Together but not the same

Together but not the same
Episode 22: Engagement



...🍁🍁🍁🍁...


Hari ini Ara sudah pulang. Dokter mengatakan jika kondisinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Tapi dokter juga mengatakan agar ia tidak terlalu lelah dan banyak pikiran karena bisa menggangu janinnya.


Xavier mendorong kursi roda itu melewati lorong dan sampai didepan mobil mereka. Ara sudah tau mengenai kakinya yang belum bisa berjalan. Ia memaklumi. Awalnya ia sangat sedih tapi Xavier berkata jika ia akan selalu bersama Ara.


Xavier menggendong dan memasukkan Ara kedalam mobil. Ia lalu mengambil dan memasukkan kursi roda kedalam bagasi.


Xavier membuka pintu dan masuk. Memasangkan sabuk pengaman pada Ara dan dirinya, kemudian mulai melajukan mobilnya menuju mansion nya.


Xavier berubah menjadi lelaki yang super posesif. Ia akan melarang Ara melakukan ini dan itu. Ia beralasan jika Ara tidak boleh capek, ia tak ingin terjadi sesuatu pada ibu dan calon anaknya.


Mereka berdua kini telah sampai di mansion. Xavier menggendong Ara menuju kamar mereka dan menyuruh pelayan agar membawa barang Ara masuk.


Xavier meletakkan Ara di atas kasur itu dengan hati-hati.


"Apa sudah nyaman honey? kau capek? atau membutuhkan sesuatu?" tanya Xavier mengambil tempat duduk di samping Ara.


"Tidak. Aku hanya heran. Kemana Arora pergi? Aku tidak melihatnya sejak masuk ke mansion ini" Tanya Ara memandang kearah Xavier.


Xavier tidak tau harus mengatakan apa. Tidak mungkin jika ia mengatakan telah menghabisi wanita itu.


"Pelayanmu itu selalu menggodaku. Jadi aku memecatnya. Aku tidak suka dengan pelayan yang seperti itu. Kau tenang saja, aku akan mencarikan pelayan pribadi baru untukmu." ucap Xavier mencoba membuat Ara mengerti.


"Baiklah. Sekarang aku ingin istirahat, Xavier temani aku ya." ucap Ara dengan puppy eyes.


Astaga lihatlah wanitanya ini, Xavier benar-benar dibuat gemas.


"Baiklah, aku akan memeluk mu sepanjang hari. Nah. sekarang tidurlah." ucap Xavier membaringkan Ara lalu memeluknya.


*****


Saat ini Xavier dan Ara sedang berada di taman belakang mansion mereka. Terhitung sudah dua minggu setelah Ara keluar dari rumah sakit. Kakinya juga sudah lebih baik, Ia sudah bisa berjalan walaupun harus dibantu.


Setiap pagi Xavier akan membawanya ke taman belakang lalu membantunya berjalan pelan-pelan.


Ibu dan ayahnya juga sering berkunjung, Tidak terkecuali ayah dan ibu Xavier. Mereka akan datang bertanya apakah Xavier memperlakukan dia dengan benar. Apakah cucu mereka berkelakuan baik. dan sebagainya.


Ara memaklumi, Anaknya merupakan cucu pertama dua keluarga itu, jadi biasa jika mereka semua menghawatirkan nya.


"Apa yang kau pikirkan honey?" tanya Xavier melihat Ara yang termenung seperti memikirkan sesuatu.


"Tidak ada, aku hanya bersyukur memiliki kau, di samping ku. Terima kasih." ucap Ara memeluk lengan Xavier.


"Itu memang kewajiban ku sebagai kekasihmu. Oh ya, Acara pertunangan kita akan diadakan 2 minggu lagi." ucap Xavier membuat Ara bingung.


Kakinya masih sakit, tidak mungkinkan di acara pertunangannya ia memakai gaun dan duduk di atas kursi roda.


"Tapi kaki ku masih sakit Xavier, apa kata orang nanti." ucap Ara dengan wajah sedih.


"Tidak ada yang akan mengolok mu honey. Percayalah, kau akan tampil sempurna. Lagi pula acaranya masih dua Minggu lagi. Pada saat itu kakimu pasti sudah pulih kembali." ucap Xavier meyakinkan Ara.


Ara hanya tersenyum. Tapi dibalik senyuman itu ada rasa takut.


*****


Terhitung usia kandungan Ara sudah menginjak 3 bulan. Dan hari ini adalah hari pertunangannya. Ara menatap dirinya di cermin. Sangat cantik.


Tapi ada satu masalah. benjolan diperutnya membuat ia terlihat gemuk. Ia jadi tidak percaya diri. Tapi ini anaknya, untuk apa ia malu.


Pintu ruangan itu terbuka menampilkan sosok ayah dan ibunya.


"Mommy benar sayang. Kau terlihat sangat cantik. Putri kecil Daddy sebentar lagi akan bertunangan dan tidak lama akan menikah juga memiliki anak. Rasanya baru kemarin Daddy mengajarimu berjalan." ucap Anthony mengusap air matanya yang tiba-tiba keluar.


"Daddy dan mommy tidak perlu khawatir, aku akan tetap menjadi putri kalian. Bahkan aku akan memberikan kalian cucu yang bisa menemani kalian nanti." ucap Ara menghibur ayah dan ibunya.


"Sebaiknya kita keluar. Para tamu pasti sudah datang, Xavier dan keluarga nya juga sudah menunggu." ucap Ayahnya berjalan kearah putrinya itu.


Kedua paruh baya itu menggandeng putri mereka menuju tempat acara dilangsungkan.


Xavier dan kedua orang tuanya sudah terlihat di atas panggung itu. Ara gugup. tangannya berkeringat dingin.


"Jangan gugup sayang. Ini acara mu, kau harus tampil percaya diri." ucap Anthony mencoba menyemangati putrinya.


Ara menarik nafasnya dan menormalkan detak jantungnya.


Kini dua keluarga itu telah naik keatas panggung. Acara pertunangan itu pun dimulai.


Xavier memasangkan cincin berlian itu dijari manis Ara. Lalu mengecup tangan itu. Sekarang giliran Ara.


Tangannya gemetar. Ia takut menjatuhkan cincin yang ia pegang. Tapi Xavier mengusap tangannya lembut mencoba menenangkannya.


Ara lalu memasangkan cincin dengan ukiran nama mereka itu dijari Xavier. Setelah berhasil ia lalu menatap Xavier dan tersenyum lebar.


Para tamu pun bersorak dan bertepuk tangan.


Acara itu berjalan dengan mulus.


Kini pasangan yang tersenyum didepan sana sudah resmi bertunangan. dan tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan.


*****


"Apa kau lelah honey?" tanya Xavier membantu Ara melepaskan gaun yang dikenakan Ara.


Ara hanya mengangguk. Kakinya pegal. Kepalanya juga sudah mulai sakit.


"Ayo aku akan membantumu mandi. Lalu memijat kakimu."


Mereka pun mandi bersama. Lalu keluar dengan hanya mengenakan handuk. Masuk kedalam walk in closet.


Ara hanya diam. Xavier yang melakukan semuanya.


Xavier lalu membaringkan Ara ditempat tidur dan mulai memijat kaki itu. Sejak Ara hamil ia akan selalu memijat kaki tunangannya itu.


Xavier benar-benar menepati janjinya dengan memberi perhatian lebih pada Ara. Xavier bahkan selalu pulang lebih awal. Jika pekerjaan nya tidak terlalu penting ia akan lebih memilih untuk bekerja dari rumah.


Xavier menghentikan pijatan nya dan melihat kearah Ara. Rupanya tunangannya itu sudah tidur. Ara pasti lelah apalagi dengan keadaannya yang hamil.


Xavier lalu mengusap perut yang sudah mulai terlihat benjolan itu. mengecupnya dan mengucapkan selamat malam untuk anaknya.


Xavier kemudian berbaring di samping Ara, memeluk dan mengambil selimut, menyelimuti dirinya dan wanita yang sedang berapa di pelukannya ini.


Xavier mengecup kening itu lama. Tidak lama lagi ia dan Ara akan menikah dan menjadi keluarga yang bahagia.


Xavier tersenyum. Haruskah ia membangun sebuah panti asuhan sebagai tanda terima kasih kepada Tuhan karena mengirimkan ia wanita seperti Ara.


Bahkan wanitanya ini sedang mengandung baby mini Xavier. Xavier kemudian ikut memejamkan mata, menyusul Ara kedunia mimpi.


Ia sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba.


...T.B.N.T.S...