
Ara membuka matanya perlahan. Tubuhnya sangat lemas. Ara mengedarkan pandangannya pada seluruh kamar ia dirawat tapi tidak menemukan seorang pun disana.
Marga yang tadi keluar untuk membeli makanan pun terkejut saat melihat putrinya yang sudah sadar.
"Sayang, kau sudah sadar? Apa ada yang sakit?" Marga segera berjalan kearah Ara.
"Tidak mom. Aku hanya merasa lemas saja. Bolehkah aku meminta air mom. Aku sangat haus."
"Tentu saja." Marga membantu Ara bersandar pada kepala kasur. Marga juga membantu Ara untuk meminum air putih.
"Apa yang terjadi padaku mom?"
"Pelayan menemukan kau tidak sadarkan diri di kamar. Kami lalu membawamu ke rumah sakit lalu dokter mengatakan jika kau terlalu banyak pikiran menyebabkan kandungan mu lemah sayang." Marga mengusap bahu Ara. Ia tau putrinya itu pasti akan sedih mendengar kabar yang ia katakan.
"Apa anakku bahaya gara-gara aku mom?" Ara mengusap perutnya. Sangat takut jika kandungannya tidak bisa diselamatkan.
"Tidak sayang. Itu bukan gara-gara dirimu. Wajar jika kau banyak pikiran disaat calon suamimu belum kembali, sedangkan pernikahan kalian tinggal satu minggu lagi."
Marga mengambil makanan yang tadi ia beli.
"Sekarang ayo makan. Kau pasti lapar." Marga menyuapi putrinya dengan sayang.
"Tuhan. Tolong buat putriku bahagia." ucap Marga dalam hati. Permintaannya hanya itu.
Hari ke tiga setelah Ara dibawa ke rumah sakit, Dokter sudah memperbolehkan Ara untuk pulang. Dan tidak terasa hari pernikahannya tinggal empat hari lagi dan Xavier belum juga kembali.
Ara sudah bertanya ada kedua orang tua Xavier. Apakah Xavier menghubungi mereka atau tidak, Namun jawabannya mereka sama. Xavier juga tidak menghubungi mereka.
"Menurutmu Apa pernikahan kami harus tetap dilaksanakan atau dibatalkan?" Ara menatap Paola bertanya pendapat.
"Xavier benar-benar keterlaluan Ara. Apa dia tidak punya hati? Kau bahkan dilarikan ke rumah sakit tapi dia tetap tidak ada kabar sama sekali. Menurutku kau harus membatalkan pernikahan itu." Paola memakan cemilan didepannya dengan kesal.
"Kau benar Paola. Tapi aku juga tidak mungkin membatalkannya jika hanya aku yang setuju. Bagaimana jika Xavier pulang nanti? Apa yang akan aku katakan padanya jika aku sudah membatalkan pernikahan kami." Ara meremas ujung baju yang ia kenakan. Ia juga tidak tahu harus melakukan apa.
"Kau tidak usah memikirkan laki-laki brengsek seperti itu. Dia bahkan tidak memikirkan mu. Padahal kau sedang mengandung anaknya." Paola mengipas-ngipas wajahnya mencoba untuk tetap tenang. Kenapa sahabatnya ini sangat tahan dengan kelakukan laki-laki itu.
"Aku akan tetap melanjutkannya. Tapi jika Xavier tetap tidak datang. Aku akan benar-benar pergi dari hidupnya. Dan kau harus membantuku." Ara menggenggam tangan Paola.
"Baiklah, jika itu keputusanmu. Aku tidak bisa melakukan apapun. Dan sebagai sahabatmu aku akan selalu mendukung apa yang kau inginkan." Paola memeluk Ara mencoba membuat Ara tetap tegar. Ia sangat kasihan pada sahabatnya itu, Tapi ia tidak ingin memaksakan kehendaknya pada Ara.
Ara membalas pelukan Paola. Marga yang melihat itu dari jauh mendadak sedih. Marga tau bagaimana perasaan putrinya. Ia ternyata salah ketika menginginkan menantu seperti Xavier. Xavier bukan laki-laki yang baik untuk putrinya. Pemuda itu bahkan meninggalkan putrinya saat putrinya itu tengah mengandung anaknya.
"Jika kau menyerah maka tinggalkan saja sayang. Dia bukan laki-laki terbaik untukmu. Kau pasti bahagia jika tanpa dia." Setelah mengatakan itu Marga segera pergi dari sana. Tak ingin terlihat sedih..