
...🍁🍁🍁🍁...
Ara sedang duduk di taman menikmati sinar matahari pagi. Hari ini ia hanya akan berada di mansion. Xavier berkata jika ia hanya akan pergi sebentar kekantor karena ada rapat penting. Setelah itu ia akan kembali untuk menjaganya.
"Nona, nona sudah terlalu lama diluar. Sebaiknya nona masuk kedalam dan beristirahat." Ina datang menundukkan kepalanya.
"Tidak Ina. Aku masih ingin disini, aku bosan jika harus berada didalam sana." Ara menunjuk kearah mansion.
"Apakah ada kegiatan yang bisa kulakukan? Oh ya aku ingin melakukan sesuatu. Aku sangat ingin berkebun, menanam bunga juga tanaman yang lainnya. Apakah kau bisa menyiapkannya untuk ku?" Ara menatap pelayan didepannya dengan binar. Ia sudah lama ingin berkebun, namun karena sibuk kuliah. Ia selalu tidak sempat.
"Anda bisa menanam apapun nona. Tapi bagaimana jika tuan Xavier marah nanti? Diluar juga sangat panas. Nona akan kelelahan nanti." Pelayan itu menunduk tidak berani karena telah menentang perkataan majikannya.
"Xavier tidak akan marah. Aku yang akan bertanggung jawab. Lagian aku juga harus banyak bergerak kan. Sekarang ayo kita pergi."
Ara menarik tangan pelayan itu. Ia sangat bersemangat.
Para pekerja yang berada di kebun pun terkejut karena nona mereka datang ke kebun. Bagaimana jika tuannya pulang dan memarahi mereka karena tidak melarang nona nya untuk datang.
"Nona apa yang kau lakukan disini? Disini sangat panas. Bagaimana jika nona kelelahan nanti? Dan juga bagaimana jika tuan pulang lalu melihat nona disini? Tuan pasti akan memarahi kami." Para pekerja itu menundukkan kepalanya mereka takut.
"Tidak papa. Aku hanya akan menanam bunga. Xavier juga tidak akan marah. Aku yang kan bertanggung jawab jika dia memarahi kalian. Sekarang tunjukkan mana yang akan ditanam."
Para pekerja itu menghela nafas mereka. Syukurlah jika nona mereka yang akan membela mereka jika tuannya marah. Mereka takut tuannya yang pemarah itu akan memecat mereka semua.
"Ini nona tanah dan juga bibitnya. Nona bisa memasukkan tanah kedalam pot, lalu menanam bibitnya, kemudian disiram. Setelah seminggu bibitnya akan tumbuh."
Ara mengangguk dan mulai mengerjakan seperti yang dikatakan pekerja itu padanya.
Mereka di sana tertawa bersama. Wajah semuanya juga cemong oleh tanah. Ara tertawa sangat lebar. Ia tidak pernah sebahagia ini setelah pulang dari liburan itu.
"Tolong bawakan minuman kita untuk semua. Apa kalian haus?" Ara menatap para pekerja yang berada di sana.
"Baik nona. Akan saya ambilkan." Ina pun pamit pergi dari sana.
Xavier tiba di mansion dan langsung mencari Ara tapi tidak menemukan Ara dimana pun.
Xavier melihat seorang pelayan yang berjalan dari kebun kearah dapur.
"Dimana Ara?"
Pelayan itu terkejut. Tuannya ternyata sudah pulang dan nona nya masih berasa di kebun.
"Maaf tuan, Nona sangat ingin berkebun. Jadi nona.." Sebelum pelayan itu menyelesaikan perkataannya Xavier sudah lebih dulu pergi menuju kebun belakang.
Xavier melihat Ara yang tertawa lepas. Syukurlah jika Ara tidak bersedih lagi. Tapi kenapa harus berkebun? Bagaimana jika wanita nya itu kelelahan nanti.
"Honey, apa yang kau lakukan disini?"
Xavier yang datang tiba-tiba pun membuat semua yang ada di sana terkejut. Para pekerja itu langsung izin pamit meninggalkan kedua majikan mereka di sana.
"Kau sudah pulang? Kenapa tidak ada yang memberi tahuku?" Ara tetap melanjutkan kegiatan menanamnya.
"Ara diluar sangat panas, jadi ayo kembali ke mansion sekarang! Bagaimana jika kau kelelahan nanti?"
Ara tetap tidak mendengarkan Xavier.
"Aku hanya ingin berkebun. Aku bosan jika harus berada di mansion terus. Lihatlah kau membuat teman-teman ku pergi." Ara menunjuk para pekerja yang menyibukkan diri karena takut Xavier memarahi mereka.
"Sejak kapan para pekerja itu menjadi temanmu?" Xavier menatap Ara heran, Bahkan para pekerjanya sudah dianggap teman oleh wanitanya.
"Sejak tadi. Dan ingat jangan mengganggu atau memarahi mereka, kau juga tidak boleh memecat mereka." ucap Ara memperingati Xavier.
Xavier menghela nafasnya mengalah.
"Baiklah-baiklah. Kau boleh melanjutkan kegiatanmu. Tapi aku akan disini untuk mengawasi mu. Aku juga tidak akan memecat mereka. Sekarang kau puas?"
Xavier mendudukkan dirinya di tikar yang sudah dibentangkan dibawah pohon rindang di kebun itu.
Xavier memperhatikan Ara yang tersenyum, sesekali menyeka keringat yang mengalir dari pelipisnya.
"Apa sudah selesai? Sekarang duduk disini." Xavier menepuk tempat disebelahnya.
Ara berdiri berjalan menuju tempat yang Xavier sebut.
"Aku sangat lelah." Ara mengipas dirinya sendiri dengan tangan.
"Aku sudah mengatakan agar kau masuk ke mansion. Tapi kau tidak mendengarkan ku." Xavier membantu Ara menyeka keringat wanitanya.
Ara memeluk Xavier erat.
"Tapi ini sangat menyenangkan Xavier."
"Lihatlah kau mengotori kemejaku." Xavier menatap Ara jahil.
Ara yang tersadar pun segera menjauhkan dirinya. Dan benar, ia lupa jika tangannya masih kotor dengan tanah, dan juga kemeja yang Xavier gunakan berwarna putih sekarang sudah kotor dengan tanah berwarna hitam.
"Maaf. Aku tidak sengaja." Ara mengerucutkan bibirnya menyesal.
"Hei. Tidak papa ini hanya sebuah kemeja. Aku tidak se miskin itu hanya untuk membeli sebuah kemeja baru."
Xavier mendekatkan wajahnya dengan wajah Ara. Xavier mencium bibir wanita didepannya dengan lembut. Ah, ia merindukan bibir manis itu. Rasanya sudah lama ia tidak merasakannya.
Ara membalas pangutan Xavier. Keduanya berciuman dibawah pohon tanpa sadar jika masih ada para pekerja di sana. Para pekerja itu lalu pergi dari sana. Meninggalkan tuan dan nona nya. Mereka sadar diri tidak ingin mengganggu.
Ciuman itu semakin intens. Ara meremas rambut Xavier lembut. Xavier segera memperdalam ciumannya. Dirasa Sudan hampir kehilangan napas, Xavier pun menyudahi ciuman itu. Xavier mengelap bibir yang terlihat basah dan bengkak.
"Sekarang ayo kita masuk." Xavier menggendong Ara pergi dari sana menuju kamar mereka.
Xavier meletakkan Ara di atas ranjang mereka. Mencium Ara seperti tadi. Kegiatan itu pun berlanjut dengan kegiatan panas mereka..
Setelah menghabiskan sekitar satu setengah jam. Kini keduanya tengah berendam didalam bathtub.
"Apa aku menyakitimu?" Xavier memijat bahu mulus Ara lembut.
"Tidak, kau tidak menyakiti ku." Ara menyandarkan tubuhnya pada Xavier. Rasanya sangat nyaman.
"Ara aku minta maaf dengan kejadian di pesawat itu. Aku tau aku sudah mengecewakanmu. Tapi aku tidak bisa memecatnya. Dulu kakaknya menyelamatkan nyawaku, Aku berhutang nyawa pada kakaknya. Dan permintaan terakhir kakaknya adalah agar aku menjaganya sampai ia menikah." Xavier memeluk Ara dari belakang. Ia tau ini berat untuk Ara. Tapi ia tidak bisa melakukan apapun.
Air mata Ara menetes. Jika seperti itu apa yang bisa ia lakukan?
"Tapi ia menyuruhku agar meninggalkanmu. Dia berkata jika ku tidak pantas untukmu."
"Hei. Kenapa kau menangis? Kau sangat pantas untukku. Bahkan aku yang tidak pantas untuk wanita secantik dan sebaik dirimu." Xavier memutar tubuh Ara menjadi menghadapnya. "Dengar honey. Apapun yang dikatakan orang lain tentang kita jangan pernah dengarkan. Yang menjalaninya aku dan dirimu. Bukan mereka."
"Tapi aku takut kau akan meninggalkanku suatu saat nanti." Ara tak berhenti menangis.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau tau betul bagaimana aku yang dulu selalu mengejar mu. Kau sudah melihat buktinya didalam ruangan itu. Jadi untuk apa aku meninggalkanmu sedangkan aku bersusah payah mendapatkan mu. Bahkan sebentar lagi kita akan menikah dan mempunyai seorang putra." Xavier mengelus perut buncit Ara.
"Memangnya kau tau jika ia adalah laki-laki? Bagaimana jika dia adalah perempuan?"
"Karena aku punya firasat jika dia adalah laki-laki. Dan kalo pun dia perempuan aku tetap akan mencintai dan menyayanginya. Aku tidak peduli, yang penting dia dan mommy nya sehat, hanya itu hal yang aku inginkan. Xavier menyeka air mata Ara.
Ara mendengar semua itu terharu. Xavier benar-benar menerima anaknya. Ia awalnya takut bagaimana jika ia hamil dan Xavier tidak menerima anaknya. Tapi ternyata semua kekhawatirannya salah. Xavier bahkan sangat menanti kelahiran anak mereka.
"Sekarang ayo kita mandi. Aku tidak ingin kau masuk angin."
Keduanya pun mandi bersama. Ingat hanya mandi, tidak melakukan apapun...