Together but not the same

Together but not the same
Episode 40 : Meet



Max mengerjabkan matanya. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Max melihat jam yang terpasang dipergelangan tangannya ternyata sudah jam 7 pagi.


Max menoleh kesamping didekat wajahnya ada wajah seorang wanita yang sangat cantik juga menggemaskan walaupun sedang tertidur. Max menatap wajah itu lama. Max menyingkirkan helaian anak rambut Ara.


Max tersenyum. Mereka sudah seperti sepasang suami istri yang tidur bersama. Namun lamunan Max buyar ketika mendengar suara seseorang yang terbangun dari tidurnya. Max memejamkan matanya kembali berpura-pura tidur.


Nina menguap. Kaki nya pegal-pegal, mungkin karena mengejar semalam. Nina melihat kearah jendela ternyata sudah pagi. Nina melihat kesamping nya. Ternyata Ara dan Max masih tidur.


"Gara-gara kau kaki ku pegal-pegal. Dasar laki-laki tidak tau malu mengatakan orang tidak laku padahal dirinya sendiri tidak laku." ucap Nina.


Max yang mendengar itu pun hendak membalas perkataan Nina. Tapi ia tidak bisa. Ia sedang pura-pura tidur sekarang. Max pun hanya diam. Max berbalik kesamping dan memeluk Ara. Kesempatan tidak datang dua kali kan. Di sela-sela pura-pura tidurnya Max tersenyum senang.


Nina yang melihat Max memeluk Ara pun jadi kesal.


"Apa kau mencoba mencari kesempatan hah? Kau lihat saja." Nina tersenyum jahil. Nina berjalan menuju dapur, mengambil segelas air putih membawanya menuju ke tempat semula.


Nina terkekeh pelan. Kemudian.


"APA YANG KAU LAKUKAN DASAR WANITA ANEH. Kenapa kau menyiram ku." Max melihat wajah juga pakaian yang basah. Max menatap Nina kesal.


"Salah sendiri kau memeluk sahabatku. Wlee.." Nina tertawa kencang. Nina pun segera berjalan menuju kamar Ara sebelum Mac membalasnya.


Ara yang terganggu pun membuka matanya. Ara heran melihat wajah Max juga pakaian nya yang basah.


"Apa yang terjadi? Kenapa wajah juga pakaian mu basah?"


"Kau tanya saja pada wanita aneh itu. Aku ingin mandi." Max segera pergi untuk membersihkan diri. Ia masih harus pergi kekantor.


Ara yang tidak mendapatkan jawaban pun semakin heran.


"Apa mereka bertengkar lagi?" Ara melihat jam dinding di apartment nya. Ia harus segera bersiap untuk kekantor.


Ketiga orang sahabat itu pun kini telah siap dimeja makan. Ara menatap dua orang didekatnya dengan heran. Dari tadi Max juga Nina tidak berbicara. Keduanya hanya diam.


"Kenapa kalian diam? Tidak seperti biasanya." Ara mengambil roti untuk sarapan dan memakannya.


Max menatap Nina dengan malas.


"Tanyakan saja padanya. Apa yang telah dia lakukan padaku." Max juga mengambil roti dan memakannya dengan kesal. Paginya sangat buruk.


"Kau akan setuju dengan ku kalau kau tau apa yang diperbuat Ara. Ketika bangun aku telah melihat laki-laki gila ini memeluk mu." ucap Nina dengan dramatis.


Ara mendengar itu membulatkan matanya. Ia menatap Max dengan marah.


"Apa benar yang dikatakan Nina Max?"


Max melihat Ara yang terlihat menyeramkan.


"Tidak. Aku memang memelukmu tapi itu tidak sengaja. Aku tidur, mungkin aku mengira jika kau adalah bantal atau sebagainya. Wanita aneh ini hanya ingin kau memarahiku."


"Jadi dengan penjelasan mu kau mengira jika aku tidak akan marah." Ara berdiri dari duduknya.


Namun sebelum ia meraih Max, Max sudah lebih dulu berlari meninggalkan apartment Ara.


"Aku memang sengaja Ara. Aku hanya pura-pura tidur...."


Ara yang mendengar teriakan Max hanya bisa pasrah. Laki-laki itu memang tidak bisa ditebak. Sangat aneh.


"Kau lihat Ara. Aku tidak berbohong padamu. Tapi jika aku bisa simpulkan, sepertinya Max menyukaimu."


Ara kembali duduk di kursinya.


"Apa yang kau katakan. Walaupun ia menyukaiku aku hanya menganggapnya sebagai sahabat. Kau tau akan trauma masa laluku."


Nina menatap sahabatnya prihatin.


"Tapi itu kan masa lalu mu. Bagaimana jika Max menerimamu apa adanya dan tidak peduli akan masa lalu mu."


"Sudah lah. Lupakan itu. Sekarang ayo kita ke kantor. Jika kau masih ingin disini silahkan. Tapi jangan salahkan diriku jika memotong gaji mu." Ara mengambil tasnya dan pergi dari sana.


Nina mendengar itu membulatkan matanya.


"Hei. Kau tidak bisa melakukan itu padaku. Tunggu aku.."


Kedua wanita itu pun pergi menuju perusahaan.


*****


Tak terasa waktu makan siang telah tiba. Siang ini Ara memiliki janji dengan seseorang. Ara pun telah sampai di restoran yang akan menjadi tempat keduanya bertemu.


"Maaf nona. Apakah nona adalah Miss Barton?" tanya pelayan restoran pada Ara.


"Ah, iya benar. Apa temanku sudah datang?"


"Sudah miss. Tuan Daniel sudah menunggu anda. Mari saya akan mengantar anda."


Ara mengikuti pelayan itu. Ara melihat seorang pemuda yang sangat ia kenali duduk disalah satu meja yang berada didekat jendela.


Ara pun menghampiri pemuda itu.


"Hai. Apa kau sudah lama menunggu?" Ara mendudukkan dirinya didepan pemuda itu.


"Tidak, aku juga baru sampai." Daniel tersenyum pada Ara.


Seorang pelayan pun datang menghampiri mereka. Menanyakan pesanan mereka. Ara dan Daniel pun memesan makanan pilihan masing-masing.


"Kau terlihat sangat berbeda saat ini." ucap Daniel memulai obrolan.


Ara mengerutkan keningnya.


"Apakah begitu? Aku merasa diriku tidak banyak berubah."


Daniel tertawa pelan. Meskipun sedang tertawa Daniel masih terlihat sangat berkarisma juga tampan?


"Ara yang ku kenal dulu itu terlihat sangat lugu, polos, juga sangat pendiam namun hanya pada laki-laki, jika pada perempuan dia akan sangat ceria."


Ara tersenyum tipis. Dulu itu semua dia lakukan demi laki-laki itu. Ara sangat menjaga batas dengan teman laki-laki nya.


"Dan bagaimana jika sekarang?" tanya Ara ingin tau bagaimana perubahan dirinya.


"Sekarang kau terlihat sangat anggun, berkelas, juga sangat cantik. Dan itu baru Ara yang ingin ku kenal. Ara yang tidak memikirkan orang lain." Daniel tersenyum tipis ketika mengatakan kalimat terakhirnya.


Siapa yang tidak tau kekasih seorang Ara. Pemuda yang terkenal dingin, kejam, juga sangat pandai dalam berbisnis. Namun sekarang Daniel bersyukur jika Ara dan kekasihnya itu sudah tidak ada hubungan lagi.


"Baiklah cukup. Kau terlalu memujiku." Ara sangat tau kemana arah pembicaraan itu. Ara berusaha untuk setenang mungkin. Tidak ada yang tau penyebab keduanya memutuskan hubungan. Orang-orang hanya tau jika Ara memutuskan Xavier karena ingin melanjutkan kuliah dan mengambil alih perusahaan keluarganya.


Pelayan datang membawa pesanan mereka. Setelah pelayan itu pergi muda mudi itu pun memakan makan siang mereka dengan tenang juga diam. Tidak ada pembicaraan diantara keduanya.


Setelah Menghabiskan makan siang mereka. Keduanya pun kembali berbincang mengenainya kesepakatan perusahaan mereka. Tujuan keduanya bertemu memang hanya untuk membahas perusahaan.


Tak terasa sudah dua jam berlalu. Pembicaraan itu pun telah selesai dan mendapatkan hasil yang memuaskan kedua belah pihak. Ara pun pamit untuk pergi lebih dulu.


Saat berjalan menuju pintu. seorang pelayan yang terlihat memegang nampan berisi minuman tiba-tiba terjatuh. Minuman yang ia bawa pun pecah. Seorang wanita muda yang memakai pakaian ketat juga riasan wajah menor pun berteriak marah karena minuman itu telah mengenai bajunya.


Pelayan itu tertunduk takut. Ara yang melihat itu kasihan. Ara berjalan kearah pelayan wanita itu dan membantu pelayan yang ketakutan itu.


"Jangan memarahinya. Apa kau pikir aku tidak tau jika kau hanya sengaja membuat ia jatuh, sehingga ia yang akan disalahkan." ujar Ara membalas setiap perkataan buruk yang dilontarkan wanita itu pada pelayan wanita didekatnya.


"Jangan ikut campur. Itu bukan urusanmu. Aku membeli gaun ini mahal. Aku ingin kau ganti rugi sekarang juga." Wanita itu menunjuk pelayan itu.


"Maaf nona. Jika harus menggantinya aku tidak punya uang sebanyak itu.Tapi jika nona ingin, aku bisa membawa baju itu pulang untuk dibersihkan nona." ucap pelayan itu mencoba bernegosiasi.


"Apa kau pikir bajuku ini bisa dicuci dengan tangan kasar sepertimu."


Ara mendengar perkataan perempuan itu pun menghela nafasnya sabar. Ara menyerahkan kartu namanya.


"Ini. Kau bisa datang ke perusahaan ku dan mengambil uang untuk membeli pakaian ketat baru untukmu."


Wanita itu pun mengambil kartu nama Ara. Ia membulatkan matanya. Wanita itu pun berdehem pelan.


"Baiklah. Aku akan datang nanti untuk mengambil uangku. Permisi." wanita itu pun pergi dari sana.


"Nona kau tidak perlu melakukan itu. Bagaimana aku bisa mengganti uang sebesar itu."


Ara berdiri menghadap pelayan itu.


"Tidak perlu. Aku ikhlas membantumu. Lagi pula aku paling membenci orang seperti itu. Sekarang kembalilah bekerja aku harus pergi."


"Terima kasih nona. Aku akan membalas kebaikanmu suatu saat nanti."


Pun Ara hanya mengangguk sebagai jawaban. Saat melewati pintu Ara berpapasan dengan seorang laki-laki. Ara mencium parfum yang sangat ia kenali.


Ara memutar tubuhnya melihat siapa laki-laki itu tapi laki-laki itu sudah tidak terlihat. Ara menarik nafasnya berusaha tenang.


"Tidak. Itu bukan dia. Banyak orang yang memakai parfum seperti itu."


Ara pun kembali melanjutkan langkahnya menuju mobilnya. Ia harus segera kembali ke perusahaan untuk menyelesaikan pekerjaannya.