
...🍁🍁🍁...
Ara terdiam setelah mendengar apa yang dikatakan kakaknya. Ara tidak dapat paham tentang apa yang sedang dia pikirkan untuk saat ini. Bahkan Ara hanya ingin jika pendengaran nya salah.
Mengapa tidak? Kotak makan itu bukan dari kakaknya, Ara bahkan mengirim pesan pada kedua sahabatnya, untuk bertanya hal yang sama, namun jawabannya sama saja. Itu bukan dari mereka.
Ara berfikir siapa lagi yang akan mengiriminya makanan jika bukan mereka. Tidak mungkin itu mamanya. Jika benar, Kakaknya pasti mengatakan jika itu dari mama mereka.
Apa ada orang yang masuk kedalam apartemen nya? Tapi siapa? Yang tau password apartemen nya hanya orang terdekatnya saja. Dan mereka semua menjawab tidak.
Apa ada orang lain yang masuk? Penguntit? atau siapapun? Ara menjadi takut. Makanan itu juga sudah lenyap dimakan olehnya, bagaimana jika orang itu menarik sesuatu didalam makanannya?
Ara mencoba tenang. Ara menarik nafasnya kemudian membuangnya.
"Tenang Ara, itu pasti bukan orang jahat. Tapi siapa yang masuk ke apartemen ku? Ya tuhan aku sedikit merinding."
Ara akhirnya menghubungi kakaknya, bertanya apakah kakaknya akan pulang larut malam atau tidak. Ara sendirian di apartment nya. Benar-benar sendirian. Ingatkan Ara untuk meminta tolong pada kedua sahabatnya untuk menginap disini saat kakaknya kembali ke negara dimana dia tinggal.
Ara mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru apartemen, tidak ada celah jika ingin masuk selain lewat pintu. Dan pintu memiliki password yang apabila ditekan berulang kali akan berbunyi keras.
Ara menggigit kukunya gugup, Apa mungkin orang itu menguntitnya, semacam di film yang sering dia tonton. Apa mungkin orang itu sekarang sedang bersembunyi dibawah meja? atau bahkan kolong tempat tidurnya? Memikirkan hal itu, Ara segera mengecek semua barang atau tempat yang bisa saja menjadi tempat persembunyian.
Ara menghela nafasnya saat tak menemukan siapapun. Dia bisa bernafas lega sekarang, untuk saat ini biarlah Ara mencari tau siapa itu. Yang penting adalah orang itu tidak akan berbuat jahat padanya walaupun mungkin hanya untuk saat ini.
Ponsel yang berada di genggamannya bergetar, sebuah pesan masuk bertuliskan jika kakaknya akan pulang agak larut, dan berharap agar Ara tetap di apartment nya. Ara membalas pesan itu kemudian meletakkan ponselnya pada meja yang berada di kamarnya.
Ara berjalan keluar kamar, menuju dapur. Dia lapar dan ingin memakan sesuatu. Ara membuka kulkasnya, mengambil bahan-bahan yang dia butuhkan dan mulai memasak sesuatu.
Ara terlihat bersenandung kecil sambil memasukkan berbagai macam bumbu dapur pada masakannya. Tanpa Ara sadari kegiatannya dari awal dia masuk ke apartemen nya sudah terpantau oleh seseorang lewat cctv yang dia pasang.
Orang itu tersenyum saat melihat Ara yang tampak tersenyum setelah mencicipi masakannya. Dia sangat ingin kembali mencicipi masakan gadisnya, namun untuk saat ini sepertinya keinginannya harus ditunda dulu.
Seseorang masuk kedalam ruangannya. menunduk untuk memberi hormat.
"Tuan, mereka telah mendapatkan bukti sesuai dengan apa yang tuan perintahkan."
"Bagus, sekarang pergilah. Aku yang akan menentukan kapan mereka harus bertindak lagi."
"Baik tuan. Selamat beristirahat."
Orang itu kembali memfokuskan pandangannya pada layar yang berada di depannya. Ara berjalan dengan membawa hasil masakannya ke meja yang berada didepan televisi.
Ara menyalakan tv dan mulai mencari tontonan apa yang akan dia tonton. Pandangan orang itu tidak pernah beralih sedikitpun, semua yang dilakukan Ara menjadi kesenangan sendiri untuknya.
Ara memasukkan makanan kedalam mulutnya, rasa yang di cecap lidahnya membuat dia tidak bisa berhenti memakan makanan itu. Sesekali Ara tertawa saat apa yang dia tonton terlihat lucu.
Ara melupakan sejenak tentang "orang itu". Setelah menghabiskan makanan juga film yang dia tonton, Ara mencuci piring-piring juga wajan yang dia gunakan.
Ara menutup mulutnya saat kantuk menyerangnya. Ara menaiki tangga menuju kamarnya, merebahkan dirinya diatas ranjang. Mengambil selimut untuk menyelimuti dirinya dari dinginnya malam.
Ara memejamkan matanya. Saat memasuki alam mimpi seseorang membuka pintu balkonnya, berjalan masuk kearah dimana Ara sedang tertidur lelap. Orang itu menyingkirkan anak rambut yang menutupi mata Ara.
Orang itu mengecup kening Ara, kemudian berjalan menuju pintu kamar Ara. Mengunci pintu itu dari dalam agar tidak ada yang bisa masuk. Orang itu kembali berjalan mendekati Ara, ikut membaringkan dirinya diatas kasur. Memeluk tubuh Ara dengan lembut.
Hah. Kenapa harus seberat ini untuk bertemu dengan orang yang dia cintai, kenapa tidak bisa seperti dulu saja. Saat dimana dia bebas memasuki kamar wanita yang dia peluk saat ini.
Jika bisa memutar waktu, dia akan dengan senang hati mengorbankan nyawanya agar waktu bisa kembali dimana dia dan wanita nya ini saling menyalurkan cinta mereka.
Dan itu semua hanyalah khayalan semata, karena faktanya sekarang mereka dekat namun tak bisa bersama. Ya, hanya itu kalimat yang tepat untuk mereka saat ini.
****
Kevin berdiri didepan kamar adiknya dengan sedikit terkejut, pasalnya pintu kamar adiknya terkunci, tidak seperti biasanya. Kevin memanggil nama Ara, namun tidak ada jawaban dari dalam. Kevin menghela nafasnya sejenak.
Kevin mengambil ponselnya, mencari nomor seseorang, menghubungi orang itu. Dering ponsel berdering dari dalam kamar itu. Tak lama terdengar suara seseorang dari seberang telepon itu, yang sepertinya orang itu baru terbangun dari tidur nyenyak nya.
"Apa yang kau lakukan didalam kamar adikku, ku peringatkan kau untuk jangan berbuat macam-macam jika tak ingin aku sendiri yang memberi tahu adikku jika kau sering masuk kedalam kamarnya saat dia tertidur." ujar Kevin panjang lebar.
"Ayolah, aku hanya tidur sambil memeluknya. Tidak mungkin aku melakukan hal itu pada orang yang tertidur. Sudahlah, pergilah dari depan kamar wanita ku. Jika bisa menginap lah di hotel dan jangan menggangguku."
Panggilan langsung dimatikan sepihak. Kevin membuka mulutnya tercengang. Ini apartment adiknya namun orang itu malah bertindak semaunya.
"Ingat pesanku, jangan berbuat macam-macam. Aku tidak bercanda dengan ancaman ku." ucapnya sedikit keras.
"Pergilah.."
Kevin tertawa pelan mendengar kata usiran itu. Kevin memilih mengalah dengan membiarkan keduanya di apartment itu. Kevin keluar dari apartemen Ara, mengemudikan mobilnya menuju hotel berbintang, jangan tanya siapa yang mempunyai hotel itu.
Hotel tempat dia akan menginap adalah hotel punya orang itu. Biarlah dia bersenang-senang, itu bukan salahnya jika dia sedikit memanfaatkan orang itu.
Kevin berjalan menuju resepsionis, meminta kamar president suite untuknya. Kevin menunjukkan pesan dari orang sebagai bukti jika pimpinan mereka yang menyuruhnya untuk menginap di hotel itu.
Memang orang itu tidak mengatakan kamar yang mana yang akan dia tempati, namun Kevin tidak peduli. Kesempatan bagus seperti ini tidak akan dengan mudah dia lewatkan.
Kevin berjalan menuju lift, namun saat didalam lift ada dua orang yang mungkin merupakan sepasang kekasih, Kevin tak peduli. Namun matanya menangkap air mata yang mengalir deras di pipi perempuan itu.
Perempuan itu mengalihkan pandangannya ke arah Kevin. Kevin dapat melihat pipi perempuan itu yang tampak memerah juga membiru seperti habis dipukul. Perempuan itu menggerakkan mulutnya seperti berkata sesuatu.
Kevin yang berada didekat perempuan itu dapat tau apa yang dikatakan perempuan itu.
"Tolong aku.."
Kevin dengan mudah dapat tau apa maksud dari perempuan itu. Di detik pintu lift terbuka, laki-laki yang berada didepan perempuan itu menarik lengan perempuan itu, namun saat hendak berjalan menuju kamar yang telah dipesannya tarikannya terhalang dengan Kevin yang menarik cepat tangan perempuan itu. Sehingga laki-laki yang bersama perempuan itu mengerutkan keningnya heran.
"Kau tidak bisa membawa perempuan ini seenaknya." ucap Kevin.
"Apa masalahmu aku kekasihnya. Dia ketahuan berselingkuh dibelakang ku jadi ini masalah ku dengannya bukan denganmu." ujar laki-laki itu.
"Apa benar jika dia kekasihmu?" tanya Kevin pada perempuan itu.
"Tidak, dia bukan kekasihku. Tolong aku, aku tidak mengenalnya." ucap perempuan itu.
"Kau dengar, kau bukan kekasihnya. Dan sebaiknya kau pergi, sebelum aku memanggil sekuriti untuk membawamu ke kantor polisi." ancam Kevin yang membuat laki-laki itu sedikit takut, ingat hanya sedikit takut.
Laki-laki itu tiba-tiba hendak memukul wajah Kevin, namun Kevin yang memiliki kepekaan tinggi langsung menangkis pukulan laki-laki itu kemudian memukul wajah laki-laki itu dengan keras hingga laki-laki itu terhuyung.
"Kau masih mau lagi? aku bersedia untuk memberimu lebih jika kau tidak pergi saat ini juga."
"Ingat ini, aku akan membalas mu." laki-laki itu memegangi pipinya yang sedikit bengkak kemudian berjalan cepat pergi dari sana meninggalkan perempuan juga dan Kevin.
"Dia sudah pergi, sekarang pulanglah. Aku harus pergi."
Namun saat hendak pergi, Tangan Kevin ditarik oleh perempuan itu.
"Tolong aku, aku takut jika dia masih menungguku di sana. Bagaimana jika dia kembali menemukanku. Aku mohon bantu aku tuan."
"Maafkan aku, tapi aku tidak bisa. Kau bisa pergi kekantor polisi dan melaporkan apa yang kau alami pada polisi, mereka pasti akan membantumu."
Tiba-tiba perempuan itu bersujud di kaki Kevin, membuat Kevin gelagapan.
"Aku mohon, bantu aku tuan."
Kevin yang tak tega pun memilih mengalah dengan membantu perempuan itu.
"Baiklah kau bisa ikut aku. Sekarang ayo kita pergi."
"Baik tuan, terima kasih."
Kevin terpaksa membawa perempuan itu kedalam kamar hotel yang akan dia tempati. Niat hati ingin bersantai malah harus mendapatkan hak tak terduga...