Together but not the same

Together but not the same
Episode 31 : Ara's parents' home



...🍁🍁🍁🍁...


Ara dari tadi mengetuk pintu, tapi tidak ada yang membukanya. Ia sudah berdiri selama 10 menit didepan pintu rumah kedua orang tuanya. Ara sudah meminta izin pada Xavier untuk menginap di rumah kedua orangtuanya. Dan Ara bersyukur Xavier memperbolehkannya.


"Mom apa kalian didalam?" Ara berteriak. Tidak lama pintu besar didepannya pun terbuka menampilkan sosok pelayan yang sudah lama bekerja di rumah mereka.


"Nona? Maaf nona saya tidak tau jika nona akan datang. Saya tadi berada di taman belakang." Pelayan paruh baya itu membungkuk.


"Tidak papa bibi We, dimana mom dan dad?" Ara masuk kedalam rumah besar itu.


Bibi We menutup pintu besar dan berjalan menyusul Ara.


"Tuan dan nyonya masih ada urusan diluar nona, tapi mungkin sebentar lagi mereka akan pulang. Apa nona sudah makan malam? Jika belum saya akan meminta pelayan lain untuk memasaknya."


"Tidak bibi We, aku sudah makan sebelum kesini. Aku ke kamar saja. Oh ya jika mommy dan Daddy sudah pulang tolong panggil aku keatas bibi." Ara pun menaiki tangga menuju kamarnya.


"Baik nona. Hati-hati menaiki tangga jangan sampai jatuh."


Ara membuka pintu kamarnya dan langsung berbaring. Ah, ia merindukan kamarnya ini. Sudah lama ia tidak pulang ke rumah orangtuanya. Ara mengusap lembut perutnya. Tidak terasa kandungannya sudah menginjak usia 4 bulan. Dan 2 minggu lagi pernikahannya dengan Xavier akan dilangsungkan. Ia sudah tidak sabar.


Ponsel Ara berbunyi, Ara segera mengambil ponselnya lalu mengangkatnya. Ternyata itu panggilan video dari Xavier.


"Honey apa kau sudah sampai? Apa diperjalanan kau ada kesulitan?"


"Tidak, aku tidak papa. Kau ada dimana? Itu tidak seperti di mansion." Ara mengerutkan keningnya.


"Memang bukan. Aku sedang berada di pesawat. Aku ada urusan bisnis ke Itali." Xavier terlihat tersenyum dilayar ponsel itu.


"Baik lah. Hati-hati. Dan ingat jangan bermain wanita, kau sebentar lagi akan menikah juga memiliki baby." Ara membalas senyuman Xavier.


"Aku tau. Aku hanya mencintaimu. Jaga anak kita baik-baik. Dan jangan kelelahan, mengerti? Aku tutup dulu telepon nya. love you."


Panggilan itu pun berhenti. Xavier yang mematikannya.


Ara kembali meletakkan ponselnya dan memilih untuk tidur.


Sementara didalam pesawat Xavier dengan berbicara serius dengan Aril.


"Tuan, apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Anak buah kita sudah berada di lokasinya saat ini." Aril menunjukkan lokasi target mereka pada Xavier.


Xavier tersenyum sinis. Orang itu berniat main-main dengannya. Apa pelajaran yang ia berikan tempo lalu tidak berarti bagi orang itu?


"Terus awasi dia. Dan jangan sampai kehilangan jejaknya. Setelah kita sampai, kita akan menjalankan rencana kita."


"Aku ingin rencana itu berjalan mulus. Jangan sampai ada kesalahan di sana. Karena aku ingin pulang cepat, wanita ku pasti menungguku."


Xavier tersenyum-senyum sendiri. Ia tidak sabar untuk mengikat Ara dalam pernikahan. Ara akan menjadi miliknya selamanya.


Aril yang melihat tuannya itu senyum-senyum merasa aneh. Apa tuannya itu sudah gila? Benar! Tuannya memang sudah gila semenjak tuannya bertemu dengan nona Ara.


Aril merasa kasihan pada Ara. Ara akan selalu menurut dengan apa yang dikatakan Xavier. Walaupun Ara tidak mau, Xavier akan selalu mempunyai cara agar Ara bersedia. Xavier diam-diam membeli 60 persen saham perusahaan keluarga Ara. Itulah sebabnya Ara tidak berani menolak Xavier, Ara tidak mau keluarga nya menderita hanya karena dia.


Aril hanya berdoa agar Ara selalu bersama Xavier. Aril tidak bisa membayangkan bagaimana Xavier jika Ara pergi meninggalkannya.


"Nona Ara tolong jangan pernah buat kami dalam keadaan antara hidup dan mati. Kami tidak ingin berhadapan dengan iblis dingin didepannya ini." ucap Aril memohon dalam hati.


"Kenapa? apa ada sesuatu?" Xavier mengernyitkan dahinya penasaran. Asistennya itu malah melamun saat dia sedang berbicara padanya.


"Ti..tidak ada tuan. Saya hanya sedang memikirkan interior gedung pernikahan tuan apakah sudah hampir selesai atau belum." Aril tersenyum gugup. Ia takut tuannya itu akan marah adanya.


"Tidak usah dipikirkan. Ibuku pasti mengawasi mereka. Sekarang fokus dan dengarkan aku." Xavier mendekatkan tubuhnya pada Aril.


"Baik tuan."


Setelah itu hanya ada keheningan didalam pesawat itu.


*****


"Nona, tuan dan nyonya sudah pulang." Bibi We mengetuk pintu kamar Ara.


Ara yang merasa terganggu pun membuka matanya. Ara melihat jam di atas nakas ternyata sudah jam 9 malam. Ara pun pergi membasuh wajahnya dan turun kebawah melihat kedua orangtuanya.


Ibunya yang melihat ia turun pun segera membantu Ara untuk turun tangga.


"Kenapa kau tidak menghubungi kami jika kau akan menginap disini?"


Kedua wanita berbeda usia itu pun mendudukkan diri mereka di sofa yang berada diruang tamu.


"Apa aku harus menghubungi kedua orang tuaku jika anaknya akan datang berkunjung? Dad lihatlah mommy. Aku diperlakukan seperti kerabat jauh." Ara mengerucutkan bibirnya cemberut.


"Sayang jangan mengatakan hal itu pada putriku. Ara kemari lah, Daddy sangat merindukan putri kecil dad."


Ara pun berjalan memeluk daddy nya. Kedua saling memeluk dengan sayang tanpa menghiraukan nyonya besar yang juga sudah kesal.


"Apa kalian tidak melihat mommy disini? Astaga suami dan putriku bahkan tidak menghiraukan ku. Lalu kemana aku harus pergi jika suami dan putri ku seakan tak melihat kehadiranku." ucap Ibu Ara mencoba mendramatisir.


"Ayolah mom. Kau seperti anak kecil. Kemari lah mom, masih ada ruang kosong disini."


Ketiganya pun berpelukan dengan sayang.


"Apa dia menyusahkan mu sayang?" Tanya Marga mengelus perut buncit putrinya.


"Tidak mom. Dia tidak menyusahkan ku. Walaupun terkadang aku masih mual jika memakan sesuatu." Ara juga mengusap perutnya sayang.


"Itu hal yang normal. Setiap ibu yang hamil pasti merasakan mual. Walaupun terkadang bukan ibunya yang mual melainkan suaminya."


"Benarkah mom? Aku baru tau jika laki-laki juga bisa mual ketika istrinya hamil."


"Benar sayang. Ketika mengandung dirimu, bahkan Daddy harus cuti kerja selama dua minggu karena mual juga pusing." ucap Anthony menjawab pertanyaan Ara.


"Syukurlah hanya aku yang mual. Jika Xavier ikut mual aku tidak bisa membayangkan harus bagaimana dia. Ia pasti akan kesusahan."


"Apa kau pernah memeriksanya ke dokter setelah kalian liburan?" Tanya Marga penasaran.


"Belum mom. Aku belum memeriksanya ke dokter."


"Baik tidak papa. Bagaimana jika besok kita pergi ke dokter untuk memeriksanya?" Marga ingin tau bagaimana kondisi cucunya.


"Baik aku setuju mom."


"Bagus. Mommy akan menghubungi dokter kandungan pilihan mommy. Sekarang ayo mommy antar kau ke kamar. Kau harus beristirahat dengan baik agar cucu mommy baik-baik saja."


Marga pun mengantar Ara ke kamarnya. Setelah menyelimuti putrinya, Marga pun mematikan lampu dan menutup pintu kamar putrinya.


Ara menatap langit-langit kamarnya. Ia merindukan Xavier.


"Apa Xavier sudah sampai?" Ara pun mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Xavier, tapi panggilannya malah tidak masuk. Ara mencobanya lagi tapi tetap tidak bisa.


Ara pun meletakkan ponselnya kembali dan mencoba tidur. Setelah beberapa lama mencoba akhirnya Ara pun tertidur dengan lelapnya..