The Zodiac Academy In Olympus

The Zodiac Academy In Olympus
#3



Menerunsuri jalan pedesaan itu, tak terasa aku sudah sampai ke pusat kota. Aku melihat banyak orang yang berlalu lalang, mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing. Setelah beberapa menit aku berjalan, tiba tiba ada seorang anak kecil perempuan menghampiriku.


''Hai, nona.'' ucap anak perempuan itu.


''Iya...'' aku terkejut dan sepontan melengah menuju arah suara gadis itu.


''Nona, ini untukmu...'' ucap anak perempuan itu


''Apa ini, sayang?'' ucapku yang heran.


''Ini uang untukmu...'' anak itu menaruh uang itu di tanganku


''Ehh, tidak usah. Aku tidak membutuhkannya'' kataku sembari mengembalikan uang anak perempuan itu.


''Tidak usah, kau pasti kelelahan, jadi belilah makanan atau minuman. Uang itu cukup untuk membeli keduanya.''


''Apa kau tersesat. Sepertinya kau tidak tau tempat ini?'' ucap anak perempuan itu dengan menatapku aneh.


''Emm...''


''Sudah sudah kuduga! pasti nona tersesat, tidak apa aku akan mengantar mu ke sana. Ayo...'' menarik tanganku dan membawaku ke suatu tempat.


''Ehh... kau mau membawaku kemana???''


Anak perempuan itu embawaku ke suatu tempat,dengan menarik tangan ku. Aku terus mengikuti langkah anak perempuan itu berjalan, anak itu terus memegang tanngan ku tanpa melepaskan nya sedikit pun. Aku bingung anak perempuan itu akan membawaku kemana?. Tapi aku percaya saja kepada anak perempuan itu, karena dia anak kecil, mana mungkin dia berbuat macam macam kepadaku. Dia saja memberiku beberapa uang untuk ku. Setelah berjalan cukupp jauh akhirnya anak kecil itu berhenti dan melepaskan tangan ku. Ia berhenti di sebuah rumah yang bisa terbilang besar. Aku tidak tau itu rumah siapa, setelah anak itu melepaskan tangan ku dia pergi kedepan pintu rumah itu, selama dia pergi ke dalam rumah itu ku menunggu di depan gerbang rumah itu, antara gerbang dan rumah itu cukup jauh. Tapi rumah itu sangat menawan, dilihat dari jauh.dia mengetuk rumah itu beberapa kali dan tak lama ada seseorang yang membuka pintu rumah itu.


Tok... tok... tok...


Tok...tok...tok...


Pintu itu terbuka perlahan, ada seorang pria di balik pintu. Pria di balik pintu itu lama kelamaan muncul daari dalam rumah dan menghampiri anak perempuan itu.


''Kak... aku membawa seorang dari sekolah kk, aku membawanya kesini karena dia seertinya dia tersesat.'' ucap anak perempuan itu dengan jelas


''Benarkah...'' ucap orang dari rumah itu


''Benar, karena dia menggunakan seragam dari sekolah kak. Dia seorang wanita, kira kira tinggi nya setelinga kakak, ramping, berambut coklat terang begelombang sepinggang dan dia sangat cantik dan manis'' menjelaskan ciri ciri ku dengn cukup detail.


''Sepertinya kakak kenal dengan ciri ciri gadis itu, tapi dimana dia sekarang.'' ucap peria itu penasaran.


''Sebenta ya... akan aku bawa dia kesini kak'' anak itu berlari menuju gerbang dimana aku menunggu.


''Nona, ayo...'' memegang tangan ku dan membawaku ke dalam rumah itu.


''Gadis kecil...'' ucapku


***


''Kakak, ini dia.''anak kecil tersenyum melengah ke pria itu dan diriku sambil menunjuku.


Aku melihat pria itu dan sepontan."Filbert..." ucapku yang kaget. Tetapi Filbert hanya tersenyum kecil saat melihat ku dengan ekspresi kaget ku.


"Ya... Lilly, kk mengenal nona ini. Dia teman satu angkatan. Dia murid baru di sekolah kk." Filbert berjongkok menyamakan tingginya dengan gadis kecil itu dan memegang tangan nya.


Anak perempuan itu bernama Lilly. Dia tersenyum saat Filbert berada di hadapannya dan memegang tangannya.


"Benarkah, kau mengenal nona ini. Kalau begitu dia juga temanya kak Dannis " tersenyum dengan manisnya.


Lilly menatap ku dengan senyuman " nona, kau adalah temannya kak Filbert berarti nona juga teman dari kk ku Dannis. Salam kenal nona, nama ku Lilly" dia menatapku dengan tatapan yang sangat menawan.


"Salam kenal Lilly, nama ku Angelina. Kau bisa memanggil ku kak Lina" aku berjongkok menyamakan tinggi ku dengan Lilly dan menatap nya manis.


Lilly mengulurkan tangannya untuk bersalaman "kak Lina, kau sangat cantik. Tapi aku hanya bisa sampai disini, ayah pasti sudah mencariku. Kau akan aman disini,apa lagi kau sudah mengenal kak Filbert. Kau tidak akan terlantar di jalan"


"Dan iya , kapan kapan bisakah kita berjalan jalan dan bermain bersama" Lilly dengan bibir manisnya mengajak ku bermain.


Aku manjawab "iya... jika kak ada waktu. Kita akan bermain bersama" ucap ku


"Baiklah, janji ya"


"Iya, janji..."


Setelah itu dia meninggal kan kami berdua di rumah itu. Kami berdiri, Filbert mengajaku untuk masuk kedalam rumah itu. Saat menatap anak kecil tadi dia sangat ramah,tetapi setelah anak kecil itu pergi wajah nya seketika berubah menjadi datar dan dingin seperti biasanya di sekolah. Tapi aku mengerti kenapa dia begitu, karena aku merasa dia masih kesal dengan kejadian tadi pagi. Kami bertengkar kecil saat menuju asrama.


Dia mengajakku masuk kedalam rumah itu. Aku berjalan mengikuti langkah Filbert dari belakang, saat aku masuk ke dalam rumah itu, aku sangat kagum dengan arsitektur rumah nya itu. Rumah itu sangat keren dengan corak kelasik tapi modern seperti rumah yang ada di bumi. Dindingnya yang berwarna merah dan ukiran yang berwarna emas dan silver menambah kesan yang sangat luar biasa.


Aku menatap keselurus bagian rumah itu dengan tatapan kagum " wow..." mulutku terus terbuka. Aku sangat kagum dengan isi rumah itu, aku terus mengikuti langkah Filbert menuju ke suatu ruangan. Dan setibanya aku di ruangan itu aku sangat dibuat takjub dengan sebuah lukisan yang besar di dinding ruang tamu.


"Wow... lukisan ini sangat indah. Siapa yang ada di dalam lukisan ini" aku melihat lukisan itu dengan kagum karena aku seperti mengenal salah satu dari orang yang ada di dalam lukisan itu.


Filbert yang mendengat perkataanku, dia langsung tersenyum kecil melihatku yang mendekati lukisan itu. " lukisan itu adalah lukisan yang di buat oleh ayahku. Ayahku sangat suka melukis, aya melukis itu saat mereka terpilih menjadi zodiac terpilih. Disana juga ada gambar orang tuamu" menjelaskan tentang lukisan itu. Ekspresi Filbert berubah setelah menjelaskan tentang lukisan itu. Wajahnya yang tadinya datar berubah menjadi sedih.


Dengan melihat wajah Filbert yang sedih aku menghampiri Filbert yang ada di depanku dan memegang tangannya. " Kau kenapa? Kenapa ekspresi wajahmu berubah?" Ucap ku yang bingung.


Dia melepas tanganku yang memegang tangan nya dengan cepat. Disaat bersamaan ekspresi wajah nya berubah seperti biasanya. "Tidak, aku tidak papa" Filbert mengalihakan pembicaraan dengan pergi ke kursi tamu yang ada di depan lukisan itu.


Filbert menyuruhku untuk duduk dikursi tamu." Lina... duduk lah kau pasti lelah..." "aku akan membawakan makanan dan minuman untukmu, tunggu sebentar" dia langsung pergi untuk mengambil makanan dan minuman, tanpa menatap ku sedikit pun. Saat berbicara pun dia hanya melihat ke bawah atau ke arah lain, tanpa melihat wajahku.


"Dia kenapa? Aku tidak pernah melihat nya seperti itu. Dia sangat cute..." aku berpikir dengan perubahan ekspresi wajah dan perilakunya dia sangatlah lucu dan juga manis. Berbeda dengan ekspresi dan perilaku nya sebelumnya yang begitu menakutkan.


Aku berkeliling melihat lukisan yang di pajang di dinding ruangan itu. Ada beberapa lukisan yang di gantung, lukisan lukisan itu terlihat begitu nyata. " wow... lukisan yang cukup menarik... aku suka gaya aliran lukisan ini..." mengagumi lukisan yang di pajang.


"Kau sedang apa?" Ucap Filbert sembari membawa makanan dan minuman. Dia berjalan menuju meja dan menaruh makanan dan minuman yang dia bawa ke meja. "Apakah kau tidak bisa duduk diam di kursi ini!, aku sudah bilang untuk duduk kenapa kau ada di sana untuk melihat lukisan itu" dengan wajah datarnya dan tatapan yang tajam kembali menatapku.


"Aku hanya melihat lihat lukisan yang ada di sini. Apakah tidak boleh aku melihat lihat lukisan ini?" Dengan ekspresi kesal aku berbicara dengan Filbert yang ada cukup jauh dariku.


"Tidak, boleh!!!" Ucapnya yang sangat tidak enakin hati. "Kemarilah..." "makan dan minumlah ini dan ceritakan kenapa kau bisa tersesat sampai ke sini. Aku bahkan tidak pernah bilang tentang tempat ini?" Sambil melirik ku ragu ragu dan cukup gugub.


Aku berjalan menuju kursi tamu dimana Filbert duduk." Filbert, kalau aku boleh tau siapa yang melukis lukisan di itu ( lukisan yang baru saja Lina lihat)..." Dia memasang tatapan tajam dari samping dan wajah datarnya itu. "Tidak tidak... pasti yang melukis itu ayahmu, kau tadi bilang kalau ayahmu yang melukis lukisan besar itu." Aku duduk di kursi dan memakan makanan yang di berikan Filbert untuk ku dan meminum minumannya.


"Wow... ini sangat enak..." aku mengagumi makanan yang diberikan Filbert kepadaku. Tapi saat aku memuji makanan itu dia hanya menatap wajahku dan tersenyum kecil.


"Aku tinggal bersama bibi ku..." ucapnya yang datar seperti wajah nya.


"Oh... kau tinggal bersama Bibi Alexa" ucapku tenang dan melanjutkan makan dan menggingit sedok dengan hera.


"Namanya bukan Bibi Alexa tetapi Prof. Eileen?" Dia berbicara cukup serius karena aku memanggil Prof. Eileen dengan sebutan Bibi Alexa.


"Kenapa kamu seperti itu, aku mengenalnya dengan sebutan Bibi Alexa! Kenapa kamu yang sewot. Bibi Alexa aja biasa aja aku panggil begitu" aku mulai kesal dengan jawaban yang di lontarkan Filbert tentang nama bibi Alexa.


"Ngomong ngomong kau di sini hanya tinggal berdua bersama bibi mu saja? Terus dimana orang tuamu?" Aku penasaran dengan orang tuanya Filbert.


"Mereka sudah meninggal!!!" Ucapnya dengan singkat. Ekspresinya sama seperti biasa.


"Ooh. Maaf...aku tidak bermaksud..." aku merasa sedikit bersalah karena menanyakan hal itu kepadanya. Aku tidak tau kalau orang tuanya sudah tiada.


"Tidak masalah. Aku sudah terbiasa, lagipun itu sudah cukup lama aku kehilangan mereka." Ucapan nya yang datar dan tatapan mata yang tajam.


"Cepat selesai kan makan mu dan istirahat lah. Kau akan ada di sini selama aku belum kembali ke asrama, kita akan bersama sama pergi ke asrama. Selama itu kau akan tinggal di rumahku." "Dan iya, tentang yang tadi pagi aku minta maaf. Bukan nya aku bermaksud seperti itu, tapi..." Dia bingung mau melanjutkan perkataan apa lagi dan terdiam sebentar.


"Aku paham kok... kau tidak usah khawatir, aku juga salah. Aku juga minta maaf. Ok..." aku mengucapkan kata kata itu karena aku juga merasa bersalah.


Dia berdiri "apakah sudah selesai? Aku akan membawa mu ke kamar mu." Dia berjalan dan aku mengikuti setiap langkahnya. Kami menaiki tangga yang cukup dibilang megah.


Dia berhenti di sebuah ruangan dan membuka pintu ruangan itu. " Ini kamarmu. Kau istirahatlah, di dalam ada beberapa pakaian untukmu? Semoga aja pakaian itu cocok untuk mu." Ucapnya sebelum meninggalkan ku disana sendiri.


Aku masuk ke dalam kamar dan mulai membersihkan diri. Aku membuka lemari, disana ada beberapa pakaian. Aku mandi dan mencoba pakaian yang ada di lemari itu, pakaian di dalam lemari itu begitu indah dan cocok di tubuh ku. Setelah itu aku bergi keranjang dan tidur, aku sangat lelah. Sebelum tidur aku mencari kotak obat untuk mengobati tangan dan kakiku yang tadi terikat kencang dengan tali.


"Ahh... selamat malam Lina...."


*******************************************


Tok... tok... tok...


Tok... tok...


" Lina cepat bangun. Aku sudah menyiapkan sarapan? Turunlah... setelah sarapan aku akan mengajak mu berkeliling kota." Ucapnya di balik pintu kamar. Sementara itu Aku yang mendengar suara Filbert itu langsung terbangun dan bersiap siap.


**********


"Selamat pagi, Filbert.." ucapku yang baru turun dan menghampiri meja makan.


"Kau ngapain saja? lama sekali" ucapnya datar.


"Ya biasa namanya anak perempuan pasti lama" ucapku sambil mengejek Filbert dengan diam diam.


"Ya udah.... makanlah. Aku membuatnya untuk sarapan" ucap Filbert yang sedang membereskan dapur.


"Waw... apa kau yang memasak semua ini..." ucapku kagum melihat makana yang terlihat enak itu.


"Iya. Aku memasak semua itu..."


"Benarkah? Aku tidak menyangka kau bisa memasak" aku duduk di kursi meja makan dan mulai menyantap makanan yang ada di atas meja makan itu.


"Waw... ada salad, sushi, sandwich, Omelet Keju, Pancake Cokelat Pisang dan Potato Gratin. Makanan sebanyak ini hanya untuk kita berdua?" Aku kagum dengan makanan yang di buat Filbert. Tapi untuk porsi sarapan 2 orang itu sangat banyak.


"Iya. Untuk kita emang untuk siapa lagi?"


"Ayo cepat makan dan habiskan. Setelah ini aku akan mengajakmu berkeliling, dan ia pakaian itu cocok untukmu." Menatapku dengan senyum nya yang manis.


"Ya. Aku suka Frilly Dress ini. Bagai mana kamu tau pakain seperti ini?"


"Kalau kau ingin tau tanya sendiri ke bibi Alexa mu itu. Dia yang membelinya dan menyimpannya di lemari kamar itu."


"Ohh. Bibi , dia memang tau gaya ku " ketawa kecil sembari senyuman yang lebar.


******


Setelah makan....


"Lina... apa kau sudah siap. Ayo kita berangkat... di kota ini banyak tempat yang menarik"


"Iya. Aku sudah siap. Ayo"


"Ayo..."


Aku dan Fibert mengelilingi kota zodiac dengan senang hati. Di perjalanan Filbert memberi tahu ku banyak tempat yang ada di kota itu. Dari pusat perbelanjaan, taman bunga, pusat pemerintahan kota, rumah teman teman yang aku kenal mulai dari rumah Vivian hingga Joachim. Bukan hanya itu kami berjalan terus dan berhenti di sebuah patung bintang yang sangat besar di tengah taman kota. Bilang Filbert jika kita melempar koin emas, dan membuat permohonan, permohonan kita akan terkabul. Hari mulai gelap dan kami harus segera kembali pulang.


*******


Keesokan harinya aku dan Filbert harus kembali ke asrama sebelum matahari terbenam. Sebelum itu aku dan Filbert mengunjungi Patung Bintang itu kembali dan aku melempar koin emas dan membuat permohonan. Aku menutup mata dan membuat permohonan, setelah membuat permohonan di dalam hati aku perlahan membuka mataku dan saat itu di sebrangku aku melihat ada seseorang yang menatap ku. Dia menatapku tajam, aku sudah memalingkan tatapan ku tetapi dia terus menatapku. Saat itu juga aku Filbert menepuk pundak ku dan mengajakku untuk segera pergi dan berangkat untuk pergi ke asrama.


Perjalanan kami menghabiskan waktu sekitar 2 jam menggunakan kereta kuda. Selama perjalanan aku terus memikirkan siapa orang yang selalu menatapku tadi. Bukan hanya itu aku selalu melihat pria itu dimana pun aku berada pada hari ini.


Akhirnya aku dan Filbert sampai di asrama. Aku melihat sudah ada banyak para murid yang kembali ke asrama.


"Lina... kau bisa sendirikan ke kamarmu. Aku ada urusan sebentar..."


"Ya... aku bisa sendiri. Sampai jumpa..."


"Baiklah. Sampai jumpa..."


Aku berjalan menuju kamarku. Setelah sampai aku masuk ke kamarku dan aku disana melihat Vivian sudah ada di dalam kamar, dia sedang membersihkan kamar. Yang kotor karena debu. Setelah melihat itu aku membantu Vivian membersihkan kamar. Kami membersihkan kamar bersama sama. Setelah kami membersihkan kamar kami beristirahat untuk besok, memulai hari pembelajaran kembali setelah 3 hari libur.


"Selamat malam Vivian"


"Selamat malan Angelina"


*SELAMAT MEMBACA*