
Ivander, walau dia terluka tapi dia masih bisa tertawa dan bercanda dengan ku dan yang lainnya seperti tidak terjadi apa apa. Bagaimana dia bisa melakukan itu? Aku baru sedikit terluka saja sudah sangat kesakitan.
Aku tersenyum melihat mereka entah kenapa. Ivan, Joa dan Roland yang menyadari itu bingung dengan perubahan sikap ku yang dratis. Di susul dengan Filbert, kendrick dan Dennis yang bingung dengan diamnya Ivan yang sedari tadi sangat berisik, mereka melengah kearah ku dan membalik badannya.
Suasana sangat sunyi "Kenapa kalian diam?" Tanya Dennis
"Ah.." semua terkejut dan melengah ke arah Dennis
"Ahh? Aku tanya kenapa kalian jadi diam seperti ini? Tadi mangka, kalian ributnya minta ampun" Dennis yang masih gak peka dengan teman temannya yang sedang menatap ku.
Dennis tidak terlalu dekat dengan ku dan ia pun tidak terus bersama kami. Waktu pelajaran di rumah belajar dia sering tidak ada. Bahkan saat di kelas saja dia hanya diam sambil menatap papan tulis tanpa menulis sedikit pun, tangannya ia simpan di saku celananya dan terkadanga hanya menengong ke kanan ke kiri sebentar.
Dia anak yang cukup misterius. Tapi jika sudah bersama teman temannya dia pasti banyak bicara dan kadang pun tidak. Dia sangat menjaga image nya sama seperti Roland , Filbert dan Kendrick, mereka sangat menjaga nya.
Semua menatap Dennis dan Ivan menghampirinya " coba kau lihat Lina!"
Menatap ku bingung "kenapa dengan Lina? Dia tidak terluka?"
Ivander menginjak kakinya "Makanya kau itu selalu datang jika disuruh untuk berkumpul. Kau kadang kadang ada kadang kadang gak ada"
"Auh... emangnya ke apa? Aku tidak datang itu urusan ku!" Omel Dennis
"Kau ini!!!" Balas omelan kesal
"Sudah lah... kau obati dulu tangan mu itu! Nanti bisa infeksi?" Triak Roland agar Ivan dan Dennis berhenti mengomel.
"Sini lah. Kau ini, belum saja selesai kau sudah main kabur!!" Kendrick menarik tangan Ivan yang terluka untuk ke dua kalinya dan mengobatinya lagi.
"Lina!!! Kau sangat cantik saat tersenyum!!!" Triak Ivander
Aku tersenyum mendengar itu dan saat itu semua melihat ku dan memalingkan lagi ke arah Ivan. Kendrick yang mengobati Ivan terkejut dengan perkataannya tadi dan saat itu kain kasa yang dia ikatkan di lengan Ivan dia ikat dengan sangat kencang dan membuat Ivan berteriak dengan sangat kencang.
"Au...!!!" Triak Ivan
"Apa kau tidak bisa mengikat nya tidak kencang? Ini sangat sakit!" Teriak Ivan lagi.
Kendrick yang langsung pergi setelah mengikat kain kasa itu di lengan Ivan. Dengan wajah masam Ivan dia mendekati Filbert yang ada di samping Roland di pojok ruangan
"Filbert...!" Ucapnya
"Sudah cukup... aku tidak mau mendengar apa apa lagi!" Sahut Filbert, Filbert pergi ke luar menuju tempat belajar
Dia terlihat sangat kesal dengan itu semua. Melihat Filbert pergi Roland menghampiriku dan menarikku dan menyuruhku ikut dengan nya. Saat itu Ivan juga ikut bersama kami. Hanya kami bertiga yang pergi ke arah belakang dan sisanya pergi menghampiri Filbert yang ada di depan.
Roland menyuruh ku untuk duduk di kursi panjang. Kursi,seperti kursi untuk piknik. Saat itu, Roland dan Ivander duduk di hadapanku. Mereka bertanya, mengapa aku ada disana sendirian dan menangis.
...
...
"Lina, aku bingung dengan mu dari sikap mu, mood mu segalanya. Sebenarnya kamu ini kenapa? Kenapa mood mu selalu berubah seketika? Aku bingung? Semua orang tadi menatap mu karena itu?" Tanya Ivander.
"Benar... Kau sulit di tebak. Tapi Lina kenapa kamu bertanya tentang Kelompok Ring Of Fire ke Filbert? Kau tau sendiri kondisi Filbert saat ini!" Tanya Roland yang mencoba merubah sikapnya saat di hadapanku
"Entah lah. Aku emang seperti ini, sikapku selalu berubah ubah. Jadi tolong jangan terkejut saat sikap ku berubah seketika itu. Tapi kalian juga sama! Aku melihat banyak sekali sifat yang sangat mengasyikan dari kalian yang selalu bersikap dingin." Jawabku
"Dan iya, mengapa aku bertanya tentang Kelompok Ring Of Fire. Aku pernah di culik oleh mereka. Kalian pasti tau tentang itu. Tapi aku tidak tau siapa mereka sebenarnya sampai saat ini?" Tanyaku
"Ya ampun... jadi kamu masih belum mengerti apa yang aku maksud?" Tanya Ivander. Aku hanya nengangguk mengisyaratkan kalau aku masih belum mengerti.
"Baiklah aku akan jelaskan, pokok nya saja agar kamu mengerti. Kelompok Ring Of Fire sebenarnya sudah terbentuk sejak lama, mereka dulu tidak sekejam ini. Mereka selalu membantu sekolah ini dan juga kebutuhan di Olympus. Tetapi semenjak Kematian Thomas itu mereka tidak lagi melakukan perbuatan baik kepada semua orang, mereka hanya berniat untuk membalaskan dendam akibat kematian Thomas. Thomas dia 3 bersaudara yang pertama adalah Thomas, kedua adalah Louis dan yang terakhir adalah George. Mereka berdua yang akan mewarisi Kekuasaan Ring Of Fire." Jelas Ivander
"Dan iya... dari seluruh anggota dari Ring Of Fire itu mereka tidak di izinkan untuk menampakkan wajah mereka. Waktu itu Thomas bersekolah di sini dengan nama samaran agar tidak ketahuan. Dan sepertinya para saudaranya juga sama. Kami hanya mengkhawatirkan 1 hal. Yaitu George, George dia hanya beda 1 tahun dengan kita. Dia pasti bersekolah di sekolah Wynstelle, jadi kami mengapa sangat memperhatikan gerak gerik semua orang yang ada di sekolah. Ya karena itu takutnya dia menyerang mu. Tapi sampai saat ini Filbert dan yang lain belum bisa mengidentifikasi George di sekolah ini." Jelasnya panjang lebar.
"Maksudnya dia bisa jadi sekolah disini?" Tanya ku
"Iya... tapi kami belum mengetahui siapa di balik nama nama itu adalah George karena kami tidak pernah melihat wajahnya. Yang kami andalkan hanyalah mendekati semua kakak kelas priadan melihat apa kah ada tanda kobaran api di tangannya." Jawab Ivander.
"Kobaran api?"ucapku
"Jadi kalian hanya mengandalkan itu? " tanya ku balik
"Iya..." jawab Ivan
"Tapi yang bikin kami kesulitan adalah tanda kobaran api itu hanya akan terlihat saat mereka merasa tertekan atau khawatir tentang sesuatu. Itu juga muncul jarang jarang." Sahut Roland.
"Jadi begitu... tapi..."
Filbert datang menghampiri ku dan menyuruhku untuk kembali ke asrama dan beristirahat. Tanpa bisa melakukan apa apa aku kembali ke asrama bersama ke 6 pria itu. Mereka mengantarku hanya sampai depan asrama wanita dan setelah itu mereka melanjutkan perjalan menuju ke asrama mereka.
Aku berjalan menyusuri lorong dan setelah sampai saat aku mau membuka pintu Vivian yang ada di dalam membuka pintu seperti tau kalau aku akan datang. Aku masuk tanpa berkata apa apa ke Vivian dan langsung berbaring di tempat tidur tanpa mengatakan sepatah kata ke Vivian.