan juga mulailah untuk tidak terlalu lelah. Sekarang aku pulang dulu." Ina pun mengantar Takuma sampai depan.


Ara mengelus perutnya lembut.


"Sayang, jangan menyiksa mommy dengan tidak mau memakan apapun. Mommy mohon kerja samanya."


Ara pun kembali memejamkan matanya... Ia kembali berusaha untuk tidur...Walaupun ia harus beristirahat dengan sendiri tanpa ada seorang pun disisi nya.


Ia sangat merindukan Xavier, tapi jika ia ingat apa yang dikatakan Xavier hatinya akan kembali sakit. Tanpa sadar air matanya kembali luruh. Ara harus kuat demi anaknya.


Ara menghapus air matanya. Kembali beristirahat dengan tenang..


*****


Hari sudah sore ketika Xavier sampai di mansion. Xavier langsung bergegas naik menuju kamar mereka. Xavier melihat Ara yang masih memejamkan mata, dengan tangan yang dipasang infus.


Xavier mendekat, mengelus surai lembut Ara. Xavier juga mengelus perut buncit Ara.


"Sayang, jangan membuat mommy tersiksa ya. Mommy pasti kesusahan sekarang. Daddy tidak bisa berada 24 jam untuk mengawasi mommy. Daddy harus mencari uang yang banyak untuk kalian berdua. Daddy menyayangi kalian." Xavier mencium perut buncit didepannya lama.


Setelah selesai bicara. Xavier pun pergi untuk membersihkan diri.


"Bawakan makan malam kami ke kamar." Xavier ingin berduaan dengan Ara. Ara juga pasti kesulitan jika harus makan dibawah.


"Baik tuan."


Tidak lama terdengar bunyi ketukan pintu. Disertai meminta izin untuk masuk. Xavier mempersilahkan pelayan mansion nya untuk masuk. Para pelayan itu meletakkan makanan yang telah mereka masak disebuah meja yang tak jauh dari ranjang dikamar itu.


"Kami permisi tuan." Keduanya membungkuk lalu pergi dari sana.


Xavier mengelus pipi Ara.


"Honey ayo bangun. Kau harus makan sesuatu."


Ara mengerjabkan matanya malas. Ia masih mengantuk. Ara kembali memejamkan matanya berniat untuk tidur.


Xavier yang melihat itu menghela nafas.


"Honey ayo bangun. Kau sudah tidur terlalu lama. Sekarang saatnya makan. Bagaimana jika kau sakit nanti."


Ara pun akhirnya membuka matanya. Xavier membantu Ara untuk bersandar pada kepala ranjang itu.


Xavier berjalan mengambil makan malam Ara.


"Ayo sekarang buka mulutmu. Aku akan menyuapi mu."


Ara hanya menurut. Ara membuka mulutnya dan Xavier yang menyuapinya.


"Apa terasa ingin mual?" Xavier takut Ara akan kembali merasa muak dan memuntahkan makanannya.


Ara menggeleng. Kenapa ia tidak merasa mual lagi? Ia bahkan merasa jika makan malamnya akan kurang. Apa karena makan malam ini memang lezat? Atau karena ada Xavier yang menyuapinya? Entah lah. Ara tidak peduli, yang jelas ia harus makan karena ia sudah sangat lapar.


"Aku masih ingin tambah." Ara mengatakannya dengan suara yang sangat kecil. Ia malu.


"Tidak papa honey, aku akan meminta pelayan untuk membawakan makanan malam lagi untukmu." Xavier tersenyum kearah Ara. Ia akan melakukan segalanya untuk Ara. Ara adalah hidupnya, Dia tidak akan bisa hidup tanpa Ara. Walaupun ia bisa, hidupnya hanya akan hampa...