The Secret Of My Boss [Soft]

The Secret Of My Boss [Soft]
The End



.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Aku tidak salah dengar kan??" Ujar Namjoon tak percaya.


"Aku akan mengantarmu ke dokter THT jika tidak percaya." Ujar Jungkook sembari menyeruput es kopinya.


Yoongi, Namjoon, serta Jungkook sedang ada di kafe rumah sakit. Mereka bertiga terlihat sedang mengobrol santai ala mereka.


"Eoh... Kemungkinan polisi akan menangkap Seokjin terkait hilangnya Lee Sunghyun." Ujar Yoongi.


"Apa kalian akan diam saja?" Tanya Jungkook.


"Entahlah... Seokjin yang berhak memutuskan, kemanapun ia nantinya aku akan dibelakangnya." Timpal Yoongi.


(Jika kau adalah "tangan", sudah sepatutnya kau mengikuti "tubuh". -Yoongi)


Tiba-tiba sekelompok orang asing datang dengan Myeongsoo diantara mereka datang menghampiri meja Yoongi dan saudaranya.


Myeongsoo langsung mengeluarkan tanda pengenalnya sebagai polisi dihadapan Yoongi.


"Min Yoongi, anda ditangkap atas dugaan kematian Lee Minnah serta penembakan secara sengaja pada Kang Hyujin." Ucap Myeongsoo mantap.


Namjoon dan Jungkook sangat kaget, sementara Yoongi terlihat tenang dan santai serta bersedia diborgol oleh Myeongsoo.


.


.


.


.


.


.


.


(Kamar Seokjin)


Bona nampak sedang bermain ponsel sembari menemani Seokjin yang sedang tidur disampingnya, hingga Bona sedikit kaget dengan kedatangan beberapa orang yang tidak ia kenal.


"Maaf, kalian siapa??" Tanya Bona sembari menghampiri orang-orang itu.


"Lee Seungdong, penyidik kepolisian cabang metropolitan Seoul."


"Jung Taeyong, pelayan publik kepolisian cabang metropolitan Seoul."


Kini Bona dan kedua polisi itu sudah diluar kamar Seokjin demi menjaga ketenangan istirahat Seokjin.


"Begini Ny. Kim, suami anda Kim Seokjin diduga berkaitan dengan pembunuhan Lee Minnah dan hilangnya Lee Sunghyun. Makadari itu, setelah Tn. Kim pulih, ia akan kami periksa terkait masalah tersebut."


Bona mengerti, pada akhirnya semua hal yang buruk akan terbuka juga. Mungkin inilah saatnya dimana Seokjin harus belajar lebih tentang kehidupan. Sedikit berat rasanya bagi Bona saat mendengar penuturan kedua pelayan publiknya. Hal yang tak diinginkannya pun terjadi hari ini.


"Hmm saya mengerti... Mohon lakukanlah yang terbaik." Ujar Bona pasrah.


"Kami akan mengirim beberapa personil untuk menjaga kamar Tn. Kim selama perawatannya dirumah sakit."


Bona mengangguk paham.


"Kalau begitu, kami permisi dulu."


"Nee... Terima kasih." Bona menunduk hormat.


Setelah Lee Seungdong pergi bersama rekannya, Bona langsung kembali masuk kedalam ruangan Seokjin.


"Siapa mereka??" Tanya Seokjin.


Bona sedikit terkejut saat menutup pintu kamar dan mendengar pertanyaan Seokjin.


Bona diam.


Apa yang harus ia jawab??


(Polisi, mereka ingin menangkapmu. -Bona)


(Orang salah kamar.. -Bona)


(Penagih hutang?? -Bona)


"Ahh... Itu.. kepolisian..." Jawab Bona kaku.


Seokjin mengerti, sesuatu yang sudah polisi ketahui akan menjadi seperti ini. Ia tak dapat menghindari lagi karena ia juga terlibat.


"Seokjin, aku yakin semua akan baik-baik saja... Aku percaya padamu."


.


.


.


Setiap manusia selalu berubah, perubahan itu didapatkan dari berbagai faktor, entah itu pengalaman, pola pikir, serta lingkungan dan orang-orang yang ada disekitarmu.


Kim Seokjin, ia berdarah dingin karena orang disekitarnya, dan sedikit menjadi hangat juga karena seseorang disekitarnya.


Sebenarnya, tak ada luka yang tak dapat disembuhkan. Bahkan luka batin sekalipun, karena pasti ada manusia yang mampu menyembuhkannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


(Bona's pov)


Aku mengerti, tak ada awal tanpa akhir... Mau itu pertemuan atau hal lainnya... Tak ada kata mulai tanpa kata selesai.


Aku masih dikamar rawat dimana tempat Seokjin dirawat. Hari ini adalah hari dimana Seokjin keluar dari rumah sakit setelah beberapa hari dirawat dan juga aku masih ingat tanggal dimana aku menanda tangani kontrak untuk menjadi sekretaris Seokjin sekitar 6 bulan yang lalu.


"Wajahmu begitu cerah..." Komentar Seokjin padaku.


Aku tersenyum padanya. Tentu saja, jika pucat patut kamu pertanyakan.


"Memangnya kenapa?? Aku bangga dapat menyelesaikan kontrakku..." Ujarku bangga.


Kudengar kekehan Seokjin setelah sekian lama. Rasanya lucu dan menyenangkan.


Setelah semua beres, aku dan Seokjin langsung melangkah keluar kamar dan seperti yang sudah diberitahukan.


"Tuan Kim... Mohon ikut kami kekantor kejaksaan sekarang."


Orang-orang dari kejaksaan memang sudah menunggu Seokjin.


Berat rasanya... Saat sudah melihat Seokjin sehat, aku harus dihadapi dengan satu cobaan lagi.


Aku menatap Seokjin dan tersenyum. Aku percaya semua akan baik-baik saja.


"Chagi, pulanglah bersama Namjoon dan Taehyung..." Ujarnya.


Kedua saudaranya itu juga sudah ada disini.


"Itu perintah terakhirku..." Lanjutnya.


Aku mengangguk dan tersenyum padanya, aku benar-benar tak dapat menahan air mata ku hingga membuat bulir-bulir itu meleleh disela senyumku.


(Klek)


Kesedihan benar-benar merasukiku saat orang-orang kejaksaan memborgol pergelangan Seokjin dan membawa priaku itu pergi.


"Seokjin hyung akan baik-baik saja...." Ujar Namjoon.


Kuharap begitu.


"Bagaimana keadaan Yoongi??" Tanyaku.


Namjoon nampak tersenyum.


"Sidangnya akan dilaksanakan minggu depan... Menurut info yang Jimin berikan, tak ada bukti yang mengarah pada Yoongi hyung tentang kematian Lee Minnah." Jelas Namjoon.


Aku paham. Namun, masih menjadi sebuah misteri tentang siapa pelaku yang membunuh Ny. Lee dan juga, kematiannya tak terduga.


"Apa kalian tidak sedih???" Tanyaku pelan. Bagaimanapun juga, Ny. Lee lah yang melahirkan ketiga Kim bersaudara ini.


"Karena berakhir dengan tidak baik, rasanya biasa saja." Timpal Taehyung.


"Eoh... Aku juga seperti itu."


Menusuk juga ucapan mereka.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


(Seminggu kemudian)


Aku berkesempatan mengunjungi Seokjin di penjara dan mengobrol dengannya hari ini. Aku masih menunggu kedatangannya dan tak lama Seokjin datang dengam seragam khas seorang napi. Seokjin sedang menjalani masa percobaan sebelum sidang yang akan memutuskan hukuman Seokjin.


Aku tersenyum saat ia dan seorang sipir yang mengantarnya datang. Walau kami dibatasi sebuah dinding kaca, aku cukup bersyukur melihatnya.


"Bagaimana keadaanmu?? Apa rekan satu sel mu baik?" Tanyaku.


Seokjin tersenyum dan mengangguk.


"Hmm... Mereka baik. Bagaimana denganmu? Apa kau sudah mulai mengidam?" Tanya Seokjin.


Aku terkekeh geli. Bagaimana bisa ia menanyakan hal lucu seperti itu.


"Luar biasa... Eoh... Aku ingin bertemu denganmu."


"Maafkan aku... Aku tak bisa berada disisi mu untuk saat ini. Kau pasti kesulitan."


Raut wajah Seokjin benar-benar menggambarkan penyesalannya karena tak dapat memenuhi tanggung jawabnya.


"Hmm... Tidak apa-apa. Aku mengerti keadaanmu..."


"Aku akan lama tidak bersamamu..."


Aku tahu itu.


"Aku akan menunggumu. Jangan khawatir... Semoga keputusan hakim nantinya adalah yang terbaik untukmu..."


Rasanya aku sangat ingin menyentuhnya dan memeluknya seerat mungkin. Aku terlalu merindukannya. Ia ada didepan mataku, namun tak dapat ku sentuh sama sekali.


Kenyataan begitu menyakitkan dan aku harus merasakannya.


"Hei... Matamu memerah... Jangan bilang kau ingin mengasihaniku."


Dengan cepat aku menggeleng. Seokjin menatapku dan tersenyum lembut.


"Jangan menangis, aku belum bisa mengambil selembar tisu untuk mengusap air matamu itu."


"Aku bisa melakukannya sendiri." Ujarku.


"Lalu, bagaimana dengan Yoongi? Apa ia satu sel denganmu?"


Seokjin mengangguk. Sudah kuduga... Ia selalu mengikuti Seokjin.


"Seokjin..." Panggilku.


"Nee... Kenapa chagi?"


Aku tersenyum.


"Aku benar-benar menyayangimu..." Ucapku.


Aku benar-benar tak dapat menahan perasaanku.


Seokjin tersenyum.


"Aku ingin menciummu saat ini."


"Haha.... Cium saja udara."


"Nee... Aku juga menyayangimu... Jadilah wanita yang baik."


Aku terkekeh. Rasanya gemas ingin mengacak surai Seokjin.


"Waktunya sudah habis..." Ujar penjaga yang bersama Seokjin.


Aku sedih. Waktu kami benar-benar dibatasi. Seokjin harus kembali ke selnya lagi sedangkan aku masih ingin melihatnya. Tak bisakah ada tambahan waktu??


"Tunggu!!!!"


Langkah Seokjin dan seorang petugas sipir itu berhenti dan menoleh padaku.


"Bagaimana ini!!! Aku ingin mengelus rambut Seokjin sebentar!!!" Seruku.


Hasrat itu tiba-tiba datang dan jemariku sudah berkeringat geram. Aku tidak tahu kenapa, namun aku sangat ingin membelai rambut Seokjin saat ini. Aku tidak peduli dengan petugas sipir yang menatapku aneh.


"Maafkan saya nyonya... Tapi waktu bicaranya sudah habis."


Tidak!!! Aku tidak mau.


"Aniya!! Aku tidak minta waktu bicaranya! Aku ingin mengelus rambutnya~~"


Aku bahkan memohon pada penjaga yang menjaga pintu agar memberiku kesempatan. Namun mereka sama sekali tidak mengindahkanku.


"Ini demi bayiku... Kumohon..."


Kulihat Seokjin hanya tersenyum geli melihat tingkahku.


Dan akhirnya aku diberi kesempatan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


( 5 TAHUN KEMUDIAN)


Aku yang sedang memotong bawang bombay tiba-tiba harus diherankan dengan suara isakkan seorang bocah yang baru memasuki rumahnya. Aneh, aku yang memotong bawang, dia yang menangis.


Dia siapa??


Dia Kim Juno, putra ku yang tampan.


Tentu saja naluri seorang ibu akan langsung merespon tangisan anaknya, maka dari itu aku langsung menghampiri Juno yang sedang menangis itu kekamarnya yang serba biru itu.


"Juno??? Kau baik-baik saja??" Tanyaku sembari menghampiri tubuhnya.


Juno bangkit duduk dan menatapku dengan mata sembabnya.


"Apa kau tidak dijemput Yoongi samchon??"


Juno menggeleng. Berarti Yoongi menjemputnya.


"Apa kau terjatuh? Sakit? Lapar?"


Juno menggeleng juga dan terus terisak. Jika begini aku akan merangkul Juno dan mengelap wajahnya yang basah itu dengan tisu, jika sudah bersih baru aku menatap putraku


"Juno tidak apa-apa??" Tanyaku.


Juno mengangguk, namun wajahnya masih sendu.


"Semua teman Juno dijemput appanya, sedangkan Juno tidak." Ujarnya pelan.


Aku tersenyum, salahku yang tidak pernah mengajak Juno pergi mengunjungi Seokjin di sel. Aku tidak ingin Juno beranggapan buruk tentang ayahnya karena dipenjara. Walaupun begitu, aku tidak menghalangi Seokjin dan Juno untuk saling mengenal. Aku selalu memberikan rekaman suara Juno untuk Seokjin, begitu pula sebaliknya. Setidaknya Juno mengenal suara ayahnya.


"Juno... Appamu adalah orang yang sangat sibuk... Mungkin untuk saat ini appa mu belum sempat pulang... Tapi, percayalah pada eomma. Appa mu pasti datang nantinya..."


"Kapan?? Kenapa lama sekali??" Pertanyaan bagus nak.


"Eoh... Juno harus jadi anak baik dulu..."


"Eomma... Juno sudah baik. Juno bahkan menghabiskan bekal yang eomma buat."


"Hehe... Anak pintar... Apa Juno ingin makan kue? Eomma membuat kue hari ini."


Seketika wajahnya cerah seperti pamannya Taehyung jika kutawarkan kue. Benar-benar lucu.


.


.


.


.


.


.


.


(Author side)


Matahari begitu cerah menghiasi pertengahan musim semi di Seoul. Kuncup-kuncup bunga sudah lama bermekaran dan menambah warna kota. Seperti harapan, kuncup-kuncup harapan mulai mekar dan menyebarkan banyak aura positif bagi yang merasakannya. Kehidupan baru sudah terbuka dan siap dijalani.


Begitulah Kim Seokjin.


Lengkap dengan tas yang dijinjingnya, ia keluar dari tempat yang telah banyak mengubah dirinya selama kurang lebih 5 tahun ini. Wajahnya masih sama seperti dulu, tampan dan beribawa.


Hingga baru saja lima langkah meninggalkan pintu gerbang rumah yang mengurungnya serta memberi banyaknya pelajaran, Seokjin hanya tersenyum saat sebuah sedan berhenti tepat dihadapannya dan langsung menampakkan siapa yang menyetir.


"Bagaimana rasanya??" Tanya Yoongi.


Seokjin terkekeh saat melihat siapa yang menjemputnya itu.


"Apa Bona yang menyuruhmu??"


"Menurutmu siapa lagi??"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Eomma... Kenapa superman memakai celana dalam diluar??"


Bona langsung tertawa terbahak-bahak saat mendengar pertanyaan polos dari putranya Juno. Sementara bocah polos itu ikut tertawa walau tidak mengerti.


"Haa... Eomma juga bingung... Eoh! Eomma kedapur dulu..." Ujar Bona.


Namun pergerakan Bona langsung tertahan karena Juno memeluknya.


"Jangan... Eomma dilarang kemana-mana..." Ujar Juno sembari menatap manja pada ibunya.


Melihat wajah manja Juno mengingatkan Bona pada seseorang yang sangat ia rindukan kini.


Bona tersenyum.


"Hari ini akan ada tamu spesial dan eomma memanggang kue... Eomma harus mengecek kue nya dulu..."


"Siapa?? Apa Daegu haraboji(kakek dari Daegu)??." Tebak Juno.


Bona terkekeh.


"Bukankah Minggu lalu kita sudah ke Daegu??"


Juno mengangguk. Ia dan ibunya sudah mengunjungi kakek dan neneknya di Daegu minggu lalu.


"Apa paman Taehyung datang?"


"Paman Taehyung bahkan bermain denganmu setiap sore."


Bona hanya tersenyum sembari memainkan pipi gemuk anaknya dengan gemas.


"Tunggu saja ya... Aigoo!! Ayo kedapur!!!" Pada akhirnya Bona menggendong Juno.


"Film nya belum habis eomma...." Ujar Juno.


Bona terkekeh dan kembali menempatkan Juno pada sofa dan berjalan kedapur.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


(Ting!)


Lift yang membawa Seokjin dan Yoongi berhenti pada lantai 12.


"Kita sudah sampai." Ujar Yoongi saat mereka sudah sampai didepan pintu apartemen dimana tempat Seokjin dan Bona tinggal dulu.


"Kau tidak ingin ikut masuk??" Tanya Seokjin.


Yoongi tersenyum.


"Aku masih banyak pekerjaan, nanti aku datang lagi..." Ujar Yoongi sembari berbalik pergi meninggalkan Seokjin sendirian dilorong itu.


Seokjin belum berani menyentuh gagang pintu maupun menekan bel. Pria itu masih menatap pintu bernomor 1224 itu, hingga akhirnya Seokjin mencoba menekan tombol untuk memasukkan pin. Ia hanya mencoba, apa Bona sudah merubah pin nya, ia ingin tahu.


(Klek)


(Ia tak mengubahnya... -Seokjin)


Perlahan Seokjin membuka pintu dan masuk kedalam apartemennya yang sudah sangat lama tidak ia masuki. Baru saja masuk Seokjin langsung memandang rak sepatu yang terdapat sepatu Bona dan beberapa pasang sepatu kecil yang diyakini milik Juno.


Tap


Seokjin melangkah lebih jauh sembari mengedarkan pandangannya kesekeliling rumahnya.


(Tak ada yang berubah... -Seokjin)


Masih sama dengan lima tahun lalu dan yang sedikit menghias adalah beberapa bingkai foto pria kecil yang terpajang didinding serta beberapa mainan terletak disisi ruangan.


Duk


Duk


Duk


Padangan Seokjin yang awalnya menatap bingkai foto bayi Juno langsung teralihkan dengan suara bola kaki yang menggelinding dan menampakkan seorang laki-laki kecil yang mengejar bola itu.


Kim Juno, ia yang sedang bermain bola tiba-tiba dibingungkan dengan Seokjin yang sudah masuk kedalam rumah dengan menenteng sebuah tas besar.


Juno sedikit bingung dan takut.


Seokjin tersenyum.


(Ia benar-benar mirip diriku... -Seokjin)


"Juno??" Panggil Seokjin.


"EEEEOOOOOMMMAAAAAAAA!!!!!!!!!!"


Suara lengking Juno benar-benar memekakkan telinga Seokjin dan membuat Bona berlari tergopoh-gopoh dari dapur.


"Juno-ya..... Kamu kenapa....."


Ucapan Bona langsung terhenti saat matanya menangkap seseorang berdiri dihadapan Juno sambil menutup kedua telinganya. Melihat ibunya datang Juno langsung memeluk Bona dan refleks Bona menggendong Juno.


"Eoh!! Kenapa kau meneriaki appa mu sendiri??" Ujar Bona geli sembari menarik hidung Juno gemas.


Seokjin juga tersenyum geli saat melihat ekspresi Juno yang polos, Seokjin kembali melangkah mendekati Bona dan Juno.


"Suaramu kencang sekali." Ujar Seokjin sembari mengacak surai lembut Juno.


Karena belum terbiasa membuat Juno mencoba bersembunyi dicelah leher Bona hingga membuat Bona cukup kesulitan juga.


"Kau bilang ingin bertemu appa?? Bukankah wajahnya sama dengan foto dikamarmu??" Ujar Bona.


Juno pun memperhatikan wajah Seokjin dan mengangguk perlahan.


"Appa darimana?? Kenapa baru datang?" Tanya Juno.


Seokjin tersenyum sembari mengambil Juno dari pelukan Bona dan mencium pipi putranya itu. Sudah sangat lama ia ingin melakukannya pada buah hatinya itu.


"Appa datang karena appa merindukan mu. Appa berjanji tidak akan pergi lagi." Ujar Seokjin.


"Appa janji??" Tanya Juno.


"Janji." Ujar Seokjin.


Bona hanya tersenyum dan menahan haru dalam hatinya. Sudah lama ia ingin melihat pertemuan ini, ia sangat ingin melihat Seokjin memeluk anaknya dan saling tersenyum.


"Chagi..." Panggil Seokjin.


Bona langsung tersadar dari lamunannya dan tersenyum.


"Istirahatlah dulu..." Ujar Bona sembari mengambil tas jinjing Seokjin dan membawa kedalam kamar.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


(Malamnya)


(Ting! Tong!)


"Seokjin, bukakan pintu!!!" Seru Bona dari dapur.


Seokjin yang awalnya sedang bermain dengan Juno sedikit terkejut karena nyaringnya seruan Bona. Tak disangka jika suara Bona sangat melengking, karena Seokjin tak pernah mendengar seruan selengking ini selama lima tahun terakhir.


Tanpa menunggu lama Seokjin langsung berlari menuju pintu dan Membuka pintu.


"Halo hyung!!!!!!!" Seru Namjoon saat Seokjin yang datang membukakan pintu untuknya.


Namjoon tidak sendiri, ia bersama sekretarisnya Hyejin yang terlihat membawa banyak belanjaan.


"Eohh.... Masuklah kalian..." Ujar Seokjin sembari mempersilahkan Namjoon dan Hyejin masuk.


"Samchooooooooonnnnnnnnnnnn!!!!!!!!!!!!!!" Seruan panjang langsung menyambut Namjoon dan Hyejin yang baru saja menapakkan kaki pada lantai rumah Seokjin.


Juno ternyata mendengar suara Namjoon dan segera berlari menyerbu Namjoon. Melihat tingkah menggemaskan dari Juno membuat Namjoon dan Hyejin terkekeh, dengan segera Namjoon menggendong Juno dan masuk keruang tengah.


(Ting-tong!)


"Seokjin!!!" Lagi-lagi Bona berseru dari dapur sehingga membuat Seokjin kembali membuka pintu.


(Klek)


"Hyung!!!" Seru Taehyung semangat.


"Kenapa wajahmu seperti tidak ikhlas membukakan pintu untuk kami???" Ujar Yoongi heran.


Pasalnya Seokjin membuka pintu dengan wajah datar dan jengahnya itu.


"Jika ingin masuk, cepatlah masuk." Tanpa mempedulikan, Seokjin langsung masuk mendahului Taehyung dan Yoongi menuju ruang tengah.


Diruang tengah nampak Bona sedang mengatur makanan dimeja ruang tamu yang cukup lebar itu.


"Wah... Taehyung dan Yoongi rupanya... Ayo duduk dan makan... Kamu juga Seokjin." Ujar Bona saat selesai menghidangkan makanan.


"Apa ini semacam perayaan penyambutan?" Tanya Seokjin heran saat ia harus duduk didepan sebuah kue tart yang Bona panggang hari ini.


"Eoh... Kamu benar." Ujar Bona.


"Kau sudah kembali hyung, jadi kami ingin menyambutmu." Timpal Namjoon.


"Anggap saja sebagai penutup masa lalumu dan membuka lembaran baru." Ujar Hyejin.


Semua orang nampak setuju, mungkin hanya Juno yang tidak mengerti dengan keadaan dan hanya ingin segera menghabiskan tart didepan Seokjin.


"Tiuplah lilin nya dan buat permohonan hyung!!" Seru Taehyung yang tak sabar ingin makan.


"Ayo cepat appa!!!" Juno tak kalah dari pamannya Taehyung.


Seokjin menatap semua orang yang ada bersamanya kini, mereka semua tersenyum termasuk Bona yang sedang memangku Juno.


"Tunggu apa lagi?? Buatlah permohonan dan tiuplah lilin itu." Ujar Bona.


Benar, dengan tertiupnya lilin itu menandakan perginya Seokjin yang lama. Seokjin yang berdarah dingin juga kejam, serta mengantarkan permohonan akan kehidupan baru pada diri Seokjin.


(Aku bahagia bisa bertemu denganmu, latar belakang kita yang sangat berbeda mampu menyatu dan mendobrak diriku yang kejam dan menyelamatkan sisi baik dari dalam diriku yang bahkan tak dapat ku harapkan jika ada... Kerelaanmu masuk kedalam duniaku hanya dengan niat membantu membuatku sedikit demi sedikit percaya seiring berjalannya waktu. Kau tak pergi saat aku melepasmu dan justru bertahan. Caramu menghadapi ku dan melihat diriku membuatku sadar jika kau berbeda dari mereka seperti yang Yongsub katakan padaku... Kau telah banyak mengalami hal yang menyakitkan saat bersamaku, namun kau malah mengatakan rasa kasih sayang mu padaku. Bagaimana bisa aku tidak merasa bertanggung jawab akan dirimu seutuhnya? Shin Bona, terima kasih sudah menjadi wanita ku dan juga ibu dari anakku... Aku berjanji tidak akan membuatmu khawatir dengan segala rahasia serta diriku yang sering berbuat semaunya... Aku bertekad hanya ingin hidup bahagia denganmu selama sisa hidupku. -Seokjin)


(Hidupku banyak berubah berkatmu, walau harus mengalami banyak pengalaman yang menyakitkan dan membuatku kadang bermimpi buruk. Namun aku sangat berterima kasih padamu, Seokjin. Kehidupanku yang hanya menjadi wanita biasa awalnya dapat merasakan bagaimana kehidupan sesungguhnya. Aku jadi mengenal dunia berkatmu. Aku menjadi berani serta kuat juga berkatmu... Aku juga bahagia bisa kamu beri kesempatan untuk menyayangimu dan menjadi wanita yang kamu sayangi. Aku bahagia akan itu.... Masa lalu adalah masa lalu yang perlahan akan tertutup dengan hal-hal yang akan datang. Kuharap kedepannya tidak ada rahasia diantara kita... -Bona)


Selesai......