
Waktu dengan cepat berlalu begitu saja. Keadaan sudah membaik dan sama seperti sebelum kejadian teror kemarin. Melihat gedung yang hancur telah kembali kokoh, tanaman yang terbakar dan tertimpa bangunan menjadi indah kembali, bahkan lebih indah dari sebelumnya. Dan aku sudah banyak belajar dari semua kejadian dan setiap hariku disini. Aku sudah sangat akrab dengan teman teman ku bahkan semuanya yang ada di sekolah mengenalku. Pasti diantara mereka juga ada yang tidak menyukaiku, tetapi jika dibandingkan dengan orang yang tidak menyukaiku lebih banyak orang yang menyukai ku. Jadi tetaplah bahagia di lingkunganmu sekarang ini dan jangan merasa minder jika ada yang tidak menyukaimu. Ingat lah masih banyak orang lain yang menyukaimu diluaran sana. Oke.
"Selamat pagi Lina...!"
"Selamat pagi" jawabku
"Hai Lina"
"Hai juga"
"Hallo Nona Justis"
"Hallo Prof."
"Hai sayang" membisik
"Ish apasih" ucapku geli
"Bagaimana keadaan mu. Sudah lama kita tidak bertemu. Apa kau sudah mengerjakan tugas sekolahmu!!" Tanyaku sedikit mengancam. Dengan menujuk 1 jari
Hanya terdiam dan menatapku penuh harapan sambil sedikit memajukan mulutnya dan beberapa kali menghilangkan pandangannya. "Eem, jadi begini Lina selama aku di rumah banyak sekali pekerjaan yang harus aku buat jadi tidak sempat.." aku memutus ucapanya.
"Hei... hei...hei Jackson. Aku tidak mau tahu tentang pekerjaan yang kamu lakukan dirumahmu. Aku mau tahu apakah tugas sekolah mu telah selesai." Tanyaku sambil menetap sinis.
"Iya...aku tau. Tapi..."
"Tapi apa? Kau tidak mengerjakan nya kan! Terus bagaimana sekolah ini akan baik jika ketuanya saja tidak mengerjakan tugas sekolahnya. Seharusnya kamu memikirkan itu. Begini saja ... kita ke perpustakaan dan sekarang bawa semua tugas mu. Kita kerjakan sekarang?"
"Sekarang?"
"Iya sekarang. Kenapa gak mau?"
"Iya... iya... iya... aku ambil tugasnya sekarang"
"Aku tunggu di perpustakaan dan cepat lah datang. Mengerti!"
"Oke..."
Berharap akhir pekan ku akan santai tetapi ada yang harus ku kerjakan. Agar sekolah ini tetap mempertahankan keutuhan dan budaya terun temurun aku dan teman teman yang lain terus berusaha semampu kita dalam melakukannya. Kami membuat semua siswa dan siswi saling mengenal dan tidak ada namanya tidak mengenal. Kami membuat semua orang tetap menghargai satu sama lain dan berusaha membangun semangat siswa dan siswi yang selalu minder dan sering dibuli. Kami melarang keras aksi pembulian. Karena itu akan berdampak buruk bagi semuanya.
Tik...tok...tik...tok...
Melihat jam terus berdetik dan mendengar bunyi detikan jam. Aku duduk menunggu Jack datang kesini untuk mengerjakan tugas.
"Lama sekali dia. Aku cuma menyuruh dia kesini bersama tugas tugasnya. Kenapa lama sekali?!" Gumamku
Waktu terus berjalan. Sudah 1 buku aku selesaikan dan dia belum datang juga. Aku sedikit gelisah dan memcoba menenangkan diri. Karena begitu lama menunggu akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari perpusatakaan.
"Lebih baik aku pergi saja." Ucapku.
Sett...
"Janga pergi dulu! Ini dia tugas yang kau minta. Aku sudah mengerjakan semua tugasku. Jadi berhentilah memasang wajah seperti itu."
Aku mengambi beberapa buku yang dia berikan kepadaku dan hasilnya sangat memuaskan. Dia mengerjakannya dengan sangat baik.
"Bagaimana kau bisa mengerjakanya?" Tanyaku
"Dengen otaku" dengan bercanda
"Lina... Filbert dan Joa bertengkar di tempat latihan pedang. Tolong cepat tenangkan mereka" ucap Ken yang ngos ngosan.
"Bagaimana mereka bisa bertengkar?" Tanya ku.
"Jangan banyak bertanya. Cepatlah pergi... aku mau kasih tau ke yang lain dulu." Berlari dengan secepat mungkin.
"Aku pun berlari menuju tempat dimana Filbert dan Joa bertengkar."
Sesampainga disana aku melihat seekor singa yang sangat gagah beraninya menyerang kalajengking. Mereka tidak henti hentinya saling serang. Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari untuk menghentikanya. Dipertengahan jalan ada seekor singa melompat dan mencoba menghentikan merekan. Tubuh Filbert dan Joa yang penuh luka dan darah menjadi jawaban bahwa mereka benar benar sedang dalam situasi yang sangat serius. Setahuku mereka memang kurang akur dan selalu berbeda pendapat. Tetapi mereka tidak pernah bertengkar seperti ini.
Akhirnya mereka berdua berhasil dipisahkan. Mereka berubah menjadi manusia kembali seperti semula dengan kondisi penuh luka dan darah. Aku menghampiri mereka dan tak sangka bahwa singa yang tadi datang mererai mereka adalah Jack. Tubuh Jack juga dipenuhi luka cakaran dan sengatan bisa dari Filbert dan Joa. Aku berusaha menutupi luka mereka dan mengikat luka yang terkena sengatan berbisa dengan peralatan seadanya sambil menunggu teman teman yang lain datang membawa obat.
Aku menatap mereka berdua dan mencari tahu apa yang terjadi di antara mereka. Aku melihat Jack yang terluka menggotong Joa yang saat itu sudah mulai lemas ke bawah pohon besar. Aku bersama Filbert, dia menatapku dengan sinisnya. Aku beberapa kali menamparnya agar dia tetap sadar. Walaupun dia menatapku sinis tetapi lama kelamaan tatapan itu tenggelam sebab itu aku terus menamparnya agar tetap sadar. Sementara itu Jack masih bersama dengan Joa disana. Aku menunggu beberapa saat dan Jack menghampiri ku dan akan membawa Filbert ke tempat dia membawa Joa. Dia menggotong tubuh Filbert ke bawah pohon besar. Dan menyuruhku untuk tetap disini dan membersihkan semua darah yang ada disini.
Aku mengiyakan semua perkataan Jack. Aku heran, aku lihat tadi ada di beberapa bagian tubuh Jack yang terluka akibat cakaran dan bisa. Tetapi sekarang itu semua hilang dalam sekejap.
Tanpa berfikir panjang aku mulai membersihkan darah yang ada dengan menggunakan air dan tanah.
Aku bingung mengapa begitu cepatnya luka Jack bisa sembuh. Aku benar benar sangat heran. Pekerjaanku sudah selesai dan aku membersihkan darah yang tersisa di tangan dan pakaianku. Sambil membersihkan, aku bingung kenapa teman temanku sangat lama datang nya. Selesai membersihkan tangan ku aku kembali ke tempat kejadian dan mereka bertiga masih berada di bawah pohon besar. Aku tidak berani kesana. Aku terus menunggu dan akhirnya teman teman ku datang membawa kotak obat. Dan mereka bertanya tanya dimana Filbert dan Joa berada.
"Lina! Dimana mereka?" Tanya Roland
"Dimana mereka? Apakau berbohong Ken?" Ucap Jennifer
"Aku tidah berbohong. Aku melihat mereka berdua bertengkat disini. Tepat di depan mataku!" Ujar Ken
"Terus mereka kemana? Lina kau yang ada disini? Mereka kemana?" Tanya Ken
"Mereka sudah selesai bertengkat dan mereka berada di balik bawah pohon besar itu." Sambil menunjuk
Tiba tiba Jack menggotong Joa dan Filbert di sisi kanan dan kirinya. Dia menghampiri kami dan menyerahkan mereka ke teman laki laki yang lain. Aku terheran heran bagaimana luka luka mereka bisa hilang dalam sekejab. Aku sungguh bingung dan tetap menutup rapat rapat mulutku.
"Bawa mereka ke asrama dan suruh mereka beristirahat. Jaga mereka baik baik, jika ada sesuatu datanglah kepadaku. Jangan sungkan. Mereka masih dibawah pengawasanku sekarang ini." Suruh Jack
"Tapi apa yang telah terjadi kepada mereka? " tanya Amelie
"Aku tidak tahu. Jika mereka sudah pulih tanyakan lah ke mereka tentang apa yang terjadi. Aku tidak tahu apa apa!" Jawab Jack
"Lina kau istirahatlah juga. Besok kita semua berkumpul di ruang OSIS aku mau mengatakan sesuatu!" Ucap Jack dan langsung meninggalkan kami semua
Jack terlihat sangat lemas. Aku melihat dia hampir terjatuh, wajahnya benar benar sangat pucat. Aku menyuruh teman teman yang lain kembali ke asrama dan membawa Filbert dan Joa ke kamar mereka untuk istirahat. Setelah itu aku berlari mengejar Jack yang saat itu hampir terjatuh dan menangkapnya. Dia masih sadar tapu kondisinya sangat lemah. Cicin dan kalungku masih bercahaya tanpa kusadari. Aku bingung kenapa masih terus bercahaya.
"Kenapa kau kesini?" Tanya Nya
"Apakah tidak boleh aku bersama mu!" Jawabku
"Boleh. Tapi aku kuat kok. Jangan khawatir lebih baik kau kembali ke asrama dan istirahat. Aku juga akan kembali ke asrama untuk istirahat." Ucap Jack sambil tersenyum
"Tidak...Aku tidak mau... aku mau mengantarmu ke asrama. Lihatlah kondisimu sekarang! Kau sangat lemah!"
"Tidak papa aku bisa sendiri. Pergilah... aku mohon" sambil memberi isyarat untuk aku pergi.
"Kau tidak mau? Aku janji. Besok tepat jam 7 pagi aku akan bertemu denganmu di taman sekolah dengan keadaan yang seperti biasa!" Bujuknya
"Baiklah. Janji ya jam 7 pagi!"
"Iya. Pergilah"
"Baiklah. Sampai jumpa"
Aku meninggalkan Jack dijalan. Hatiku gelisah karena melihat kondisi ke 3 pria itu sangat lemah. Biasanya mereka yang paling bugar dan sehat diantara memuanya dan kini aku melihat mereka lemah seperti itu. Bahkan sampai aku mau tidur mu aku masih kepikiran mereka. Bagaimana keadaan mereka ber 3.
"Tenanglah. Mereka hanya perlu istirahat. Mungkin besok sudah kembali sehat!" Ucap Vivian yang membuatku sedikit tenang.
"Benar Vivi, aku berharap mereka besok sudah kembali sehat."
"Sekarang tidurlah. Besok kita lihat kondisi mereka bersama sama. Dan juga kita lihat kondisi Jack, tadi dia tampak pucat dan lemah!"
"Baiklah Vivi, Selamat malam"
"Selamat malam...Lina!"