Together but not the same

Together but not the same
Episode 32: Trials



...🍁🍁🍁🍁...


"Kandungan Ara sangat baik Marga, janinnya terlihat sehat." Dokter kandungan yang merupakan sahabat mommy nya itu melihat monitor yang menampilkan janin dalam kandungan Ara.


Ara dan mommy nya terharu. Sebentar lagi Ara akan jadi seorang ibu sedangkan Marga akan jadi grandma. Mereka sudah tidak sabar.


"Apakah kami sudah bisa melihat jenis kelamin cucuku Desi?" Marga ikut menatap monitor yang menampilkan cucunya.


"Tunggu tiga minggu lagi. Datanglah kembali. Kita akan mengetahui jenis kelaminnya. Oh ya mana Xavier? aku tidak melihatnya dari tadi, kenapa bukan dia yang menemani Ara?"


"Xavier memiliki urusan yang sangat penting aunty, itulah sebabnya bukan dia yang menemaniku." Ara tersenyum canggung pada Desi.


"Baik lah. Itu bukan masalah besar. Nah, sekarang sudah selesai." Desi pun meletakkan alat yang ia pegang.


Marga pun membantu Ara untuk mengelap sisa gel pada perut Ara. Kedua paruh baya itu membantu Ara untuk bangkit dari tempatnya berbaring.


Ara dan Marga pun mendudukkan diri mereka pada kursi yang berada di ruangan itu.


"Aku akan memberikan vitamin pada Ara. Dia tidak boleh terlalu banyak berpikir. Ara juga tidak boleh terlalu lelah. Dan ingat, selalu jaga perasaannya."


Ara dan ibunya pamit dari sana.


"Apa kau lapar sayang?" Keduanya kini berada didalam mobil dengan seorang supir.


"Aku sudah lapar mom. Bagaimana jika kita pergi ke restoran yang sering kita kunjungi dulu?" Ara menunggu respon dari mommy nya.


"Baiklah, kita akan ke sana. Pak, tolong pergi ke restoran tempat biasa. Kami akan makan siang di sana." Marga memberi arahan pada supirnya agar membawa mereka ke tempat yang mereka tuju.


"Baik nyonya."


Setelah menghabiskan jarak yang lumayan. Pun keduanya kini telah sampai di restoran yang mereka mau. Ara dan Marga melihat-lihat apakah ada meja yang kosong. Setelah menemukan meja yang kosong keduanya pun mendudukkan diri mereka dimeja kosong itu.


"Ada yang bisa kami bantu Miss?" Seorang pelayan restoran itu datang dengan membawa buku menu ditangannya.


"Aku ingin renskavsgryta dengan lemon tea. Kau ingin apa mom?" Ara mengubah arah pandangannya dari buku menu ke mommy nya.


"Mommy ingin bouillabaisse dengan sangria."


Pelayan itu pun menulis pesanan mereka, mengambil kembali buku menu lalu permisi dari sana.


"Sayang, apa Xavier akan lama di sana?" tanya Marga memulai obrolan.


"Aku tidak tau mom. Dia tidak mengatakan apapun. Dia hanya berkata jika dia ada urusan bisnis. Hanya itu."


"Apa urusan bisnis itu lebih penting dari pada pernikahan kalian? Mommy tidak habis pikir. Pernikahan kalian tinggal 2 minggu lagi, tapi dia malah sibuk mengurus bisnis nya meninggalkan dirimu seakan dia tidak peduli pada pernikahan kalian." Marga memang sangat ingin Xavier menjadi menantu nya. Tapi jika Xavier tidak memerhatikan putrinya ia akan membuat perhitungan pada pemuda itu.


"Tidak mom. Bukan begitu, Xavier juga sangat menanti pernikahan kami. Tapi dia mempunyai pekerjaan penting di sana. Lagi pula pernikahan nya kan masih lama. Xavier pasti pulang sebelum hari pernikahan kami." Ara mencoba menyembunyikan kekhawatirannya. Hari ini Xavier belum pernah menghubunginya. Saat Ara menghubungi Xavier ponsel Xavier pasti tidak bisa dihubungi.


"Mommy hanya ingin kau bahagia sayang. Mommy tidak mau kau menderita dengan pernikahanmu. Kau harus bahagia. Apapun yang terjadi suatu saat nanti, kau tidak sendiri. Kau masih punya mommy dan daddy." Marga menggenggam tangan putrinya itu.


Keduanya pun memakan makanan mereka dengan tenang. Ara sesekali termenung memikirkan perkataan mommy nya.


"Setelah ini kita akan pulang. Kau pasti sudah lelah sayang."


Ara mengangguk sebagai jawaban. Setelah makan siang mereka habis, keduanya pun langsung pulang ke rumah.


Ara duduk di kursi santai yang berada di balkon kamar nya. Ara kembali mencoba menghubungi Xavier tapi hasilnya tetap sama. Ara pun mencoba menghubungi Aril, asisten Xavier.


Panggilan pertama tidak ada yang menjawab. Begitu pula dengan panggilan kedua, namun saat panggilan ketiga panggilan itu pun dijawab.


"Halo Aril? maaf aku ingin bertanya. Ponsel Xavier tidak bisa dihubungi apa aku boleh tau Xavier sedang apa?" Ara gugup menunggu balasan dari Aril.


"Maaf nona. Tuan selalu sibuk akhir-akhir ini, jadi tuan tidak pernah memegang ponselnya. Pekerjaan disini sangat darurat, itu lah sebabnya tuan tidak menghubungi nona."


"Baiklah, tolong katakan pada Xavier agar tidak terlalu memaksakan diri. Juga katakan padanya selalu makan tepat waktu dan beristirahat sejenak. Aku takut ia akan jatuh sakit."


"Baik nona. Saya akan katakan pada tuan nanti. Maaf nona tapi saya harus tutup teleponnya. Karena saya ada urusan mendadak."


"Baiklah, tidak masalah." Ara pun meletakkan ponselnya kembali. Ia merindukan Xavier.


"Baby, apa kau juga merindukan daddy seperti mommy? Kata uncle Aril, daddy sedang sibuk. Jadi daddy tidak bisa menghubungi kita. Tapi tenang saja, daddy pasti akan segera pulang." Ara selalu mengajak anaknya untuk berbicara. Setiap Ara melakukannya ia akan merasa tenang juga tidak kesepian.


Hari sudah mulai malam. Ara pun segera memasuki kamarnya karena udara diluar juga sudah mulai dingin. Angin malam tidak baik untuknya.


Sementara disebuah ruangan dengan pencahayaan yang minim berdiri seorang pemuda tampan dengan aura dingin yang menyelimuti dirinya.


"Tuan, apakah tuan tidak ingin menghubungi nona? Nona pasti sangat sedih karena tuan tidak bisa dihubungi." Aril menundukkan kepalanya takut karena telah berani mengatakan hal itu pada tuannya.


"Aku tidak bisa. Aku tidak ingin membuat Ara dalam bahaya. Mereka bisa menargetkan Ara kapanpun. Untuk sekarang biarlah Ara tau jika aku mengurus pekerjaan bisnis disini. Ara tidak perlu tau jika aku sedang memburu seseorang." Xavier membalikkan tubuhnya menghadap tangan kanan sekaligus sahabatnya itu.


"Aku harus membereskan orang itu dulu. Sebelum kembali ke New York. Aku tau Ara pasti sedih, tapi ini demi kebaikan bersama. Aku harus pulang sebelum pernikahan kami diselenggarakan." Xavier mengambil rokoknya lalu menyalakannya, Xavier menghisap rokok itu, menikmati aroma nikotin yang masuk kedalam hidungnya.


"Saya mengerti tuan. Tapi saya hanya takut jika nona selalu bersedih akan membahayakan kandungan nona. Hari ini saya mendapat laporan jika nona dan nyonya Marga pergi ke dokter kandungan untuk memeriksa kandungan nona Ara." Aril memberitahu Xavier dengan perasaan gembira.


"Lalu apa yang dikatakan dokter itu? Apa kandungan Ara baik-baik saja?" Xavier mematikan rokoknya lebih memilih mendengarkan topik yang menurutnya sangat menarik.


"Kandungan nona Ara baik-baik saja tuan. Dokter hanya menyarankan agar nona jangan terlalu lelah juga jangan terlalu banyak pikiran. Dokter juga berpesan agar orang di sekeliling nona menjaga perasaan nona. Dokter juga meminta nona agar datang kembali tiga minggu lagi untuk melihat jenis kelamin bayi."


Aril dapat melihat senyuman di wajah Xavier. Siapa yang tidak akan bahagia jika sebentar lagi akan menikah dan juga mempunyai anak. Jadi tidak heran jika tuannya itu tampak bahagia dengan hal yang dia sampaikan.


"Bagus. Aku akan bisa menemaninya untuk melihat jenis kelamin bayi kami. Aku sudah tidak sabar mengetahuinya. Jika tidak ingin menyampaikan hal penting lainnya sebaiknya kau keluar."


Aril yang mengerti pun pamit pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Xavier sendiri.


Xavier melihat kearah jendela. Ia sangat merindukan wanitanya. Namun ia tidak bisa mengambil resiko. Xavier yakin, Ara pasti bisa melewati ini...