![The Secret Of My Boss [Soft]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-secret-of-my-boss--soft-.webp)
(Author side)
Saatnya melepas segala ingatan di Maldives dan kembali ke rutinitas biasa. Begitulah pemikiran gadis bernama Shin Bona ini. Bona nampak berjalan santai menuju ruangan Seokjin dengan membawa setumpuk berkas yang harus dibubuhi tanda tangan Seokjin sebagai sang CEO.
(Knock! Knock!)
Setelah mengetuk, Bona langsung masuk kedalam ruangan.
"Ini, surat-surat dan dokumen sebelum makan siang..." Ujar Bona sembari meletakkan tumpukan setinggi 2 cm di atas meja kerja Seokjin dengan senyum manis.
"Aku mengerti... Jangan pergi dulu, tetaplah disini."
Hanya menuruti perkataan Seokjin, Bona pun duduk di sofa yang ada diruangan sembari menunggu instruksi selanjutnya.
"Ambil ini..." Seokjin nampak menyodorkan sesuatu di atas mejanya. Sontak Bona langsung beranjak mengambil secarik kertas yang bertuliskan sebuah alamat itu.
"Apa ini??" Tanya Bona.
"Itu alamat namanya." Jawab Seokjin cuek.
(Kenapa kesal ya... -Bona)
"Eoh... Alamat... Punya siapa??"
"Aku ingin kau membuat Kang Seungyoon melunasi hutangnya, jika ia tak mampu melunasinya bunuh saja ia." Dengan enteng nya Seokjin memberi instruksi kejam itu pada orang seperti Bona.
"Jangan banyak berpikir... Datangi saja dia dan bereskan hutangnya itu."
Tahu saja Seokjin jika Bona ingin komentar tentang tugas ini.
"Ya... Mana bisa kita membunuhnya, itu kan tindakan kriminal... Kenapa tidak pakai cara hukum??" Tanya Bona Bingung.
"Aku tidak suka berurusan dengan jaksa... Terlebih hutangnya ini bukanlah sesuatu yang legal."
Glek.
Bisnis gelap rupanya, pikir Bona.
(Knock! Knock!)
Suasana diam antara Seokjin dan Bona dipecahkan oleh kedatangan Jimin.
"Kau akan berangkat bersama Jimin... Sudahlah, waktumu tak banyak..." Ujar Seokjin. Bona menatap Seokjin tak percaya, bagaimana bisa ia semudah itu menghilangkan nyawa seseorang sementara orang itu tak ada salah padanya.
"Saya akan mengurusnya dengan cara saya sendiri. Ayo Jimin sunbae." Dengan langkah cepat Bona pergi keluar dari ruangan Seokjin.
Tibalah Bona dan Jimin di sebuah gudang bekas penyimpanan di pinggiran kota Seoul. Bona pun turun dari mobil untuk melihat lebih dekat. Suasana gudang yang lusuh dan menyeramkan dari luarnya sudah menahan langkah Bona untuk masuk kedalam.
"Aku tau ini pasti pertama kalinya kau masuk kedalam hal seperti ini... Jika kau tidak sanggup, katakan saja pada Seokjin hyung." Ucapan Jimin membuyarkan lamunan Bona.
"Tenang saja, urusan menghilangkan nyawa... Itu selalu kami yang tangani." Lanjut Jimin.
"Aku ingin melihatnya." Ujar Bona.
Tentu saja dengan senang hati Jimin menunjukkan jalannya untuk Bona. Mereka langsung disambut pemandangan beberapa pria bertubuh tegap dan seorang pria yang digantung terbalik di tengah gudang dengan keadaan kritis dan babak belur. Melihat keadaan mengerikan seperti ini Bona langsung meringis seolah merasa sakit yang sama. Seokjin benar-benar kejam, walau ia tak melakukannya langsung tapi Seokjin lah otak perancangnya.
"Apa dia masih hidup??" Tanya Bona pada Jimin.
"Siram dia." Titah Jimin pada anak buahnya.
Pria paruh baya itu disiram seember air oleh anak buah Jimin hingga tersadar dengan ketakutan yang teramat sangat. Merasa sudah sadar dari pingsannya Bona langsung berdiri dihadapan pria berutang itu.
"Aishh... Ini salah anda sendiri, anda punya hutang tapi tak dibayar... 500 juta Won itu bukanlah sedikit tuan Kang... Kapan anda akan melunasinya???"
Seungyoon nampak tak dapat menyimak perkataan Bona dengan benar karena posisinya yang terbalik bagai kelelawar itu. Menyadari masalah nya Bona langsung menyuruh Jimin memperbaiki posisinya.
"Tuan Kang, atasan saya bukanlah orang yang sabaran... Jadi kapan anda melunasinya???" Tanya Bona.
"N-nona... Tolong berikan saya kesempatan.... Saya berjanji akan melunasinya...." Ujar Seungyoon memelas pada Bona.
Bona hanya bisa menghela napas pelan.
"Bagaimana anda bisa berjanji, sedangkan anda tidak memiliki apa-apa untuk menjadi jaminan... Anda tidak memiliki apa-apa sekarang... Kecuali anak gadis anda..." Bona menunjukkan foto seorang gadis SMA pada Kang Seungyoon. Gadis difoto merupakan putri Seungyoon.
"Tolong... Jangan sentuh putriku... Nona... Ia masih SMA..... kumohon.... Bunuh saja aku... Jangan sentuh Soohyeon...kumohon nona..." Benar-benar seorang appa yang menyayangi putrinya.
Bona diam, wanita itu masih menatap Seungyoon dengan tatapan iba nya. Ia tak berpikir untuk membunuh siapa saja. Nyawa mereka berharga...
"Tolong jangan ganggu putriku.... Kumohon..."
Bona masih berdebat dengan nuraninya. Ia tak bisa memutuskan seenaknya untuk membunuh orang ini atau membebaskannya, semua nya memiliki risiko yang besar. Bona tak ingin menjadi pembunuh.
"Biarkan seperti ini dulu, aku akan berbicara dengan Mr. Kim." Bona berkata pada Jimin.
"Bukankah Seokjin hyung menyuruh untuk membunuhnya??" Tanya Jimin.
Bona tau itu... Tapi,
"Aku tau itu.... Tapi... Bisakah kita berpikir ulang lagi???" Tanya Jimin.
"Jangan mengulur waktu... Atau hyung yang akan membunuh mu juga... Aku tidak akan melindungimu jika itu terjadi." Jelas Jimin pada Bona.
"Hey, kenapa suasana disini tegang sekali.... Ya... Kupikir saat aku datang ia sudah menjadi jasad."
Kedatangan Seokjin dan Yoongi membuyarkan pemikiran Bona yang sedang mempertimbangkan keputusan.
"Ini terlambat..." Bisik Jimin pada Bona.
(Kau benar Jim... -Bona)
"Aishh.... Jadi ini si tua yang mengutang itu... Hey pak tua! Ku dengar kau masih menyembunyikan barang itu... Kenapa tak kau gunakan saja untuk membayar utang-utang mu..." Ujar Yoongi saat tiba didalam gudang. Melihat kedatangan Yoongi dan Seokjin, tubuh Seungyoon langsung bergetar ketakutan bahkan sulit untuk nya bernafas.
"Ma-maaf... Aku tak mengerti maksudmu... Barang apa???"
Yoongi menyeringai dan mengisyaratkan anak buah nya untuk memukulnya, namun Bona langsung memasang badan untuk tidak melakukan kekerasan dulu.
"Akkhh!! A-aku sudah menjualnya... Untuk menambah modal usaha..." Rengek Seungyoon.
"Dia sudah tidak memiliki apa-apa..." Sambut Bona sedikit takut.
Aura membunuh Seokjin benar-benar nampak saat ini, dan itu sangat menakutkan.
"Kenapa kau tidak membunuhnya saja dari tadi???" Tanya Seokjin dingin. Walau tak langsung menatapnya, Bona tau Seokjin sedang marah saat ini.
"Hyung... Dia..."
Baru saja Jimin ingin menyambut, Yoongi sudah menepuk bahunya memberi isyarat untuk jangan mencampuri.
"AKU TANYA KENAPA SHIN BONA??!!!!"
Teriakan Seokjin menggema di dalam gudang ini. Memberi sebuah ancaman untuk semua orang didalamnya. Yang diteriaki hanya diam dalam pemikirannya, Bona tak sanggup untuk menjawab Seokjin yang seperti ini.
"Aku tidak ingin membunuhnya..." Cicit Bona kecil namun dapat didengar.
"Lalu, dengan apa dia akan membayarnya jika tidak dengan nyawanya sendiri??? Kau ingin menggantikannya???"
Bona meremas jemarinya dengan tujuan menenangkan dirinya agar dapat menghadapi Seokjin saat ini.
"Karena kupikir pasti banyak cara untuk membayar hutangnya selain membunuhnya..."
Seokjin nampak tak mempedulikan ucapan Bona.
"Yoongi, berikan aku pistol mu."
Deg!
Wajah Bona langsung pucat pasi saat mendengar permintaan pria yang berdiri tak jauh darinya itu. Sedangkan Yoongi dengan santai memberikan sebuah pistol ketangan Seokjin. Pertanyaan, apa tindakan Seokjin selanjutnya??
"Jadi itu jawaban mu??" Tanpa ragu Seokjin langsung mengarahkan pistol pada Bona. Tinggal menunggu Seokjin menarik pelatuk.
"Dengan nyawamu?? Iyakan??" Seokjin menyeringai pada Bona. Yoongi dan Jimin tak ingin terlalu ikut campur dengan Seokjin.
Bona benar-benar ketakutan dan tak tau ingin berbuat apa, ia hanya menunduk sembari memejamkan mata untuk menahan segala sakit jika Seokjin benar-benar menembakkan sebuah peluru padanya. Apa karir nya akan berakhir saat ini??
"Hyung... Seungyoon memiliki seorang putri yang masih SMA." Tiba-tiba Jimin mengangkat suaranya memecahkan keheningan.
Bona langsung membuka matanya dan dapat melihat Seokjin langsung mengembalikan pistol kepada pemilik aslinya Yoongi.
(Jimin... -Bona)
"Akhh!!! Ku mohon jangan sentuh Soohyeon... Kumohon... Bunuh saja aku... Asal jangan ganggu putri ku..."
Tanpa ragu Yoongi langsung menutup kembali wajah pria itu. Bona hanya bisa menutup matanya saat ini. Dunia ini benar-benar bertolak belakang dengan dunianya.
"Bunuh saja dia... Dia yang minta." Ujar Seokjin pada Yoongi
"Jangan!!!" Seru Bona.
seruan Bona tidak ada harganya disini.
.
.
.
.
.
.
Setelah melihat Yoongi menembak Seungyoon, Seokjin langsung melangkah keluar gudang tanpa mempedulikan apa-apa termasuk Bona yang nampak shock dengan apa yang baru saja terjadi di matanya. Bona bahkan menangis melihat tubuh Seungyoon yang sudah tak bernyawa itu, antara ketakutan dan bersedih. Perasaan itu campur aduk di kepalanya.
"Hey, jangan seperti itu... Kau hanya menambah kesedihan saja... Yak!! Seokjin, mau diapakan sekretaris mu ini??!!!!" Teriak Yoongi pada Seokjin yang sudah tiba diambang pintu. Seokjin pun melihat sekilas pada Bona.
"Jangan kau sentuh dia..." Ujar Seokjin lalu pergi keluar.
Yoongi tersenyum pada Bona.
"Rupanya Seokjin masih sayang dengan sekretaris nya ini... Ayo Jimin kita pergi." Yoongi juga melangkah pergi. Jimin tidak langsung mengikuti Yoongi melainkan menghampiri Bona yang masih terpaku di posisinya.
"Sudah kukatakan, turuti saja perintah hyung... Ayo kita pergi sebelum polisi datang."
Bona hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah pria Park itu, walau agak sedikit terisak.
(Maafkan aku tuan Kang... -Bona)
Nampaknya Seokjin benar-benar marah pada Bona. Ya, Bona tau itu.. jika perintahnya tidak diindahkan ya begini jadinya. Marah besar, hingga menegur saja atau melihat saja seperti nya enggan. Mungkin jika tidak bersama Yoongi dan Jimin, Bona bisa saja tak bisa pulang dan dituduh menjadi pelaku pembunuhan karena benar perkataan Jimin, polisi benar-benar datang. Seperti nya ada yang melaporkan atau sengaja mereka laporkan karena malas mengurus jasad itu.
Berkat tumpangan yang diberikan Yoongi dan Jimin tadi, akhirnya Bona tiba di apartemen Seokjin. Tapi, Bona rasanya takut untuk masuk kedalam. Rasanya tidak enak, setelah membuat seseorang marah dan kita dengan santai nya masuk kedalam rumah orang itu.
30 menit Bona berdiri didepan pintu apartemen Seokjin dan masih dengan perasaan takutnya untuk masuk.
"Apa tidur diluar saja ya... Tapi dimana..." Bona putus asa.
(Klek)
(Beberapa saat yang lalu)
(Seokjin side)
"Hey, jangan seperti itu... Kau hanya menambah kesedihan saja... Yak!! Seokjin, mau diapakan sekretaris mu ini??!!!!"
Teriakan seruan Yoongi menundaku untuk membuka pintu keluar. Benar juga, apa yang harus kulakukan pada wanita pembangkang satu ini. Jika ku serahkan pada Yoongi, tentu saja pria itu akan senang karena ia memang mengincarnya. Sekilas aku melihat wanita yang sedang terisak itu, aku bahkan bingung kenapa ia menangis? Padahal yang mati bukan siapa-siapa nya. Apa ia takut??
"Jangan kau sentuh dia..." Ujarku lalu pergi dari tempat ini.
Tanpa mempedulikan apapun dan siapapun, aku langsung melajukan mobilku dan pergi. Aku bahkan tidak memikirkan akan Bona, karena ada Yoongi dan Jimin bersamanya. Walau begitu, aku selalu mengetahui mu Shin Bona.
Biasanya jika mood ku sedang tidak enak, aku akan pulang ke apartemen ku dan saudara ku. Namun, hari ini aku ingin berdiam di apartemen ku sendiri.
09:00 pm
Sudah dua jam aku mengerjakan beberapa pekerjaan yang kubawa dari kantor di ruang tengah apartemen. Sekilas aku berpikir apa wanita itu tidak pulang kesini malam ini?? Atau sudah 'dimakan' Yoongi??
Karena penasaran, aku langsung memeriksa alat penyadap yang kupasang pada tengkuk wanita itu di layar ponselku. Eoh, ternyata ia sudah di sekitar apartemenku. Segeraku menyadap suara disekitarnya dan menuju intercom apartemen dan melihat siapa didepan pintu namun tidak ada yang mengetuk.
Aku langsung menarik senyumku saat wajah sekretaris ku yang terpampang dilayar.
Sudah berapa lama ia berdiam didepan pintu seperti orang bodoh?? Apa ia takut kepada ku?? Terlihat jelas dari wajahnya jika ia sedang putus asa saat ini. Entah kenapa wajahnya yang seperti itu sangatlah lucu.
Apa aku buka saja pintu untuknya?? Seperti nya seru melihat ekspresi nya selanjutnya... Aku pun melangkah menuju pintu.
"Apa tidur diluar saja ya... Tapi dimana..."
Aku dapat mendengar keluhannya sebelum pintu kubuka untuknya. Aniya... Kau tidak kuijinkan untuk itu Bona...
(Author side)
(Klek)
Baru saja Bona ingin menlangkah pergi, tiba-tiba saja pintu terbuka untuknya. Seokjin kah?? Iya Seokjin lah yang membukakan pintu tanpa Bona menekan bel maupun mengetuknya.
(Bagaimana kau tau??? -Bona)
"Masuklah. Mau sampai kapan kau diluar??" Tanya Seokjin dingin. Bona sudah terbiasa dengan sifat yang satu ini.
"Eum..." Tak ingin banyak berbicara Bona langsung masuk kedalam tempat tinggal nya saat ini. Seokjin hanya memperhatikan gadis itu melangkah dan mengikuti nya dari belakang. Sadar dengan Seokjin yang mengikuti nya, Bona langsung berbalik menghadap Seokjin.
"Kenapa?" Tanya Seokjin.
Bona membungkuk dihadapan Seokjin untuk meminta maaf.
"Maafkan saya." Ujar Bona pelan.
"Untuk apa??"
"Maafkan saya yang tidak melaksanakan perintah anda." Bona belum berani menegakkan tubuhnya.
"Menurutmu apa aku akan memaafkan mu soal itu??" Tanya Seokjin sembari mengeluarkan seringaian nya pada Bona.
(Aku harus jawab apa??!!!! -Bona)
Perlahan Bona menegakkan tubuhnya dan menatap Seokjin bingung. Kepanikan sedang menyerang otak dan batinnya. Seokjin melangkah mendekati Bona dan secara otomatis tubuh Bona melangkah mundur. Melihat reaksi tubuh Bona, Seokjin hanya terkekeh.
Bruk!
Karena tak memperhatikan sekeliling kaki Bona tersandung kakinya sendiri(?) hingga membuatnya terduduk. Melihat kebodohan Bona, Seokjin hanya bisa tertawa geli.
"Apa kini kau takut padaku?"
Seokjin langsung mencengkram kedua bahu Bona dan menatap wanita itu tajam. Raut wajah Bona benar-benar menggambarkan ketakutannya terhadap Seokjin.
Tes!
Tes!
(Jangan menangis Bona... -Bona)
"Sedari tadi aku selalu melihat kau meneteskan air mata sialan mu itu... Tak kusangka kau cengeng juga rupanya...ㅋㅋㅋㅋ" Ledek Seokjin.
"Tolong...lepaskan aku hiks..."
Sekuat apapun jemari Bona mencoba melepaskan cengkraman Seokjin itu hanya sia-sia karena tenaga Bona tidak sekuat biasa nya karena lapar.
"Bisakah kau diam? Apa kau ingin aku berlaku kasar padamu?" Ujar Seokjin.
Tak dapat Bona duga, Seokjin langsung menyambar bibir nya.
Tak tinggal diam, kedua tangan Seokjin bekerja sama untuk mengunci pergerakan Bona dengan mengangkat tangan wanita itu keatas dan menguncinya hanya dengan satu tangan.
"Ayolah..... Kau pasti ingin melakukannya dengan ku kan??" Tanya Seokjin. Tentu saja Bona menggeleng. Seokjin tau itu.
"Lepaskan aku Seokjin..." Kali ini Bona tak dapat menahan tangisnya.
"Aku tak suka kau mengeluarkan air mata sialan mu ini." Seokjin langsung mengusap air mata Bona yang meleleh melalui pipinya.
Hup
Seokjin langsung mengangkat tubuh Bona ala bridal style.
"Kita lanjutkan hukuman mu dikamar."
Aku hancur. Aku benar-benar hancur, entah karena kebodohan ku sendiri atau karena sifat Seokjin yang buruk. Bahkan aku tak mampu menggerakkan tubuh ku sama sekali, tubuhku seakan remuk dan tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.
Aku menangis lagi, menangis dalam diam. Semuanya sakit kurasa. Hati ku sakit, terlebih tubuhku. Seokjin benar-benar 'menghabisi' ku hingga subuh tanpa jeda sedikit pun. Ini menyiksa. Terlebih ini kali pertamaku. Ya, hal yang 'berharga' bagi setiap perempuan.
Hari sudah terang dan aku masih dalam pelukan pria ini tanpa sehelai pakaian ditubuh kami, ingin sekali ku lepas darinya namun aku tak memiliki tenaga terlebih bagian bawah ku perih sekali. Rasanya ingin teriak dan menangis sekeras-kerasnya saat ini.
"Nngghh...."
Deg!
Dapat kudengar erangan Seokjin yang memeluk ku dari belakang. Apa ia sudah bangun??
"Bona...yahhh..." Ujar nya tiba-tiba.
Dia memanggil ku atau sedang mengigau namaku?? Tubuhku langsung menegang dan jantung ku langsung berdebar ketakutan. Aku takut sekarang, hingga aku tak sadar jika air mataku meleleh lagi.
Aku kesal dan marah padamu Seokjin.
"Bona...ya..." Panggilnya tiba-tiba.
Tes!
"W-wae...." Setengah mati aku menahan tangis ku jika mengingat Seokjin membenci air mataku.
"Aku tau kau pasti membenciku saat ini." Seokjin membuka suaranya lagi.
Aku tak bisa berpikir saat ini, namun dapat kurasakan Seokjin mengeratkan pelukannya hingga kulit punggungku bersentuhan dengan dada bidangnya itu.
"Mian... Tapi inilah hukumanmu."
Cup
Seokjin mengecup pelan bahuku.
Dan aku menyimpulkan kau adalah manusia terbodoh yang pernah ada.
"Hiks... Kau jahat." Guman ku. Seokjin terkekeh.
"Terlebih kau membenci ku, dan kenapa kau melakukan itu padaku??"
Seokjin terkekeh, apa pertanyaan ku lucu??
"Ya! Aku sedang tidak melucu!!! Karena mu aku tak akan bisa menikah!!!" Seru ku sambil menangis. Aku marah dan kesal saat ini Seokjin!!! Rasanya aku ingin meledak saat ini.
(Author side)
"Ya! Aku sedang tidak melucu!!! Karena mu aku tak akan bisa menikah!!!" Seru Bona beserta isakkannya.
-
Seokjin tak dapat menahan senyumannya saat mendengar celotehan sekretarisnya yang satu ini. Benar-benar unik.
"Ya.. memangnya kau akan menikah dengan siapa??" Tanya Seokjin.
Deg
"Bukan urusanmu hiks....." Jawab Bona.
"Tak apa... Kau tak sendiri..."
"Aku tak ingin sama dengan mereka!!! Lepaskan aku!! Aku mau berhenti!!! Huhuhu..."
Rasanya agak bodoh, bagaimana jika Seokjin benar-benar melepasnya sedangkan untuk duduk saja Bona rasanya tidak akan mampu.
"Tapi kau sudah sama dengan mereka saat ini..."
"Tidak!!! Kamu yang membuatku seperti ini!!! Aku tidak sama!! Kamu merusak ku!! Huhuhu.... Seharusnya kita tidak bertemu... "
"Ya... Aku tidak merusakmu, aku bahkan memakai pengaman..."
"Sama saja kau memasukkannya....huhu..."
"Hahaha...ya.. padahal kau juga menikmatinya..."
"Aku tidak menikmatinya sama sekali!! Itu hanya reaksi tubuhku saja...itu bahkan menyakitkan..."
"Ahaha... Alasan macam apa itu. Hey, tenang saja kau tidak akan hamil atau semacamnya..."
Seokjin langsung memutar tubuh Bona untuk menghadapnya. Kacau, benar-benar kacau wanita satu ini, matanya sembab dan bengkak serta banyak bekas keunguan dilehernya karena Seokjin.
"Sudah kukatakan itu hukumanmu nona Shin... Percuma kau menyesal karena kau tidak bisa mengembalikan semuanya." Ujar Seokjin sembari mengusap bekas air mata di pipi Bona.
"Baiklah... Apa maumu, hmm?" Tanya Seokjin.
"Kamu mempermainkan ku??"
"Menurutmu??"
"Aku tidak mengerti." Ujar Bona.
"Apa kau percaya padaku??" Tanya Seokjin serius. Sambil sesegukan Bona menatap pria itu.
"Menurut mu apa itu kepercayaan??" Bona balik bertanya.
Seokjin diam. Kepercayaan??
"Ya... Apa kamu tidak tau, betapa sakitnya kehilangan sesuatu yang berharga?? Aku yakin kamu pernah mengalaminya. Aku tau semenyakitkan apa itu sekarang. Aku tak ingin membenci siapapun... Maksudku berani masuk kedunia mu karena aku ingin membantumu keluar... Aku tidak ada maksud lain Seokjin..." Ujar Bona.
"Jika kamu masih sulit mempercayai ku, percuma kamu menahan ku... Atau melakukan ini. Karena hanya merugikan satu sama lain saja." Ucap Bona sembari menarik napas dalam-dalam demi menenangkan dirinya.
"Aniya. Aku tak berminat melakukan itu. Sudah kukatakan jika mereka yang pergi dari ku bukan aku yang sengaja menyingkirkan mereka."
Bona diam, nampaknya wanita itu memikirkan perkataan Seokjin barusan dan menatap Seokjin aneh.
(Dirimulah yang tak sengaja menyingkirkan mereka... -Bona)
To Be Continue.....✍✍✍✍