
Malam berlalu dengan cepat.
Di pagi hari yang cerah dengan angin yang berhembus kencang serta rumput dan pepehonan bergoyang seperti manari nari untuk menyemangati pagi kami. Dipagi yang cerah, banyak sekali suara kicau burung dengan sangat merdunya. Tapi ada satu suara yang sangat indah dan merdu. Dengan rasa ingintahu yang sangat besar, aku mencari dimana sumber suara burung itu. Dengan insting pendengaran yang kuat, aku terdiam untuk memfokuskan suara kicau burung itu. Setelah beberapa lama terdiam aku sudah bisa memastikan bahwa suara itu tepat berada diluar jendela,disebuah pohon berwarna ungu yang sangat indah tepat di depan jendela lamarku. Melihat burung itu berkicau terus menerus membuatku sangat tenang. Seaakan terbuai dengan kicaunya, sampai aku merasa tidak ada beban dalam hidupku. Aku mengenali burung itu. Ya itu adalah burung api yang ku temui kemarin bersama Ivan dan Griffins. Aku menyapanya dan ia balik menyapaku, ia terbang dan hinggap di jendelaku.
"Wow... kau sangat mengagumkan Phoenix. Kau burung yang tak pernah aku anggap ada didunia ini, tetapi aku salah kau benar benar ada" kagumku
"Benar Nona Justis, semua orang beranggapan aku tidak ada. Tapi lihat aku ada, dan semua yang diceritakan dibuku Mitologi Yunani itu benar benar ada disini" Phoenix berbicara dengan ku
"Kau kemarin tidak berbicara sama sekali denganku. Bahkan kamu tidak memujiku? Tapi tidak apa apa, aku senang bisa bertemu denganmu lagi dan iya ambilah bulu emasku ini! Suatu saat nanti kau akan membutuhkan nya!" Phoenix menjatuhkan bulu emas apinya itu lalu pergi dengan cepat.
Dia memberi 2 buah bulunya, dia sempat bilang jika aku akan membutuhkan nya suatu saat nanti. Semua makhluk yang aku temui memberiku benda benda itu dan bilang aku akan membutuhkan nya suatu saat nanti. Aku tidak habis fikir dengan ini semua. Phoenix adalah burung yang sangat cantik, aku benar benar ingin dia terus ada di sini lebih lama. Tapi apa daya, dia pergi begitu saja saat setelah memberikan bulunya kepadaku.
Jam telah menunjukan pukul 7, aku terlambat untuk sarapan. Berlari keluar kamar dan segera pergi ke ruang makan. Dugaanku salah! Masih banyak siswa dan siswi yang masih sarapan disana. Tanpa membuang waktu,aku cepat mengambil makanan dan duduk di meja yang kosong. Dengan cepat aku melahap makananku, saat baru mau melahap makanan itu Kendrick,Dennis dan Roland duduk tepat dihadapanku. Aku menaruh lagi makananku dan menatap mereka serius, seakan tidak menyangka jika mereka sarapan jam segini. Biasanya, yang kudengar dari Filbert dan lainnya, mereka itu makan kalau tidak pukul 6 atau pukul 06:30 itu yang paling lambat. Aku dari asrama ke ruang makan membutuhkan waktu sekitar 15 menit sampai. Dan mereka?
"Kenapa kau menatap kami seperti itu?" Tanya Roland kepadaku, sehingga membuatku salah tingkah
"Dia tidak suka kita makan disini bersamanya?" Sahut Dennis.
"Benarkah itu?" Tanya Roland
"Jika benar, kami akan mencari tempat lain. Jika kamu tidak suka?" Tanya Roland lagi.
"Tidak... tidak... bukan begitu! Aku hanya heran saja? Biasanya kalian tidak pernah sarapan jam segini" jawabku dengan berekspresi serta melakukan gerakan menolak. Bahwa yang mereka pikirkan itu tidak benar.
"Jadi begitu... lanjutkan makanmu, sebentar lagi kita akan melaksanakan tes!" Ucapnya sambil kembali memakan makananya
"Baiklah..." jawabku
Tes hari ke 2, kami diwajibkan untuk mengikuti tes pada pukul 8 pagi, tes itu akan dilaksanakan sebentar lagi. Aku cepat cepat memakan makananku, tapi walaupun aku cepat cepat memakannya, ke 3 pria itu lebih cepat dariku. Mereka bertiga meninggalkanku dan menaruh piring mereka ditempat cucian. Mereka benar benar tidak sama sekali menungguku selesai. Setelah selesai makan aku bangkit dari kursiku dan beranjak pergi meninggalkan meja. Sebelum aku mulai melangkah pergi aku tersadar jika tadi Dennis meninggalkan sebuah buku di meja tadi. Aku mengambil buku itu dan segera pergi untuk mengembalikan buku itu kepadanya. Saat aku berada di dalam gedung sekolah, bel mulai berbunyi dan aku harus segera pergi untuk melakukan tes. Buku Dennis masih tersimpan olehku sampai setelah selesai tes. Aku mencari dia kemana mana tetapi tidak ada.
Aku kelelahan, dia seperti hantu 'datang tak dijemput pulang tak diantar' Ya dia itu adiknya jauh berbeda dengan kakaknya. Aku benar benar teringat dengan Lily, adik Dennis yang membantuku saat aku tersesat. Aku ingin bermain dengannya, aku membayangkan jika dia sudah besar dan sangat dermawan serta rendah hari.
Duduk disebuah kursi taman yang ada di taman sekolah, aku penasaran dengan apa yang terdapat di dalam buku itu. Dengan rasa penasaran aku membuka buku itu perlahan. Sebelum aku membuka buku itu lebar serta belum terlihat jelas apa yang ada di dalam buku itu. Seseorang mengambil buku itu dan sangat membuatku terkejut.
"Apa yang kau lakukan!" Menyembunyikan buku itu di belakang badannya.
"Eee... itu... " ucapku terbata bata karena terkejut.
"Berani beraninya kau membuka buku ku! Apa hak mu!" Memarahiku tanpa henti
"Maafkan aku! Aku hanya ingin mengembalikan bukumu yang tadi tertinggal di meja makan" ucapku gemeteran.
"Sudahlah, kenapa kau mempermasalahkan itu! Niat dia baik untuk mengembalikan bukumu" ucap Leonor yang saat itu melihat Dennis memarahiku dari kejauhan.
Leonor duduk disampingku dan memegang tanganku yang gemetaran"Lina tenanglah, dia memang seperti itu jika privasinya di buka. Kau tahu dia pernah memarahiku habis habisan saat membongkar isi tasnya! Itu sudah biasa, jika dia memarahimu lagi marahi balik. Dia akan terdiam tu" menenangkanku
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
D- day
Waktu terus berjalan tanpa henti, aku melewati masa masa dimana aku sangat senang dan juga sangat khawatir. Dipagi hari yang cerah aku duduk dibawah jendela sejenak untuk melihat berbagai hewan dari hutan. Aku benar benar berharap jika Phoenix ataupun Griffins datang menemuiku dan memberiku semangat. Waktu terus berlalu, aku menunggu dwngan persiapan yang matang untuk menghadapi kelompok Ring Of Fire. Saat di dalam tes pun aku sangat tidak fokus, karena takut jika mereka menyerang mendadak. Jack dan Filbert tidak ada memberitahuku tentang apapun dan hanya bilang kita akan menang. Itu belum tentu! Kita hanya ber empat, sedangkan mereka banyak. Aku sempat ketakutan, karena dalam hidupku aku belum pernah menghadapi masalah yang bisa merenggut nyawaku. Sungguh, aku melakukan tes dengan rasa takut, deg degan pokoknya campur aduk perasaan ini.Aku terus waspada disetiap langkah serta detik waktu yang ku lalui. Sungguh aku merasa resah dengan semua ini. Tapi Filbert, Jack dan Joa menyemangatiku dan selalu menghiburku.
Jam demi jam, menit demi menit dan detik demi detik ku lalui hari ini. Kondisi disini masih aman, aku berfikir apakah malam ini mereka akan menyerang? Malam pun tiba, mereka masih belum menyerang sama sekali. Aku duduk di ranjang kamarku, tak habis fikir aku dengan rencana mereka.
Tok... tok... tok...
Aku terkejut, suara ketukan pintu dari luar. Selalu berfikir positip dalam keadaan yang kacau tak karuan. Aku membuka pintu itu perlahan dan siap dengan pisau kecil ditangganku. Aku sungguh waspada dengan semua gerak gerik yang mencurigakan hari ini. Aku sempar berfikir, 'bagaimana jika ini sama seperti dulu. Seseorang mengetuk pintu kamar saat aku sendirian di kamar dan tanpa sadar sudah di tempat yang berbeda' . Perlahan tapi pasti agar tidak melukai seseorang yang ada di depan pintu jika dia bukan penjahat. Membuka pintu kamar dan...
Suasana semakin mencekam, dengan perlahan aku membuka pintu dan bersiap siap dengan Pisau kecil ditanganku. Perlahan tapi pasti, membuka pintu dan...
"Huh..." suara nafasku saat tau siapa yang ada di balik pintu tadi.
"Lina...? Kau kenapa?" Ucap orang itu
"Tidak papa!" Pelahan menyembunyikan pisau kecil itu di kantok bajuku.
"Nona... Pria ini ingin menemuimu. Bilangnya ada urusan penting yang harus kalian bicarakan. Jadi aku mengantarnya kesini" kata si penjaga
"Ooh... baiklah, terimakasih." Ucapku.
Penjaga itu pergi kembali ke posnya. Jantungku masih deg degan dan masih berasa panik. Disitu Filbert tidak banyak bicara dan menyuruhku untuk mengikutinya ke suatu tempat. Di perjalanan, ditengah gelapnya malam serta diterangi bintang dan beberapa planet. Kami pergi melewati gerbang asrama wanita dan disana penjaga masih belum ada, karena setiap malam pasti selalu patroli. Keluar gerbang dan pergi kesuatu tempat, ya tempat itu tempat dimana Jack, aku, Filbert dan Joa membagi informasi yang didapat.
"Kalian lama sekali!" Kata Joa dengan kesal
"Ya maaf! Kalian gak ada bilang kalau malam ini ada pertemuan" kataku.
"Sudahlah... biarkan mereka. Kasihan Filbert dia baru saja melewati tantangan terbesar!" Sahut Jack sambil mengambil sebuah pasir waktu yang cukup besar dilemari.
"Tantangan besar?" Tanya Joa bingung.
"Ish... tantangan besar yang dimaksud itu adalah memasuki asrama wanita" Jawab Filbert
Tanpa basa basi Jack menaruh pasir waktu itu dimeja. Dia belum membalikkan pasir waktu itu. Dia membicarakan tentang, mengapa anggota Ring Of Fire tidak jadi menyerang. Aku sempat mengira bahwa ini adalah bujukan dari Jack peda ayahnya, tetapi perkiraanku salah! Jack bilang kalau mereka membatalkan nya begitu saja. Jack sempat mengira bahwa itu hanya candaan mereka saja, tetapi itu benar benar terjadi. Bahkan Filbert yang tergabung dalam kelompok perang panglima nya saja tidak tahu kenapa merek memutuskan untuk tidak menyerang.
Besok adalah hari terakhir tes Zodiac terpilih. Jack membalik pasir waktu itu dan bilang ...
"Waktu kita hanya berpasan dengan 1 kali balikan pasir waktu"
Kami mengerti apa yang dia maksud. Waktu kami tidak banyak, dengan itu kita berpatokan dengan pasir waktu. Pasir waktu itu bergerak lama, jadi kami berfikir bahwa waktu kami untuk menghancurkan anggota Ring Of Fire cukup lama.