
...🍁🍁🍁🍁...
Kini Ara dan Xavier berada disebuah mobil yang akan membawa mereka ke bandara. Mereka akan pergi liburan setelah menghadapi banyaknya masalah.
Xavier menyerahkan pekerjaannya pada Aril selama dia cuti. Dia hanya ingin menghabiskan waktunya dengan wanita yang saat ini tertidur dipundaknya.
"honey bangun lah, kita sudah sampai." Xavier mencoba membangun kan Ara tapi tidak terbangun, Ara mungkin lelah.
Xavier lalu menggendong tubuh itu turun dan berjalan menuju private jet yang sudah menunggu mereka.
Xavier membaringkan Ara disebuah kamar yang berada didalam pesawat itu. Jangan tanya bagaimana interior nya. Sangat mewah, seorang Xavier memang tak diragukan lagi kekayaannya.
Setelah itu Xavier mendudukkan dirinya di kursi yang berada didalam pesawat itu. Pilot mulai menerbangkan burung besi itu. Mereka akan liburan ke Itali. Ara mengatakan jika ingin sekali pergi ke Itali, itulah mengapa Xavier merencanakan liburan ini.
*****
Pesawat itu telah mendarat di bandara Internasional Leonardo da Vinci, Xavier kembali memasuki kamar itu dan melihat jika Ara masih tidur.
Xavier pun mendudukkan dirinya di kasur itu dan mulai menciumi wajah wanitanya itu.
"Xavier aku masih mengantuk. Sebentar lagi, jangan ganggu aku." Ara membalikkan tubuhnya membelakangi Xavier.
Xavier berbisik agar wanitanya segera bangun.
"honey, bangun lah."
Ara kembali menggeliat pelan sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya. "Hmm..."
Xavier terkekeh ketika melihat Ara yang bergumam pelan dengan tubuh yang berusaha menggapainya.
"Kita sudah sampai honey, sekarang bangun ya." beritahu Xavier.
"Benarkah?" Tanya Ara berusaha membuka matanya walaupun ia masih mengantuk.
Xavier menggelengkan kepalanya. Lihatlah wanitanya sudah tertidur kurang lebih 8 jam tapi masih mengatakan mengantuk. Apa itu termasuk efek hamil? tanya Xavier dalam hati.
Xavier membantu Ara berdiri dan turun dari pesawat itu. Diluar sebuah mobil hitam sudah menunggu mereka.
Supir itu membukakan pintu untuk mereka, kemudian melajukan mobil hitam itu membelah jalanan padat kota Roma itu.
*****
Ara dan Xavier telah sampai di hotel tempat mereka akan menginap selama berada di Itali.
"Apa kau lapar honey? atau ingin mandi terlebih dahulu?" Xavier melihat Ara yang menatap binar pemandangan dari balkon kamar hotel mereka.
"Lebih baik mandi dulu, baru makan." Ara pun berjalan menuju kamar mandi. Namun Xavier menggendongnya dan ikut masuk kedalam kamar mandi itu.
Hari sudah malam, Ara meminta Xavier agar membawanya berkeliling Roma, Tapi Xavier mengatakan udara malam tidak bagus untuk wanita hamil. Ara akhirnya mengalah.
"Kemari kan. Aku akan memijat kakimu." Xavier memijat kaki itu dengan telaten.
Ara yang merasa nyaman pun mulai menutup matanya. Mungkin sebentar lagi dia akan tertidur.
Xavier yang melihat Ara mulai tertidur pun menyelimuti wanitanya itu lalu ikut masuk kedalam selimut itu.
Mereka akan istirahat dan setelah itu memulai liburan panjang mereka di Itali.
*****
Xavier melihat Ara yang dengan lahap menyantap sarapannya. Ia lalu menatap perut yang mulai membesar itu.
"Kapan little Xavier akan mulai menendang seperti bayi lain honey?" Tanya Xavier mengusap perut wanitanya.
"Kandunganku baru 3 bulan Xavier. Kau harus menunggu satu bulan lagi, memangnya kenapa?" Ara menatap Xavier dengan bingung.
"Tidak ada. Aku hanya ingin ketika aku berbicara dengannya dia akan merespon ku dengan tentangannya."
Ara mendengar itu menggelengkan kepalanya. Xavier benar-benar sulit ditebak.
"Sekarang habiskan makannya, kita akan pergi mengunjungi beberapa tempat disini."
Ara mendengar itu pun segera melahap makannya sampai habis.
Kini keduanya berada di Danau Albano. Xavier membawanya ke danau ini karena Xavier ingin menunjukkan pemandangan danau kepada Ara. Banyak rumah penduduk diatas bukit. Warna danau yang biru menambah kesan cantik pada pemandangannya. Ara benar-benar terpana dengan keindahannya.
"Apa kau ingin menginap disini?" Xavier menatap Ara.
"Benarkah? Apakah boleh?" Ara menatap balik Xavier dengan tatapan binar dikedua matanya.
"Tentu saja boleh honey. Aku membawamu kesini untuk liburan. Jadi apapun yang kau inginkan akan aku kabulkan. Sekarang ayo kita pergi."
Xavier menarik lengannya pelan. Keduanya pun pergi menuju penginapan yang sudah Xavier pesan sebelumnya.
Kamar mereka menghadap langsung kearah danau dan juga matahari terbenam. Ara menatap pemandangan didepannya dengan takjub. Benar-benar indah.
Xavier memang laki-laki sempurna untuk menjadi ayah anaknya. Xavier juga selalu perhatian padanya. Walaupun terkadang ia merasa Xavier sudah keterlaluan karena melarangnya melakukan banyak hal.
Ara benar-benar beruntung menjadi wanita Xavier. Mereka juga sebentar lagi akan menikah. Menikah, membangun keluarga yang bahagia itulah impian Ara. Dan tentu saja harus dengan laki-laki yang ia cintai didekatnya ini.
Ara menatap wajah Xavier, laki-laki didekatnya sangat tampan. Jika anaknya laki-laki, anaknya pasti akan setampan ayahnya itu.
Ara sangat beruntung memiliki Xavier
...T.B.N.T.S...