Together but not the same

Together but not the same
Episode 27 : Another Woman



...🍁🍁🍁🍁...


"Xavier, apa semua belanjaan ku sudah dimasukkan dalam koper? Apa tidak ada yang tertinggal? Aku tidak ingin ada yang tertinggal. Barang-barang itu sangat menggemaskan." Ara dari tadi sudah mengekori Xavier kemanapun Xavier pergi.


"Sudah honey. Dan sekarang duduk, jangan mengikuti ku. Kau bisa kelelahan nanti." Xavier menuntun Ara untuk duduk pada sofa yang berada penthouses nya.


Ara sudah bertanya dari tadi tentang belanjaannya yang kemarin. Hari ini mereka akan kembali ke New York. Waktu liburan mereka telah habis.


Setelah semua koper mereka dibawa oleh anak buah Xavier kemobil. keduanya pun pergi menuju mobil yang akan membawa mereka ke bandara.


Landasan pesawat itu telah terlihat. Ara keluar dan berjalan lebih dulu kedalam pesawat pribadi itu. Xavier terlihat sedang membicarakan sesuatu dengan anak buahnya. Ara tidak peduli apa itu. Yang ada dipikirannya sekarang adalah tidur.


"Tuan, laki-laki kemarin sepertinya sengaja mendekati nona Ara. Dia juga selalu tau dimana nona Ara berada, sepertinya ia memasang pelacak di salah satu barang milik nona Ara." ucap anak buahnya yang ia tugaskan untuk mengawasi laki-laki misterius itu.


"Ia juga terlihat di hotel tempat anda menginap, namun cctv yang merekamnya sudah dihapus. Ia juga berdiri tidak jauh dari tempat tuan dan nona makan siang kemaren." Anak buahnya menyerahkan foto-foto yang mereka ambil ketika mengawasi laki-laki itu.


"Bagus. Yang terpenting ia tidak menyakiti Ara. Terus pantau dan jangan sampai ketahuan."


Ara berjalan kearah kamar, namun seorang pramugari menghalangi jalannya.


"Apa kau bisa minggir sedikit? Aku ingin lewat, kau menghalangi jalanku." Ara maju namun pramugari itu tetap tidak memberinya jalan.


"Sebenarnya apa mau mu? Kau sengaja ingin menghalangi jalanku." Ara sudah kesal. Mood nya turun kembali hanya gara-gara pramugari didepannya ini.


"Nona, jangan mentang-mentang anda adalah tunangan tuan Xavier, anda jadi bisa semaunya. Saya ingatkan untuk pergi dari kehidupan tuan Xavier. Anda tidak pantas untuknya." Pramugari didepannya menatapnya dengan cemooh.


"Kau tidak punya hak mengatakan seperti itu padaku. Apa kau tau, aku bisa saja menyuruh Xavier untuk memecat mu sekarang juga. Tapi aku kasihan jika kau pengangguran, siapa yang akan merawat tubuh penuh silikon mu. Uuppss " Ara menutup mulutnya seperti terkejut. Pramugari ini harus diberi peringatan.


Namun pramugari didepannya malah tidak terlihat takut. Pramugari itu bahkan menantangnya.


"Apa anda bercanda? Anda mau bertaruh dengan saya? Silahkan minta tuan Xavier memecat saya. Kita lihat siapa yang akan menang."


Xavier yang baru masuk kedalam pesawat itu pun terheran, mendengar suara keributan. Xavier menghampiri asal suara itu dan mengerutkan keningnya.


"Kenapa kau masih disini honey? Apa kau tidak ingin istirahat? Ayo aku akan mengantarmu ke kamar." Sebelum Xavier sempat membawanya, Ara lebih dulu bersuara.


"Tidak, aku belum mau istirahat sebelum kau memecat dia sekarang." Ara menunjuk wajah pramugari sombong didepannya. Ara tersenyum, Xavier pasti akan mengabulkan permintaannya.


"Apa yang kau katakan honey, aku tidak bisa memecat dia. Sekarang ayo kita ke kamar." Xavier menarik lengannya. Namun Ara melepaskan genggaman tangan itu.


Senyum Ara juga ikut memudar.


"Kenapa? Kenapa kau tidak bisa memecat dia? Aku tidak menyukainya, jadi aku mau kau memecat dia sekarang Xavier." Ara tetap bersikeras dengan perkataannya.


"Tidak!!! Aku tidak lelah. Apa kau se tidak bisa itu untuk mendengarkan aku. Aku hanya meminta kau untuk memecat dia Xavier." Ara mengatakan itu sudah hampir menangis. Ternyata yang dikatakan pramugari itu benar. Xavier tidak akan mau memecatnya. Ara telah kalah.


"Kenapa kau tidak mau memecatnya? Apa kau menyukainya?" Ara menatap mata grey didepannya.


"Tentu saja tidak, aku hanya menyukaimu. Aku tidak menyukai dia. Tapi jika untuk memecatnya. Aku tidak bisa." Xavier dapat melihat dengan jelas kekecewaan dimata Ara. Ia tau ia salah. Tapi dirinya juga tidak bisa memecat pramugari didepannya.


"Kau tidak menyukai nya, tapi dengan sikapmu yang seperti ini kau sudah membuktikan jika kau tertarik padanya."


Ara pergi dari sana. Berjalan cepat kearah kamar, mengunci pintu. Ara membaringkan dirinya di atas kasur itu. Air matanya mengalir deras. Rasanya sangat sakit ketika tunangan mu malah memilih orang lain dari pada dirimu. Bahkan Xavier mengatakan itu semua didepan pramugari itu. Ia seperti dipermalukan.


"Ara buka pintunya honey. Kau harus mendengarkan aku dulu. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Buka pintunya aku mohon." Xavier menggedor-gedor pintu kamar itu. Namun Ara tetap tidak mau membukanya. Ara pasti marah padanya.


Ara menutup telinganya. Ia tidak mau mendengar apapun. Ia ingin segera pulang sekarang. Ara terisak. Ia sendirian di pesawat itu. Tunangannya malah memilih orang lain dari pada dirinya. Padahal mereka masih diperjalanan dari liburan mereka.


Kenapa hubungan mereka selalu seperti ini??


"Dia menyuruhku meninggalkanmu, Jadi apa aku salah jika aku memintamu untuk memecatnya? Aku seperti dipermalukan didepannya."


Ara terisak. Baru kali ini Xavier seperi ini padanya. Dulu Xavier selalu melakukan apapun untuknya. Tapi sekarang Xavier bukan lagi Xavier yang ia kenal.


"Apa kau benar-benar tertarik padanya Xavier? AA kau tidak mencintai aku lagi? Aku bahkan sedang mengandung anakmu. Tapi kau tidak memikirkan perasaanku."


Ara meluapkan semuanya apa yang ia pendam.


"Sayang, mommy mohon kuatkan mommy. Daddy lebih memilih wanita itu dibandingkan mommy sayang. Mommy hanya tidak menyukai wanita itu karena wanita itu ingin kita meninggalkan daddy. Tapi daddy malah tidak mau mengabulkan permintaan mommy."


Karena kelelahan menangis, Ara pun tertidur dengan pintu kamar yang masih ia kunci dari dalam.


Xavier menyuruh anak buahnya untuk mengambil kunci cadangan. Xavier takut terjadi sesuatu pada Ara. Xavier membuka pintu itu, dan melihat Ara yang sudah tertidur.


Xavier ikut membaringkan dirinya di samping Ara. Xavier dapat melihat mata yang sembab karena terlalu lama menangis. Hatinya sangat sakit melihat Ara yang seperti ini.


"Maafkan aku. Aku mohon maafkan aku honey. Aku bukan tidak mau menuruti permintaanmu. Tapi aku memiliki sebuah tanggung jawab untuk selalu menjaganya. Aku mohon mengertilah honey. Aku akan menceritakan semuanya padamu nanti."


"Aku tidak ingin membuatmu kecewa, tapi aku tidak bisa. Kakaknya memintaku untuk selalu menjaganya. Aku berutang nyawa pada kakaknya. Aku mohon jangan membenciku setelah ini."


Xavier mendekatkan tubuh keduanya. Xavier meletakkan kepala Ara pada lengannya sebagai batal. Xavier mengelus sayang perut buncit Ara.


"Maafkan Daddy sayang. Daddy tidak mau menyakiti mommy, tapi daddy juga tidak punya pilihan lain. Tapi tenang saja. Daddy akan berusaha membuat mommy mengerti. Love you little Xavier."


Xavier memeluk Ara erat. Menghirup wangi tubuh wanita didekapannya. Xavier memejamkan matanya. Keduanya tertidur dengan lelap..