
...🍁🍁🍁🍁...
Ara sangat bosan. Dari tadi ia hanya bisa diam memperhatikan Xavier yang sedang fokus dengan dokumen yang berada ditangannya.
Xavier mengajaknya kekantor karena Ara mengatakan jika ia bosan berada di mansion terus. Xavier pun berinisiatif untuk membawa Ara ke kantornya, Dan disinilah Ara sekarang, duduk di sofa dengan laptop yang berada didepannya.
Ara hanya menonton film di laptop yang diberikan Xavier, sungguh membosankan.
"Xavier apa aku bisa pergi sekarang? Aku sangat bosan." Ara berdiri berjalan kearah Xavier.
Xavier melepas kaca matanya dan menatap Ara.
"Kemana kau akan pergi? Bagaimana jika kau lelah nanti?"
"Aku sangat bosan jika hanya berada disini. Aku hanya akan berkeliling sebentar, jangan khawatir. Bagaimana jika asisten mu menemaniku berkeliling?"
"Baiklah. Aku akan menghubungi Aril untuk menemanimu. Tapi ingat jangan pergi jauh-jauh. Dan jangan pergi keluar kantor, apa kau mengerti?"
"Baik-baik, aku pergi dasar cerewet." Ara pun berlari dari sana sebelum Xavier marah.
Xavier melihat itu menggelengkan kepalanya. Apa ia tidak salah dengar? Ara mengatakan ia cerewet? Ia hanya tidak mau Ara akan kelelahan karena mengelilingi kantornya yang besar ini..
Ara telah selesai mengelilingi kantor Xavier dan sekarang ia sedang berada di kantin yang berada di sana. Ia sangat lapar.
"Nona ingin memakan apa? saya akan pergi memesan untuk nona." ucap Aril.
"Aku mau carbonara dengan ice lemon saja." Ara tersenyum kearah Aril.
Aril pun pamit pergi untuk memesan makanan yang diinginkan Ara.
Ara melihat-lihat suasana kantin itu. Ternyata interiornya sudah berubah, berada lama ia tidak ke kantin ini? Jika dipikir-pikir memang sudah lama. Ara terakhir kali menginjakkan kakinya disini adalah saat seorang pegawai menumpahkan sup padanya.
Tidak lama Aril pun datang dengan membawa nampan berisi makanan yang ia pesan tadi. Aril meletakkan nampan itu dihadapan Ara. Ara pun mulai menyantap makanan didepannya.
Walaupun makanannya berada di kantin kantor, tapi rasanya sangat enak. Xavier benar-benar memberikan yang terbaik untuk karyawannya, dan tentu harga makanan di kantin ini juga tidak bisa dikatakan murah.
"Nona saya ada keperluan sebentar. Jadi saya harus pergi, tapi nona tenang saja. Saya hanya sebentar."
Ara pun mengangguk sebagai jawaban. Kini tinggallah Ara sendiri. Ara menghabiskan makanan serta minumannya. Ara mengelus perutnya, ia sudah kenyang. Saat Ara akan pergi tiba-tiba lengannya ditarik oleh seseorang.
Ara pun berbalik berniat melihat siapa orang itu dan ternyata orang yang sama dengan yang menumpahkan sup padanya tempo hari. Kenapa ia harus bertemu dengan perempuan ini lagi. Apa hari ini termasuk hari sialnya?
"Ada apa?" Tanya Ara tanpa basa basi.
"Kenapa kau disini? Apa yang kau lakukan disini? Apa pelajaran yang kuberikan tempo hari tidak cukup untukmu?" Perempuan itu menatap perut buncit Ara. Sial, ternyata wanita didepannya sedang hamil.
"Oh jadi rupanya kau sedang hamil. Bahkan kandunganmu terlihat sudah besar, astaga bagaimana jika orang lain tau jika kau mengandung anak orang lain. Nama baik Xavier pasti akan tercoreng." Perempuan itu menatap Ara dengan rendah.
Ara tersenyum sinis.
"Dengarkan aku. Kau bukan siapa-siapa Xavier, sedangkan aku tunangannya. Kau hanyalah sampah yang tidak terlihat. Jadi jangan pernah berkata seperti itu padaku. Karena kau tidak berhak." Ara pun hendak pergi namun perempuan itu kembali bersuara.
"Apa kau pikir aku akan percaya jika itu anak Xavier. Astaga lihat lah wanita ini, mereka baru bertunangan sekitar satu bulan, namun kandungannya sudah sekitar 4 bulan. Apa tuan Xavier menikahinya agar dia tidak malu karena mengandung anak diluar nikah?" Perempuan itu mengeraskan suaranya agar orang-orang yang berada di sana dapat mendengarnya. Ia akan mempermalukan Ara depan banyak orang.
Ara yang sudah emosi pun menampar pipi perempuan itu dengan kencang, wajah perempuan itu sampai menoleh kesamping.
"Dengar! Jangan pernah mengatakan anakku seperti itu. Anakku memiliki seorang ayah. Memangnya kenapa jika kami belum menikah? Peraturan di negara ini juga tidak melarang seseorang untuk hamil diluar nikah." Ara menunjuk wajah perempuan didepannya.
"Oh aku tau. Kau menyukai tunangan ku kan? Itulah sebabnya kau ingin membuatku malu, dengan begitu Xavier akan berpikir dua kali untuk bersamaku. Namun kau salah, Xavier tidak akan pernah meninggalkanku. Kau camkan itu."
Ara pun pergi dari sana. Jika ia terus di sana ia hanya akan bertambah emosi. Menguras tenaga untuk hal yang tidak penting.
Sementara Xavier dan Aril melihat itu semua dari cctv. Xavier memang memiliki akses semua cctv dikantornya. Dan tidak mungkin jika ia tidak mengawasi Ara.
"Tuan apa yang harus saya lakukan? Apa saya perlu memecat dia?" Ara melihat Xavier yang masih memerhatikan cctv di laptopnya.
"Tidak, jika hanya memecatnya saja dia tidak akan pernah tau bagaimana akibatnya jika berurusan dengan keluarga Baxy apalagi menyangkut keturunan Baxy. Aku ingin kau memenjarakannya. Buat dia terlibat dalam kasus besar, tidak dia tidak akan bisa keluar dalam waktu dekat." Xavier mengikuti Ara dari cctv. Ara terlihat masuk kedalam lift menuju ruangannya.
"Baik tuan. Akan saya laksanakan. Saya permisi." Aril pun pergi dari sana menuju ruangannya. Ia harus segera menjalankan perintah dari tuannya.
Ara tiba di ruangan Xavier dan langsung mendudukkan dirinya di sofa.
"Apa kau bersenang-senang tadi?" Xavier berdiri berjalan kearah Ara, ikut mendudukkan dirinya didekat Ara.
"Tentu. Aku memberi sedikit pelajaran pada seorang sampah tadi. Dan aku yakin jika kau sudah melihat semuanya." Ara meletakkan kepalanya ada paha Xavier. Ia ingin berbaring sebentar.
"Kau benar. Aku sudah melihatnya, kau memang sangat berani. Tapi lain kali jangan membuang tenaga mu untuk orang seperti mereka. Biar aku saja yang memberi mereka pelajaran." Xavier mengelus-elus rambut Ara.
"Tidak papa. Aku hanya tidak terima jika anakku yang mereka katai, Karena anakku tidak bersalah. Oh ya apa pekerjaanmu sudah selesai?" Ara menatap wajah Xavier dari bawah.
"Tinggal sedikit lagi, kenapa apa kau ingin pulang?" Xavier juga ikut menatap Ara.
"Tidak, aku hanya ingin tidur sebentar. Kakiku juga pegal."
"Baik, sekarang berbaring. Aku akan memijat kakimu."
Ara melakukan seperti yang dikatakan Xavier. Ara meletakkan kepalanya pada pinggiran sofa dengan kaki yang berada di atas paha Xavier.
Xavier pun mulai memijat kaki Ara dengan pelan.
"Ara seperti ini sudah?" Xavier menunggu jawaban Ara.
"Ya seperti itu, sangat enak. Terima kasih. Bangunkan aku jika kau sudah selesai dengan pekerjaanmu." Ara pun memejamkan matanya. Ia akan tidur sebentar..
Hanya sebentar, tentu saja saja sebentar...