The Zodiac Academy In Olympus

The Zodiac Academy In Olympus
Bab 6 *Apa Ini Cinta Pertama Ku* #1



Filbert Orlando pria tampan, berambut coklat kepirangan, bermata biru,tinggi,cerdas,memiliki tatapan yang tajam, berwajah datar dan juga sangat dingin.


Sedangkan


Jackson Miller pria tampan, barambut pirang, bermata biru, tinggi, cerdas, baik, ramah, humoris, romantis, sangat sopan dan memiliki kepribadian yang hangat dengan teman temannya.


*******☆☆☆☆☆☆*******


Hari hari ku, kuhabiskan bersama teman teman ku. Saat bersama teman sekelompoku aku begitu terpanah dengan pesona yang di pancarkan oleh pemilik zodiac Leo itu. Walau pun kepribadian dan sifatnya yang begitu dingin, tetapi dia memiliki pesona dan paras yang sangat membuatku kagum. Bukan hanya itu, kepeduliannya kepadaku selama aku tinggal di Olympus itu sangat membuatku terkesan dia dilihat dari luar begitu kejam dan menakutkan tetapi di dalam nya sangat baik dan lembut.


Di hari libur sekolah, teman temanku semua sedang mengerjakan tugas yang diberikan Prof. Charles guru matematika kami. Beliau memberikan tugas yang begitu banyak kepada kami. Dan tugas itu harus selesai bagai mana pun caranya, kami semua pasti mengerjakan nya bersama sama di perpustakaan. Tetapi saat itu hanya ada aku dan Filbert, yang lainnya bilang kalau mereka akan datang terlambat karena ada urusan yang lain.


"Filbert, apa kau tau jawaban untuk soal no 50 halaman 200." Tanya ku yang ada di depannya.


"Yang mana, coba aku lihat soalnya" dia mengambil buku ku dan melihat soalnya, setelah dia membaca soalnya dia mengambil selembar kertas coretan dan peralatan tulis dan dia langsung mengerjakan soal itu


"Apa kau bisa?"


"Akan aku coba" dia sangat fokus dengan soal itu.


"Lina, bisa kau kerjakan soal no 37 halaman 234. Biar aku kerjakan yang no 50 dan kau no 37" ucap Filbert yang serius dengan soalnya dan memberiku buku nya.


"Baiklah... akan aku coba" aky mengambil buku miliknya dan mencoba mengerjakan soal itu.


Kami berdua tengah fokus dengan tugas matematika kami. Kami memberi jatah kalau aku kerjakan halaman 192 - 200 dan Filbert dia mengerjakan halaman 230 - 238. Biasanya kami membagi nya menjadi 12 orang tetapi sekarang kami hanya bedua jadi ya hanya di bagi dua. Tapi aku merasa senang dengan kemampuan teman temanku seperti Ivander dia sangat pintar tentang sejarah dan dia sangat senang ada mata pelajaran sejarah di sekolah ini. Biasanya dia hanya membaca buku dan mengamati sekitar, Vivian pandai dalam hal obat obatan dan sebagainya, Filbert sih dia jago dalam hal hitung menghitung.


Hari ini adalah hari cuaca yang tidak mendukung, tetesan air mulai berjatuhan dengan lebatnya,aku yang ada di perpustakaan bersama Filbert tetap melanjutkan pekerjaan kami. Petir, angin kencang dan suara guruh hujan nya terus menyambar sampai sampai jendela terbuka dan mengeluarkan bunyi yang membuat kami terkejut. Saat itu jam 21:45 kami mengerjakan tugas dari jam 18:00.


Angin kencang membuat lilin dan obor yang menerangi perpustakaan mati dan dari jendela terpancar sinar dari petir yang terus menyambar serta suara gemuruh guntur yang sangat menakutkan. Kami berusaha untuk menutup kembali jendela dan menghidupkan kembali lilin dan obor yang ada di perpustakaan.


"Aku akan menutupnya. Tunggu sebentar" ucap ku sambil berlari kearah jendela. Saat itu hujan masuk ke dalam perpustakaan.


"Aish..." ucapku yang terkena tetesan air hujan saat menutup jendela. Ada banyak jendela yang terbuka dan aku menutupnya.


Filbert dia menghidupkan kembali lilin dam obor dengan kekuatan elemennya dan dia menutup jendela yang terbuka yang berada di lantai 2 dan 3 dengan begitu cepat.


"Kau basah Lina" menatapku dengan senyum kecilnya.


"Iya. Tapi bukan aku saja yang basah, kau juga"balasku


"Ya... padahal hanya tetesan air hujan yang masuk dari jendela."


"Benar. Hujannya begitu deras,apa kah Dewa Zeus sedang marah sekarang?" Aku berpikir begitu


"Sepertinya. Aku juga tidak tau"


Dor....


Pintu perpustakaan menutup sendiri dikarenakan angin kencang, pertama pintu itu terbuka dan sekarang menutup dengam sendirinya.


Filbert saat itu mencoba untuk membuka pintu itu tetapi pintu itu tidak bisa di buka. Filbert berpikir kalau pintu itu terkunci dari luar karena kunci pintu perpustakaan hanya bersebelahan jika diangkat kuncinya ke samping akan terbuka dan jika terjatuh ke bawah akan terkunci.


"Bagaimana ini, kita terkunci di dalam perpustakaan?"


"Jika kita keluar pun kita akan basah kuyup, dari jendela saja sudah basah apa lagi kita keluar"


Filbert menatap ku yang sedang berusaha mengeringkan pakaian yang terkena air hujan. Saat itu udara dingin dan pakaian ku basah, dia menari tangan ku dan membawaku ke sudut ruangan. Dia menyuruhku untuk duduk dan tunggu sebentar.


"Lina... duduklah disini aku akan kembali"


"Tunggu saja di sana"


Aku duduk dan memeluk badan ku sendiri, aku melihat Filbert mengambil beberapa kertas yang tadi kami gunakan sebagai coretan ke hadapanku. Bukan hanya itu dia juga membawa sebuah kursi kayu, perlahan dia mematahkan kursi itu menjadi beberapa bagian dan dia menumpuknya. Dia menumpuk kayu itu menjadi seperti tumpukan api unggun, dia tumpuk satu persatu dan di tengah tengah dia beri kertas tadi dan menyuruhku menggunakan ilmu elemen tanah yang ku miliki untuk mengelurkan tanah dan menaruh tanah itu di sekeliling kayu bakar, dia bilang agar tidak terjadi kebakaran. Setelah tumpukan kayu itu selesai dia dengan ilmu elemen api nya dia mengeluarkan api dari tangan nya dan mulai membakar kayu itu. Perlahan asap mulai keluar dan di lanjutkan dengan api, dan saat itu dia bergegas untuk membuka salah satu jendela yang berada di atas agar asap dari kayu bakar tidak mengumpal di dalam perpustakaan.


"Api nya sudah jadi. Kau bisa mengeringkan pakaian dan menghangatkan tubuhmu"


"Terima kasih"


"Untuk apa, terima kasih?"


"Tidak papa"


"Ya sudah... "


Suasana sunyi hanya ada suara petir dan guntur yang bergemuruh.


"Ooh. Iya, besok saja kita lanjutkan tugas nya" ucap Filbert


"Ya..."


"Kau kenapa? Apa kau takut?"


"Tidak aku tidak takut..." memalingkan wajah dan mengarahkan nya ke mana mana.


"Aku tau kau takut. Ceritakan saja apa yang kau takuti?"


"Tidak..." masih memalingkan wajah


"Lina, tatap mata ku. Jangan anggap kau disini sendirian. Aku tau kau takut?" Menggenggam tangan ku dan dia duduk di depan ku dengan jarak yang cukup dekat.


"Tidak..."


"Lina!!!"


"Iya!!! Aku memang takut. Kenapa kau seperti ini?"


"Kau takut kenapa?" Bicara dengan nada pelan


"Aku takut dengan kegelapan yang ada di sana dan juga suara guntur yang bergemuruh itu"


"Kau takut dengan hal kecil itu?"


"Iya... aku trauma dengan kegelapan sejak 10 tahun yang lalu. Saat itu aku pernah di culik dan di kurung di ruangan yang sangat gelap, saat itu sama seperti saat ini. Saat itu hujan deras dan suara guntur bergemuruh. Tapi sekarang jika ada cahaya sedikitpun aku tidak takut lagi, tapi saat ini padahal ada cahaya api yang besar di hadapanku aku merasa sangat takut"


"Benarkah..." Filbert duduk disampingku dan perlahan memeluku dari samping,dia menaruh kepalaku di bahunya.


"Kau harus melawan rasa takutmu. Itu belum apa apa dengan rasa yang akan kau hadapi kedepannya. Aku akan membantu mu untuk melawan rasa takutmu itu"


"Apa aku bisa?"


"Kau pasti bisa! Jadi terus berusaha lah"


"Thank"


Kami berdua menghabiskan malam bersama di dalam perpustakaan yang begitu gelap dan dingin serta di selimuti hujan yang begitu deras di luar sana...