
...🍁🍁🍁🍁...
5 tahun kemudian...
Seorang wanita lajang tengah tertidur pulas ditempat tidurnya. Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi tapi ia masih enggan untuk bangun dari mimpi indahnya.
"Hei, cepat bangun. Apa kau ingin terlambat? Apa kau lupa jika hari ini kita akan mengadakan rapat dengan perusahaan Cambegh. Ini adalah kerja sama besar perusahaan kita. Cepat lah Ara."
Ya. Wanita yang tertidur pulas itu adalah Ara. Setelah kejadian dihari pernikahannya itu dia berubah menjadi sosok wanita yang mandiri, tegas juga disiplin. Usianya yang kini sudah 27 tahun membuat ia sering ditanya kapan ia akan menikah.
Ara ditemukan oleh kedua orangtuanya dengan baju pengantin yang sudah berlumuran darah. Kedua orang tuanya langsung membawanya ke rumah sakit. Nyawanya tertolong, namun tidak dengan janinnya.
Ara sangat terpukul dengan kejadian itu. Ia selalu murung, tidak nafsu makan. Setiap malam Ara akan bermimpi buruk tentang anaknya. Ara hanya akan menangis didalam kamarnya.
Kedua orangtuanya melihat ia dengan iba. Mereka tidak tau harus bagaimana. Bahkan Paola selalu datang untuk menghiburnya tapi Ara tetap tidak bergeming. Kedua orangtuanya pun membawa Ara ke psikiater. Kurang lebih 1 tahun Ara menjalani pengobatan. Dan di tahun kedua Ara pun memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri.
Awalnya kedua orangtuanya menolak karena khawatir dengannya. Namun Ara selalu mencoba membujuk kedua orang tuanya dan akhirnya mereka pun setuju.
Ara pun kuliah di salah satu universitas di Landon. Ara memulai kembali hidupnya. Mencoba melupakan masa lalunya. Bahkan selama ia menderita ia tidak pernah mendengar kabar dari Xavier. Laki-laki itu seakan menghilang. Ara pun tak ambil pusing akan hal itu.
Setelah lulus Ara pun kembali ke negara asalnya. Daddy nya memberikan Ara tanggung jawab untuk mengurus perusahaan mereka. Ara pun setuju. Dan entah mengapa Revanio selaku ayah Xavier memberikan ia saham juga sebuah perusahaan pada Ara sebagai permintaan maaf juga sebagai hadiah pada cucunya. Walaupun calon cucu mereka tidak selamat.
Ara menolak karena tak ingin ada lagi kaitan dengan mereka. Namun setelah banyaknya pertimbangan Ara pun menerimanya.
Kini perusahaan keluarganya sudah bertambah besar. Ara selaku pimpinan telah berhasil mengembangkan perusahaan itu.
Flashback off..
"Iya iya aku bangun dasar mulut cerewet." ujar Ara dengan suara serak.
"Aku akan menunggumu dibawah. Jika kau tidak turun dalam waktu 20 menit kau akan tau apa yang bisa ku lakukan." Asisten sekaligus sekretarisnya itu pun pergi dari sana.
"Iya iya sana pergilah." Ara pun segera masuk ke kamar mandi. Membersihkan dirinya. Setelahnya masuk kedalam walk in closet memilih pakaian apa yang akan ia kenakan.
Ara pun memilih kemeja berwarna coklat yang terdapat tali dileher kemejanya, Ara memadukan dengan rok berwarna hitam dengan panjang selutut juga memakai sepatu high heels berwarna senada dengan bajunya. Ara menggerai rambutnya menambah kesan cantik juga elegant ada dirinya.
Ara pun turun kebawah tak ingin membuat Nina asistennya kembali mengeluarkan kata-kata pedasnya disiang hari ini.
"Bagus. Aku pikir kau belum siap. Aku sudah berniat naik jika kau masih belum juga turun. Sekarang makan sarapan mu." Nina selaku asistennya selalu datang pagi ke apartemennya.
Setelah kembalinya dari Landon, Ara memutuskan membeli sebuah apartemen. Ia ingin tinggal sendiri. Dan ia bersyukur kedua orangtuanya memperbolehkan keinginannya.
"Kau sangat cerewet. Jika seperti ini terus kapan kau akan mempunyai kekasih." Ara melihat Nina dengan senyum jahil yang terbit dibibirnya.
"Kau akan kaget jika aku membawa kekasihku dihadapan mu." Nina mendudukkan dirinya didekat Ara. Nina pun mengambil sarapannya.
"Aku bahkan ragu jika kau pernah dekat laki-laki. Apa jangan-jangan kau tidak normal?" Ara menatap Nina seakan-akan terkejut juga syok berat.
"Apa kau sudah gila? Aku masih normal. Dan juga ada banyak pria yang mendekatiku tapi aku tidak tertarik pada mereka semua." Nina membalas tatapan Ara dengan ejekan.
"Baiklah aku kalah. Kau memang sangat menarik bagi pria diluar sana. Sekarang apa jadwalku untuk hari ini?" tanya Ara.
"Jam 1 siang nanti kau akan rapat dengan perusahaan Cambegh, jam 5 pergi melihat proyek yang sedang kita bangun. Dan jam 8 malam makan malam dengan laki-laki itu. Hanya itu." Nina meletakkan kembali iPad nya.
Ara mengerutkan keningnya penasaran.
"Laki-laki itu? Siapa?"
"Siapa lagi jika bukan tuan muda William yang sangat tergila-gila padamu. Kau sudah sering membatalkan makan malam kalian dengan berbagai macam alasan. Dan malam ini kau harus pergi."
"Baik-baik. Aku akan pergi. Sekarang ayo kita berangkat."
*****
Ara masuk kedalam lift khusus. Lift itu membawanya menuju ruangannya yang terletak dilantai paling atas perusahaan.
"Apa mereka sudah datang Nina?" tanya Ara kepada Nina yang berjalan disampingnya.
"Sudah. Mereka sudah berada diruang rapat."
Ara pun masuk kedalam ruang rapat dan melihat jika pimpinan Cambegh juga sudah berada di sana.
"Maaf membuat tuan-tuan menunggu." Ara berjalan kearah kursinya dan langsung mendaratkan bokongnya di kursi itu.
"Apa yang bangun telat lagi?"
Ara melihat pimpinan Cambegh yang bernama Maxwell itu.
"Diam lah Max. Jangan membuatku malu." Ara pun sedikit mencubit paha pemuda itu.
Maxwell mengaduh sakit. Dan Ara tidak peduli.
Rapat pun dimulai dengan tenang. Masing-masing perwakilan mempresentasikan hasil kerja mereka.
3 Jam berlalu dan rapat pun telah selesai. Kini tinggallah Ara dan Max di ruangan itu.
"Kau akan kemana setelah dari sini?" Max menatap Ara dengan tatapan lembut. Max sudah lama menaruh perasaan pada Ara. Tapi ia belum berani mengungkapkannya. Max juga mengetahui masa lalu Ara dan ia tidak peduli akan hal itu. Ia mencintai Ara dengan tulus.
"Aku akan pergi melihat proyek yang sedang dikerjakan." Ara berjalan terlebih dulu meninggalkan ruangan itu. Ara bahkan membiarkan Max tetap berdiri di sana.
Max mempercepat langkahnya menyusul Ara.
"Aku akan menemanimu ke sana. Tempat itu lumayan jauh, dan aku tidak mungkin membiarkan mu sendiri pergi ke sana."
Ara mengangguk sebagai jawaban. Tidak ada gunanya jika ia menolak. Max akan tetap bersikeras agar ikut. Dan Ara hanya akan bisa mengalah.
Ara dan Max telah sampai ditempat tujuan mereka. Ara pun melihat, mengawasi proyek itu. Max hanya melihat Ara dadi jauh, tidak ingin membuat Ara terganggu. Max menghargai pekerjaan Ara.
Seorang paruh baya datang dan langsung menghampiri Max yang duduk disebuah kursi santai dengan sekaleng soda ditangannya.
"Tuan Max, anda juga datang kemari?" tanya paruh baya itu.
"Tuan Ates aku tidak menyadari jika kau datang. Maafkan aku."
"Tidak papa. Aku melihat kau asyik melihat kearah nona Ara. Apa kau memiliki perasaan padanya?" Ates ikut mendudukkan dirinya didekat Max.
"Ya kau benar. Aku mencintainya. Tapi aku juga belum berani mengungkapkannya. Aku juga tau jika dia belum bisa melepaskan semua masa lalunya." Max menatap Ara dengan tatapan mata yang tak bisa diartikan.
"Nona Ara adalah perempuan yang sangat baik. Dan kau juga adalah lelaki yang baik. Aku hanya bisa berdoa agar kalian bisa segera bersama."
"Terima kasih atas doamu."
"Apa yang kalian bicarakan?" Ara datang. Duduk dan mengambil soda yang berada di atas meja.
"Tidak ada nona. Saya permisi. Masih banyak yang harus saya urus." Ates pergi meninggalkan Ara dan Max di sana.
"Apa yang lelah Ara?"
"Tentu saja. Tapi ini sudah menjadi resiko pekerjaan. Dan kau pun tau akan itu. Apa yang tidak mempunyai pekerjaan setelah ini?" Ara menatap Max penasaran. Ara tidak mau membuat Max lalai dalam pekerjaannya.
"Tidak. Aku free. Itu lah sebabnya aku mau mengantar mu kesini."
Max sangat berharap agar Ara selalu bahagia. Dan Max akan berusaha mewujudkan itu semua..