Together but not the same

Together but not the same
Episode 26 : Stubborn Ara



...🍁🍁🍁🍁...


Ara mengayunkan kakinya malas, menendang-nendang kecil air kolam renang. Ia sangat kesal. Ara mengajak Xavier pergi ke pusat perbelanjaan. Tapi Xavier menolak, karena Xavier takut jika terjadi bahaya nanti.


"Apa gunanya pergi liburan tapi tidak pergi kemanapun. Aku juga hanya ingin pergi berbelanja. Aku capek jika harus berada di penthouses ini terus."


Ara tidak tahu jika dibelakangnya berdiri seseorang yang terus memperhatikannya. Xavier tau jika Ara sedang kesal. Tapi dia juga tidak bisa mengambil resiko, anak buahnya mengatakan jika ada seseorang yang mencurigakan selalu mengawasi Ara. Ia takut terjadi sesuatu nanti.


Xavier menghela nafasnya. Ia harus membujuk wanitanya itu sebelum orangnya bertambah kesal bahkan marah.


Xavier berjalan, memeluk Ara dari belakang. Ara hanya diam tidak melakukan apapun.


"Honey, aku minta maaf. Tapi aku janji, setelah kita pulang. Aku akan membawamu kemanapun kamu mau." Xavier menyingkirkan anak rambut Ara yang menutupi kecantikan wanitanya itu.


"Sekarang ayo kita masuk kedalam. Diluar semakin dingin, aku tidak ingin kau sakit nanti." Xavier khawatir jika Ara tetap bersikeras diluar Ara akan sakit dan ia tidak menginginkan hal itu.


Saat Xavier ingin mengangkat tubuh Ara naik, naik menolak.


"Aku tidak mau. Aku kesal denganmu!!" Ara memalingkan wajahnya tak ingin melihat Xavier.


"Ara jangan menguji kesabaran ku. Aku melakukan ini semua demi keselamatan kalian. Jadi jangan egois, ingat jika kau sedang mengandung anakku sekarang. Jadi segera masuk kedalam."


"Dia juga anakku. Dan anakku ingin pergi keluar. Tapi daddy nya malah tidak mau membawa mommy nya keluar." Ara mendengar itu jadi sedih. Xavier mengatakan ia egois karena tidak memikirkan anaknya? Ara bahkan yakin jika anaknya yang sangat ingin pergi.


Ara berdiri, tanpa sepatah katapun pergi dari sana berjalan menghentakkan kaki. Meninggalkan Xavier.


Xavier yang melihat itu semua hanya diam tidak ingin berkomentar lebih jauh, jika ia melakukannya Ara akan semakin marah padanya.


Xavier mendudukkan dirinya di bangku yang ada dipinggir kolam renang penthouses. Mereka telah pindah ke penthouses mewah milik Xavier yang berada di Roma. Xavier merasa saat ini jika hotel bukan tempat yang aman untuk Ara. Itu lah sebabnya ia membawa Ara kesini.


Xavier mengambil rokok dan menyalakannya. Menghisapnya dengan menyesap aroma nikotin yang keluar.


Ponselnya berbunyi, Xavier mengangkatnya.


"Katakan!!"


"Tuan. Saya sudah menyelidiki siapa laki-laki yang mengawasi nona. Sepertinya dugaan tuan benar. Ia adalah orang itu, kemungkinan besar dia masih hidup dan ingin balas dendam dengan apa yang menimpanya tuan."


"Sekarang apa yang harus kami lakukan tuan?" tanya orang diseberang sana.


"Jangan melakukan apapun, biarkan dia melancarkan rencananya. Hanya tetap awasi dan jangan biarkan Ara terluka jaga selalu wanita ku. Apa kamu mengerti?" Xavier tidak akan membiarkan orang itu berhasil dalam rencananya.


"Baik tuan. Kami akan menjalankan sesuai yang tuan perintahkan. Oh ya tuan, saya juga mendapat laporan jika wanita itu mulai menjalankan rencananya. Sepertinya ia akan membuat nona Ara membenci anda tuan."


"Tidak usah pedulikan dia. Ara juga tidak akan pernah meninggalkanku. Pantau terus mereka berdua. Jangan sampai lolos."


Xavier mematikan sambungan telepon itu. Xavier mematikan rokoknya, berjalan masuk kedalam. Xavier mengedarkan pandangannya keseluruhan penthouses tapi tidak menemukan Ara.


"Ara kau dimana honey?" Xavier mencari Ara dikamar. Tapi tidak ada. Xavier juga mencari Ara ke seluruh ruangan yang ada, namun hasilnya tetap sama.


Xavier menghubungi ponsel Ara, tapi Ara tidak mengangkatnya.


"Sial. Apa ia pergi keluar tanpa memberitahu ku?" Xavier mengambil ponselnya menghubungi seseorang.


Xavier mengambil kunci mobilnya. Berlari menuju parkiran. Ia harus mencari wanitanya. Ara sangat keras kepala, Bagaimana pun Xavier mengatakannya ia tidak akan mendengarkannya.


"Ara kemana kau honey? Jangan membuatku seperti orang gila." Xavier mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sementara yang dicari saat ini telah sampai dipusat perbelanjaan. Ara mencari toko yang menjual pakaian bayi. Dan ketemu, Ara memasuki toko itu.


Ara melihat banyak sekali pakaian yang lucu dan juga menggemaskan. Mereka belum tau jenis kelaminnya. Jadi Ara membeli setiap pakaian dengan dua warga berbeda.


Senyum Ara tak pernah luntur. Saat akan berbelok, tubuhnya tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Pakaian yang dia bawa terjatuh.


"Maafkan aku nona. Aku tidak sengaja." Laki-laki itu mengambil barang Ara yang terjatuh, lalu menyerahkannya pada Ara.


Ara melihat siapa yang menabraknya, namun laki-laki itu memakai masker juga topi.


"Tidak papa tuan. Saya juga tidak terluka. Kalau begitu saya permisi."


Ara pergi menuju kasir untuk membayar belanjaannya. Ara kemudian pergi menuju salah satu restoran yang ada di mall itu untuk mengisi perutnya.


Ara memesan banyak makanan. Ia sangat lapar! Makanan yang ia pesan telah tiba. Ara memakan semuanya dengan lahap. Biar saja jika orang melihat dia seperti orang yang kelaparan. Ia memang lapar kan.


"Kenapa kau tidak mendengarkan ku sedikit pun." Xavier tiba-tiba datang mendudukkan dirinya didepan Ara.


Ara yang melihat itu jadi takut. Dari tatapannya, sepertinya Xavier benar-benar marahnya.


"Kau tidak bisa mengantarku. Itulah sebabnya aku pergi kesini tanpa memberitahumu. Maaf." Ara menundukkan kepalanya.


"Lain kali jangan ulangi lagi. Aku benar-benar tidak mau terjadi sesuatu pada kalian. Bahkan kau juga tidak membawa pengawal satu pun."


"Apa kau lapar? Aku akan memesankan sesuatu untukmu."


Ara pergi memesan makanan untuk Xavier. Makanan yang dia pesan sebelumnya memang banyak, namun itu semua untuk dirinya. Ingat, hanya untuk dirinya.


Ara kembali duduk di kursinya, melanjutkan makannya.


"Apa kau akan menghabiskan semua ini?" Xavier mengangkat alisnya, apa Ara se lapar itu sehingga memesan makanan sebanyak ini untuk dirinya sendiri.


"Tentu saja. Tidak mungkin aku memesannya jika tidak ingin memakannya. Dan jangan berharap aku akan membagi makanan ku untuk mu."


Xavier terkekeh pelan. Ia tidak mau makanan Ara, melihat Ara makan dengan lahap saja membuatnya bahagia. Jadi tidak mungkin ia membuang kebahagiaan dirinya.


Ara memakan makanannya tanpa menghiraukan Xavier. Tidak lama makanan Xavier juga sudah tiba.


"Setelah ini kita akan pulang, karena besok kita akan kembali ke New York. Pekerjaan ku juga sudah menggunung."


Ara hanya mengangguk sebagai jawaban. Keduanya makan dengan diam dan tenang.


Tanpa keduanya sadari, seorang pemuda melihat semua itu. Pemuda itu mengepalkan kedua tangannya. Bisa-bisanya kedua orang itu terlihat bahagia sedangkan ia harus menderita seumur hidup. Ia benar-benar akan menghancurkan Xavier.


Xavier harus tau bagaimana rasanya menjadi dirinya.


"Xavier kau tunggu saja kehancuran mu."