Together but not the same

Together but not the same
Episode 39 : Best friends



Ara menatap pusaran megah didepannya. Keluarganya membuat bangunan kecil agar yang berada didalamnya nyaman.


Ara memegang batu nisan itu. Mengusapnya dengan sayang. Air matanya kembali turun. Di batu itu tertulis nama Axelo Givare Barton. Ara memang memberi nama keluarganya sebagai nama belakang anaknya.


Ara sampai sekarang belum bisa melupakan kejadian yang merenggut nyawa anak dalam kandungannya.


Ara tidak ingin didalam nama anaknya terdapat nama laki-laki tidak bertanggung jawab itu. Ia tidak sudi. Walaupun keluarga laki-laki itu memintanya untuk menggunakan nama Baxy. Namun dengan tegas ia menolak.


Ara mendudukkan dirinya disamping pusaran anaknya.


"Sayang. Apa kau bahagia disini? Maafkan mommy. Mommy tidak bisa sering menjenguk mu lagi kesini. Mommy mengurus perusahaan grandpa. Itulah mengapa mommy sangat sibuk akhir-akhir ini."


"Mommy selalu sedih ketika mengingat saat-saat kau masih diperut mommy sayang. Sekarang kita sudah berada di dunia yang berbeda. Tapi kau jangan khawatir. Mommy akan membalas semua orang yang menyakiti kita."


Ara melihat jam dipergelangan tangannya. Ternyata sudah semakin sore.


"Mommy minta maaf sayang. Mommy harus pulang. Tapi jangan sedih, mommy akan sering datang kesini untuk melihat putra kesayangan mommy ini."


Ara menghapus air matanya. Ara meletakkan bunga yang ia bawa di atas pusaran putranya. Mencium batu nisan putranya. Dan pergi dari sana walaupun berat..


*****


Ara memasuki apartemennya dan langsung pergi untuk membersihkan diri. Ara telah siap dengan baju tidurnya. Ara turun kebawah menuju dapur. Ia mengambil gelas untuk membuat kopi. Ia sangat lelah. Setelah selesai, Ara mengambil beberapa cemilan juga minuman kaleng dan membawanya ke depan televisi. Ini waktu yang tepat untuk bersantai.


Saat asyik menonton film tiba-tiba terdengar suara bel pintu yang sangat berisik. Hell.. Apa orang itu tidak tau jika ini sudah malam.


Ara pun berjalan malas kearah pintu untuk membukanya. Dan saat pintu terbuka terlihatlah dua orang berbeda gender yang terlihat kesal.


"Ada apa? Kenapa wajah kalian seperti itu?"


Tanpa menjawab kedua orang itu langsung masuk kedalam apartment nya dan duduk didepan televisi, memakan cemilan Ara.


Ara melongo. Apa mereka tidak punya sopan santun?


"Hei Max. Apa yang kau lakukan disini?" Ara menunjuk asistennya, Nina. "Dan kau juga. Kenapa kalian datang kesini malam-malam?"


Ara berkacak pinggang. Berdiri didepan kedua orang yang tak menghiraukannya.


"Menyingkirkan Ara. Kau mengganggu ku menonton film itu." Nina menunjuk kearah televisi yang tertutupi oleh badan Ara.


"Ya. Kau menghalangi pandangan kami." sambung Max.


Ara menghela nafas sabar. Ia pun akhirnya hanya diam saja dan ikut mendudukkan diri di sofa tempat kedua orang itu duduk.


"Apa kau baru pulang max?" tanya Ara pada Max yang terlihat masih mengenakan kemejanya tadi siang.


"Dari mana kau tau? Apa kau mengikuti ku?" Max menatap Ara dengan terkejut.


Ara yang kesal pun memukul kepala Max.


"Apa kau lupa? Kau yang datang tadi siang kekantor ku dan membawakan ku makan siang."


Max seakan-akan berpikir. "Oh ya? Sepertinya aku lupa." Max membuat ekspresi wajah jahil.


"Sekarang pergilah mandi. Kau sangat bau." Ara menutup hidungnya. Itu hanya kebohongan biasa. Max tidak bau seperti yang ia katakan. Ara hanya beralasan agar Max pergi membersihkan diri dulu.


"Baik baik aku pergi. Dasar cerewet. Kau sudah seperti ibuku." Max pun akhirnya pergi menuju kamar yang biasa ia tempati jika ia menginap.


Jangan tanya kenapa Max biasa tidur di apartment nya. Max juga Nina sering menginap di apartment nya. Sehingga baju kedua itu bahkan banyak di apartment nya.


"Ara. Apa kau menyukai Max?" ucap Nina berbisik pada Ara.


"Apa yang kau bicarakan. Kita itu sahabat jadi tidak mungkin jika menyimpan perasaan. Oh..atau kau yang menyukainya."


"Apa kau gila? kau berpikir aku akan menyukai laki-laki aneh itu? Tidak akan. Menganggapnya sebagai sahabat saja aku terpaksa." Nina mengambil satu kaleng soda dan langsung meminumnya.


"Oh ya. Kemana kau tadi selesai pulang dari kantor?"


Ara menundukkan kepalanya.


"Aku pergi mengunjungi putraku."


Nina yang merasa atmosfer nya berubah pun segera merangkul Ara.


"Tidak usah sedih Ara. Kau akan mendapatkan putra yang lucu nanti. Putramu juga pasti bahagia di atas sana."


Max yang baru datang pun heran melihat kedua wanita yang menonton televisi itu saling berpelukan. Apa ada sesuatu?


"Ada apa? Kenapa kalian terlihat sedih?" tanya Max.


"Tidak ada Max. Kenapa kau sangat lama. Film nya sangat sedih. Itu lah mengapa kami berdua tidak bisa menahan tangis kami." Nina menghapus air matanya.


"Aku lama? Kalian pasti mengerti apa yang dilakukan laki-laki jika lama didalam kamar mandi." Max tersenyum mesum menjahili kedua wanita itu.


Nina yang mendengar itu pun berubah kesal. Nina melempar bantal sofa ke wajah Max.


"Kau sangat menyebalkan. Astaga. Kenapa aku harus punya sahabat sepertimu?"


"Hei. Aku yang seharusnya mengatakan itu. Kenapa aku harus punya sahabat sepertimu. Wanita aneh, lamban, juga sangat tidak modis. Sesekali berdandan lah. Agar ada laki-laki yang tertarik padamu." Max tertawa kencang setelah mengatakan itu.


Nina yang tidak bisa lagi menahan kesalnya pun berlari mengejar Max.


"Kau juga jomblo akut apa kau tau."


Max yang melihat Nina seperti ingin membunuhnya pun berlari.


"Ara tolong aku. Ada nenek lampir jomblo yang ingin membunuhku. Aaaaaa."


"MAX KEMARI KAU. Jangan lari..."


Keduanya kejar kejaran didalam apartemen itu. Ara melihat keduanya seperti tom and jerry tertawa. Keduanya memang tidak pernah bisa akur. Jika keduanya akur itu mungkin bisa menjadi salah satu keajaiban dunia.


Max dan Nina yang sudah lelah berlari pun akhirnya berhenti. Keduanya membaringkan tubuh mereka di atas karet yang berada didepan televisi.


Nina mengatur nafasnya.


"Awas saja kau Max. Aku akan membunuhmu ketika tenagaku sudah pulih."


Max juga ikut mengatur nafas. Oh, rasanya sangat sesak juga lelah.


"Ya. Sebelum itu terjadi. Aku yang akan lebih dulu membunuhmu."


"Ara apa kau bisa membawakan kami air putih. Aku merasa seperti sudah berlari keliling kompleks."


Ara melihat Max dan Nina pun menggelengkan kepalanya. Ara berjalan kearah dapur. Mengambil air putih untuk keduanya.


Max dan Nina mengambil air putih masing-masing.


"Aku akan keatas sebentar." Ara menaiki tangga menuju kamarnya. Ara mengambil selimut yang akan dipakai kedua orang dibawah sana.


Saat turun. Keduanya ternyata sudah tertidur. Ara menghela nafasnya. Ia seperti memiliki dua anak nakal di apartment nya.


Ara menyelimuti Max juga Nina. Ara mematikan televisi dan membereskan semua minuman juga makanan mereka. Ara kemudian membaringkan dirinya didekat Nina.


Tiga orang itu pun tidur didepan televisi. Mereka bertiga terlihat seperti anak yang ditinggalkan kedua orang tuanya..