Together but not the same

Together but not the same
Episode 34: Faint



...🍁🍁🍁🍁...


"Aku sangat lelah." Ara membaringkan tubuhnya di atas kasurnya. Ia baru saja pulang setelah lelah mengelilingi mall dengan Paola.


"Sayang apa kau baru saja pulang?" Marga masuk kedalam kamar putrinya. Melihat Ara yang terbaring di atas kasur dengan menutup matanya terlihat lelah.


"Iya mom. Kami membeli baanyak sekali. Xavier pasti akan bangkrut nanti." Ara tertawa pelan.


"Tunangan mu tidak akan bangkrut jika kau hanya membeli itu semua sayang. Bagaimana jika putri mommy ini menunjukkan apa yang mereka beli pada mommy?" Tawar Marga mengalihkan perhatian putrinya.


"Tentu mom." Ara langsung menunjukkan satu persatu yang ia beli kepada mommy nya.


Marga melihat putrinya yang terlihat semangat menunjukkan pakaian-pakaian bayi padanya pun ikut bahagia. Ia tau jika putrinya itu pasti selalu was-was semenjak Xavier pergi dan tidak pernah menghubunginya lagi. Marga yakin, Ara pasti selalu memikirkan Xavier tapi putrinya itu berusaha menutupi kesedihannya didepan semua orang.


Tok tok tok..


"Maaf mengganggu nyonya, tapi dibawah ada nyonya Ola yang sedang menunggu anda juga nona Ara." Bibi We membungkuk badannya sedikit sebagai tanda hormat.


"Baik, tolong katakan padanya kami akan segera turun."


Bibi We turun terlebih dahulu, menghampiri Ola yang terlihat duduk anggun di sofa ruang keluarga rumah besar itu. Pun bibi We mengatakan persis seperti yang dikatakan Marga padanya.


"Sayang ayo kita turun. Tidak baik jika membuat calon mertuamu menunggu terlalu lama."


Ara mengangguk. Ibu dan anak itu pun turun kebawah menghampiri Ola yang terlihat sedang meminum teh yang disuguhkan pelayan padanya.


"Ola kenapa kau tidak menghubungi kami jika kau akan datang kemari." Marga menghampiri Ola. Kedua paruh paya itu berpelukan melepas rindu.


"Aku hanya ingin melihat calon menantuku ini. Sayang kemari lah, apa kau tidak merindukan mommy?" Ola merentangkan kedua tangannya menunggu respon Ara.


"Tentu saja aku juga merindukanmu mom." Ara pun segera memeluk Ola.


"Bagaimana keadaanmu dan cucuku? Apa dia baik-baik saja? Apa dia berkelakuan baik sayang?" Ola mengusap perut Ara sayang.


"Aku baik-baik saja mom." Ara menyentuh perut buncitnya. "Dia juga baik. Little Xavier juga tidak pernah membuat mommy nya repot."


Ketiga pun berbincang dengan tenang, membicarakan banyak hal. Terkadang ketiganya terlihat tertawa.


"Sayang, mommy tau jika kau merindukan Xavier. Tapi kau juga harus yakin jika Xavier pasti baik-baik saja. Xavier pasti akan segera kembali. Ia akan kembali sebelum pernikahan kalian." Ola berusaha menenangkan Ara. Ola tau bagaimana perasaan Ara kini.


"Iya mom. Aku tau Xavier pasti akan segera pulang." Ara mencoba tersenyum agar tidak membuat kedua mommy nya itu khawatir.


Hari sudah hampir malam ketika Ola pamit untuk pulang. Setelah mengantar Ola sampai depan, Ara pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


Ara berdiri di balkon kamarnya. Melihat hamparan bintang di langit malam. Ara tidak munafik, ia sangat merindukan Xavier.


"Xavier apa kau tidak merindukanku? Kau bahkan tidak pernah menghubungiku setelah hari itu. Apa aku berbuat salah padamu? Apa aku terlalu menyusahkan mu?" Air mata Ara turun tanpa diminta.


"Apa kau juga tidak ingin menikah denganku? Itu lah sebabnya kau pergi. Jika kau memang tidak menginginkan pernikahan itu tidak masalah. Aku tidak akan memaksamu Xavier."


Ara menghapus air matanya. Kembali masuk ke kamarnya. Menutup pintu balkon dan segera naik ke ranjangnya untuk tidur.


*****


Ara terbangun dengan rasa mual diperutnya. Ara segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan apapun yang membuatnya mual. Namun yang keluar hanya air.


Ara membersihkan mulutnya. Kepalanya juga mulai sakit. Ara berjalan dengan lemas menuju ranjangnya. Dulu jika ia mual Xavier akan membantunya. Tapi sekarang ia harus menghadapinya sendiri.


Namun belum sampai keatas ranjang tubuhnya sudah terhuyung. Ara kehilangan kesadarannya.


"Nona..? Apa nona sedang mandi?" Namun tetap tidak mendapat balasan. Pelayan itu juga tidak mendengar bunyi shower atau sejenisnya.


"Maaf jika saya lancang masuk ke kamar nona." Pelayan itu pun masuk kedalam kamar Ara. Ia bersyukur jika nona nya itu tidak mengunci pintu kamarnya.


Namun mata pelayan itu sontak membulat. Ia menemukan nona nya itu tidak sadarkan diri di samping tempat tidur.


"Nona!!!! nona apa yang terjadi? nona sadarlah!" Pelayan itu menepuk pipi Ara pelan namun tidak mendapat respon.


"Tolong!! nyonya tuan!! Nona Ara pingsan dikamar nya." Pelayan itu berteriak meminta bantuan.


Tidak lama datanglah Marga juga Anthony dengan raut wajah panik.


"Cepat siapkan mobil. Kita harus membawa Ara segera ke rumah sakit." ucap Anthony memberi perintah.


Anthony menggendong putrinya itu. Marga mengikuti dibelakang. Ia sangat khawatir dengan putri juga cucunya.


Mereka pun membawa Ara menuju rumah sakit terdekat. Dokter pun masuk kedalam ruangan itu dan mulai memeriksa Ara.


Orang tua Ara menunggu diluar. Keduanya berdoa semoga putri dan juga cucu mereka baik-baik saja.


"Tenang lah. Mereka pasti akan baik-baik saja." Anthony berusaha menenangkan istrinya. Ia juga sama khawatirnya, tapi ia tidak mungkin menunjukkannya jika tidak ingin membuat Marga bertambah khawatir.


Pintu itu pun terbuka menampilkan sosok dokter yang sudah selesai memeriksa Ara.


Marga langsung berdiri dan menghampiri dokter itu.


"Dokter, bagaimana keadaan putri juga cucuku?"


"Putri nyonya beserta anaknya baik-baik saja. Tapi kondisi janinnya sangat lemah. Saya sarankan agar pasien tidak banyak pikiran. Pasien juga harus selalu menjaga perasaannya. Saya akan menuliskan resep obatnya. Kalian bisa membelinya nanti. Saya permisi."


Marga dan Anthony pun segera masuk kedalam ruangan itu melihat putrinya.


Ara terlihat pucat. Ditangannya sudah terpasang infus.


"Sayang, kau harus yakin jika semuanya akan baik-baik saja." Marga menggenggam tangan putrinya.


"Aku akan menghubungi Revanio tentang kondisi Ara." Anthony pamit keluar untuk menghubungi calon besannya itu.


"Tuan gawat. Nona Ara ditemukan tidak sadarkan diri di kamarnya pagi ini." Anak buah Xavier melaporkan kondisi tunangan tuannya itu dengan hati-hati, takut membuat Xavier marah.


"Apa?? Kenapa bisa? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Xavier tadi sedang bersama dengan anak buahnya untuk menyusun rencana saat anak buahnya yang ia utus untuk mengawasi Ara tiba-tiba menelponnya dan mengatakan jika Ara pingsan didalam kamarnya.


"Dokter mengatakan jika nona Ara baik-baik saja. Namun janinnya sangat lemah tuan. Dokter mengatakan penyebabnya jika nona Ara terlalu banyak pikiran."


Xavier diam tidak menanggapi. Ia tidak harus menjawab apa.


"Tuan, apa tidak sebaiknya jika tuan kembali. Saya takut kondisi nona Ara akan semakin buruk jika tuan terus jauh darinya. Atau tuan bisa menghubungi nona jika tuan belum mau kembali." saran anak buah Xavier.


"Apa kau sedang berusaha menasehati ku? Apa kau lupa jika aku adalah bosnya. Bukan kau."


"Maaf tuan. Saya hanya ingin menyampaikan pendapat saya."


"Kirim beberapa anak buah ku yang lain untuk menjaga Ara. Terus awasi. Aku yakin orang itu pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membalas ku."


Setelah mengatakan itu Xavier mematikan panggilan itu. Xavier menyandarkan tubuhnya lelah ada kursinya. Xavier bohong jika mengatakan ia tidak khawatir pada Ara juga anaknya. Jika bisa, Xavier akan segera pulang dan langsung memastikan jika Ara dan anaknya baik-baik saja.


"Maafkan aku..."