
...🍁🍁🍁🍁...
Ara bangun menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Ara mengerjapkan mata. Lalu terduduk menyandarkan punggungnya disandarkan ranjang itu.
Kepalanya sakit. Sepertinya ia sudah lama tertidur. Ia harus segera membersihkan diri.
Ara melangkah kearah kamar mandi melupakan jika ia dalam keadaan telanjang bulat.
Ara sudah siap dengan pakaian santainya. Hari ini dia tidak ada kelas. Dan juga tidak ada kepentingan. Ia hanya akan bermalas-malasan di mansion besar ini.
Ara menuruni tangga dan pergi keruang makan. Tapi tidak melihat Xavier di sana. "Apa Xavier sudah pergi kekantor." pikirnya.
Ia duduk di kursi itu. Tidak lama pelayan membawakan sarapan untuknya.
"Jika nona mencari tuan. Tuan sudah pergi sekitar satu jam yang lalu. Tuan juga berpesan agar nona tidak pergi keluar." Ucap pelayan itu dan pamit undur diri.
Ara hanya mengangguk dan mulai melahap makanannya.
*****
Ara sekarang sedang menonton tv diruang tamu keluarga itu. Ia sudah bosan. Tidak ada acara tv yang menarik untuk ditonton.
Ara mempunyai ide. Ia akan berkeliling mansion ini saja. Banyak tempat yang belum ia tahu.
Ara berjalan kearah taman belakang. Di sana terdapat berbagai makan tanaman. Sangat indah. Apa Xavier menyukai tanaman sepertinya?.
Setelah puas berkeliling taman. Ara melanjutkan langkahnya menuju bangunan dilantai 3 rumah itu. Ia penasaran. Kenapa lantai ini sangat sepi. Bahkan pelayan tidak ada yang naik kelantai 3 ini.
Disepanjang lorong hanya ada kegelapan. Ara takut. Tapi ia juga penasaran. Ara terus melangkah. Lalu berhenti didepan pintu yang terbuat dari kayu yang kokoh itu.
Ternyata hanya ada satu pintu dilantai ini. Pantas saja tidak ada yang datang kemari. Ara mencoba membuka pintu itu tapi ternyata terkunci.
Hah. Ternyata terkunci. Lebih baik ia pergi dari sini. Sebelum ada yang menyadarinya. Namun saat Ara berbalik. Ia tidak sengaja menyenggol sesuatu.
Pintu itu tiba-tiba terbuka. Menampilkan kegelapan. Ara terkejut. Ternyata dimuka dengan menggeser benda itu.
Ara yang kepo masuk kedalam ruangan itu. Ia tidak bisa melihat apapun.
Ara meraba-raba dinding. Mencari saklar lampu. Setelah ketemu ia menyalakannya. Dan melihat ruangan itu.
Mata nya sontak membulat. Jantungnya berdegup kencang. Kenapa ada banyak fotonya di sana.
Ia berjalan kearah sebuah papan yang menampilkan foto-foto kesehariannya. Bahkan ada foto ketika ia masih SMA.
Ya Tuhan. Apa selama ini Xavier menguntit nya. Foto-foto itu dipajang sedemikian rupa. Namun ada benang merah yang menjadi penghubung antar foto.
Ditengah-tengah kumpulan foto itu terdapat tulisan yang kurang jelas. Ara menyipitkan matanya dan membaca tulisan itu.
Tulisan itu ternyata bertuliskan "Kau hanya milikku seorang Clarissa Clara Barton"
Ara menutup mulutnya dengan tangan dan memundurkan langkahnya karena syok. Kenapa. Kenapa Xavier bertindak seperti penguntit. Ia takut. Benar-benar takut. Berarti selama ini Xavier yang sudah merencanakan pertemuan mereka. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih.
Ara menutup mulutnya. Ia benar-benar tidak percaya. Air matanya luruh. Xavier ternyata diam-diam selalu membuntutinya.
Saat Ara tengah asyik dengan lamunannya. Seseorang tiba-tiba menutup pintu ruangan itu. Ara yang kaget memutar tubuhnya. Sontak ia terkejut bukan main.
Xavier berdiri dihadapannya dengan wajah yang memerah. Tangan terkepal. Sepertinya Xavier benar-benar marah sekarang.
"Kenapa kau tiba-tiba masuk keruangan ini?" Ucap Xavier dengan suara rendah.
Ara benar-benar takut. Tubuhnya gemetar. Degup jantungnya juga sudah menggila.
"Aku hanya tidak sengaja naik. Dan menemukan ruangan ini." ucap Ara dengan takut.
Xavier maju dan langsung memojokkan arah Kedinding. Ia meremas lengan Ara dan berkata. "Apa kau pikir aku bodoh. Kau jelas-jelas sudah masuk ke dalam kekuasaan ku Ara. Aku bahkan tidak memperbolehkan pelayan untuk masuk ke lantai ini. Tapi kau dengan beraninya bahkan masuk keruangan ini." ucap Xavier.
Xavier melihat kearah papan itu. Lalu memutar kepalanya kembali kearah Ara. Berani-beraninya Ara melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihat olehnya.
"Ikut aku." Xavier menarik tangannya dengan kencang. Rasanya sangat sakit. Ara meronta tali genggaman Xavier terlalu kuat. Ia tidak bisa melepaskannya.
Xavier membawanya kesebuah ruangan lain dilantai itu. Pintu itu berwarna hitam pekat. Pantas saja Ara tidak melihat pintu ini tadi.
Xavier membuka pintu itu lalu mendorong tubuh itu kedalam. Ia lalu mengambil sesuatu didalam laci nakas yang berada disudut ruangan itu.
Ara yang ketakutan mencoba berdiri. Tapi kakinya sangat lemas. Ara melihat Xavier yang melangkah kearahnya. Ditangan Xavier ada sebuah tali. Ya Tuhan. Apa yang akan Xavier lakukan padanya.
"Kau akan diberi hukuman karena kau telah berani masuk keruangan itu." Ucap Xavier membisikkan kalimat itu.
Xavier menarik tangan Ara. Lalu mengikat tangan itu disebuah tiang yang terletak ditengah rungan itu. Ara bahkan baru menyadari jika ada tiang di ruangan itu.
Ara lalu melihat ruangan itu. Ya ampun. Ternyata ruangan ini sangat menakutkan. Banyak terdapat alat-alat yang bahkan Ara tidak tau gunanya untuk apa. Ruangan ini lebih terlihat seperti ruangan penyiksaan.
Xavier juga mengikat kakinya. Ara benar-benar tidak bisa kabur. Ara berusaha melepaskan diri tapi itu malah membuat tangan dan kakinya lecet karena borgol itu.
Xavier mengambil kursi dan duduk didepan Ara. Ah. Jiwa iblis nya mungkin sudah keluar hanya karena menyangkut ruangan itu.
Xavier lalu berdiri mengambil sebuah pisau kecil. Ia berjalan kearah arah. Ara yang melihat Xavier berjalan kearahnya hanya bisa menangis.
"Lepaskan aku. Aku mohon Xavier. Kau tidak mungkin menyakiti ku." Air matanya sudah mengalir deras. Tubuhnya gemetar. Ia sangat takut.
"Suuutttt. Tidak semudah itu sayang. Kau akan menyukainya nanti." Xavier lalu mengukir namanya di lengan mulus itu.
Ara berteriak. Rasanya sangat sakit. Xavier terus melakukannya. Tidak ada rasa iba sedikitpun melihat lengan itu berubah warna menjadi merah. Bahkan ada yang mengeluarkan darah.
Ara terus menangis. Ia tidak sanggup lagi. Sebelum kesadarannya habis Ara hanya ingin Xavier tau jika walaupun ia disiksa. Ara akan tetap mencintainya.
Xavier yang melihat Ara pingsan pun panik. Ia melempar pisau cek itu dan melihat tangannya. Apa yang sudah ia lakukan. Kenapa ia menyakiti kekasihnya itu lagi. Xavier melihat tubuh itu. Lengannya tergores pisau, Pergelangan tangan dan kaki yang memar. Juga mata sembab. Apa yang ada dipikirannya.
Xavier menarik rambutnya dengan keras. Ia lalu berteriak. Ara pasti akan takut dengannya setelah ini. Ara nya pasti akan membencinya.
Xavier berjalan cepat melepaskan borgol itu. Kemudian menggendong tubuh lemah itu meninggalkan ruangan terkutuk itu.
Xavier menuruni tangga dengan cepat dan membawa Ara ke kamarnya.
"Cepat panggil dokter pribadi ku kemari." Xavier berteriak seperti orang kesetanan. Ia tidak peduli. Yang dipikirannya hanya Ara harus baik-baik saja.
Tidak lama dokter bernama Takuma itu pun datang. Ia memeriksa Ara dengan hati-hati. Lihatlah tubuh gadis itu. Apa yang dilakukan sahabatnya itu. Apa dia ingin membunuh kekasihnya itu.
Setelah setelah memeriksa Ara. Takuma pun keluar berjalan menuju ruang kerja Xavier.
"Apa yang kau lakukan pada kekasihmu. Apa kau gila?" Tanya Takuma. Ia benar-benar tidak habis pikir. Sahabatnya itu berkata jika ia sangat mencintai kekasihnya tapi lihat dia bahkan menyiksa kekasihnya itu.
"Aku tidak tau. Aku tidak ingat. Aku hanya tersadar dan melihat jika Ara sudah pingsan. Apa dia kembali lagi Takuma?" Xavier menatap Takuma dengan tatapan takut. Ia tidak ingin sisi jahatnya kembali. Sisi itu sudah lama mati.
"Aku tidak tau. Aku hanya ingin mengatakan lepaskan Ara jika kau tidak bisa menjaganya dari dirimu sendiri. Aku sudah memberikannya obat tidur. Dan juga sudah menyuruh pelayan mengoleskan obat pada lukanya." Setelah mengatakan itu Takuma pamit pergi.
Takuma sudah tidak terlihat. Xavier pun cepat-cepat melangkah menuju kamarnya. Ia ingin melihat keadaan Ara.
Xavier melihat Ara yang menutup mata dengan damai. Namun terdapat beberapa perban di lengan nya . Ia sangat menyesal. Kenapa ia harus melakukan itu.
Setelah puas memandangi rasa dengan rasa bersalah Xavier pergi menuju bar yang ada di mansion itu. Ia meminum apapun yang dapat membuat ia mabuk dan bisa membuat ia melupakan rasa bersalahnya sejenak.
Xavier yang sudah mabuk itu pun kemabli keruang kerjanya. Membaringkan tubuhnya di atas sofa. Lalu memejamkan matanya yang mulai terasa berat.
Hah. Malam ini menjadi malam yang sangat melelahkan. Ia harus meminta maaf kenapa Ara besok. Bahkan jika perlu ia akan berlutut dihadapan wanita itu.
...T.B.N.T.S...