Together but not the same

Together but not the same
Episode 24 : First day



...🍁🍁🍁🍁...


Kedua mata coklat Ara menatap kearah menara Pisa yang terlihat ramai oleh pengunjung. Angin pelan yang berhembus membuat sebagian rambut panjangnya bergerak pelan karenanya. Rasanya semua ini benar-benar seperti mimpi pikir Ara dalam hati dengan perasaan yang campur aduk.


Ia terharu juga senang, Xavier ternyata tidak berbohong ketika mengatakan akan membawanya liburan ke Itali.


Memikirkan sosok laki-laki yang berhasil menjerat seluruh perhatian dan hatinya dalam jebakan arogan dan sifat memerintah nya itu selalu membuat Ara tersenyum penuh ironi jika memikirkan nya. Bagaimana tidak, perempuan mana yang akan tetap jatuh cinta pada lelaki yang sudah mengancam dan berbuat kasar padanya!? Terutama ketika Ara tau jika Xavier ternyata dari dulu selalu mengawasinya.


Well.... mungkin hanya Ara seorang.


Gadis keras kepala dan bodoh.


Tetapi walaupun begitu Ara akan tetap berada disisi Xavier menjalani kehidupan bersama dengan senang hati, membangun sebuah keluarga bahagia. Apalagi tidak lama lagi ia akan melahirkan.


Ditengah lamunannya Xavier memeluk pinggangnya dari belakang.


"Apa yang kau pikirkan honey? Aku melihatmu termenung dari tadi, Apa kau tidak senang aku membawamu kesini?" Xavier membenamkan kepalanya pada lekuk leher Ara. Mencium harum yang sangat familiar yang membuatnya selalu kecanduan.


"Tidak bukan begitu, aku sangat senang kau mengajakku kesini." Ara membalikkan tubuhnya menghadap Xavier. "Terima kasih Xavier."


"Udara sudah mulai dingin sebaiknya kita cari tempat untuk menghangatkan tubuh dahulu. Ayo." Xavier menarik tangannya lembut memasuki mobil.


Xavier membawa Ara kesebuah pameran seni yang ada di kota Roma itu.


Ara melihat-lihat lukisan yang membuatnya terpana. Benar-benar indah.


Xavier hanya memperhatikan dari jauh, Ia tidak ingin membuat Ara tidak bebas dalam menjelajahi museum ini. Namun ia juga tidak lepas pandang dari Ara, Ia takut Ara kenapa-kenapa nanti.


"Xavier lihatlah lukisan ini, senimannya pasti sangat menghayati ketika membuat lukisan ini. Benar-benar menakjubkan."


Ara berjalan ke sana kemari tanpa lelah, Ia sangat excited melihat banyak barang unik.


Setelah ayik berkeliling Ara pun meminta Xavier untuk membawanya kembali ke hotel. Ia sudah sangat lelah. Dokter mengatakan jika ia tidak boleh terlalu lelah, tapi demi melihat isi museum itu ia bahkan lupa peringatan dari dokternya.


Ara dan Xavier telah sampai dikamar hotel mereka, Ara menyandarkan punggungnya disandarkan ranjang king size di kamarnya.


Xavier berjalan kearah Ara membawa sebuah nampan berisi cemilan. Ara pasti sudah lapar, Tapi waktu makan malam belum tiba. Jadi untuk jaga-jaga ia membeli banyak persediaan makanan ringan untuk Ara.


"Sekarang beristirahatlah, aku akan membangunkan mu jika sudah waktunya makan malam." Xavier mengecup kening dan bibir Ara, lalu membiarkan Ara tidur dengan tenang.


"Tapi jangan pergi ya, kau tidak boleh meninggalkan aku sendiri."


Xavier mengangguk sebagai jawaban.


Ponsel Xavier berbunyi, Ia mengambilnya dan berjalan kearah balkon kamar mereka. Xavier melihat siapa yang menelpon ternyata ibunya.


"Ada apa mom?" tanya Xavier tanpa basa basi.


"Tidak ada sayang, mommy hanya ingin menanyakan kabar kalian. Apa Ara dan kandungannya baik-baik saja?" Tanya ibunya diseberang sana.


"Mereka baik-baik saja mom, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ara sekarang sedang istirahat." Xavier menjawab kekhawatiran ibunya.


"Baguslah kalau begitu. Oh ya, kapan kalian akan pulang? Dan juga kapan pernikahan kalian dilangsungkan? Mommy ingin segera mempunyai menantu."


"Kami liburan hanya satu minggu mom, Setelah pulang kami akan pergi fitting baju pengantin mom. Mom tenang saja, Untuk gedung dan lainnya serahkan saja pada asistenku." ucap Xavier.


"Baiklah, mommy hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian. Jaga Ara baik-baik, dan jangan buat ia terlalu lelah, apalagi harus melayani nafsu kuda mu. Mom tutup dulu, bye sayang."


Panggilan itu pun terputus, Xavier menggelengkan kepalanya. Mommy nya mengatakan hal yang tidak-tidak. Ia juga mana mungkin meminta Ara melayaninya, sedangkan Ara pulih dengan total. Xavier tidak ingin membahayakan anak serta calon istrinya.


Xavier memegang ponselnya, beralih menghubungi asisten nya.


"Hallo tuan?" ucap orang diseberang sana.


"Bantu kedua orangtuaku untuk mencari gedung pernikahan. Dan juga dekorasi nya. Buat acara itu semewah dan semeriah mungkin. Aku tidak ingin ada kesalahan sedikitpun. Apa kau mengerti?"


"Baik tuan. Akan saya laksanakan."


Xavier memutus panggilan itu. Ia harus segera menyiapkan semuanya, sebelum permasalahan datang kembali. Xavier harus segera mengikat Ara dalam pernikahan, dengan begitu tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan mereka...


Ara akan bersamanya selamanya. Membangun keluarga yang bahagia. Membuat anak yang lucu-lucu. Xavier sudah tidak sabar menantikannya.