The Secret Of My Boss [Soft]

The Secret Of My Boss [Soft]
New Problem



(Author side)


Awal kehidupan pernikahan Seokjin dan Bona sama sekali tidak seperti pengantin baru, karena cinta bukanlah dasar pernikahan mereka melainkan kepercayaan satu sama lain. Bagi Bona, awal yang seperti ini bukanlah masalah baginya. Ia tak mengharapkan sedikitpun perhatian Seokjin untuknya, atau pun perlakuan spesial apapun itu. Seperti saat ini, di hari senin yang indah ini. Bona masih menjadi sekretaris kesayangan Seokjin. Jika di rumah ia bisa menjadi istri sekaligus teman namun, jika di kantor ia tetap di siksa oleh Seokjin dengan macam-macam pekerjaan aneh.


Seokjin


[Jemput Mr. Lee di depan gedung. Dan antar ke ruangan ku.]


Baru saja Bona ingin duduk di kursi nya untuk melanjutkan pekerjaan lainnya, tiba-tiba pesan masuk berisi pekerjaan baru. Mau tak mau Bona ke depan pintu masuk gedung dan menunggu kolega Seokjin datang. Sembari menunggu, Bona pun menikmati pemandangan sekitar. Hingga pandangan nya teralih pada seorang wanita paruh baya yang sangat modis sedang melihat gedung tempat ia bekerja. Wanita paruh baya itu sangat cantik menurut Bona. Namun, seperti tidak asing dimata Bona.


(Seperti pernah bertemu... -Bona)


Brrrmmmm...


Pemikiran Bona tentang wanita paruh baya yang sedang memandang gedung tempatnya bekerja langsung di hentikan oleh datang nya sebuah sedan berwarna hitam kehadapan nya. Dari sedan itu, Bona dapat tau bahwa kolega Seokjin telah datang dan langsung disambutnya pria paruh baya yang Bona panggil Mr. Lee itu. Awalnya Bona kira Mr. Lee datang sendirian, nampaknya kolega Seokjin ini membawa istrinya.


"Selamat datang." Sapa Bona saat Mr. Lee dan Mrs. Lee turun dari mobil.


"Bisa temani istri ku?? Aku hanya ingin bertemu dengan tuan Kim sebentar..." Ujar Mr. Lee.


"Baik tuan." Ujar Bona. Kini hanya Bona dan Mrs. Lee berdua.


"Apa kau sekretaris baru CEO Kim??" Tanya mrs. Lee. Bona tersenyum.


"Nee... Baru dua bulan lebih saya menjadi sekretarisnya. Ayo, mrs. Lee. Kita mencari tempat yang nyaman untuk menunggu."


"Ahh... Aku ingin menunggu di taman depan kantor saja." Ujar mrs. Lee. Bona hanya mengiyakan lalu menuntun mrs. Lee ke taman kantor yang rindang dengan pepohonan hijau itu.


"Dulu, taman ini tak serindang sekarang..." Ujar mrs. Lee sembari memandang sekeliling taman setelah duduk dibangku taman.


"Benarkah?? Memang nya seperti apa taman ini dulunya??" Tanya Bona penasaran. Mrs. Lee sepertinya baru sadar jika Bona yang menemaninya.


"Eo-eoh... Itu hanya masa lalu." Ujarnya terbata. Bona memaklumi saja.


"Ah ya, kenapa CEO Kim, mengganti sekretaris nya??" Tanya mrs. Lee.


"Saya kurang tau, karena saya juga baru menjadi sekretaris tuan Kim..." Ujar Bona sekenanya.


Mrs. Lee memperhatikan Bona dari pucuk kepalanya hingga ujung sepatu flat shoes nya. Bona bingung dengan kelakuan orang tua jenis ini.


"Ck. Apa seleranya berubah??" Gerutu mrs. Lee.


"Eh?? Nee??" Tanya Bona bingung.


"Ah?? Apa yang ku bicarakan?? Aigoo maafkan aku... Aku baru saja kembali dari Paris setelah 10 tahun menetap disana... Aku agak sedikit lupa dengan bahasa Korea..." Jelas mrs. Lee pada Bona.


Bona tersenyum memaklumi.


"Tak apa-apa... Bukankah itu melelahkan?? Padahal anda baru saja kembali dan sekarang ikut suami anda menemui koleganya..." Ujar Bona.


Mrs. Lee tersenyum lembut layaknya seorang ibu dimata Bona. Ya memang mrs. Lee ibu-ibu. Pikir Bona.


"Itu keinginan ku... Lagi pula sudah lama aku tidak menikmati pemandangan Seoul..." Jawab mrs. Lee.


"Ah ya... Aku lupa menanyakan namamu, siapa namamu??" Tanya mrs. Lee.


"Ah. Nama saya Shin Bona... Boleh saya tau nama anda?"


"Lee Minnah."


"Senang bertemu dengan anda nyonya..." Ujar Bona. Minnah hanya tersenyum dan masih memperhatikan Bona dengan seksama hingga ekor matanya menangkap suatu objek yang membuat ekspresinya menjadi kalut dan cemas.


"Bona... Sepertinya aku harus pergi dulu... Katakan saja pada suami ku untuk menelepon ku saat ia sudah selesai... Sampai jumpa."


Bona bahkan tak sempat mengeluarkan pertanyaan untuk mrs. Lee, karena mrs. Lee sudah duluan pergi. Ada apa??


"Bona, sedang apa kau disini??" Tiba-tiba Namjoon datang menghampiri Bona yang sedang kebingungan.


"Eoh... Namjoon... Awalnya aku sedang berbicara dengan seseorang. Ada apa??" Tanya Bona. Namjoon melihat sekeliling taman dan kosong. Hanya ada Bona dan dirinya.


"Seokjin hyung menyuruh mu memasak makan siang..." Ujar Namjoon. Bona lupa, jika Seokjin belum mengembalikan ponselnya dan ia hanya memegang 'ponsel bisnis' saja.


"Benarkah..." Bona melihat sekali lagi taman dan benar-benar hanya ia dan Namjoon. Kemana mrs. Lee?? Cepat sekali wanita itu menghilang??


"Kalau begitu ayo..." Bona pun beranjak dari bangku taman dan pergi dari taman.


"Masakkan aku juga ya kakak ipar..." Bona terkekeh mendengar Namjoon yang memanggilnya 'kakak ipar'.


(Sementara itu)


Minnah nampak bersembunyi di balik pagar rumput hijau saat Namjoon menghampiri Bona dan mengintip apa mereka sudah pergi atau tidak. Wajah nya menggambarkan suatu kecemasan dan kegelisahan.


"Kakak ipar?? Apa Seokjin menikahi sekretarisnya itu??" Tanya minnah pada dirinya sendiri.


(Klek)


"Ini makan siang anda Seokjin..."


Setelah mengetuk pintu, Bona pun masuk keruangan Seokjin sambil membawa kotak berisi makan siang. Seokjin menunda pekerjaan nya dan langsung menghampiri makan siang nya yang dihidangkan Bona.


"Kau masak apa chagi??" Tanya Seokjin. Bona hanya tersenyum sembari membuka kotak makanan itu.


"Hari ini ada tempura dan bibimbab." Ujar Bona sembari memberi Seokjin sumpit dan sendok.


Seokjin pun mulai makan siang dan Bona hanya menemani walau kadang-kadang Seokjin menyuruhnya makan juga. Seokjin pernah mengatakan pada Bona, saat makan tidak boleh berbicara. Itulah kenapa acara makan Seokjin dan Bona selalu tenang.


"Tadi, kenapa Mr. Lee datang sendiri??" Tanya Seokjin setelah selesai makan pada Bona yang sedang membereskan kotak makanan.


"Beliau menyuruhku menemani istrinya yang baru datang dari Paris. Kami ditaman tadi..." Jelas Bona. Seokjin hanya ber"oh" ria dan kembali ke meja kerjanya.


"Ah. Ya..." Seokjin menggantung ucapan nya sehingga membuat Bona bingung.


"Aniya lupakan..." Bona menatap Seokjin datar dan langsung pergi dari ruangan Seokjin.


(Lain kali saja... -Seokjin)


Seokjin langsung mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.


"Yoongi. Aku ingin kau mencari tau sesuatu..."


(Sementara itu)


"Sayang. Kenapa kau terus melamun??" Tanya mr. Lee pada istrinya saat mereka sedang berada didalam mobil. Minnah tersenyum.


(Malamnya)


("Chagi, hari ini kau pulanglah sendiri. Aku ingin mengurus sesuatu." Seokjin).


Tak!


Bona menyelesaikan potongan sayuran terakhirnya lalu memasukkan potongan sayuran itu kedalam panci berisi air mendidih. Hari ini ia pulang dengan menggunakan kendaraan umum karena Seokjin tak bisa mengantar nya. Ia tak mempermasalahkan kendaraan umumnya, yang ia pertanyakan adalah apa yang ingin Seokjin urus?? Kenapa Seokjin tak ingin memberitahukan Bona?? Bona ingin bertanya, namun pada siapa dan bagaimana?? Seokjin masih menahan ponsel Bona.


"Percaya apanya..." Gerutu Bona kesal.


(Sementara itu)


Ruangan ini tak asing, terdapat banyak buku dan koleksi piringan hitam. Ini adalah ruangan Min Yoongi. Ada Seokjin, Namjoon, Taehyung disitu juga pemilik ruangan dan sekretarisnya.


"Orang-orang ku memberitahukan jika istri mr. Lee memang wanita yang kalian maksud..." Kali ini Yoongi sangat memperhatikan kata-katanya karena ada Seokjin disini.


"Lalu, apa yang ingin kalian lakukan??" Tanya Yoongi. Ketiga bersaudara itu masih diam.


"Hyung... Aku tak ingin mengurus orang itu." Ujar Taehyung.


"Setelah apa yang ia perbuat pada kita... Aku tidak mungkin membiarkannya hidup tenang." Ujar Seokjin penuh dengan kebenciannya.


"Lalu, kau ingin membunuhnya??" Tanya Yoongi.


"Mungkin yang satu ini sedikit berbeda." Ucap Seokjin pada Yoongi.


"Hyung apa kau lupa dengan Bona??" Tanya Namjoon.


"Aku tidak akan membiarkan nya masuk kedalam hal yang satu ini."


"Dari info yang kudapat Mr. Lee melakukan import tanpa melalui bea cukai... Jumlah import itu USD 120 juta." Ujar Jimin.


"Hmm.. mr. Lee berpengaruh di usaha tekstil..." Sambut Namjoon.


"Ambil semua itu." Titah Seokjin lalu meminum habis whiskinya dan langsung pergi.


"Hyung pasti tak ingin membiarkan kakak ipar dirumah sendirian... Makadari itu setelah menghabiskan minumannya ia langsung pergi." Komentar Taehyung saat Seokjin sudah pergi.


"Dia jadi pria yang baik rupanya." Sambut Yoongi. Namjoon dan Jimin hanya tersenyum.


Sendirian di apartemen bukan berarti Bona akan kebosanan. Masih ada televisi yang setia menemani kesendirian Bona. Dengan beberapa cemilan yang ia beli di mini market.


Tap


"Chagi, kenapa kau belum tidur??"


Bona langsung melihat kearah teguran berasal dan langsung tersenyum menyambut kedatangan suaminya.


"Eoh... Aku belum mengantuk... Kau sudah makan??" Tanya Bona sembari menghampiri Seokjin lalu melepas dasi Seokjin.


"Eum sudah. Bagaimana dengan mu chagi??" Tanya Seokjin. Bona terkekeh.


"Tentu saja... Ya... Lucu sekali saat kau memanggil ku chagi..." Ujar Bona.


"Memangnya salah?" Bona menggeleng.


"Tidak. Sudahlah... Mana ponsel ku." Pinta Bona.


Seokjin menunjuk bibir nya dan tersenyum jahil.


"Ponsel dulu..." Ujar Bona.


"Tidak."


Seokjin mendekatkan wajahnya pada Bona dan otomatis Bona menjauh karena risih.


Seokjin terkekeh.


"Jangan bercanda Seokjin..." Ujar Bona.


"Aku tidak bercanda Bona..." Ujar Seokjin.


Cup!


"Sudah! Mana ponselku!!" Bona mengecup bibir Seokjin sekilas dan langsung membuat wajahnya merah padam.


"Ahaha... Apa kau malu chagi???" Tanya Seokjin. Tidak ada jawaban dari wanita yang sedang menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Harga diriku yang berharga..." Gumanan Bona benar-benar konyol di telinga Seokjin.


"Ini ponsel mu... Sudahlah. Aku mandi dulu..."


Seokjin meletakkan ponsel milik Bona di atas sofa dan sekilas memeluk erat istrinya sebelum pergi kekamar.


Blam


(Aishh aku lupa bertanya dari mana dia... -Bona)


Dengan langkah cepat Bona langsung mematikan televisi dan menyusul Seokjin.


Sementara itu, di sebuah gudang besar nampaknya adalah tempat penyimpanan barang berskala besar. Di ruangan yang penuh dengan boks kayu besar itu terdapat Jimin yang sedang melihat beberapa anak buahnya mengangkut segala barang yang ada di gudang kedalam sebuah truk besar.


Sembari mengawasi, mata Jimin juga tak lepas dari beberapa pekerja mr. Lee yang sudah dalam keadaan terikat dan berlutut di hadapan Jimin.


"Yaa... Sebenarnya kalian siapa??? Haah?!" Tanya salah satu anak buah mr. Lee. Jimin memandang datar orang itu dan tidak menanggapi pertanyaan orang itu.


"Tuan... Semuanya sudah siap." Tiba-tiba salah satu anak buah Jimin melaporkan bahwa barang curian mereka sudah siap dibawa.


"Eoh... Kalau begitu bakar saja gudang ini dan jangan meninggalkan bekas apapun." Ujar Jimin lalu pergi keluar gudang. Pria ini bahkan tak peduli dengan para pekerja mr. Lee yang rata-rata masih muda itu.


"Ya!!! Kenapa kau lakukan itu pada kami!!!"


"Ya!!! Kami tak memiliki salah apapun pada kalian!!!!"


(Tanyakan saja pada para pemilik dendam. -Jimin).


Blaaarrrrrrr!!!!!!!!!!!


To Be Continue