
Tak terasa hari pernikahan itu pun tiba. Pagi-pagi sekali Ara sudah diganggu oleh banyaknya orang didalam kamarnya yang mana mereka adalah penata rias pengantin yang diutus oleh mommy nya.
Ara didandani dengan sangat cantik. Riasan itu terlihat sangat cocok dengan wajahnya. Rambutnya juga sudah ditata dengan rapi.
"Nah sudah selesai. Anda terlihat sangat cantik nona. Tuan Xavier pasti tidak akan mampu berpaling dari kecantikan anda." ucap seorang penata rias melihat wajah Ara dari cermin.
"Ya, aku harap juga begitu." Ara berharap sebelum acara dimulai Xavier sudah kembali.
"Tolong jangan permalukan aku Xavier." ucap Ara dalam hati.
"Sekarang nona sudah bisa mengenakan gaun pengantinnya."
Mereka membantu Ara memakai gaun pengantinnya. Gaun itu berwarna putih dengan banyak manik-manik pada kainnya. Gaun itu juga di desain khusus untuk Ara agar perut buncitnya tidak terlihat.
Kini Ara telah siap. Ia menatap dirinya di cermin. Seharusnya hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Tapi ternyata wajah yang dirias itu tak dapat menampilkan senyum sedikitpun.
Para penata rias itu sudah pamit undur diri. Kini tinggallah Ara sendiri dalam ruangan itu. Ara mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Xavier tapi tidak dijawab. Ara bahkan menghubungi Aril namun hasilnya tetap sama.
"Jika kau tidak datang aku akan sangat membencimu Xavier." gumam Ara.
Flashback satu hari sebelum acara pernikahan..
Disebuah bangunan yang sunyi Xavier beserta anak buahnya telah bersiap untuk menyerang tempat persembunyian pemuda itu yang tidak lain adalah Elias. Ya, dia belum mati. Entah Tuhan sangat baik padanya atau Tuhan ingin membuat dia menderita, tidak ada yang tahu.
"Tuan, semua anak buah kita sudah berada dalam posisi." lapor Aril kepada Xavier yang terlihat fokus namun itu hanya topeng. Aril tau tuannya itu pasti sangat mengkhawatirkan Ara. Besok adalah hari pernikahan tuannya. Tuannya mengatakan jika misi ini berhasil ia akan segera pulang untuk menikahi wanita yang sangat dicintainya itu.
"Bagus, aku yang akan memberi komando kepada mereka semua." Xavier memegang pistol ditangannya dengan erat.
"Ara kau harus menungguku pulang honey." gumam Xavier tak terdengar oleh siapapun.
Satu...Dua....Tiga... Serang !!!
DORR DORR!!
Suara letusan peluru yang saling bersautan itu membuat para pengawal yang ditugaskan menjaga bangunan itu segera mengambil posisi siaga dan membalas tembakan yang diberikan anak buah Xavier.
"Tuan, para pengawal yang berada diluar sudah ditangani. Kita sudah bisa masuk."
"Bagus, ayo!!" Xavier beserta anak buahnya yang lain masuk kedalam bangunan itu.
Saat hendak berbelok ke arah lorong sebelah kiri tiba-tiba datang 5 orang dengan menembaki Xavier berserta anak buahnya. Xavier segera bersembunyi dan membalas tembakan itu.
Kelima orang itu berhasil dilumpuhkan. Xavier berlari menuju ruangan yang menjadi tujuannya. Xavier menendang pintu didepannya dengan keras dan langsung mengarahkan pistolnya kearah seorang pemuda yang terlihat sangat santai duduk dengan membelakanginya.
"Ternyata ada tamu yang tidak diundang." Elias membalikkan tubuhnya menghadap Xavier.
Bibir Xavier menampilkan smirk.
"Aku pikir kau telah menuju neraka saat itu. Tapi ternyata Tuhan belum mau kau pergi ke neraka. Dan sekarang, aku sendiri yang akan mengirim mu ke sana." Xavier hendak menarik pelatuknya namun suara Elias membuat pergerakannya terhenti.
"Apa kau kira akan membiarkan mu membunuhku semudah ini. Apa kau tidak penasaran bagaimana kau bisa masuk kedalam ruangan ini dengan sangat mudah, walaupun kau sudah menghabisi nyawa beberapa anak buah ku." Elias tersenyum mengejek.
"Apa yang kau rencanakan?" Xavier memegang pistol ditangannya dengan erat. Siap mendengar perkataan Elias selanjutnya.
"Aku tidak akan memberitahumu. Tapi kau akan tau sebentar lagi. Aku ingin membalaskan dendam ku padamu. Kau membuat wajah ku seperti ini." Elias membuka topeng yang menutupi separuh wajahnya.
"Apa kau melihatnya? Mungkin dengan wajah ini tidak akan ada yang mengenaliku lagi." Elias tertawa dengan kencang.
"Untuk itu kau harus membayarkan dengan sangat mahal. Kau akan kehilangan segalanya. Bahkan anak beserta calon istrimu yang saat ini sedang menunggumu."
"Jangan pernah kau berani untuk menyentuh wanitaku atau kau akan tau akibatnya. Ara tidak ada hubungannya dengan ini." Tekan Xavier pada setiap kalimatnya.
"Jika kau membunuhku kau juga harus ikut bersa.." Namun belum sempat menyelesaikan perkataannya Xavier sudah lebih dulu menembak tepat di dada Elias.
Tubuh Elias ambruk. Xavier menembak tepat di jantungnya. Seketika Elias sudah meregang nyawa.
"Misi sudah selesai. Semuanya diharapkan agar segera meninggalkan ruangan ini." Xavier memberikan perintah pada semua anak buahnya.
Aril datang dengan keadaan yang cukup memprihatinkan. Terdapat banyak noda darah di bajunya.
"Kau tidak papa?" tanya Xavier melihat kearah Aril.
"Aku tidak papa. Kita harus segera pulang. Besok adalah acara pernikahanmu."
Xavier mendengar itu tersenyum. Keduanya hendak masuk kedalam mobil. Tapi ternyata sebuah peluru yang ditembakkan seorang sniper melaju kearah Xavier.
Xavier tumbang. Adik yang melihat tuannya tiba-tiba terjatuh pun segera melihat keadaan tuannya. Beberapa anak buah Xavier segera melindungi tuannya itu. Mereka mengarahkan pistol mereka pada sniper itu.
"Tuan!!! tuan... kau dapat mendengar ku?? Tuan!! Tuan!!!" Aril menepuk pipi Xavier.
Peluru itu bersarang pada kepala Xavier. Darah sudah mengalir deras. Xavier juga kehilangan kesadarannya.
"Cepat bawa ke rumah sakit!!!!" Aril berserta anak buah Xavier membawa Xavier ke rumah sakit agar segara ditangani.
"Tuan kau harus bertahan. Aku tidak tau bagaimana harus mengatakan ini pada nona nanti."
"Tuan, kami harus segera melakukan operasi. Harap segera tanda tangani sesuatu prosedur."
Aril mengangguk dan segera melakukan seperti yang dokter itu katakan.
*****
Ara meremas gaun pengantin. Xavier masih belum kembali. Apa yang harus ia katakan pada para tamu. Keluarganya pasti akan menanggung malu begitu pula dengan keluarga Xavier.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Ara tersenyum sepertinya Xavier telah kembali. Ara segera berlari kearah pintu namun senyumnya seketika memudar. Ternyata bukan Xavier melainkan seorang pelayan.
"Apa acaranya sudah dimulai?" tanya Ara pada pelayan wanita itu.
"Sudah nona. Dan acara utamanya akan segera dimulai." Pelayan itu tersenyum jahat. Ia terlihat mengambil sesuatu dari dalam baju pelayannya.
Ara membulatkan matanya. Pelayan itu mengambil pistol dan mengarahkannya pada Ara.
"Apa yang kau lakukan? Kau tidak berniat untuk menembak ku kan?" Ara berjalan mundur. Ia sangat takut. Ara memegang perutnya melindungi anaknya.
"Apa kau tidak mengenaliku? Oh sepertinya kau tidak akan mengenalku jika seperti ini." Pelayan itu membuka topeng yang menutupi wajahnya. Ara kembali dibuat syok, pelayan itu ternyata perempuan yang selalu mencari masalah dengannya di perusahaan Xavier.
"Xavier ternyata membuatku harus mendekam di penjara dengan memfitnahku. Ia sengaja membuat ku terkena masalah. Namun aku bertemu seseorang yang mau menjamin ku dengan banyak uang. Dan aku akan membalaskan dendam ku padamu. Kau harus mati agar Xavier menjadi milikku."
"TIDAK!! KAU TIDAK AKAN BERBUAT SEPERTI ITU. Tolong jangan lakukan itu. Jika kau melepaskan ku, aku akan memberimu uang yang banyak. Aku akan memberikan semua yang kau minta." Ara menangis. Ara sangat takut perempuan gila didepannya ini benar-benar menembaknya.
"Hahahah. Kau pikir aku akan tergiur dengan uangmu itu. Aku hanya ingin Xavier menjadi milikku. Dan aku akan melepaskan mu jika kau juga mau melepaskan Xavier untukku."
Ara mengangkat wajahnya. Terlihat jelas kemarahan di sana.
"Tidak! Kau tidak akan pernah bisa mengambil Xavier dariku. Xavier hanya milikku seorang." Ara tersenyum licik. Ia tidak akan melepaskan Xavier semudah itu.
"Baik kau akan terima akibatnya."
DORR!!
Perempuan itu menembak tepat ada perut Ara. Ara memegang perutnya.
"Tidak tidak tidak. Kenapa kau menembak anakku?" Seketika gaun pengantin itu telah bersimpah oleh darah.
Ara jatuh terduduk. Ia memegangi perutnya. Penglihatan Ara sudah mengabur. Kepalanya sudah berdegung kencang.
Ara sudah tidak sanggup. Ara pun terbaring dilantai dingin itu dengan gaun mengambil yang telah basah oleh darah. Sebelum kesadarannya habis, Ara bergumam pelan.
"Aku sangat membencimu Xavier. Sangat membencimu."