
...🍁🍁🍁🍁...
Ara sedang berjemur menikmati sinar matahari pagi di taman belakang rumah mereka. Ara memejamkan matanya saat sinar matahari membuat matanya silau. Ponselnya yang berada tidak jauh darinya berdering.
Ara segera mengambil ponselnya, berharap yang menghubunginya Xavier namun senyumnya perlahan luntur. Ternyata bukan Xavier melainkan sahabatnya Paola.
Ara pun menjawab panggilan itu.
"Iya Paola?"
Ara menjauhkan ponselnya dari telinganya saat suara Paola memekakkan telinga.
"Ara dari mana saja kau?? Apa kau tidak mengingat sahabatmu ini lagi? Astaga, bahkan sahabatku sebentar lagi menikah tapi aku tidak tau. Bahkan kau juga tidak mengatakan jika kau sedang mengandung keponakanku."
"Maafkan aku. Tapi satu bulan yang lalu aku kecelakaan. Setelah sembuh pertunangan kami pun diselenggarakan. Kemudian kami memutuskan untuk pergi liburan, itu lah sebabnya aku tidak sempat memberitahumu." Ara mendudukkan dirinya.
"Kau sungguh keterlaluan. Apa kau tidak menganggap ku sebagai sahabatmu lagi?"
"Tentu saja kau sahabatku. Kau bahkan tau bagaimana diriku jika jauh darimu." Ara terkekeh pelan.
"Ya ya ya. Aku tau, kau akan menangis dan bertanya kapan aku akan pulang dan datang ke rumahmu." Paola pun ikut tertawa pelan.
"Ada apa kau menghubungiku? Tidak mungkin jika kau hanya bertanya tentang itu." tanya Ara.
"Kau memang sangat tau diriku Ara. Aku ingin mengajakmu untuk berbelanja. Kita sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama." jawab Paola.
"Baiklah. Aku akan ikut denganmu. Aku juga sangat merindukanmu. Sampai jumpa nanti."
Ara pun mematikan panggilan itu dan berjalan kerumahnya.
Ara segera bersiap. Mengganti bajunya, mengambil tas dan mengambil kunci mobil.
"Mom, aku akan pergi berbelanja dengan Paola." Ara melihat ibunya yang sedang membaca sebuah majalah yang menampilkan pakaian-pakaian untuk bayi.
"Apa kau tidak membawa supir sayang?" Marga menutup majalah yang ia baca.
"Tidak mom. Aku akan membawa mobilku sendiri, lagian aku hanya akan berbelanja. Aku akan baik-baik saja."
"Baik, pergilah. Tapi ingat. Jangan membawa banyak barang, minta tolonglah pada Paola untuk membawa belanjaan mu nanti." Marga sebenarnya takut jika Ara keluar sendiri, tapi ia juga tidak mungkin membuat Ara merasa tidak nyaman jika ada yang mengikutinya.
"Bye mom. Love you." Ara melambaikan tangannya. Meninggalkan rumah itu menuju mall yang akan menjadi tempat ia dan Paola bertemu.
*****
Ara pun memilih memesan minuman untuknya sambil menunggu Paola.
"Ara!!!"
Ara yang mendengar namanya dipanggil pun segera memutar arah pandangannya mencari asal suara itu.
Ara dapat melihat Paola yang berjalan kearahnya.
"Maaf Ara, apa kau sudah lama menunggu?" Paola ikut mendaratkan bokongnya di sana.
"Tidak. Tapi aku kesal denganmu, kau yang mengajakku tapi kau yang terlambat." Ara memutar bola matanya malas.
"Ya aku tau. Itulah mengapa aku minta maaf. Oh lihatlah perut sahabatku yang buncit itu. Bolehkah aku memegangnya?" Paola menatap Ara dengan tatapan memohon.
"Ya kau boleh, tapi hanya sebentar."
"Hai baby, aku aunty Paola. Kau harus selalu sehat, Agar kau bisa menjaga ibumu yang ceroboh ini. Kau tenang saja! ketika kau lahir aunty yang akan menjagamu." Paola tertawa melihat wajah Ara yang terlihat semakin kesal.
"Baik sudah cukup. Sekarang ayo kita pergi menghabiskan banyak uang."
Keduanya pun memasuki toko-toko yang berada di mall itu. Keduanya membeli banyak, mulai dari pakaian, sepatu, perhiasan, dan lainnya. Ara dan Paola juga membeli peralatan bayi.
Keduanya asik berbelanja tanpa menyadari jika ada yang mengikuti dan mengawasi mereka.
"Tuan, nona Ara terlihat sedang memilih barang-barang untuk bayi tuan." Orang itu berbicara lewat telepon dengan tuannya.
"Terus awasi mereka berdua, jangan sampai ketahuan. Dan jaga selalu wanita Dan anakku."
"Baik tuan." Pun orang yang merupakan anak buah Xavier itu menutup panggilan itu. Setelahnya anak buah Xavier kembali mengawasi Ara...
Xavier menatap ponselnya yang menampilkan foto Ara yang terlihat tersenyum kearah kamera. Xavier amat sangat merindukan wanitanya itu.
"Ara, aku ingin pulang dan memelukmu seharian. Aku ingin menghabiskan satu hari penuh hanya didekat mu." Xavier mengusap wajah Ara di ponselnya.
"Aku juga merindukanmu little Xavier. Apa kau membenci daddy karena tidak berada didekat mommy? Kalian harus memaafkan daddy ya. Daddy akan berusaha agar bisa cepat kembali."
Xavier menyimpan ponselnya kembali. Ia kemudian mengambil kunci mobilnya dan pergi dari sana menuju markas mereka yang berada di kota itu.
"Hah. Aku harus segera menyelesaikan ini semua, sebelum pernikahan kami. Ara aku mencintaimu. Kau hanya harus tau itu."