
...🍁🍁🍁🍁...
Seorang laki-laki nampak berbicara dengan orang nya. Ia memiliki postur tubuh tinggi, tegap, namun sayang cacat di bagian wajah, ia tidak rela.
Pemuda itu mengepalkan tangannya.
Ia akan membalas dendam atas apa yang dialaminya.
"Siapkan pesawat ku, aku akan pergi menyusul mereka ke Itali. Aku akan membuat Xavier merasakan apa yang aku rasakan." Laki-laki itu membalikkan badannya menghadap seorang paruh baya yang menundukkan tubuhnya.
"Baik tuan. Saya akan siapkan sekarang. Saya pamit undur diri." laki-laki paruh baya itu pergi meninggalkan pemuda itu sendiri.
"Tunggu saja, aku akan membuat kau kehilangan wanita mu Xavier. Bahkan aku mendengar kau sebentar lagi akan mempunyai anak. Ini akan semakin menarik."
Pemuda itu tersenyum licik. Ia memegang wajahnya yang cacat. Pemuda itu mengambil pistolnya dan menembakkan nya ke arah guci besar disudut ruangan itu. Guci besar itu sudah hancur berkeping-keping. Ia lalu pergi meninggalkan ruangan gelap itu.
*****
Ara dan Xavier masih setia di atas ranjang itu, Xavier memeluk wanitanya erat. Ara mengatakan jika perutnya sedikit kram siang ini, Xavier yang mendengar itu pun panik. Xavier sudah hendak menelpon dokter tapi Ara mencoba menenangkannya dengan berkata jika kram pada wanita hamil adalah hal yang biasa.
Xavier memilih untuk menunda liburannya dulu, Ia mengatakan sebaiknya mereka berdiam diri di hotel. Karena Xavier khawatir kandungan Ara memburuk.
"Apa masih kram honey?" Xavier mengelus perut itu lembut sesekali mengecupnya.
"Sekarang sudah tidak, tapi aku lapar. Aku ingin makan risotto. Honey kau mau kan membelikan aku itu." Ara menatap Xavier dengan tatapan memohon.
Xavier yang ditatap pun tidak bisa berbuat banyak.
"Baiklah, aku akan menyuruh orang ku untuk membelinya." Saat Xavier hendak mengambil ponselnya Ara menarik lengan Xavier.
"Tapi aku ingin kau yang membelikannya, bukan orang mu. Daddy anakku adalah kau, bukan orang mu."
Xavier ingin pergi, tapi ia takut meninggalkan Ara sendiri, bagaimana jika Ara diculik atau sebagainya.
"Tapi tidak mungkin jika aku membiarkan mu sendiri disini, bagaimana jika ada penjahat masuk. Aku tidak mau kehilangan kau dan calon anak kita." Xavier berusaha membuat Ara mengerti, tapi sang empu malah menggelengkan kepalanya.
"Pergi lah, aku akan baik-baik saja. Lagi pula kau bisa menyuruh orang mu menjagaku atau berjaga didepan pintu. Aku akan menunggumu Xavier."
"Baiklah, aku kalah. Ingat jangan pergi kemana pun. Aku hanya sebentar."
Ara mengangguk.
Xavier pun pergi dari kamar itu, turun ke lantai satu dan pergi membeli makanan yang diinginkan wanitanya. Apa seperti ini yang namanya mengidam?? tanya Xavier dalam hati.
Setelah Xavier keluar Ara pergi kearah balkon, mendudukkan dirinya di kursi santai yang berada di balkon itu.
Ara melihat pemandangan Kota Roma dari sini, jangan cantik apalagi ketika malam hari. Ara mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit.
"Sayang, kau harus sehat ya. Dan jangan meminta aneh-aneh, Mommy tidak bisa selalu meminta pada Daddy mu, Apalagi masalah itu. Mommy sangat malu jika menginginkannya dahulu." Ara setiap hari akan mengajak janinnya berbicara. Walaupun bekum ada respon seperti tentangan ia tidak masalah.
Yang harus ia pikirkan hanya bagaimana supaya janinnya sehat, dan bagaimana supaya ia tidak banyak pikiran.
"Ah, aku merindukan Mommy. Apa yang sekarang dia lakukan sekarang!?" Ara mengambil ponselnya, mencari nomor ibunya dan menghubunginya.
Dering pertama sampai keempat belum diangkat, namun saat dering ke enam ibunya mengangkatnya.
"Mommy juga merindukanmu sayang, ada apa? Apa liburannya tidak seru? Atau Xavier yang tidak memperhatikanmu?" Tanya ibunya.
"Tidak mom, aku hanya ingin berbicara denganmu, disini sangat seru, dan Xavier selalu perhatian padaku, bahkan ia sekarang pergi membeli Risotto Karena aku sangat ingin memakan makanan itu." Ara terkekeh mengingat bagaimana ekspresi Xavier saat ia meminta jika ia ingin Xavier yang membelikannya.
"Baguslah jika dia berperilaku baik, kau juga harus mengingat kondisimu saat ini,jangan terlalu lelah. Mommy tidak mau terjadi sesuatu pada putri dan calon cucu mommy." Mommy nya selalu menasehatinya tentang kesehatan.
"Mom tenang saja, aku selalu menjaga anak ku. Bahkan sekarang aku sudah mulai menjaga pola makan ku. Aku takut jika berat badanku naik Xavier tidak menginginkan ku lagi mom." Ara menundukkan kepalanya, Setiap hari berat badannya bertambah, Ara takut badannya akan membesar dan membuat Xavier berpaling darinya.
"Itu hal wajar pada wanita hamil sayang, Dan mom pikir Xavier bukan tipikal laki-laki yang akan meninggalkan kekasihnya hanya karna gemuk karena mengandung anaknya." Mommy nya berusaha membuat Ara mengerti.
Dari arah pintu terdengar suara bel. "Sepertinya Xavier sudah pulang." pikir Ara dalam hati.
"Mom aku tutup teleponnya, sepertinya Xavier sudah pulang. Bye mom, love you."
Ara mematikan sambungan telepon itu, meletakkan ponselnya dan berjalan menuju pintu.
Senyumnya mengembang, Akhirnya pesanannya datang. Ia sudah lama menginginkan risotto tapi baru sekarang ia berani mengatakannya pada Xavier.
Namun saat ia membuka pintu itu, senyumnya luntur. Ternyata hanya cleaning servis.
Pemuda itu memakai masker dan topi, Ara jadi tidak bisa melihat wajah orang itu.
"Maaf mengganggu waktu nona, Tapi saya datang untuk mengambil baju kotor." Pemuda itu menundukkan kepalanya.
Ara mengerutkan keningnya, biasanya yang akan mengambil adalah seorang laki-laki paruh baya, tapi laki-laki didepannya ini sepertinya masih muda.
Ara mengenyahkan pikirannya, kenapa ia malah berfikir yang tidak-tidak.
"Silahkan masuk! tunggu sebentar saya akan mengambilnya." Ara pergi dari sana menuju kamar mandi, mengambil keranjang tempat baju kotornya dan Xavier.
Cleaning servis itu melihat Ara yang sudah pergi, ia lalu mengambil ponsel Ara dan memasang pelacak di sana.
Setelah pekerjaannya selesai ia kembali melangkah menuju dekat pintu.
Tidak lama Ara datang membawa pakaian kotor itu, lalu menyerahkannya pada laki-laki itu.
"Terima kasih nona, saya pamit undur diri."
Laki-laki itu pun pergi melangkah menuju lift, namun saat sudah berada didepan lift, pintu lift itu tiba-tiba terbuka menampilkan sosok Xavier yang baru datang setelah membeli pesanan kekasihnya.
Laki-laki itu menundukkan kepalanya takut ketahuan, Ia lalu mendorong troli itu memasuki lift.
Xavier yang melihat orang itu pun sempat curiga, kenapa cleaning servis memakai masker dan topi.
Tapi Xavier cepat tersadar, ia mempercepat langkahnya, wanitanya pasti sudah lapar sekarang.
Lift itu pun membawa laki-laki itu turun kelantai satu, Laki-laki itu mendorong kembali trolinya kearah toilet, setelah memastikan tidak ada orang. Ia pun mengganti pakaiannya kembali, dan pergi meninggalkan pakaian cleaning servis dan troli itu di sana.
Laki-laki itu melangkahkan kakinya menuju parkiran, masuk kedalam mobilnya dan melepas maskernya.
"Rencana pertama sudah selesai. Tinggal menjalankan rencana selanjutnya. Kalian tunggu saja..."
...T.B.N.T.S...