Together but not the same

Together but not the same
Episode 38 : Back



...🍁🍁🍁🍁...


Ara menatap tumpukan berkas didepannya dengan lelah. Ia sudah dari pagi mengerjakan nya namun belum selesai juga. Ia juga sudah lapar.


"Aku sangat lapar. Dan Nina dari tadi belum juga kembali. Apa ia pergi melihat-lihat pemuda tampan terlebih dahulu?" Nina memiliki kebiasaan saat bertemu dengan pemuda tampan, ia akan memandang wajah pemuda itu sampai pemuda itu pergi dan tak terlihat. Baru Nina juga akan pergi dari tempat itu. Memang menyebalkan.


Pintu ruangan kerja Ara tiba-tiba dibuka oleh seseorang. Seorang pemuda tampan nampak berjalan kearah Ara dengan sebuah tote bag ditangannya.


"Aku tau kau belum makan siang. Jadi aku membawakan mu makanan. Sekarang ayo, makanlah dulu." Max meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja kerja Ara.


Ara menghela nafas dan berdiri mengambil makanannya. Ia memang membutuhkan itu untuk mengisi perutnya yang sudah berbunyi dari tadi.


"Apa kau kabur lagi dari perusahaan mu Max?" tanya Ara menyuapi dirinya dengan makanan yang dibawa Max.


"Tidak. Semua pekerjaan ku sudah selesai. Itulah mengapa aku datang kesini. Aku sangat bosan jika harus kembali ke apartment." Max menatap Ara yang terlihat lahap menyantap makanan itu.


"Wahai sekretaris ku maafkan aku karena melimpahkan pekerjaan ku padamu. Aku tidak fokus bekerja jika memikirkan wanita di depanku ini." ucap Max dalam hati. Tapi ia tidak bisa mengerjakan apapun sehingga lihatlah sekarang. Ia malah berbohong dengan mengatakan semua pekerjaannya telah selesai.


"Hah. Kau pasti sangat senang sekarang karena bisa bersantai. Sedangkan aku, pekerjaanku masih banyak dan aku sudah sangat lelah."


"Apa kau butuh bantuan Ara? Aku bisa membantumu mengerjakannya." tawar Max. Ia sangat kasihan pada Ara. Disaat banyak wanita pergi shopping, liburan untuk menghabiskan hari, Ara malah hanya akan mengerjakan dokumen-dokumen yang memuat banyak kata didalamnya.


Ara memang sangat kompeten. Ia tidak pernah terlihat mengeluh, Ara hanya akan mengatakan lelah. Tapi walaupun begitu ia tetap akan menyelesaikan pekerjaannya.


"Tidak terima kasih. Aku akan mengerjakan semuanya. Dan apa kau lupa jika ini perusahaan ku? Aku tidak ingin data-data penting perusahaan ku sampai bocor." Ara menatap Max dengan tatapan sinis. Namun dibalik itu ia hanya bercanda.


"Astaga. Apa aku se licik itu dimata mu? Tidak mungkin aku membiarkan perusahaan mu bangkrut." ucap Max. "Sedangkan aku hanya ingin kau sukses dengan caramu. Aku mencintaimu Ara." lanjut Max dalam hati. Tidak mungkin ia mengatakan itu didepan Ara.


"Apa kau melihat Nina tadi?


"Wanita aneh itu? Apa ia belum kembali? sepertinya ia mendapatkan mangsa baru." Max tertawa pelan. Poor untuk pemuda itu.


"Jangan mengatakan ia aneh Max. Dia hanya mengejar cintanya. Oh ataukah kau cemburu?" Ara menaik-turunkan alisnya menggoda Max.


"Apa kau sudah tidak waras Ara? Kenapa aku harus cemburu? Aku hanya kasihan pada pemuda-pemuda diluar sana. Nina pasti membuat mereka trauma." Max tertawa kencang. Ia memegangi perutnya yang sakit saat tertawa.


"Berhentilah tertawa. Kau membuatku jadi tidak nafsu makan."


"Kalau begitu makanan ini aku buang saja. Kau mengatakan kau sudah tidak berselera." Max mengambil makanan yang berada ditangan Ara.


Saat hendak berdiri jas yang dikenakan Max ditarik oleh Ara.


"Aku mengatakan jika kau tertawa seperti itu lagi aku tidak berselera untuk makan. Jadi berhenti tertawa seperti itu. Kau terlihat seperti peran antagonis laki-laki." Ara mengambil kembali makanan ditangan Max. Ara kembali melanjutkan makannya.


"Tidak masalah jika aku memerankan peran antagonis. Yang penting orang-orang akan melihat dan mengingat jika yang memerankannya sangat tampan." Max menyugar rambutnya kebelakang.


Ara hanya diam tak ingin menimpali sifat kepedean Max yang ikut tertular aneh dari Nina.


"Aku sudah kenyang. Aku akan melanjutkan pekerjaan ku kembali." Ara kembali mendudukkan dirinya di kursi kebanggaannya melanjutkan pekerjaan yang tertunda.


Ponsel yang beda disaku celananya berbunyi membuat lamunan Max buyar seketika. Max pun pamit keluar untuk mengangkat telepon.


"Ada apa?" tanya Max ada orang diseberang sana.


"Tuan kau harus segera ke perusahaan. Ada berkas penting yang harus diperiksa dan banyak pekerjaan yang menumpuk. Aku tidak bisa mengerjakan semuanya sendiri. Tolonglah tuan." ujar sekretarisnya yang memohon meminta ampun dengan banyaknya pekerjaan.


"Tirta, kenapa kau meneleponku? aku sudah mengatakan jangan menggangguku. Kau tau jika aku sedang berusaha mendapatkan hati wanita yang aku sukai." ucap Max dengan kesal.


"Maafkan aku tuan. Tapi setelah ini kau bisa menghukum ku. Tuan harus kembali sekarang. Tanda tangan tuan sangat diperlukan saat ini."


"Baiklah baik. Aku akan segera ke sana. Kau mengganggu waktuku dengan wanitaku."


"Terima kasih tuan. Aku menyayangimu."


Max langsung mematikan panggilan itu. Apa sekretarisnya itu gila dengan mengatakan bahwa ia menyayangi Max. Apa kata orang jika mendengar hal itu. Bisa-bisa orang mengira jika ia guy.


Max kembali masuk kedalam ruangan. "Maafkan aku Ara. Tapi ada pekerjaan yang mendadak di perusahaan dan aku harus segera pergi. Kau tidak papa-papa kan jika ku tinggal?"


"Pergilah Max. Aku tidak menyuruhmu untuk menemaniku." jawab Ara ketus.


Max yang mendapat jawaban begitupun jadi kesal. Max berjalan kearah Ara dan secepat kilat mengecup pipi Ara lalu berlari cepat keluar dari ruangan itu sebelum Ara mengamuk padanya.


"MAX KEMBALI KESINI APA YANG KAU LAKUKAN."


Mak tertawa mendengar teriakan Ara. Ia sangat suka menjahili wanita itu. Max pun meninggalkan perusahaan itu menuju perusahaannya..


Ara melihat pintu yang sudah tertutup. Max selalu seperti itu.


"Pasti dia berbohong ketika mengatakan jika pekerjaannya sudah selesai."


"Hah. Lebih baik aku melanjutkan pekerjaanku." Nanti selepas pulang Ara akan pergi ke suatu tempat untuk mengunjungi kesayangannya.


****


"Tuan, Apa kau sudah mengingat semuanya?" Tanya seorang pemuda pada tuannya yang terlihat sedang duduk di kursi didalam ruangan yang pengap dengan pencahayaan minim.


"Belum. Aku masih belum mengingat semuanya. Tapi aku ingat jika aku memiliki seorang kekasih." ujar laki-laki yang duduk di kursi itu.


"Baguslah tuan jika kau mengingatnya. Dengan begini tuan bisa kembali ke New York secepatnya. Kedua orang tua anda pasti sangat senang jika melihat anda tuan."


"Ya, mereka pasti sangat senang. Aku akan kembali ke New York dalam satu bulan lagi. Aku akan mengambil semua yang telah dirampas dari ku." laki-laki itu mengambil cerutu dan menyalakannya. Meresapi setiap asap yang dikeluarkan benda ditangannya.


"Baik tuan saya akan mengurus semuanya." Kalau begitu saya pamit keluar." Pemuda itu pun meninggalkan tuannya di sana..


"Aku akan kembali... Kalian akan tau akibat karena telah berani membuat ku kehilangannya."