![The Secret Of My Boss [Soft]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-secret-of-my-boss--soft-.webp)
22:39 pm, Bona dapat melihat betapa larutnya malam dari jam diponselnya, dan pemikiran wanita itu hanya kamar tidur miliknya. Bona hanya memandang diam pemandangan malam dari mobil yang sedang melaju dijalanan itu. Sedari tadi Seokjin tak ada berkomentar sedikit pun dan hanya fokus menyetir. Bona tidak mengharapkan Seokjin untuk memperhatikannya, namun benak wanita itu terus bertanya kenapa Seokjin datang dan menghentikan kencan ia dan Yoongi. Tindakan Seokjin ada bagusnya untuk Bona, tapi ini seperti bukan Seokjin.
Setelah memarkir mobil dibasement, Seokjin langsung keluar mobil tanpa satu kata pun untuk mengajak Bona. Biasa dengan tingkah sang atasan, wanita itu langsung menyusul Seokjin masuk kedalam lift.
"Seokjinssi... Terima kasih." Ujar Bona tiba-tiba.
Merasa namanya dipanggil, Seokjin hanya melirik wanita disampingnya. Penampilan wanita ini benar-benar berantakan.
(Apa yang ia pikirkan hingga tak sempat mengancing kemejanya?? -Seokjin)

Jujur saja, Seokjin dapat melihat 'sesuatu' yang tersembunyi itu. Pria ini mencoba tidak menggubris penampilan Bona yang 'menggoda' itu dan malah mengalihkan pandangan pada ponselnya.
(Greb!)
Baru saja Bona ingin masuk kekamarnya demi menjernihkan segala pikirannya, Seokjin menahan langkah kaki wanita itu dengan meraih lengan nya.
"Apa yang Yoongi lakukan padamu tadi??"
Pertanyaan Seokjin seolah menjadi pengingat bagi Bona akan perlakuan kasar Yoongi padanya. Bagaimana bisa Bona menceritakan kejadian memalukan tadi pada Seokjin. Bona hanya bisa diam dan menunduk, mulutnya seakan kelu tidak mampu berbicara.
"Ini perintah, Bona. Katakan padaku." Ujar Seokjin penuh penekanan.
"Ma-maafkan saya..." Cicit Bona.
Dalam benak wanita itu, ia begitu kesal pada Yoongi dan Seokjin tentunya. Ia marah karena Yoongi menciumnya dan mengambil ciuman pertamanya, Bona marah dengan hal itu.
Seokjin nampak menghela napasnya pelan. Pria ini tidak suka jika seseorang tiba-tiba minta maaf tanpa ada alasan yang jelas.
"Apa Yoongi menyiksa mu??"
Bona mengangguk pelan.
"Saya kesal dan marah padanya..." Ucapan Bona terdengar bergetar. Bona bahkan tak sanggup menatap Seokjin dan terus memandang lantai.
"Saya kesal... Karena tadi Yoongi mencium saya..hikss....Saya marah karena itu yang pertama dan yang mengambilnya adalah orang yang baru saya kenal beberapa jam lalu...hiks..." Sadar akan tangisannya yang keluar, Bona langsung mengelap air matanya.
"Bagi saya itu penting... Saya sangat menjaganya karena itu berharga...mungkin bagi anda itu bukanlah hal yang penting...hikss..."
Perlahan Seokjin melepas genggaman pada lengan Bona dan meraih wajah wanita itu untuk menatapnya, Seokjin tidak tersenyum atau pun mengeluarkan ekspresi lain. Ia hanya menatap Bona datar seperti tak ada rasa apapun.
"Kenapa anda seperti ini???" Tanya Bona bingung. Seokjin masih diam menatapnya.
"Apa kau kesal karena masih bisa merasakan ciuman Yoongi saat ini??"
"Ma-maksudnya??"
Cup.
"Hemmpp...."
(Dunia akan runtuh -Bona)
(Aku kesal. -Seokjin)
Bona benar-benar tak menduga jika Seokjin akan menciumnya saat ini, pria itu benar-benar mempertemukan bibir seksinya pada bibir Bona. Apa maksud ciuman ini?? Bona menatap mata Seokjin yang menatap datar padanya, padahal bibir mereka sedang bertemu saat ini. Seokjin sama sekali tidak berniat menutup matanya walaupun ia sangat menikmati manisnya bibir sekretarisnya itu, karena ia penasaran dengan ekspresi Bona.
(Tahan dirimu Seokjin... -Seokjin)
Akhirnya Seokjin melepas tautan mereka dan masih menatap Bona yang mematung bahkan meneteskan air matanya karena shock.
"Anggap saja itu sebagai penghilang rasa yang Yoongi berikan."
Setelah berucap seperti itu, Seokjin langsung masuk kedalam kamarnya. Bona masih mematung di depan kamarnya, sedikit kesadaran duniawi menggerakkan dirinya untuk membuka pintu kamarnya hingga ia dapat segera menjernihkan apa yang harus dijernihkan.
(Blam)
Seokjin menutup pintu kamarnya agak keras. Karena merasa gerah, segera ia lepaskan jas dan dasinya keatas ranjangnya dan segera merebahkan tubuhnya keatas kasur empuknya sembari menatap langit-langit kamarnya.
"Bisa gila aku." Ujar pria itu.
"Heol... Biru..." Gumam Bona saat melihat rusuk belakangnya terdapat lebam kebiruan akibat rak buku.
(Bona side)
Setelah Seokjin melepas ku, tanpa pikir panjang aku langsung masuk kedalam kamar. Jantung ku berdedup sangat tidak karuan hingga sulit untukku bernafas dan mengontrol akal sehat ku. Tidak seperti degupan saat Yoongi melakukannya, karena ia melakukannya kasar dan memaksa. Sentuhan Seokjin benar-benar mengacaukan akal sehatku. Bibir tebal Seokjin benar-benar lembut saat menyentuh permukaan bibirku dan itu benar-benar gila.
Aku harus menghilangkan pikiran gila ku. Hanya perlu mandi dan tidur, berharap aku hilang ingatan dan berlaku seperti biasa esoknya.
"Dasar gila... Kemeja kesayangan ku robek karenanya..."
Aku melepaskan kemeja putihku yang sudah lusuh dan kusut itu, begitu pula dengan rok hitam span ku. Sehingga hanya tersisa bra dan celana pendek alas rok ku. Merasa ada rasa nyeri di sekitar rusuk belakangku, aku langsung melihat nya melalui cermin besar dilemariku.
Benar saja. Lebam biru yang cukup besar, kurasa ini karena terbentur dirak buku milik Yoongi.
Bagaimana aku mengoleskan salep pada lebam ini? Sementara jemari ku sulit untuk meraihnya. Kurasa Hyejin sunbae bisa membantuku.
Dan juga, kissmark dari Seokjin dileherku. Haahh.. kapan aku dapat memukul kepala mereka menggunakan penggorengan.
(Esoknya)
Aku kembali bekerja seperti biasa dan semuanya seolah tidak terjadi apa-apa. Dengan Seokjin, Yoongi, dan diriku. Setelah mengurus rapat pagi Seokjin, aku langsung ke meja kerja ku yang sangat berharga. Kulirik jam weker pink ku, sip! Jimin memang bisa diharapkan. Pria itu sudah mengganti baterainya.
"Bagaimana hari mu kemarin???" Tanya Hyejin sunbae yang baru saja tiba. Meja kerja Hyejin sunbae tepat disebelahku.
"Menyenangkan... Kemarin kami ke taman bermain."
Memang benar sebagian besar waktu yang kuhabiskan bersama Yoongi dengan bersenang-senang.
"Benarkah?? Baguslah kalau begitu..." Ujar Hyejin sunbae.
"Sunbae... Bisa ikut aku ketoilet sebentar??" Bisikku pada Hyejin sunbae.
"Kenapa??" Tanya Hyejin sunbae bingung.
"Sebentar saja..."
(Toilet wanita)
"Aishhh... Pelan-pelan sunbae.. jika kau tekan itu sedikit saja sangat menyakitkan..." Rintihku ketika Hyejin sunbae mengoles salep dibelakang ku.
"Aishh... Gadis ini, dari mana kau mendapatkan lebam seperti itu??!! Apa kau tersenggol mobil?!" Omelan Sunbae ku yang satu ini memang dahsyat. Hyejin sunbae pun selesai memberi salep dan membantuku merapikan baju ku.
"Aniya... Aku bisa patah tulang jika tersenggol mobil."
"Lalu kenapa?? Apa sepupu Seokjin menyakiti mu??" Tanya Hyejin sunbae padaku.
Aku terdiam, apa aku harus membagi cerita ku pada Hyejin sunbae?
"Tidak... Ini terkena benturan tiang saat aku bermain wahana..."
"Jangan berbohong padaku..." Ujar Hyejin sunbae.
Mana mungkin aku mengatakan padanya kalau lebam ini karena kekerasan seksual?? Aku malu menceritakannya.
"Aku tidak mungkin berbohong padamu sunbae..."
"Hemm... Dengarkan aku, aku sudah cukup lama menjadi sekretaris Namjoon. Sifat Namjoon yang mana yang tidak aku ketahui... Dari yang normal sampai yang gila."
Hyejin sunbae kau hebat sekali...
"Kukatakan padamu, dari ketiga bersaudara Kim itu hanya Taehyung yang belum ku tiduri. Ini memang terdengar gila... Tapi, ini diriku... Dan pekerjaan ku, tugasku, dan aku menikmatinya. Itu sebabnya aku betah.."
Kuakui kau adalah senior gila yang baru kutemui didunia ini, Hyejin sunbae.
"Kenapa kau menceritakan hal itu kepada ku??" Tanya ku bingung. Hyejin sunbae malah tertawa.
"Hahah... Aku jujur padamu, agar kau bertahan dan termotivasi..."
Jujur saja aku tak termotivasi sunbae...
"Aku bercanda... Hahah... Agar kita bisa saling membangun kepercayaan antar sekretaris. Agar bisa saling akrab." Jelas Hyejin sunbae.
"Sunbae adalah orang yang frontal... Aku suka..." Ujar ku senang.
"Karena aku benci orang yang suka berbicara dibelakang..."
Kau benar Hyejin sunbae, mengomentari sesuatu harus tepat dihadapan si objek.
"Terima kasih sunbae... Mungkin dilain hari aku bisa menceritakan semua padamu."
"Yang terpenting.... Jujur lah pada sekelilingmu.." Sarannya padaku.
(Ting!)
Mr. Kim :
[Makan siang ku mana?]
Pria ini... Wajibkah aku memasakkan makanan untuk pria ini??? Jawabannya iya, Bona. Jika gaji mu tak ingin dipotong 80%, begitu kata Seokjin.
(Flashback)
Baru saja datang ingin mengambil dokumen yang harus diarsipkan, Seokjin malah menyuruhku masak. Bagaimana mungkin?? Apa fungsi Hyanggi sunbae di kafetaria??
"Bukankah staf kafetaria sudah menyiapkan makan siang??" Tanya ku padanya. Lihat, dia menunda pekerjaan mengetiknya dan menatap datar padaku.
"Apa kau mau aku memotong gaji mu sebesar 80%??"
Tidak!!! Apapun itu, jangan gaji. Jangan!!!
"Baiklah Mr. Kim...."
(Flashback off)
Setelah dari toilet, aku langsung menuju kafetaria yang mulai ramai karena sudah jam istirahat.
"Halo nona Shin... Ingin meminjam dapur lagi??" Tanya Hyanggi sunbae saat aku datang kedapur. Kedatangan ku sudah tak mengherankan lagi.
"Kali ini CEO minta apa??" Tanya ketua Jang padaku.
"Apapun itu selain kentang." Jawab ku saat melihat pesan dari Seokjin yang baru datang.
"Aishh... Kenapa selalu berlawanan dengan menu kafetaria... Orang ini... Bersemangatlah Bona!!"
Kau benar Hyanggi sunbae, Seokjin selalu memesan atau menyuruhku memasak sesuatu yang berlawanan dengan menu kafetaria.
"Tak apa-apa... Masih ada sisa udang di kulkas. Pakai saja itu. Jadikan tempura atau semacamnya." Ujar ketua Jang.
Segera kubuka kulkas yang ada didapur dan mengambil bahan-bahan yang kuperlukan.
(Author side)
"Tak apa-apa... Masih ada sisa udang di kulkas. Pakai saja itu. Jadikan tempura atau semacamnya." Ujar ketua Jang.
Mendengar ucapan sang kepala dapur, membuat Bona langsung bergerak cepat.
"Manusia multifungsi." Ujar Hyanggi pada ketua Jang. Sang kepala dapur hanya tersenyum, bahkan Bona yang mendengarnya hanya terkekeh.
(Sementara itu)
"Manusia multifungsi"
"Hehehe...."
Seokjin hanya tersenyum tipis saat mendengar pembicaraan yang ada disekitar Bona berkat alat penyadap yang ia pasang semalam.
(Flashback)
(Seokjin side)
"Apa Yoongi menyiksa mu??" Tanyaku pada Bona.
Bona mengangguk pelan. Wanita ini sepertinya berat menceritakan apa yang telah terjadi padanya. Aku tau, jika Yoongi bukanlah orang yang lembut dan pengertian. Semua sekretaris ku yang ia pinjam rata-rata kembali dengan keadaan yang tidak baik-baik saja. Contohnya ada didepan ku saat ini.
"Saya kesal dan marah padanya..." Ucap Bona dengan suara bergetarnya. Kurasa ia menahan tangisnya.
"Saya kesal... Karena tadi Yoongi mencium saya..hikss....Saya marah karena itu yang pertama dan yang mengambilnya adalah orang yang baru saya kenal beberapa jam lalu...hiks..."
Aku hampir saja tertawa mendengar pernyataannya tentang Yoongi menciumnya, hey. Yoongi bahkan melakukan yang lebih dari itu pada sebelumnya. Sebelum aku mendengar kalimat selanjutnya.
"Bagi saya itu penting... Saya sangat menjaganya karena itu berharga...mungkin bagi anda itu bukanlah hal yang penting...hikss..."
Ternyata ia memiliki prinsip tersendiri tentang itu. Isakan nya semakin menjadi dan sulit terkontrol olehnya. Entah dorongan dari mana aku merangkup wajahnya itu dan menatap matanya yang berair itu. Ia benar-benar frustasi saat ini, aku dapat melihat kegundahan mu lewat kedua bola mata coklat gelap itu. Apa kau masih sepolos ini??
"Kenapa anda seperti ini???"
Karena aku ingin seperti ini padamu. Yoongi, aku sungguh kasihan padamu. Hari ini kau malah nampak dipermainkan oleh gadis polos didepan ku saat ini. Mian Yoongi. Aku tak akan meminjamkan gadis ini padamu.
"Apa kau kesal karena masih bisa merasakan ciuman Yoongi saat ini??"
"Ma-maksudnya??"
Maksudku???
Cup.
"Hmmmpp"
Manis.
Aku menyukai rasa ini, tak kusangka bibir lucu mu semanis ini, Bona. Aku langsung mencium gadis ini karena aku sedikit kesal karena Yoongi menang satu langkah dariku. Aku saja belum pernah menikmati bibir wanita ini, dan Yoongi? Sialnya dia yang pertama bagi Bona.
Selain rasa kesal itu, aku memiliki tujuan lain dari ciuman ini. Aku diam-diam menempelkan alat penyadap ditengkuknya. Tujuannya?? Agar aku dapat mengontrol mu, nona Shin.
Setelah puas menikmati manisnya bibir itu, aku melepaskan tautan kami. Aku masih menatap nya datar, namun rasa kesalku sedikit terendam oleh wajah polos nya yang sedang kebingungan. Aishh... Aku benci jika wanita ini menatap ku seperti ini. Hampir saja aku kehilangan segala akal sehatku saat melirik bra hitam nya yang jelas-jelas nampak bersama isinya itu. Aish.. menyusahkan saja.
"Anggap saja itu sebagai penghilang rasa yang Yoongi berikan."
(Blam)
Aku pun masuk kedalam kamarku dan menutup pintu masuk dengan agak keras. 'pemandangan' itu membuat ku benar-benar gerah, segera kulepaskan jas dan dasi yang kukenakan untuk mengurangi rasa gerah itu serta langsung merebahkan tubuhku ke kasur empukku.
"Bisa gila aku." Ya. Aku bisa gila jika seperti ini terus.
(Flashback off)
Dan kini, wanita ini sedang memasak untuk ku. Walau tak bisa menyetir, setidaknya ia ahli dalam memasak.
Berkat alat penyadap yang kupasang padanya aku jadi mengetahui satu hal. Lebam itu. Aku yakin, Yoongi lah yang melakukannya. Lagi pula kenapa kau harus melawan Yoongi... Memikirkannya hanya membuat pusing kepalaku saja.
(Knock! Knock!)
"Masuk." Ujarku.
Ternyata Bona dan kotak makanannya. Ahh.. sudah selesai dia rupanya.
"Apa menu hari ini??" Tanya ku. Pasti bahannya udang.
"Telur gulung dan kimbab." Jawabnya.
"Bukannya udang??"
Bona bingung.
"Udang??? Siapa yang bilang udang??"
Bukankah ketua kafetaria menyarankan udang???!! Astaga...
Seharusnya aku sadar jika wanita ini sulit untuk ditebak.
"Aniya... Lupakan... Mana makanan ku??" Dari pada akan membuatnya bertanya, lebih baik aku langsung menagih makan siang ku.
Bona pun menyiapkan makan siangku di atas meja tamu yang ada diruanganku, karena perut ku yang lapar aku segara menghampiri makanan itu.
(Author side)
Seokjin terlihat sabar saat Bona membuka kotak makanan dan menghidangkan nya. Seperti hari biasa, makanan tak pernah tak nampak lezat dimata Seokjin. Pria ini benar-benar suka makan.
"Ini makan siang anda. Ada hal lain lagi??" Tanya Bona setelah selesai menghidangkan makan siang Seokjin.
"Makanlah bersama ku. Karena nampaknya ini banyak." Ujar Seokjin cuek dan langsung menyantap.
"Sumpit nya hanya satu... Bagaimana saya makan??"
Memang benar, Bona selalu membawa peralatan makan hanya satu dan itu untuk Seokjin seorang.
Seokjin menunda suapan keduanya untuk menghela napas.
"Cari sumpit mu dan kembali kesini." Titah Seokjin. Bona pun keluar dari ruangan.
(Mana mungkin aku menyuapimu. -Seokjin)
Tak lama Bona kembali dengan membawa sumpit miliknya.
"Makanlah." Ujar Seokjin. Tanpa ragu sedikitpun Bona mengapit sepotong kimbab dan langsung memakannya.
(Karena lapar, kimbab ini terasa sangat enak -Bona)
"Sebutkan jadwalku setelah makan siang ini." Ucap Seokjin pada Bona setelah selesai makan.
"Nanti akan ada direktur Kim dari B bank datang." Jawab Bona.
"Kau boleh pergi."
"Selamat bekerja kembali." Ujar Bona lalu pergi dari ruangan Seokjin.
(Lihat?? Semuanya sudah kembali seperti semula. Tak seharusnya aku terlalu memikirkan hal itu... -Bona)
To Be Continue....✍✍