Together but not the same

Together but not the same
Episode 41 : Fighting again



Daniel menatap seorang pemuda yang terlihat berjalan kearah meja tempat ia duduk. Daniel tersenyum tipis. Ia pikir pemuda itu tidak akan datang. Tapi ternyata dia sudah salah.


Daniel berdiri, mengulurkan tangannya pada pemuda itu.


"Aku kira kau tidak akan berani kembali ke kota ini."


Pemuda itu membalas jabatan tangannya dan ikut mendudukkan diri di kursi.


"Tidak mungkin aku tidak kembali." ucap pemuda itu menunjukkan senyum smirk nya.


Seorang pelayan datang bertanya kepada pemuda itu apa ia ingin memakan atau meminum sesuatu. Pemuda itu hanya mengatakan ingin segelas kopi. Pelayan itu pun mencatat pesanan pemuda itu dan pamit pergi dari sana.


"Jadi apa yang membuatmu kembali kesini?" Daniel menunggu jawaban dari pemuda itu. Ia harus mencari tau apa niat pemuda itu agar ia bisa memanfaatkan situasi. Daniel tersenyum tipis memikirkan rencananya.


Pemuda itu melihat kearah jendela yang berada tepat dibelakang tubuh Daniel.


"Aku hanya ingin mengambil apa yang menjadi milikku. Aku akan membuat mereka semua membayar apa yang aku rasakan."


Daniel kembali tersenyum tipis mendengar jawaban pemuda itu. Ia sudah menduga semuanya akan sesuai dengan rencananya.


Pembicaraan kedua pemuda itu pun terus berlanjut dengan serius. Keduanya membahas segala hal yang menurut mereka penting.


*****


Ara membuka pintu mobilnya dan langsung berjalan menuju lift pribadinya. Di perusahaannya memang disediakan satu lift khusus untuknya ataupun untuk tamu penting yang datang ke perusahaannya.


Ara membuka pintu ruangan nya, masuk kedalam dan betapa terkejutnya dia ketika melihat dua orang yang sedang saling tarik rambut. Ara sudah tidak tau harus melakukan apa. Dia juga tidak tau harus bagaimana membuat keduanya untuk akur.


"Apa yang kalian berdua lakukan di ruangan ku. Dan kenapa kalian saling menjambak seperti itu." Ara berjalan kearah kedua orang itu.


Nina yang melihat Ara datang pun tak terpengaruh sama sekali. Nina tetap tak melepaskan jambakan nya dari rambut Max begitupula dengan Max. Keduanya masih tetap setia dengan perlawanan mereka.


"Dia yang terlebih dahulu menarik rambutku Ara." ucap Max dengan raut wajah kesakitan. Ayolah, kepalanya seperti mau putus sekarang. Rambut laki-laki jika tarik akan lebih sakit dari ada rambut perempuan.


"Ku memang menariknya tapi dia yang lebih dulu mencari gara-gara denganku. Apa kau tau Ara? Dia sudah membuat kekasihku lari tadi siang. Dia mengatakan jika aku dan dirinya adalah mantan kekasih dan dia juga jika aku adalah wanita aneh makanya aku dan dia putus." Nina kembali menarik rambut Max tapi lebih kuat. Emosinya sudah di ubun-ubun.


"Aku hanya bercanda tadi. Harusnya kau berterima kasih padaku karena aku menyelamatkan mu dari pemuda playboy itu. Dan dengan begitu itu sudah membuktikan jika dia tida bisa menerimamu apa adanya. Dia tidak mencintaimu." Max juga ikut mengencangkan tarikannya.


"Hah. Aku benar-benar sudah lelah melihat kalian berdua. Setiap hari aku harus melihat kalian berdua bertengkar. Sekarang ayo. Kalian berdua melepaskan rambut masing-masing."


Kedua orang itu saling bertatapan.


"Aku akan melepaskan rambutmu namun kau juga harus melepaskan rambutku." Nina menatap Max dengan sengit.


"Baik, tapi kau harus benar-benar melepaskannya." balas Max ikut menatap Nina sengit.


"Baiklah dalam hitungan ketiga.. satu..dua..tiga." Keduanya pun saling melepaskan rambut yang mereka tarik.


Nina juga meraba kepalanya. Mungkin sekarang rambutnya sudah rontok banyak gara-gara laki-laki gila itu. Apa dia harus pergi melakukan tanam rambut? Sepertinya itu ide yang bagus.


Ara yang melihat keduanya seperti saling memaki dalam pikiran pun hanya bisa menghela napas. Ia sudah sering melihat keduanya bertengkar jadi ia sudah terbiasa. Namun dia tidak menyangka jika keduanya akan bertengkar separah ini. Keduanya pasti kesakitan.


Ara melipat kedua tangannya didepan dada.


"Sekarang kalian berdua harus saling meminta maaf. Jika kalian berdua tidak mau. Aku tidak akan menganggap kalian berdua sahabatku lagi."


Nina memutar kedua bola matanya malas.


"Kenapa aku harus meminta maaf padanya. Dia yang lebih dulu mencari gara-gara denganku. Astaga aku sudah lelah mengejar cintaku tapi gara-gara laki-laki gila didekat ku ini cintaku malas memutuskan ku." ucap Nina dengan menunjuk wajah menyebalkan Max.


Max yang ditunjuk pun menjadi kesal.


"Kau yang terlebih dahulu menarik rambutku, jadi kenapa aku yang harus lebih dulu meminta maaf padamu, lagipula kau kan bisa mencari kekasih yang lebih bisa dianggap kekasih dibandingkan pemuda jelek itu."


Ara menepuk keningnya pelan. Ia sudah pusing dengan pekerjaan dan kedua sahabatnya ini malah bertengkar seperti anak kecil.


"Max..Ayolah. Apa kau tidak mau meminta maaf kepada Nina. Ia sudah menjomblo gara-gara kau."


Mendengar suara Ara yang seperti memohon pun akhirnya Max luluh.


"Aku minta maaf." Max mengatakannya dengan suara pelan tak ikhlas. Jika bukan karena permintaan Ara dia tidak akan mau meminta maaf pada wanita aneh itu.


Ara melihat kearah Nina.


"Max sudah meminta maaf. Sekarang tinggal kau Nina."


"Aku minta maaf." Nina juga mengatakan itu dengan malas.


"Nah bagus. Sekarang kalian sudah kembali akur. Jadi sekarang kalian harus keluar dari ruangan ku. Karena aku harus mengerjakan pekerjaan ku."


Pun Nina dan Max akhirnya keluar. Keduanya tidak mau mengganggu Ara. Nina berjalan lebih dulu dari Max. Max pun berjalan dengan cepat sehingga kini Nina yang berada dibelakang. Nina pun kembali berjalan lebih cepat sehingga dia kembali berada didepan Max.


Keduanya melakukan itu sampai ke parkiran dengan keduanya masuk kedalam mobil masing-masing. Para karyawan yang melihat keduanya tertawa pelan. Keduanya memang terkenal dengan sebutan tom and jerry karena memang keduanya tidak pernah akur.


Para pegawai juga sering melihat keduanya diomeli atasan mereka. Jika mereka sudah melihat Ara memarahi keduanya mereka hanya akan menonton dari jauh dan tertawa pelan.


Namun dibalik itu semua mereka juga harus memberi jempol pada ketiga orang yang bersahabat itu karena walaupun sering bertengkar ketiga akan selalu saling menguatkan jika ada salah satu yang mendapat masalah atau sebagainya.


Ara akhirnya dapat bernapas lega. Kedua orang itu sudah pergi. Kini tinggallah dia sendiri. Ara mendudukkan dirinya di kursinya dan mulai memeriksa dokumen-dokumen penting yang berada di atas mejanya.


Akhir-akhir ini Ara akan sangat sibuk karena kerja sama perusahaannya dengan perusahaan Daniel. Ia tidak boleh membuat para investor kecewa pada perusahaannya...