Together but not the same

Together but not the same
Episode 42 : No quiet days



"Kau tidak mungkin serius, kan?" tanya Ara menatap laki-laki tampan namun sedikit gila di depannya.


"Kenapa kau berpikir aku tidak serius?" bukannya menjawab, pemuda itu malah bertanya balik padanya.


"Kau kan sangat sibuk, untuk apa kau menginap di sini?" Ara heran, karena dia tahu kakaknya tidak punya waktu untuk menginap di rumah kedua orang tuanya. Dan kini malah ingin menginap di apartemen nya.


"Aku di sini bekerja," jawab Kevin yang tak lain adalah kakak satu-satunya.


Ara menyipitkan matanya mendengar jawaban Kevin yang terkesan acuh.


"Kau bekerja di apartment ku?" tanya Ara masih bingung.


"Iya, aku akan menjadi bodyguard-mu, agar kau tidak di ganggu oleh laki-laki gila diluar sana." seru Kevin tapi tak melihat raut wajah Ara yang sudah berubah.


"Tidak bisa seperti itu! Aku bahkan belum setuju dengan hal itu, sekarang pulanglah, atau pergi ke rumah mommy dan daddy. Jangan di apartment ku."


"Aku tidak mau."


Kevin berdiri dari duduknya.


"Sekarang coba ku lihat dimana kamarku." Kevin sedikitpun tak melihat ke arah Ara, dia berjalan menuju kamar tamu, membuka pintu dan langsung menguncinya dari dalam."


Ara yang melihat itu pun bertambah kesal. Kenapa didalam harinya tidak ada keterangan, setelah kedua sahabatnya yang selalu mengganggunya menghilang, sekarang kakaknya yang ikut-ikutan mengganggunya.


"Benar-benar sial."


Ara pun akhirnya memilih untuk pergi tidur karena badannya sudah lelah. Kakaknya pun telah mengunci pintu sehingga dia tidak akan bisa masuk untuk mengusir kakaknya


*****


Esokan harinya.


Ara terbangun oleh ponselnya yang tidak berhenti berbunyi. Sangat mengganggu untuk mimpi indahnya. Ara kira itu adalah alarm, jadi ia biarkan, karena biasanya akan mati sendiri. Tapi ternyata ponselnya tidak berhenti berbunyi, melebihi dari alarm dia yang biasanya.


Ara mengerang jengkel, lalu mengambil ponselnya yang diletakkan di nakas sebelah kasur.


Mata Ara masih begitu berat untuk terbuka, tapi ia tetap mencoba membuka matanya untuk melihat layar ponsel, dan ternyata itu adalah deringan telpon bukan alarm. Telpon dari Nina.


Ara menerima panggilan telpon dengan malas. Kenapa Nina selalu mengganggunya. Dia masih mengantuk.


"Halo," jawab Ara


"Astaga kenapa kau menjawabnya lama sekali Ara." ucap Nina


"Tentu saja, kau menelpon aku pada pagi buta, Nina." jawab Ara sebal, tak tahan dengan kantuk yang masih menyergapnya.


"Ara, apa kau baru bangun? Ini sudah jam sepuluh pagi, sudah bukan pagi buta lagi." seru Nina.


Ara mengerutkan alisnya, lalu berkata, "langsung ke intinya aja, ada apa Nina?"


"Sejak kemarin, banyak tawaran perusahaan datang untukmu," jelas Nina


"Aku tahu soal itu, tolak semua, terima kasih. Aku mau tidur kembali," jawab Ara.Tapi Nima langsung berbicara.


"Tunggu, aku belum selesai berbicara for goodness sake." Nina ikut sebal.


"Kalau begitu ke intinya, aku mau melanjutkan tidurku." Ara sambil menguap.


"Seperti biasa aku menyortir surat pagi ini, dan banyak surat tawaran untukmu yang dikirim ke kantor karena mungkin banyak orang mengira kau akan menerima tawaran mereka. Tapi ada satu surat yang aneh menurutku," ucap Nina.


"Surat ini berwarna merah tidak ada nama dan alamat pengirimnya, hanya ditulis suratnya untuk Clarissa Clara Barton." ucap Nina


"Mungkin hanya orang iseng, biarkan saja." jawab Ara santai, terkesan tak peduli.


"Tapi Apa di amplop surat ini ada note, mengatakan kalau kau tidak mengembalikan apa yang kau ambil kau akan tahu akibatnya," seru Nina dengan nada khawatir.


Ara mengangkat alisnya, ucapan Nina membuat mata Ara seketika segar. Tak lagi mengantuk.


"Dia mengancam? Dan tunggu. Mengembalikan miliknya? Memangnya apa yang telah aku ambil darinya?" tanya Ara


"Iya, jadi lebih baik kau hari ini datang ke kantor, untuk melihat apa isi itu, karena aku sedikit khawatir, belum pernah ada yang mengirim surat seperti itu, walaupun kau tidak tau apa yang dia maksud." seru Nina.


"Apa kau sudah mengatakannya kepada Max?" tanya Ara


"Belum, dia mengatakan ada meeting dengan perusahaan lain hari ini."


"Bagus-bagus. Tidak perlu beritahu dia, aku ingin melihat surat itu sendiri. Karena surat itu berhasil membuatku sedikit penasaran."


"Jadi kau akan datang ke kantor hari ini?" tanya Nina


"Iya, aku siap-siap dulu." Ara dapat mendengar kelegaan Nina sebelum berkata. "Oke, see you."


Setelah itu Ara memaksakan dirinya bangun dari kasur dengan lemas, lalu segera ke kamar mandi dan mandi dengan cepat. Setelah selesai mandi, ia memilih memakai pakaian kasual, yaitu kaus putih, jaket denim, jeans dan sneakers berwarna putih karena hari ini hari minggu.


Ia menatap dirinya di cermin untuk terakhir kalinya, sebelum keluar kamar. Dia terlihat sempurna.


Tepat ketika ia membuka pintunya Kevin sudah berada di depan pintunya, seperti ingin mengetuk pintu kamar Ara.


Mereka berdua sama-sama berkedip, kaget karena timing yang begitu tepat. Kenapa kakaknya ini masih disini. Dan tunggu, kakaknya masih mengenakan pakaian semalam. Sangat jorok.


Kevin masih memakai pakaian semalam, hanya saja sekarang lelaki itu memakai jas juga di luar kemeja hitamnya. Apa artinya Kevin baru aja pulang? Tapi dari mana? setau nya Kevin sudah mengunci pintu semalam.


Kevin pun juga memperhatikan pakaian Ara


"Apa kau mau pergi ke suatu tempat?" tanya Kevin langsung pada adik kesayangannya itu.


Sebenarnya Ara juga ingin bertanya ke Kevin apakah kakaknya ini baru pulang. Tapi ego Ara begitu tinggi, dia tidak ingin terlihat peduli. Biar saja kakaknya baru pulang atau tidak, itu bukan urusannya.


"Iya, dan kau kenapa di depan pintuku? Kau menganggu hariku yang cerah." tanya Ara.


"Baru aku mau bertanya apa acaramu hari ini," jawab Ara.


"Ke mana aku pergi bukan urusanmu kakakku yang tampan, dan aku juga bukan anak kecil lagi." seru Ara.


"Tentu saja itu urusanku adikku yang cantik. Aku kan sudah bilang jika aku akan menjadi bodyguard-mu selama tiga aku tinggal disini." jawab Kevin.


Ara menghela napas, ia lupa kalau kakaknya ini telah berkata demikian, maka apapun yang terjadi, kakaknya tidak akan mengubah apa yang dia katakan. Sehingga kakaknya itu akan mengikuti ke mana pun dia pergi.


"Aku hanya pergi ke kantor perusahaan sebentar."


"Baiklah, ayo." jawab Kevin langsung.


"Aku hanya ke kantor, kau tidak perlu ikut. Dan lihat, kau bahkan masih mengenakan pakaian semalam." seru Ara


Sebenarnya juga Ara khawatir karena yakin Kevin baru pulang, pasti Kevin belum tidur. Tapi Ara tidak mengucapkannya.


Biar saja jika kakaknya lelah, yang jelas bukan dirinya yang menyuruh Kevin untuk menjaganya.