
Kami berjalan menuju asrama. Disana sangatlah sepi, biasanya banyak siswa yang melakukan aktivitas di asrama. Aku berjalan dengan Filbert menuju kamarku. Aku sangat penasaran dengan kejadian yang barusan terjadi, tetapi aku canggung untuk menanyakan itu kepada Filbert, karena aku tau dia pasti akan marah atau mengubah topik pembicaraan. Tapi aku penasaran dan mencoba menanyakannya dengan cara lembut agar dia tidak marah atau pun mengubah topik pembicaraan.
"Filbert" berbicara lembut kepadanya.
"Ada apa?"memajang wajah dinginnya.
"..."
"Aku ingin tanya..." berbicara dengan hati hati.
"Aku tidak akan menjawab pertanyaan mu." Dengan terus berjalan dengan wajah marahnya.
Filbert mencoba menahan diri agar dia tidak melewati batasnya. Aku tidak tau apa yang membuatnya seperti itu, tapi sepertinya dia memiliki kenangan buruk dari kejadian tadi. Tapi aku ingin terus menanyainya karena jika Angelina Justis sudah penasaran dia pasti akan menuntaskan rasa penasarannya itu. Walau pun rintangan menghadang sekalipun.
"Filbert" berlari menghampiri Filbert yang ada di depanku sambil berteriak namanya.
"Ah... Dia bahkan tidak berhenti atau pun melengah kepadaku. Ish" ucapku yang sangat kesal dengan Filbert.
"Hai...Filbert"
"Filbert..."
"Fil..."
"Hai. Tuan Leo" berteriak dengan keras sampai burung beterbangan.
Filbert berhenti setelah mendengar teriakanku dan menatapku dengan tatapan tajam miliknya yang begitu menakutkan. Tetapi tatapan tajamnya itu tidak membuatku takut, meskipun dia meruhah dirinya menjadi seekor singa seperti pertama kali bertemu. Aku tidak akan takut dengannya apa lagi pingsan ( waktu pertama kali bertemu sih aku pingsan).
Perlahan dia membalikan badannya dan berjalan menghampiri ku, Dengan pelan dan memasang wajah dinginnya yang sangat menakutkan. Dia terus menatapku dengan tatapan tajamnya itu dan berjalan kehadapanku dengan perlahan. Pada saat itu juga kaki ku mulai bergetar dan merasa waswas, kerena takut dia akan melukai ku atau semacamnya.
"Apakah kau tidak bisa tutup mulut dan terus berjalan..." berbicara dihadapanku dan memasang wajah marah nya .
"Tapi..." tanganku ikut ikutan bergetar.
"Sudah ku bilang, tutup mulutmu dan berjalan lah" menggunakan nada tinggi, yang membuatku takut.
"..."
"Kenapa kau seperti itu? Aku hanya ingin bertanya, apakah itu salah" ucapanku yang takut dan gemetar melawan perkataan Filbert.
Setelah itu aku pergi menjauh diri hadapan Filbert menuju kamarku dan aku perlahan meneteskan airmata karena ucapan Filbert yang begitu mengejutkan ku. Aku menangis di sepanjang jalan menuju kamarku. Tapi ini juga salahku, karena aku terus bertanya dan memanggilnya kerena itu dia merasa kesal dan marah.
Filbert masih berada disana dan berdiri dengan wajah marahnya. Diapun perlahan pergi kembali ke kamarnya dengan rasa khawatir, karena telah berbicara seperti itu kepadaku. Dia terus memikirkan apa yang akan dia lakukan kepadaku di perjalanan menuju kamarnya. Disisi lain aku terus menangis tanpa henti dan memegang kalung pemberian orang tuaku. Aku menangis karena beberapa hal yaitu, kerena Filbert, berada sendirian dikamar tanpa di temanin oleh Vivian dan aku sangat meridukan orang tuaku yang berada di bumi.
-----------------------
***********************************
------------------------
Tok... tok... tok...
Tok... Tok... Tok....
Pintu kamarku berbunyi lagi dan aku memeriksa lagi, tetapi sama seperti yang pertama tidak ada seorangpun disana. Aku kembali masuk dan tak lama pintu kamarku berbunyi lagi .
Tok... Tok... Tok...
Aku mulai kesal dan tidak membukakan pintu itu lagi, tapi pintu itu terus berbunyi tanpa henti. Dengen kesal aku membukanya dan berteriak sangat keras.
''Hai... siapa yang mengerjaiku sedari tadi. Munculah kalau tidak...'' ucapku dengan keras , kesal dan juga sedikit takut.
Setelah menunggu beberapa saat, tidak ada orang yang muncul. Aku merasa kesal dan juga takut, karena aku tau tidak ada orang di asrama. Semua murid di asrama semuanya pulang kerumah masing masing, karena itu aku menganggap Filbert lah yang mengerjaiku. aku berteriak terus menerus.
'' Filbert .... tolong jangan bercanda dengan ku, ku mohon. Kalau tidak ....'' aku merasa takut dan aku juga merinding. aku menganggap ini seperti aku terjebak di dalam film horor.
setelah menunggu beberapa saat, tidah ada satu pun orang yang muncul dan tidak menerima jawaban apa apa aku berfikir kalau itu bukan lah Filbert. karena ku tau aku dan Filbert sedang tidak akur, mana mungkin dia berani bercanda dengan ku. dan yang ku kenal Filbert itu orangnya tidak suka bercanda, jangankan bercanda tersenyum saja jarang, wajahnya begitu datar dan dingin serta tatapan nya yang begitu tajam, mana mungkin dia bisa bercanda. aku kembali masuk kekamarku, tetapi saat aku berbalik dan menghadap tepat didepan pintu kamarku, tiba tiba terdapat tulisan yang mengatakan
'' Ikutlah denganku''
tulisan itu tiba tiba saja muncul, aku heran siapa yang menulisnya. setelah aku membaca nya tulisan itu menghilang dan seketika itu juga tulisan baru muncul
'' Ikutlah dengan ku Nona Angelina Justis''
seketika itu juga aku merasa ada yang aneh dalam diriku. aku ingin melawan tapibtetap tidak bisa, tubuhku mersa lelah dan lemah dan tiba tiba saja terjatuh serta tak sadarkan diri....
----------------------------------------***********************************----------------------------------------
Aku mulai terbangun dan aku merasa akumerasa setengah sadar, kepalaku pusing dan penglihatanku masih samar samar. aku merasa seperti terikat, sepertinya aku terikat disebuah kursi, tangan ku terikat dibelakang dan kaki ku juga, mulutku terbungkam dengan sehelai kain.
aku melihat beberapa oranng menghamiriku ( kira kira ada sekitar 7 orang yang ada). aku tidak bisa melihat dengan jelas karena penglihatanku masih samar. mereka mendekatiku perlahan tapi pasti. mereka semua tepat di hadapanu , aku melihat semua orang itu menggunakan jubah berwarna hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, bahkan wajahnya pun tak terlihat. aku merasa sangat takut .... disaat itu juga aku berpikir lebih baik aku menutup mataku kembali dan berpura pura tidak sadarkan diri .
disana aku mendengar semua percakapan mereka, mereka berbicara mengenai diriku , orang tuaku, dan kalung yang aku kenakan.aku mendengar salah satu dari mereka berbicara kepada seseorang, diamengatakan
''apakah dia gadis yang kau cari ''
salah satu orang berjubah hitam itu berbicara dan dari belakang orang orang berjubah hitam itu munculah seseorang beeerjubah hitam tetapi memiliki corak seperti kobaran api yang membara di jubahnya. aku membuka mataku sedikit untuk melihat mereka. aku tidak tau mereka itu siapa dan aku merasa bahwa orang yang berjubah hitam bercoak kobaran api itu adalah pimpinan para orang yang berubah hitam polos, karena hanya ada satu orang saja yang memiliki corak kobaran api dan yang lainya memakai jubah hitam polos. aku melihat orang yag memakai jubah yang bercorak kobaran api itu perlahan mendekatiku, dia menjulurkan tangannya. aku melihat sebuah tangan yanng begitu putih seputih salju dan tanan itu memiliki sebuah tato yang berbentuk kobaran api tepat di bawah ibu jarinya dan di atas pergelangan tangannya, tato itu kecil dan berwarna merah api. tangan itu menuju menuju leherku dan mengambil liontin yang sebagai mata kalungku, tetapi dia tidak melepaskan nya dari kalungku maupuan leherku, dia hanya memeriksa liontin itu dan menaruh kembali liontin itu dan dia mundur menjauh dari hadapanku, dia berbalik dan mengatakan
''dia memang Angelina Justis dan kalung itu juga. aku melihat liontin yang sama ''
dia pun pergi dan yang lainnya mengikuti si jubah hitam bercora kobaran api itu.perlahan mereka menghilang dan disaat itu juga aku bergegas membuka ikatanku, dan langsung membuka satu persatu ikatan tali yang mengikat tubuhku, aku pernah mengikuti klub olahraga disana aku belajar ilmu bela diri dengan cara itu aku melepaskan diri dari ikatan yang mengikat tubuhku, ikatan telah terlepas semua. aku mulai bangkit tapi kakiku tersa sakit kerena ikatan tali yang begitu kuat. bukan hanya kakiku tangan ku pun terluka saatmembuka tali tadi. aku menahan rasa sakit itu dan mulai berjalan. aku mengikuti jalan yang tadi orang orang berjubah hitam lewati. aku berlari dan mencari jalan keluar tetapi semakin aku terus berlari kegelapan mulai menyelimuti semua yang ada di dalamnya, aku kesulitan untuk melihat . tetapi tiba tiba kalung yang aku kenakan itu memancarkan cahayanya bukan hanya liontinnya saja hampir semua bagian kalung itu memancarkan cahaya yang sangat terang, dan aku bisa kembali melihat serta bisa menemukan jalan keluar.
'' wah.... akhirnya aku bisa keluar dari tempat ini''
aku melihat sekeliling, ternyata tempat aku dibawa itu adalah sebuah rumah yang sangat besar dan mewah. aku merasa aku belum lama berada didalam sana. aku belum memastikan aku berada di daerah mana aku berada karena aku masih baru disini dan selama aku ada di Olympus aku belum pernah bepergian sebelumnya. aku melihat sekeliling lagi untuk ke dua kalinya dan aku menemukan jalan setapak, aku mengikuti jalan itu dan menemukan sebuah desa, tidak aku pikir ini sebuah kota karena bangunannya cukup mewah dan besar.
'' syukurlah , aku bisa keuar dari sana dengan selamat ''
aku lega sambil menatap sebuah kota yang ada di hadapanku dan aku melihat matahari mulai terbenam. kota yang sangat indah dan menawan....
Note: Thank you yang selalu setia membaca ceritaku