
Kemarin adalah hari yang sangat lelah untuk ku dan semua orang. Matahari terbit, cahaya nya masuk melalui jendela dan angin angin kamar. Hari ini hari yang sangat sibuk, kami para murid tetap melanjutkan ajar mengajar. Walaupun keadaan sekolah masih berantakan, karena penyerangan dari kelompok Ring Of Fire.
Pagi ini setelah sarapan. Aku dan Vivian pergi ke ruang kesehatan untuk mengambil beberapa vitamin. Disana masih banyak siswa yang terluka karena reruntuhan. Bukan hanya mereka aku melihat Ivan terbaring di kasur bersama Ken dan Filbert. Mereka berdua seperti sedang mengawasih pelaku kejahatan yang sedang terluka di rumah sakit. Melihat mereka bertiga, Vivian langsung menghampiri mereka.
"Hai... semua" sapa Vivian
"Hai... Vivi" balas Ivan. Sementara yang lain hanya melirik Vivian dan kembali menatap Ivander dengan sangat tajam.
"Issh... kalian itu, maunya apa? Kenapa kalian membawaku ke sini?" Ucap Ivander kesal.
"Kau kenapa Ivan?" Tanya Vivian.
Aku melihat percakapan mereka dari jauh, sambil menunggu vitamin diberikan. Aku memperhatikan mereka terus menerus dan tanpa sadar vitamin nya sudah di berikan.
Setelah mengambil vitamin, aku menghampiri Vivian dan yang lainnya.
"Vivian, ini vitaminnya sudah ada. Kita kembali ke kelas" ucapku mengajak Vivian.
"Baiklah... ayo kembali" jawab Vivian dan menatap Filbert, Ken dan Ivan dengan tatapan yang serius.
Kami meninggalkan ruangan kesehatan dan kembali ke kelas. Wajah Vivian seperti sangat kesal dengan sikap 3 sekawan itu, selama perjalanan menuju kelas dia hanya merengut dan tak berkata sepatah kata pun kepadaku.
***************
Disisi lain, Ivan masih di jaga oleh 2 orang temannya yang memiliki aura malaikat maut, yang akan segera mengambil nyawanya.
Filbert menatapnya tajam dengan tangan di dalam saku celana dan Ken menatapnya bingung sambil mengacak pinggang.
"Bagaimana kau sampai ketahuan kalau kau terluka?" Tanya Ken menatapnya bingung.
"Aku bahkan tidak tau! Tiba tiba aku di bawa oleh Prof. Steven ke sini!!!" Teriak Ivan yang kesal dengan pertanyaan Ken.
"Kenapa kau berteriak!" Kata yang dilontarkan Filbert dengan tatapan yang sangat menakutkan.
"Begini saja, kau istirahat. Setelah kau keluar dari sini. Kita harus bicara! Kau mengerti!!!" Ucap Filbert yang membuat Ivan hanya bisa terdiam tanpa bisa berkata apa apa.
Setelah perkataannya itu Filbert dan Ken pergi meninggalkan Ivan di ruang kesehatan sendiri dan mereka pergi ke kelas untuk memulai pelajaran.
*******
Aku masih mengamati Vivian yang masih cemberut. Aku tak pernah melihat Vivian seperti itu saat pertama kali kami bertemu. Dia masih saja duduk diam di kursinya, tanpa bicara dengan ku ataupun yang lain. Sementara itu Filbert dan Ken datang dengan wajah datar dan duduk di kursi mereka.
"Ahh... mereka itu kenapa?" Gumamku.
Tak lama kemudian datang Prof. Aswin dan memulai pelajaran. Sebelum itu semua siswa di kelas bingung, kenapa Guru zodiac Pisces yang mengajar Matematika? Semua bertanya tanya mengapa seperti itu? Apa kah Prof. Aswin bisa mengajar matematika? Itu semua menjadi tanda tanya bagi teman temannku, termasuk diriku sendiri.
"Baik anak anak! Perhatian sebentar!!!" Ucapnya tegas.
"Baik! Prof. Tau kalau kalian pasti bingung mengapa Prof. Yang mengajar kalian?"
"Ya itu juga saya bingung sendiri. Saya mengajar kelas zodiac Pisces mengapa jadi matematika? Tapi saya usahakan bisa mengajar kalian." Jelas Prof. Aswin yang juga bingung dengan ini semua.
"Dan iya, kalian jangan khawatir dengan kejadian kemarin. Semua itu telah di urus oleh pemerintah, dan hari ini pembangunan kembali akan di laksanakan. Tapi kalian akan sedikit terganggu dengan suara bising yang dibuat oleh pembangunan itu." Jelasnya lagi.
Mengankat tangan "Prof. Kenapa kalau bengini tidak diliburkan saja?" Tanya Amelie sepontan.
"Nah... kalau itu Prof. Tidak tau. Yang pasti kalian jangan khawatir dengan kejadian kemarin." Jawab Prof. Aswin.
"Baiklah Prof." Ucap Amelie.
Kami semua memulai pelajaran seperti biasa dan saat Prof. Aswin mengabsen beliau menanyakan keberadaan Ivander yang tidak ada di kelas.
"Ivander! Apa kalian tau dimana Ivander berada?" Tanya Prof. Aswin.
Mengangkat tangannya "Dia ada di Ruang kesehatan Prof. Tangan nya sedang terluka. Tadi malam dia dibawa Prof. Steven ke ruang kesehatan" jelas Joachim.
"Kalau itu, saya kurang tau. Tapi kemarin sudah di obati" jelas Joachim.
"Ya sudah. Kita lanjut pelajaran."
Pelajaran terus berlanjut... Matematika itu sangat membosankan apa lagi guru yang tidak menyenangkan. Itu sangat membosankan apa lagi di suruh maju kedepan menjawab soalan. Walaupun aku di kenal sebagai murid yang mudah cepat tanggap, tapi kalau pelajaran itu matematika pasti sangat membosankan dan membuat stres jika tidak kuat. Bukan hanya itu ilmu pengetahuan pun sama. Tapi jika ilmu pengetahuan itu tidak begitu membosankan seperti belajar matematika.
Menit demi menit telah berlalu. Suara bel telah berbunyi menandakan jam pelajaran telah selesai dan di sambung lagi nanti setelah istirahat.
Aku mengemasi semua peralatan dan buku pelajaran serta menaruhnya di dalam tas.
Tiba tiba dari arah luar terdengar suara dentuman yang sangat keras. Banyak siswa dan siswi yang berlarian keluar kelas. Filbert yang saat itu sedang bersama Ken, Joa, Jennifer, Amelie dan yang lainnya hanya terdiam di kelas tanpa memperhatikan teman teman yang lain berlarian keluar kelas.
"Jangan ada yang keluar!!! Itu bukanlah serangan lagi. Tapi itu hanyalah bunyi berisik konstruksi bangunan!" Jelas Filbert .
Dengan wajah datarnya itu dia mengisyaratkan kepada teman teman yang lain termasuk diriku untuk pergi dari kelas.
Kami berjalan tanpa berbicara satu katapu dan itu tidak membuatku nyaman. Kami terus berjalan menuju rumah belajar. Aku berjalan di belakang sendiri sementara Filbert, Joachim, Jennifer, Amelie di depanku dan sisanya ada yang ke ruang kesehatan untuk menjemput Ivander serta sisanya pergi entah kemana.
Aku hanya berjalan sendirian di belakang tanpa ada yang berbicara dengan ku. Aki terus berjalan sambil menatap ke samping dan kedepan melihat keadaan di sekeliling.
Kami melewati jalan yang banyak sekali pohon yang rimbun. Udara yang sangat segar dan membuatku rileks, aku begitu menikmati udara itu. Aku berjalan dengan senang hati dan tanpa sadar ada seseorang menggapai tanganku dan menarik ku. Dia membawaku ke balik pohon besar dan menutup mulutku agar suara ku tak terdengar oleh teman temanku.
"Aaaa!!!" Teriakku kaget.
Orang itu membawa ku ke balik pohon dan dia menutup mukutku sambil melihat keadaan sekeliling.
"Lina, diamlah. Ini aku Jack" ucap orang itu.
"Buka lah matamu, berhentilah mengeluarkan suara dan ikuti aku." Ucapnya bisik di telingaku
"Jack..." ucapku dan sepontan memeluk nya yang ada di hadapanku.
Dia membalas pelukanku "Iya ini aku Jack." Dia melepaskan pelukan ku
"Lina kita harus pergi dari sini sekarang..." dia menggenggam tanganku dan membawa ku ke suatu tempat dengan cepat.
Aku tidak tau Jack akan membawa ku kemana. Aku khawatir dengan dia membawaku ke suatu tempat, akan ada masalah yang akan terjadi nanti. Aku bingung harus apa. Disisi lain ada Filbert dan teman temanku yang tidak tau aku menghilang dan di sisi lain ada Jackson dan aku pergi ke suatu tempat yang tidak aku tau dimana.
"Jack kita mau kemana?" Tanya ku
"Kau tak perlu tau!" Jawab Jack dan terus berjalan.
Kami masih berjalan menelunsuri jalan setapak. Dari kejauhan aku melihat ada sebuah rumah besar yang begitu tua dan sedikit kotor, seperti tidak ada yang merawatnya.
Setelah kami sampai di depan rumah itu tanpa sebab apa pun, aku melihat sekeliling rumah itu seperti tidak asing bagiku. Rumah itu seperti pernah aku lihat tapi aku tidak tau kapan.
Aku mengingat ngingat kembali tentang rumah itu. Dan tanpa sadar aku mengingat rumah itu, rumah itu adalah dimana aku pernah di culik oleh beberapa orang. Setelah mengingat itu aku menghentikan langkah dan membuat Jackson terkejut dengan aku menghentikan langkah ku.
"Kenapa kau berhenti, ayo kita masuk?" Tanyanya.
"Tidak, aku tidak mau masuk!!" Jawabku dengan wajah ketakutan dan perasaan tidak enak.
"Kenapa?" Tanyanya kembali.
"Tidak!!! Aku tidak mau!" Teriaku. Sembari mundur ke belakang
Dari kejauhan ada suara beberapa orang yang sedang berlari dan itu membuat kami berdua terkejut dan mencari sumber suara itu.
Jackson saat itu reflek mengayunkan pedangnya ke arah suara itu dan berusaha melindungi ku.
Tiba tiba dari depan munculah beberapa orang dan itu ...