
Kring... kring... kring...
"Selamat atas kalian semua, semoga kalian bisa menjadi salah satu dari Zodiac terpilih" suara yang keluar dari pengeras suara setelah bunyi lonceng.
Semua murid yang telah menjalani tes, sangat bergembira dan keluar dari ruangan dengan sangat heboh dan juga bahagia. Mereka semua mengelurkan semua sihir, elemen dan kekuatan mereka untuk merayakan selesainya tes itu.
Aku cuma diam dan tersenyum bahagia melihat mereka merayakan hari berakhirnya tes. Kami semua merasa senang karena kami malakukannya dengan sangat baik. Mereka membuat kembang api dengan sihir merema serta membuat kehebohan dengan semua kekuatan yang dimiliki masing masing dari mereka. Aku menatap mereka dari belakang dekat pohon besar yang ada ditaman. Aku benar benar bahagia, kapan lagi aku bisa merasakan ini semua. Di bumi tidak akan ada acara semacam ini untuk merayakan berakhirnya tes.
Sebelum acara berakhir aku memutusakan pergi dari sini. Membalik badanku dan...
"Astaga...!" Teriaku kaget.
"Ya elah... kenapa kau terkejut Lina?" Ucap Gabriela
"Bukan begitu, aku tidak tahu kalau kalian ada dibelakangku. Lagi pula kenapa kalian tidak menegurku?" Kataku
"Hah... aku harap ini bukan yang terakhir" gumam Filbert yang menatap ke arah teman teman yang lain dan langsung pergi meninggalkan kami.
Semua orang kaget dengan apa yang dikatakan Filbert tadi
"Apa yang dikatakannya?"tanya Jennifer bingung. Bukan hanya Jennifer tapi semua nya juga bingung.
"Dia hanya asal bicara! Jangan dipikirkan" sahut Joachim
"Benar juga? Dia suka asal omong sekarang" ucap Jennifer
Kami semua pergi meninggalkan tempat itu, semua nya sudah meninggalkan tempat itu termasuk diriku. Saat diperjalanan aku baru tersadar bahwa kantong tempat aku menaruh benda benda yang diberikan oleh makhluk mitologi yang aku temui waktu itu tertinggal di bawah pohon. Aku berlari untuk mengambil kantong itu sebelum seseorang menemukan nya.
☆☆☆☆☆☆☆☆
Dennis yang masih berada di tempat itu dengan membawa bukunya duduk dibawah pohon itu sambil menatap acara yang diadakan oleh teman satu angkatannya. Dia membuka buku itu dan ternyata buku itu adalah sebuah buku gambar. Dennis suka sekali menggambar tetapi dia selalu menyembunyikan gambarannya dari semua orang. Selama menggambar dia tak sengaja menyentuh kantong milikku dan dia pun mengambilnya. Kantong itu sangat cantik dan indah dengan bordir benang emas bercampur warna merah. Dia sangat penasaran dengan kantong itu dan perlahan membukanya, sebelum dia membukanya aku sampai disana dan menyahut kantong itu. Dia sempat melihatnya dan itu membuatku takut...
"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku marah dan khawatir
"Itu milikmu?" Tanya nya balik.
"Apakah kau melihat isi didalamnya? Tanyaku lagi.
"Ya... aku melihatnya!" Jawabnya
"Issh... kenapa kau buka!!" Ucapku marah
"Ya bagaimana lagi jika aku tidak buka aku tidak akan tahu ini milik siapa?" Ucapnya tenang
"Waktu itu saat aku membuka bukumu saja kau memarahiku dan sekarang kau membuka kantongku aku tidak memarahimu. Bahkan aku tidak melihatnya sedangkan kamu melihatnya!" Kataku sambil berekspresi ngambek
"Iya iya... ini, apa kau mau melihatnya?" Tanya Dennis sambil menyodorkan bukunya
"Tidak... aku tidak mau melihatnya!" Jawabku
"Kenapa kau tidak mau mengambilnya dan melihatnya?" Tanyanya lagi
"Tidak, nanti saja aku lihat" jawabku. Aku duduk disampingnya di bawah pohon itu
"Baiklah...aku akan beritahu saja isi dari buku ini kepadamu!"
"Ya... karena buku ini ku buat untuk mu! Saat kau kembali ke bumi, aku harap dengan buku ini kau akan mengingat kami semua di sini!"
"Maksudmu?"
"Ya ini adalah buku gambaran tentang kehidupan kita selama di Olympus"
"Jadi kau menggambar semua tentang kehidupan kita?"
"Ya... agar kamu mengingat kami jika berada dibumi dan selalu senantiasa merindukan kami!"
"Ish... kamu ini, aku akan selalu merindukan kalian dimanapun aku berada"
"Ya... aku harap begitu."
"Kenapa kamu selalu menggunakan kata 'Ya' disetiap kau menjawab dan menyahutku?"
"Ya...Bagaimana lagi itu sudah kebiasaanku"
"Ooh, iya. Bagaimana kabar Lily? Aku sangat merindukannya?"
"Lily? Dia baik baik saja. Dia juga sangat merindukan mu. Saat dirumah dia selalu menanyakanmu terus menerus"
"Benarkah?"
Kami berdua berbicara panjang lebar dan menikmati waktu bersama. Baru kali ini dia bisa lebih terbuka denganku. Aku sangat bahagia, tapi juga ada perasaan resah dalam hatiku karena apa? Anggota Ring Of Fire bisa saja menyerang kami kapanpun dia mau.
Hari mulai gelap, aku sudah merencanakan kemana aku akan pergi untuk liburan akhir pekan minggu ini. Aku tidur lebih awal malam ini dan ingin bangun lebih awal lagi untuk menikmati liburanku.
Bangun dipagi hari lebih awal dari biasanya membuatku sangat senang. Aku pergi dengan pakaian santai yang dipakai pad musim musim gugur ini
...
...
Aku pergi mengendarai kuda yang diberikan oleh Filbert saat itu. Aku berjalan perlahan dengan sangat hati hati serta menikmati pemandangan hutan dengan disertai angin pagi dan harum bunga yang menyenangkan. Melihat banyak hewan berinteraksi dengan ku membuat hari liburku menyenangkan. Setelah menikmati perjalanan hari mulai cerah dan aku sampai disebuah mata air yang sangat jernih di pinggir pantai. Aku kira mata air itu adalah air asin ternyata air itu adalah air tawar yang rasanya sangat dingin dan menyegarkan. Aku beristirahat sejenak dan memakan sarapanku yang ku bawa dari Wynstelle.
Aku memakan makananku dan tanpa sadar aku mendengar suara seseorang menghampiriku. Dengan waspada aku mengeluarkan pisau yang ku bawa dan menyembunyikannya. Dengan sangat hati hati aku mendekat ke sumber suara, perlahan tapi pasti aku membuka semak semak belukar yang panjang hingga melebihi tinggiku. Membuka semak semak itu dan...
Itu hanya seekor anak rusa bertanduk emas bermain main di area dekat mata air. Aku sempat sangat takut, tapi sekarang tidak karena itu hanya seekor anak rusa kecil.
Aku kembali lagi ke tempat istirahatku dan kembali untuk melanjutkan perjalananku. Saat aku manaiki kudaku, terdengar suara yabg sangat merdu hingga membuat ku dan kudaku terbuai mengikuti arah dimana suara itu. Kami terus berjalan mengikuti arah suara itu berasal. Melewati semak semak belukar yang sangat tinggi, melewati jalan setapak dan juga melewati anak sungai serta mata air, sampailah kami disebuah gua yang mengarah langsung ke lautan lepas. Sesampainya didepan mulut gua suara itu berhenti dan saat itu aku tersadar. Aku benar benar bingung kenapa kami bisa sampai di sebuah gua ini, gua itu ditutupi sebuah tanaman merambat yang menyerupai tirai penutup.
Saat tersadar aku memutuskan untuk meninggalkan gua itu, tetapi suar itu muncul lagi dan membuatku tertarik kembali ke arah suara itu. Suara itu terus saja membawaku menuju ke dalam gua itu. Gua yang gelap tanpa ada cahaya yang masuk sedikitpun membuat suasana mencekam tapi itu tidak menjadi masalah saat kami tidak sadar akan hal itu. Dalam pikiran ku hanya terdapat suara merdu itu yang terus mengiang iang dalam pikiran. Tatapanku kosong dan setelah itu aku tidak melihat apapun lagi. Kesadaranku hilang dan tanpa sadar aku sudah berada didalam sebuah jeruji besi yang berukuran sedang serta sangat gelap.
Aku pun tersadar, saat bangun aku benar benar kaget dengan keberadaanku. Melihat seisi ruangan penuh dengan kegelapan dan hanya terdengar jerita orang orang dari berbagi ruangan yang ada. Aku mendekati jeruji besi yang ada di hadapanku dan berteriak minta tolong tapi tidak ada yang menggubrisnya.
"Tolong!!!"
"Tolong!!! Apakah ada orang disana? Tolong aku!!!" Tetiaku kencang
"Jangan berisik!!!" Seorang penjaga disana menendangku dengan sangat kuat sampai aku terhantam ke dinding penjara itu.
Hidungku berdara, tanganku tulang belakangku sangat sakit sekali. Saat kejadian itu aku tidak berani lagi mendekati jeruji besi yang ada didepan sana. Aku menangis sambil menghentikan pendarahan di hidungku. Aku masih bersyukur hanya hidungku yang berdarah dan tidak yang lain. Aku meraba tubuhku untuk mencari keberadaan kantong yang berisi benda benda itu yang diberikan oleh makhluk mitologi waktu itu, dan syukurlah kantong itu masih ada di kantong celanaku. Tak lama aku mendengar ada suara langkah kaki dari arah luar dan berhenti di penjaraku dengan membawa obor api. Dia seorang laki laki, dia berbicara kepada lenjaga tentang diriku. Aku terkejut karena dia mengenalku, dia menyodorkan obor itu kearah ku dan pergi begitu saja. Aku ketakutan dan merasa sangat sakit... pendarahanku masih belum berhenti. Aku beringik disempanjang waktu menahan sakit, itu benar benar menyakitkan. Mereka selalu memukulku serta menendangku dengan kekuatan penuh. Tubuhku benar benar sakit, berdarah dan memar. Aku berusaha untuk menghentikan pendarahanya tetapi tidak bisa. Aku tidak tahu harus berbuat apa? Kenapa mereka memperlakukanku seperti itu? Apa salahku? Siapa mereka? Itu masih menjadi pertanyaan di dalam benakku.