![The Secret Of My Boss [Soft]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-secret-of-my-boss--soft-.webp)
(Kediaman Kim Jaewook)
"Tuan, saya sudah melapor polisi."
Jaewook yang awalnya sedang membaca buku diruang kerjanya tiba-tiba mengalihkan perhatian sekretarisnya yang baru masuk.
"Kerja bagus pak Jung." Ujar Jaewook.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Pak Jung menunduk hormat pada atasannya lalu pergi lagi.
Jaewook menutup bukunya dan bangun dari duduknya menghampiri rak buku untuk menyimpan buku yang ia baca tadi sembari mengambil sebuah album foto berjudul Seokjin disana. Wajah tuanya terukir senyum disana saat melihat foto masa kecil Seokjin hingga tangannya berhenti dilembar foto Seokjin menikah dengan Bona beberapa minggu yang lalu. Wajah Seokjin dan Bona yang tersenyum benar-benar menyejukkan hatinya saat melihat foto itu. Jaewook tak pernah menyangka jika Seokjin akan menikah diumurnya yang sekarang, terlebih mengingat traumanya pada seorang wanita.
"Bocah ini menikah juga ujungnya... KKKK...." ujar Jaewook.
Jaewook tiba-tiba menghela napasnya mengingat segala kelakuan Seokjin dimasa lalu dan sekarang menantunya dalam bahaya. Jaewook bukanlah orang yang kejam seperti Seokjin, ia memang membenci mantan istrinya, tapi tidak berlaku untuk Bona, karena peran Bona sungguh banyak membantu.
(Kau boleh saja menyakitiku, tapi tidak dengan orang-orang yang kusayangi... -Jaewook)
(PELABUHAN INCHEON)
Bona sudah lama sadar, namun tubuhnya tak bisa digerakkan sama sekali. Ia bahkan hanya bisa pasrah saat menyadari beberapa mobil sedang melaju menujunya dan berhenti beberapa meter tak jauh darinya.
Sementara Seokjin sudah berkali-kali ingin keluar dari mobil namun terus dilarang Yoongi karena dapat membahayakan dirinya.
"Kita tunggu pergerakan bocah itu. Jika tidak ada pergerakan, habisi saja wanitanya." Ujar Lee Minnah. Hyujin paham lalu mempersiapkan sebuah pistol dan mengarahkannya pada Bona.
Tindakan Hyujin benar membuat Seokjin naik pitam dan segera keluar dari mobil tanpa mempedulikan larangan Yoongi.
"Jimin??? Bagaimana sudah siap?????" Tanpa pikir panjang Yoongi langsung menghubungi Jimin.
Jimin yang sedang berada disalah satu atas kontainer untuk memantau keadaan dan siap untuk menembak siapa saja yang akan menyakiti Bona dan Seokjin dan Benar dugaan mereka jika terdapat seorang sniper yang siap menembak Seokjin dari arah belakang.
(Kali ini aku tak akan membiarkanmu! -Jimin)
(Dor!!!)
Tanpa menunggu lama, Jimin langsung menembak mati sniper yang mengincar Seokjin itu sembari tersenyum miring.
"JANGAN SEOKJIN!!! PERGILAH!!!!" Teriak Bona.
"SEOKJIN KUMOHON DENGARKAN AKU!!!"
Seokjin masih berlari dan tak mempedulikan seruan Bona padanya bahkan tak mempedulikan bidikan Hyujin padanya.
"SEOKJIN!!!!! PERGILAH BODOH!!!!"
Seruan Bona untuk melarangnya sama sekali tidak Seokjin indahkan dan masih terus berlari menghampiri Bona yang masih beberapa meter darinya.
"Kenapa ia belum ditembak???" Tanya Minnah bingung karena merasa sudah merencanakan sebelumnya.
"Biar aku saja yang melakukannya." Ujar Hyujin sembari membidik Seokjin.
Hingga saat Seokjin beberapa langkah lagi, Hyujin pun melepas pelatuknya.
(DOR!)
"ANDWAE!!!!!! SEOKJINNN!!!" teriak Bona histeris saat melihat prianya tumbang karena seseorang menembaknya. Bona tidak sampai hati melihat darah yang keluar dengan deras dari perut Seokjin dan terus meronta berusaha melepas diri. Sementara Seokjin sudah jatuh bangun dan terus berlari walaupun ia sudah tertatih dan menahan sakit dari peluru panas yang masuk kedalam perutnya.
(Dor!)
Bahkan Yoongi langsung mengeluarkan senapannya dan menembak Hyujin dan terkena lengan tangan kanan Lee Minnah itu. Itu refleks ia lakukan karena telah berani melukai Seokjin.
"Omo!!! Beraninya mereka!!!" Seru Minnah saat melihat pistol yang Hyujin pegang terjatuh karena genggamannya melemah.
Seokjin yang awalnya terjatuh pun bangkit lagi dan berjalan tertatih menghampiri Bona yang terisak dalam ikatan itu. Entah kenapa hatinya jauh lebih sakit saat melihat tangisan Bona yang terus melarangnya untuk mendekatinya. Wajah Bona yang terlihat menderita itu bahkan sangat mengiris benaknya saat ini.
"Tidak Seokjin pergilah.... Disini berbahaya...." Ujar Bona pada Seokjin yang mulai melepas segala ikatan ditubuhnya.
"Diamlah sshhh.... Aku sedang melepasmu sshhh...." Ujar Seokjin sembari melepas ikatan dengan satu tangannya.
Isakkan Bona semakin menjadi dan membuat Seokjin sedikit terganggu.
"BISAKAH KAU DIAM DAN MEMBIARKANKU MELEPASMU???!!!!" Seokjin benar-benar frustasi saat ini hingga bentakkan lolos begitu saja dari mulutnya dan membuat Bona sedikit tersentak kaget dan menangis sejadi-jadinya.
"Hiks..... Mereka memasang bom padaku Seokjinshhiii.... Pergilah....hikss..." Jelas Bona ditengah isakkannya itu.
Tangan Seokjin langsung terhenti saat merasa sebuah benda asing terpasang di tubuh Bona dan menunjukkan waktu 5 menit lagi. Pantas saja Bona melarang untuk mendekatinya dari tadi.
Merasa ada kesempatan lagi, Hyujin mengambil pistol lain dan membidik Seokjin lagi.
(Dor!!!)
Seokjin kembali terpental saat satu peluru masuk lagi kebahunya dan Bona kembali histeris lagi. Ini terlalu berat baginya jika diambang kematiannya ia melihat orang yang ia sayangi menderita tepat didepan matanya.
"Sialan!!!" Ujar Yoongi sembari membalas peluru yang Hyujin berikan pada Seokjin. Yoongi kembali mengenai tangan Hyujin dan benar-benar membuat tangan kanan Lee Minnah itu tak berdaya lagi.
"Seok...seokjin.... Bangunlah dan pergilah sayang..." Bona kembali membujuk Seokjin dengan isakkannya.
Seokjin tersenyum miring dan merasa dongkol. Ia kembali menghampiri Bona dan kembali melepas ikatan pada wanita itu tanpa peduli waktu pada Bom dan darah yang terus mengalir dari lukanya.
"Bukankah kita...sudah... Berjanji..untuk mempercayai satu...sama lain...." Perkataan Seokjin semakin melemah seiring berjalannya detik pada bom yang terikat pada pinggang Bona saat ini.
"Seokjinn... Tinggal 3 menit lagi bodoh..." Sesungguhnya Bona sangat takut jika ia harus mati dengan cara begini, namun Seokjin tersenyum padanya seolah mengisyaratkan jika semuanya baik-baik saja.
"Aku disini... Bersamamu..." Ujar Seokjin sembari melepaskan semua ikatan pada Bona.
Sementara itu Jimin dengan senyum miringnya sudah membidik kepala Lee Minnah dengan lasernya dan membuat sang korban menegang.
Hingga tiba-tiba sebuah sirene dari mobil polisi ikut meramaikan lokasi.
Seungdong dan timnya langsung keluar dari mobil dan ingin menghampiri Bona dan Seokjin yang sedang terluka bahkan Myeongsoo sudah menangis saat melihat keadaan temannya seperti itu.
"JANGAN MENDEKAT!!!!! ADA BOM DISINI!!!!" Seru Seokjin.
Langkah Seungdong dan tim langsung terhenti saat Seokjin berusaha melepas seluruh pakaian Bona hingga hanya menyisakan bra wanita itu dan meletakkan pakaian Bona yang terlekat dengan bom disisi mereka berdua.
"Aku disini sayang...." Ujar Seokjin sembari memeluk tubuh Bona yang sudah polos karenanya itu.
"Pergilah Seokjin!!! Waktunya nya tidak banyak lagi!!!" Ujar Bona panik saat melihat waktu tinggal 40 detik lagi.
"Dasar bodoh!!!!" Ujar Yoongi yang memang sudah berlari menghampiri Seokjin dan Bona lalu langsung mengambil baju Bona yang terselimuti bom dan langsung menendang jauh bom waktu itu.
(DDDUUUUAAARRRR!!!!)
Bom itu pun langsung meledak diudara saat detiknya sudah habis dan ledakannya ternyata cukup besar sehingga membuat seluruh tanah bergetar.
Merasa ledakkan dan situasi sudah aman, Seungdong pun menghampiri Seokjin dan Bona.
Merasa tidak ada pergerakan dari Seokjin membuat Bona bingung dan langsung memperhatikan wajahnya yang sudah pucat itu. Kepanikkan langsung menghantuinya saat menyadari jika Seokjin sudah tak sadarkan diri.
"Seokjin??? Seokjin????"
Tanpa pikir panjang Yoongi langsung membopong tubuh Bona untuk membawanya pergi dan membiarkan tim medis yang baru tiba mengurus Seokjin. Sementara Seungdong menangkap Hyujin yang ingin kabur dan mengurus Lee Minnah yang nampaknya sudah tak bernyawa lagi.
Jimin tersenyum puas dibalik sebuah kontainer sembari mengelap senjata yang tadi ia gunakan. Dihadapan sekretaris Yoongi ini terdapat seorang pria paruh baya yang sangat ia kenal.
"Bagaimana pak Jung?? Tembakanku tak melesat kan???" Ujar Jimin pada sekretaris Jaewook itu.
"Tidak mengherankan jika Yoongi memilihmu." Ujar nya sembari mengajak Jimin untuk pergi dari situ.
.
.
.
.
.
.
.
.
(Bighit Hospital, Seoul)
"Kau hampir saja kehilangannya.... Kau benar-benar membuat semua orang khawatir..." Ujar Jungkook saat melakukan pemeriksaan pada Bona.
Bona nampak mengusap dadanya demi menenangkan dirinya sementara Yoongi dan Myeongsoo yang menemani Bona nampak bingung.
"Bukankah Seokjin sedang menjalani operasi?? Kehilangan apa maksudnya??" Tanya Myeongsoo bingung.
"Bona tengah mengandung saat ini, kira kira satu minggu usianya..." Jawab Jungkook.
"Ya!! Aku kan belum mengijinkanmu memberitahu siapa-siapa!!" Seru Bona sembari mencubit lengan Jungkook hingga sang korban meringis kesakitan.
Yoongi dan Myeongsoo benar-benar nampak tak percaya dengan apa yang mereka dengar barusan itu. Myeongsoo bahkan mengelap kacamata nya dulu.
"Kumohon pada kalian untuk diam dan biarkan aku yang memberitahukan Seokjin." Ucap Bona pada Yoongi dan Myeongsoo.
"Tapi jangan lama kau simpan. Tidak baik untuk mu dan Seokjin." Saran Jungkook.
Bona tersenyum.
"Saat ini aku masih kepikiran tentang Seokjin..." Ujar Bona sembari bangkit duduk dan ingin berjalan namun Yoongi langsung melarangnya.
"Kau mau kemana?? Kau mau membunuhku secara tidak langsung??"
Maksud dari perkataan Yoongi adalah ia ditunjuk oleh Seokjin untuk menjaga Bona selama ia tidak ada dan jika Bona sakit atau semacamnya, maka tak segan Seokjin akan membunuh sepupunya itu.
"Tentu saja melihat Seokjin." Jawab Bona sekenanya.
"Lebih baik istirahat dulu... Seokjin hyung sedang di operasi saat ini... Kau tak perlu khawatir dengan keahlihan dokter dirumah sakit ini." Ujar Jungkook lalu pergi.
Walau Jungkook berkata demikian tetap tidak membuat Bona terlihat tenang. Bayang-bayang kejadian saat dipelabuhan seolah terpaku dalam batinnya dan terus menghantuinya dan membuat Bona kembali meneteskan air matanya lagi, membuat Myeongsoo dan Yoongi yang ada bersamanya bingung.
"Ya... Bona?? Kau baik-baik saja?? Ada yang sakit??" Tanya Myeongsoo panik.
Bona masih menangis dan menggeleng. Ingin mengatakan tidak apa-apa, namun reaksi tubuhnya berlawanan. Ia terlalu tertekan dan takut. Bagaimana bisa ia melupakan detik-detik kejadian mengerikan tadi. Dimana Seokjin tetap bersamanya dan tidak mempedulikan bom yang akan meledak dan membunuh mereka dalam waktu itu juga.
"Kumohon jangan menangis. Kau akan menyakitinya juga..." Ujar Myeongsoo.
Benar yang Myeongsoo katakan, jika ia terus menangis dan tertekan justru akan membahayakan nyawa yang hidup dirahimnya itu. Bona pun perlahan meredakan emosinya dan berusaha tenang.
Sementara itu disebuah ruang interogasi milik kepolisian, dimana ada Seungdong dan rekannya menghadap Kang Hyujin yang tangannya sudah diperban akibat luka tembak oleh Yoongi.
"Kau menembak Kim Seokjin sebanyak dua kali di perut bawah sebelah kanan dan bahu kanannya benar?? Juga menculik dan melakukan penyerangan fisik pada Shin Bona. Katakan saja yang sejujurnya, apa ini semua kau yang merencanakan atau kau disuruh oleh atasanmu Lee Minnah??" Tanya Seungdong.
Namun Hyujin sama sekali tak berniat untuk menjawab. Pria muda itu hanya diam dan menatap kosong Seungdong yang duduk didepannya.
"Baiklah kau memilih diam. Hukuman mu bisa saja diringankan jika kau mengatakan sesuatu terkait kejadian hari ini."
Hyujin terkekeh.
"Kejadian hari ini tentu sudah sangat jelas."
"Maksudmu??"
"Aku tak ingin membahasnya."
Hyujin tersenyum penuh misteri dan hanya membuat Seungdong merasa dongkol.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(BIG HIT HOSPITAL, Seoul)
Nampaknya sifat kepala batu Seokjin telah menular pada Bona. Itu nampak saat wanita itu bersikeras menunggu proses operasi Seokjin yang sudah berlangsung selama dua jam itu. Bahkan Myeongsoo tak mampu menahan Bona untuk istirahat dan menunggu Seokjin dikamar rawatnya itu.
Kecemasan serta kekhawatiran menyelubungi seluruh benak Bona. Walau Seokjin sudah ditangani oleh para ahli, tetap saja ia masih harap-harap cemas dan bahkan Bona sudah beribu-ribu kali berdoa dalam hati demi keselamatan Seokjin.
Hingga raganya terperanjat saat pintu ruang operasi tergeser secara otomatis dan muncul pria yang ia cemaskan itu bersama para perawat yang mendorong bangsalnya pergi menuju ruang rawatnya.
Bona sangat ingin mengikuti kemana para perawat itu membawa Seokjin yang masih tak sadarkan diri, namun ia membutuhkan penjelasan secara medis terkait kondisi Seokjin saat ini.
"Bagaimana dok??" Tanya Bona.
Dokter yang mengoperasi Seokjin itu tersenyum tipis, seolah memberi keringanan dalam benak Bona yang sempat terbebani dengan segala macam kecemasan.
"Tuan Kim sudah dalam keadaan stabil... Hanya saja belum dapat dipastikan kapan ia akan sadar... Ia sempat kritis karena kekurangan darah tadi." Jelas sang ahli bedah itu.
Bona sempat menahan napasnya saat mendengar kata 'kritis' barusan.
Seandainya Seokjin tak keluar dari mobil dan melepas ikatannya, pasti pria itu akan baik-baik saja. Bona menjadi bertanya-tanya, apa ini kesalahannya?? Tak pernah sekalipun Bona menginginkan Seokjin sakit atau semacamnya.
Setelah kepergian dokter yang Bona kurang tahu namanya itu, Bona meminta Yoongi yang selalu ada disekitarnya untuk mengantarnya ke kamar tempat Seokjin dirawat.
Si sulung dari Kim bersaudara itu terlihat tertidur dengan lelap dimata Bona. Wanita itu hanya bisa terdiam dan mendengar setiap dengkuran halus Seokjin, berharap prianya itu lekas sadar dan melihatnya lagi.
"Yoongi..." Panggil Bona.
"Nee?? Apa kau butuh sesuatu??"
Kamar rawat Seokjin kembali sunyi.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya kalian sembunyikan?? Kenapa kalian menculik serta membunuh Mr. Lee?" Tanya Bona.
"Bisakah kau membiarkan Seokjin istirahat terlebih dahulu???"
Bona menatap tubuh Seokjin yang tertidur sekilas lalu kembali menatap Yoongi.
"Nee... Kau benar. Tapi, aku sedang bertanya..." Ujar Bona serius.
Nampaknya rasa penasaran Bona mengalahkan segala kepeduliannya hingga tidak peduli jika Seokjin sedang beristirahat saat ini.
"Kalian tidak memberitahu apa-apa, membiarkan aku seperti orang bodoh. Jika mati pun, aku mati bodoh." Lanjut Bona sembari meraih jemari lemah Seokjin.
Yoongi masih memilih diam dibelakang Bona.
Terlihat menyedihkan memang.
"Apa hubungan Seokjin dengan Mr. Lee sehingga kalian membunuhnya??"
"Apa ia memiliki hutang?? Apa ia memiliki bisnis gelap?? Bermain dibelakang kalian?? Atau dendam masa lalu??" Pertanyaan terus keluar dari mulut Bona seakan seperti air yang terus mengalir tanpa henti, tanpa adanya penyela dialiran itu.
Yoongi seolah memilih mendengar daripada membuka suara, akankah Bona kembali bersabar?? Atau adakah ia cara lainnya untuk mengetahui segala rahasia yang Seokjin sembunyikan darinya.
"Seokjin... Walau ia tak mengatakan secara langsung, namun ia sangat peduli padamu dan selalu melindungimu."
Akhirnya Yoongi membuka suaranya. Walau dengan jawaban yang Bona tidak harapkan.
Peduli?? Adakah Bona lihat kepedulian dari Seorang Seokjin?? Melindungi?? Melindungi apa?? Melindunginya dari segala kehidupan normalnya??
"Aku tahu... Aku sudah mencari jawabannya dengan caraku sendiri." Ujar Bona sembari beranjak dari duduknya dan melepas genggamannya pada jemari Seokjin yang masih lemah itu.
"Kau mau kemana??" Tanya Yoongi penasaran.
Bona menghela napasnya pelan.
"Tolong biarkan aku sendiri dan temani Seokjin disini." Ujar Bona sembari melangkah keluar.
(Beberapa hari yang lalu)
(Rumah Kim Jaewook)
Rasanya bosan jika terus berada dikamar, pikir Bona. Sudah dua hari ia harus menjalani perawatan dirumah mertuanya yang megah ini dan hanya berdiam didalam kamar.
(Klek)
Lamunan Bona langsung terbuyarkan dengan beberapa pelayan wanita masuk.
"Kami ingin membersihkan kamar anda." Ujar salah satu dari mereka.
Bona tersenyum.
"Eoh... Silahkan..."
Kedua pelayan itu langsung melaksanakan segala tugas mereka. Bona terus memperhatikan kedua pelayan itu bekerja, ia rasa menarik untuk ditonton karena Bona benar-benar seperti terisolasi dirumah ini.
"Permisi, apa abeonim sudah pulang???" Tanya Bona tiba-tiba.
Kedua pelayan itu langsung menunda pekerjaannya dan menatap Bona.
"Nee... Tuan Kim sedang berada diruangannya." Jawab mereka.
Bona mengerti.
"Apa abeonim selalu makan malam dirumah??" Tanya Bona lagi.
"Nee... Tuan Kim selalu makan malam dirumah."
Entah kenapa sesuatu dipikirannya membuat mata Bona berbinar dan terlihat bersemangat.
"Eoh... Aku ingin kedapur sekarang..." Ujar Bona sembari ingin beranjak dari ranjangnya.
Lantas kedua pelayan itu sontak langsung menghampiri Bona dan menahan wanita itu untuk tidak berdiri.
"Aigoo!!! Nona!! Tulang anda masih lemah... Jangan dulu kemana-mana!!!" Ujar salah satu pelayan yang sepertinya seumuran dengan ibunya Bona.
"Tidak apa-apa... Dapur tidaklah jauh..." Ujar Bona.
"Tidak.... Tidak... Tidak.... Anda harus menuruni tangga, lalu melewati ruang tengah dan beberapa pintu agar anda dapat sampai ke dapur. Bukankah itu sudah lumayan jauh????"
Memang cukup berlebihan memang. Bukannya kesal atau marah karena dilarang, Bona justru tertawa geli melihat kekhawatiran para pekerja di rumah abeonim Kim nya itu.
"Aku benar-benar bosan dikamar... Apa yang harus aku lakukan???"
Bona benar kehilangan ide saat ini, ia sangat ingin berkeliling rumah dan melepas rasa bosannya. Bona sadar jika fisik nya belum sepenuhnya mampu untuk beraktifitas, namun rasa bosan itu mengalahkan segalanya. Ia terlalu jenuh berada disebuah ruangan dalam waktu 24 jam tanpa kemana-mana, bahkan toilet saja ada didalam kamar itu.
Kedua pelayan itu melihat satu sama lain dan tersenyum pada Bona.
"Sebaiknya nona disini saja... Sebutkan saja apa yang nona inginkan." Tawar yang masih belia itu.
(Jika aku minta Seokjin, apa mereka akan memberikannya??? -Bona)
(Klek)
"Bagaimana keadaanmu nak??" Tiba-tiba Jaewook membuka pintu dan masuk kekamar Bona.
"Abeonim!! Aku baik-baik saja." Ujar Bona dengan senang dan terdengar bersemangat.
Kedua pelayan itu langsung undur diri dan membiarkan Jaewook dan Bona berdua dikamar Bona.
"Nampaknya kau adalah orang yang cepat pulih..." Ujar Jaewook sembari duduk dikursi yang tersedia disamping jendela besar dikamar itu.
"Aku juga tak bisa berlama-lama sakit mengingat pekerjaan ku..." Ucap Bona.
"Aish... Bagaiman bisa Seokjin memperlakukan mu seperti ini. Aku minta maaf atas yang Seokjin perbuat."
(Ternyata abeonim sangat beribawa... -Bona)
"Aniya... Abeonim... Tidak apa-apa... Lagi pula ini kecerobohanku sendiri... Jika aku cepat bertindak dan mengetahui dari awal permasalahannya... Ini tidak akan terjadi."
Ya, Bona terlalu lengah terhadap Seokjin. Seharusnya ia lebih tegas lagi sebelum terlambat.
"Ahh... Mereka belum memberitahumu tentang itu... Ini adalah salahku, aku terlalu keras mendidik mereka sedari kecil dan membuat mereka tak mendapat kasih sayang seorang ibu." Jelas Jaewook.
Bona sedikit membenarkan saja dan berkutat dengan pemikirannya.
"Maafkan aku abeonim... Aku ingin bertanya tentang Seokjin."
Jaewook menatap Bona bingung.
"Katakan saja apa yang ingin kau tahu."
Walau sudah diijinkan rasanya Bona sedikit bingung bagaimana cara menyampaikannya.
"Ini memang tak seharusnya ditanyakan... Tapi aku ingin tahu siapa nama ibu Seokjin dan kenapa ia sangat membencinya..." Ujar Bona pelan tapi sangat jelas ditelinga Jaewook.
Suasana yang santai langsung terasa sangat canggung bagi Bona. Tapi ia sudah tidak tahan dengan cara Seokjin yang selalu bermain dibelakangnya. Ia ingin mengetahui siapa yang Seokjin incar itu.
"Akhirnya kau menanyakan padaku... Apa Seokjin tak ingin memberi tahumu??"
Bona mengingat-ngingat sesuatu.
"Setelah aku tak ingin membunuh seseorang yang mempunyai hutang pada nya, Seokjin tak pernah memberi tahu bisnis gelapnya padaku."
Jaewook tiba-tiba saja tertawa dengan suara berat nya dan malah membuat Bona bingung akan kelakuan ayah mertuanya itu.
"Lee Minnah... Dialah orang yang Seokjin incar." Jawab Jaewook sembari bangkit berdiri dan memandang taman kecil yang ada dibalkon kamar Bona.
Bona langsung terdiam dan menatap punggung mertuanya, punggung tua itu seolah sudah mengatakan semuanya dengan jelas dan rinci baginya.
(Alasan kenapa Seokjin membunuh Mr. Lee bukanlah urusan bisnis semata melainkan soal kehidupan dan kebahagiaan. -Bona)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Haaahhh.... Kopinya pahit sekali..." Ujar Bona setelah meminum es kopi kesukaannya itu.
Kini Bona dan Myeongsoo sedang bersantai di kafetaria sembari menemani Bona makan karena lapar lagi.
"Bukankah kau yang memintanya tidak banyak gula??" Tanya Myeongsoo bingung.
Bona kembali memperhatikan gelas kopi yang sudah setengah ia minum.
"Kau benar... Pahitnya dua kali dari yang biasa ku minum." Ujar Bona.
Tidak jelas memang. Tapi itulah Bona.
Bona menatap wajah Myeongsoo dengan tatapan yang tak dapat Myeongsoo artikan, tatapan Bona nampak kosong namun seperti menyimpan sesuatu.
"Kenapa kau diam???" Tanya Myeongsoo bingung.
"Karena aku mau." Ujar Bona.
Menyebalkan memang.
"Ayo pergi..." Ajak Bona.
Myeongsoo mau-mau saja mengikuti langkah kemanapun Bona pergi. Myeongsoo tahu jika suasana hati sahabatnya itu sangat kacau dan berantakan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pada akhirnya Bona menemani Seokjin yang sedang tertidur pasca operasi nya, sementara Yoongi dan Myeongsoo menunggu diluar.
"Aku tak ingin mengulur waktu dan menunggu lebih lama lagi. Akan kutakan padamu jika setelah Seokjin siuman, kami akan memeriksanya dan juga kau." Ujar Myeongsoo pada Yoongi yang sedang berdiri disebelah pintu masuk kamar Seokjin.
Yoongi hanya merespon dengan senyum tipis nan menyebalkannya itu.
"Eoh... Silahkan saja. Kami tak pernah takut berurusan dengan kalian." Ujar Yoongi santai.
"Kalian pasti dibalik hilangnya tuan Lee dan tewasnya Ny. Lee Minnah kemarin." Terka Myeongsoo.
"Hehehe... Kau bersemangat juga.... Aku suka sifatmu itu. Apa kau mau berkencan denganku??" Tawar Yoongi.
Myeongsoo mendelik tajam pada pria didepannya itu. Bagaimana bisa dengan santainya ia mengajaknya berkencan??
"Aku tidak sudi berkencan dengan orang sepertimu." Sindir Myeongsoo.
Yoongi terkekeh.
"Apa karena aku seorang gangster dan kau seorang polisi?? Begitu??"
Myeongsoo bungkam. Yoongi memanglah seorang gangster, namun ia hanya mendengar dan tidak pernah melihat Yoongi yang Sebenarnya bagaimana.
"Te-tentu saja bukan karena itu. Kau merupakan seorang tersangka sekarang!" Tunjuk Myeongsoo.
"Aku tidak diborgol... Bagaimana bisa kau memanggilku yang tidak-tidak." Yoongi bahkan menunjukkan kedua tangannya yang bebas tanpa ikatan satupun.
Myeongsoo masih menyusun kata-kata untuk menyerang Yoongi kembali, sementara Yoongi hanya terkekeh geli karena sudah menggoda seorang polisi muda.
Sementara didalam ruangan, suasananya lebih sepi dan tenang. Hanya ada bunyi alat-alat medis yang terpasang dan bunyi detik jam dinding yang menunjukkan pukul 22:36 KST. Ada Bona yang duduk menemani Seokjin disamping pria itu. Sembari menyandarkan kepalanya di sisi ranjang Seokjin, wanita itu tak melepas pandangannya dari wajah tampan Seokjin yang tertidur bagai bayi. Sangat imut dan tenang, Bona bahkan tak sadar jika ia sedang tersenyum.
"Kapankah kau akan bangun??? Dasar bodoh." Guman Bona.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
["Kasihan sekali... Ibunya lari bersama pria lain saat mereka kecil."]
["Dia pasti kehilangan kasih sayang dari ibunya"]
["Kasihan sekali..."]
Rasa kasihan dari orang-orang justru semakin menambah kebencian dalam diri Seokjin kecil dan rasa dendam itu semakin bertambah seiring berjalannya waktu, ditambah disaat ia ingin berusaha menyembuhkan rasa sakit, ia malah mendapatkan hal yang sebaliknya dari yang ia harapkan. Semakin ia berharap dapat mencintai seorang wanita, semakin mereka mempermainkan perasaannya dan membuat hatinya sakit dan memupuk dendam itu tersendiri.
Ego-nya memang besar dan selalu menuntut. Hingga setiap hawa yang ia temui tak pernah bertahan lama dengannya.
Apa yang harus ia perbuat??
Apa Seokjin terus membiarkan dendamnya tumbuh subur dan menyerah tentang menyembuhkan rasa sakit dalam hatinya??
Atau terus menunggu seseorang yang tepat datang padanya tanpa perlu ia cari??
[""Seok...seokjin.... Bangunlah dan pergilah sayang..."]
Seokjin langsung tersentak sadar dan membuka matanya. Langit-langit kamar berwarna putih adalah objek pertama yang ia lihat dan infus yang menetes secara stabil adalah objek kedua yang dapat ia tangkap. Hanya ia sendiri diruangan itu, tak ada seorang pun yang bersamanya. Hari sudah sangat terang, menandakan jika matahari sudah berdiri tinggi.
"Bona...."
Dan itu adalah kata pertama yang ia ucapkan.
To Be Continue...