
...🍁🍁🍁🍁...
Xavier kembali ke rumah sakit setelah melancarkan aksinya.
Xavier melangkahkan kaki nya Menuju kamar inap Ara. Xavier masuk dan melihat Ara yang masih setia menutup matanya.
Xavier mengambil duduk di samping Ara, mengambil tangan dingin itu lalu mengecupnya.
"Kapan kau bangun honey? Apa kau tidak merindukanku? Kau benar-benar pandai dalam menyiksaku. Ayo buka matamu. Aku akan selalu menjaga dan mencintai kalian. Aku berjanji." ucap Xavier lirih.
"Aku sudah mengirim orang yang berbuat seperti ini padamu ke neraka. Mereka harus mendapatkan ganjaran yang setimpal karena sudah berani mencelakai mu."
Pintu kamar inap itu terbuka menampilkan Aril dengan sebuah dokumen ditangannya.
"Maaf mengganggu tuan, Tapi ada dokumen yang harus tuan tanda tangani." ucap Aril memberikan dokumen itu pada Xavier.
Xavier mengambil dokumen itu, menandatangani nya. lalu menyuruh Aril untuk keluar.
Ia tidak ingin diganggu untuk saat ini. Ia hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan wanita nya. Walaupun Ara belum juga mau membuka matanya.
*****
Terhitung sudah satu bulan Ara tidak sadar. Xavier masih setia menunggu wanitanya itu membuka matanya. Ia akan selalu berada didekat Ara, Menggenggam tangannya dan membisikkan kata-kata cinta. Xavier juga selalu mengajak calon anaknya mengobrol. Walau hanya keheningan yang ia dapat.
Jangan tanyakan bagaimana penampilan Xavier. Badan yang sudah mulai kurus, rambut yang memanjang dan bulu-bulu halus yang sudah mulai tumbuh disekitar rahangnya membuat ia benar-benar terlihat seperti orang yang tidak terurus.
Namun hari ini Ia terpaksa meninggalkan Ara sebentar. Aril mengatakan jika ada masalah di kantor dan Xavier harus pergi melihatnya.
Masalah itu pun kini sudah selesai, Xavier melangkahkan kaki nya dan membuka pintu kamar itu, saat pintu itu terbuka matanya langsung berkaca-kaca. Apa ia bermimpi? Xavier menampar pipinya dan rasanya sakit. Ia sedang tidak bermimpi sekarang.
Xavier mempercepat langkahnya dan langsung memeluk orang yang ada didepannya ini. Ia sangat bahagia. Tuhan mengabulkan doa nya. Mengapa tidak. Ara nya wanitanya sedang duduk di atas tempat tidur itu dan tersenyum kearahnya.
Xavier memeluk tubuh yang masih lemah itu dengan erat. Ia sangat merindukan wanitanya ini.
"Kapan kau sadar, kenapa mereka tidak memberitahu ku. Apa kau tau jika aku selalu menunggumu disini." Ucap Xavier dengan lirih.
"Aku ingin memberikanmu kejutan" ucap Ara pelan, Menangkup wajah didepannya ini.
"Bagaimana bisa aku mengurus diriku, jika orang yang harus mengurus ku sedang bertaruh nyawa disini." ujar Xavier. Menatap bola mata wanita didepannya ini.
Rasanya Xavier benar-benar tidak percaya jika wanita yang dipeluknya ini nyata. Satu bulan ia menunggu mata wanitanya ini terbuka, dan hari ini penantiannya tidak sia-sia.
"Apa kau sudah makan honey? Kau ingin makan honey? aku akan menyuapi mu, atau kau membutuhkan sesuatu yang lain?" tanya Xavier bertubi-tubi.
Ara mendengar itu hanya terkekeh. Xavier terlihat seperti orang bodoh sekarang. Xavier yang baru sadar apa yang diucapkan pun langsung berdehem.
"Maksudku apa kau membutuhkan sesuatu? Aku akan membawakan nya untuk mu." ucap Xavier gugup.
"Tidak, aku tidak membutuhkan sesuatu." ucap Ara mencari posisi yang nyaman.
"Apa kau tidak menginginkan sesuatu honey? Apa dia membuatmu sulit selama ini?" tanya Xavier melihat kearah perut Ara.
Ara mengerutkan keningnya, apa maksud ucapakan Xavier? Dia siapa yang dimaksud.
"Apa maksudmu? Siapa yang kau maksud dengan dia?" tanya Ara Penasaran.
"Siapa lagi jika bukan calon anak kita. " ucap Xavier memegang perut Ara.
Sontak Ara membulatkan matanya, Apa dia tidak salah dengar? Dia hamil? tapi sejak kapan? Apakah janinnya baik-baik saja setelah kecelakaan itu?
"Sejak kapan aku hamil? Apakah dia baik-baik Xavier?" tanya Ara panik memegang perutnya.
"Hei tenang lah honey. Dia baik-baik saja, Dokter mengatakan pada saat kau kecelakaan usia kandunganku sudah menginjak satu bulan, Berarti terhitung sekarang usianya sudah dua bulan." ucap Xavier dengan mata berbinar.
Mata Ara berkaca-kaca. Dia tidak percaya, jika sekarang ada kehidupan lain tumbuh didalam perutnya. Ara mengusap perutnya. Ia akan segera menjadi mommy.
"Hei sayang, Ini mommy. Apa kau mendengar mommy?. Mommy menyayangi mu" lirih Ara.
Xavier lalu memeluk wanitanya itu. Ah, Ia sangat bahagia sekarang. Hidupnya benar-benar lengkap jika anak nya sudah lahir.
Ia akan berusaha giat bekerja dan memberi perhatian lebih pada Ara Ia tidak akan pernah menyakiti Ara lagi. Ia juga akan selalu menjaga calon istri dan calon anaknya. Ia berjanji.
...T.B.N.T.S...