
Sudah hampir 2 hari kondisi anggota Silver Light seperti ini. Semua orang menyendiri dan tidak ada yang peduli satu sama lain, bahkan diriku sendiri. Aku sangat putus asa dan menyalahkan diriku sendiri karena telah menghianati teman temanku. Aku sangat kacau, selalu menyendiri.
Aku menatap semua orang yang aku lalui dengan perasaan bersalah. Aku bingung apa yang harus aku lakukan.
Kelas Elemen akan segera dimulai. Aku bersiap siap dengan perlengkapan ku, banyak teman temanku yang mendekat dan berbicara denganku tapi aku menghiraukannya, tatapan dan pikiranku benar benar kosong. Bahkan Prof. Tristan pun bingung dengan keadaanku. Beliau bertanya kepada semua teman temanku , tetapi tidak ada yang tau. Karena aku tidak menceritakan nya ke mereka.
"Vivian! Saya mau tanya? Apakah kau tau apa yang terjadi dengan Angelina? Dia sepertinya kurang sehat atau ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Prof. Tristan
"Saya tidak tau Prof. Tapi ada sedikit masalah di kelompok kami. Mungkin itu sebabnya dia seperti itu" jawab Vivian
"Apakah masalah itu sangat besar sampai membuatnya tidak fokus dan ceria seperti biasanya." Ujar Prof. Tristan
"Saya tidak bisa memberitahukan itu Prof. Ini masalah kami. Saya harap Prof. Tidak ikut campur urusan kami. Kami bisa mengatasinya sendiri. Percayalah" ucap Vivian agar Prof. Tristan tidak ikut campur tentang urusan mereka
"Baiklah... saya tau apa yang kamu maksud. Tapi jika masalah ini tidak terselesaikan secepatnya Prof. Tidak segan segan melaporkan ini ke kepala sekolah. Mengerti!"
"Saya mengerti... dan kami akan menyelesaikan ini secepatnya"
"Oke... kita lanjut pelajarannya..."
Aku selalu melakukan kesalahan saat mengeluarkan elemenku. Aku berusaha fokus tetapi tidak bisa. Aku berulang kali ditegur oleh Prof Tristan karena selalu membuat kesalahan dan tak sengaja melukai salah satu teman ku.
Aku benar benar kosong. Aku seperti berada di dunia yang lain lagi. Benar benar membingungkan. Aku pergi begitu saja meninggalkan lapangan dan dicegat oleh Prof. Tristan. Prof. Tristan membawaku ke suatu tempat dengan cepat. Dia mendudukan ku di sebuah pohon tua yang sudah tumbang di sebuah taman bunga yang indah.
"Kau kenapa Angelina... tidak biasanya kamu seperti ini. Jika ada masalah ceritalah. Kau bisa cerita jika kau mengalami masa sulit disini. Aku selalu terbuka untuk semua murid ku..." tanya Prof. Tristan sambil memegang tangan dan pundak ku.
Beliau berusaha menenangkan ku. Beliau menyuruhku untuk menatap bunga bunga itu dan meminum air yang ia berikan.
Aku hanya terdiam. Dia terus berusaha mencari tahu tentang apa yang terjadi kepadaku. Dia selalu ingin membuatku tertawa lagi. Tapi itu semua sia sia. Selama beberapa saat dia putus asa karena aku tidak nggubrisnya sedikit.
Karena itu dia membawaku ke ruangan musik. Dia pikir dengan membawanya ke sana dia bisa bermain musik. Dia mulai memainkan alat musik yang ia bisa mainkan. Dia memainkan musik menggunakan piano. Musik itu begitu indah hingga aku merasakan alunan musik yang dimainkan. Dia menyadari itu, dan dia terus melanjutkan mainan musiknya.
Aku beberapa kali tersenyum dan terlihat Prof. Tristan tersenyum untukku juga. Setelah musik itu selesai. Aku sudah kembali sadar. Dia datang di hadapanku dan memegang tanganku.
"Apa yang kau rasakan sekarang?" Tanya Prof. Tristan
"Terasa sangat damai. Aku melupakan semua masalah dalam diriku" jawabku.
"Angelina... aku tidak memaksa kau bercerita tentang masalahmu. Tapi jangan pernah kau kehilangan fokusmu pada waktu belajar. Ingat semua orang di sekolah ini ada bersamamu. Jika kau merasa seperti ini lagi. Panggil lah aku. Aku akan memainkan musik lagi untuk mu. Mengerti"
"Baiklah... Prof. Saya sangat berterima kasih kepadamu. Tapi maaf masalah ini aku tidak bisa membicarakan nya kepadamu."
"Tidak papa. Tapi tentang masalahmu dengan teman temanmu. Cepatlah diselesaikan. Semua teman mu pasti sama kondisinya seprtimu, saya takut Prof. Yang lain langsung melaporkan nya ke Kepala sekolah. Itu kan sangat merepotkan."
"Dan iya... tetaplah tersenyum seperti ini. Jika kau dan teman temanm u dipanggil sama kepala sekolah Prof. Akan menemani kalian."
"Baiklah Prof. Terima kasih banyak."
"Angelina... lebih baik kau istirahat saja di ruang kesehatan. Biar Prof. Urus semua izinmu"
"Tidak usah Prof."
Prof. Menarik tangan ku dan membawaku ke ruang kesehatan. Dia menyuruh perawat merawatku. Dan ia pergi untuk mengurus Izinku agar aku tidak di alpa.
Semua orang di sekolah mengenal Prof. Tristan sebagai orang yang sangat peduli kepada semua orang. Dia rela melakukan apapun supaya orang lain bahagia. Tapi banyak orang lain yang pertama kali melihatnya menganggapnya sangat galak dan tegas. Tapi jika sudah kenal semua itu hilang begitu saja.
Aku beristirahan... perawat memberiku segelas ramuan hangat. Aku perlahan tertidur, aku merasakan seperti berada dirumah. Aku bermimpi kembali ke rumah bertemu dengan semua orang yang ada dibumi. Aku sangat merindukan mereka, mereka membuatku tersenyum. Aku mengenang semua hal yang indah di bumi. Aku ingin kembali kesana tapi tugasku disini masih belum selesai. Aku akan menuntaskan semuanya dulu disini dan setelah itu aku bisa pergi dari sini.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Setelah beberapa saah aku tertidur akhirnya aku kambali bangun.
"Aku harus bisa bangkit. Aku sudah bisa menerima ini. Jackson... aku bisa memanfaatkan dia jika dia benar benar menentang ayahnya. Dia bilang dia memintaku untuk memberikan dia kesempatan. Akan aku berikan tapi ini yang pertama dan terakhirnya. Jika dia berhianat yang pertama aku lenyapkan adalah dia." Ucapku dalam hati
Aku bangkit dari tempat tidurku dan menulis sepucuk surat untuk perawat yang tadi merawatku. Aku berjalan keluar ruangan dan kembali ke kelas. Jam menunjukan pukul 13:00 yang berarti waktu makan siang akan dimulai. Aku berjalan lagi menuju ruang makan dan disana aku melihat Jack duduk di sendiri. Aku mengambil makananku dan duduk dihadapanya.
"Selamat siang!" Menyapa Jackson
Dia terkejut dan hanya bisa diam melihatku. Dia bahkan tidak melanjutkan makannya.
"Ayo lanjut makannya..."
"Kenapa diam saja. Ayo makan..." berbicara dengan sedikit keras.
Saat itu semua orang telah mengetahui kabar bahwa kami telah putus. Jadi seisi ruangan menatap kami seperti tidak percaya bahwa kami masih saling berhubungan setelah putus.
"Kenapa kalian semua melihat kami! Apa ada yang salah?!" Tanyaku tegas. Mereka semua langsung mengalihkan pandangannya
"Aku akan memberimu kesempatan yang kamu minta waktu itu. Tapi... "
"Tapi apa...?"
"Tapi... jangan sekali sekali menghianati kesempatan ini. Aku hanya memberikan mu kesempatan ini sekali dalam hidup mu. Jika kau hianati..."
"Kau boleh memenggal kepalaku dengan pedang mu itu..." ucapnya memotong pembicaraan ku.
"Benar... tapi bukan itu saja. Aku akan membuatmu menderita terlebih dahulu sebelum kau benar benar mati. Kau mengerti"
"Aku tidak akan menyia nyiakan kesempatan ini... percayalah kepadaku. Kau bisa melakukan semua apa yang kamu mau dan iya ini."
Memberikan gelangku yang dia bawa waktu itu.
"Ini milikmu bukan... "
"Ini milik ku"
"Terima kasih telah mengembalikannya. Aku sudah selesai... sampai jumpa."
Aku berdiri dan beranjak dari tempat duduku. Aku pergi meninggalkan nya lagi, saat itu aku berpas pasan dengan Joa. Dia langsung megang tanganku erat dan membawaku pergi dari ruangan itu ke suatu tempat. Dia mambawaku masuk ke sebuah gubuk kecil, dia menyeritakan semua yang terjadi waktu itu kepadaku. Aku sungguh terkejut dengan apa yang aku dengar. Ini memang sungguh keterlaluan. Itu sebabnya mereka bertengkar hebat kemarin...