The Secret Of My Boss [Soft]

The Secret Of My Boss [Soft]
I am a Secretary now



(bruk)


Bona menaruh semua barang-barang nya di kamar yang akan ia tempati kurang lebih selama 6 bulan ini sebagai seorang sekretaris.


Nuansa kamar yang minimalis dan nyaman. Terdapat sebuah kasur king size, lemari pakaian, sofa bahkan tv Juga ada di dalam kamar ini. Benar-benar sumber kenyamanan modern tersedia di ruangan berukuran 8x6 m ini.


"Bagaimana?? Apa kau menyukai nya? " Tanya Seokjin yang sedang menyandarkan diri di tepi pintu masuk. Bona tersenyum.


"Lebih dari cukup. Terima kasih mr Kim."


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Berbenah lah dan beristirahat. Karena besok hari sibuk mu akan dimulai." Seokjin pun berlalu dari penglihatan Bona. Kini tinggal wanita bersurai hitam itu yang berada di kamar. Bona pun langsung membuka lemari untuk menyimpan pakaian nya.


( Klek! )


"Omo!". Bona mengira jika lemari tidak ada isinya dan kosong. Ternyata terkaan nya salah. Lemari pakaian itu penuh dengan pakaian wanita dan Bona duga adalah pakaian Seokjin juga. Apakah ada yang tinggal sebelum ia?? Apa semua sekretaris Seokjin tinggal di kamar ini? Bona menjadi penasaran. Kenapa Seokjin menyuruh Sekretaris nya tinggal di kantor nya??


( Sementara itu )


Seokjin memarkirkan mobilnya di sebuah gedung yang cukup mewah di kawasan Apgujeong, Seoul. Gedung itu adalah gedung apartemen tempatnya tinggal bersama para saudara nya.


( Cklek )


Seokjin memasuki apartemen nya dan langsung disambut suara yang cukup 'mengganggu' mental seseorang. Siapa lagi jika bukan saudara nya yang 'bermain' bersama ******.


Tak ingin lama-lama mendengarnya Seokjin langsung menuju dapur untuk menjernihkan pikirannya. Suara 'permainan' Namjoon yang berada kamarnya memang cukup mengganggu siapa saja. Kamar Namjoon harus dipasang pengedap suara agar tak meningkatkan stress Seokjin. Kira-kira begitu yang ada dipikiran Seokjin.


Ternyata dapur tidaklah kosong. Ada seorang pria yang sedang memasak dengan kekakuan yang ada.


Si bungsu Kim bersaudara Kim Taehyung.


" Oh hyung.. kau baru datang?? Lihat. Aku sudah pandai memasak telur dadar." Ucap Taehyung bangga. Seokjin hanya terkekeh dan melihat hasil masakan Taehyung. Tidak buruk juga.


"Siapa yang kali ini dibawa Namjoon?" Tanya Seokjin sembari membuka kulkas dan meminum sebotol air putih dingin.


"Aku tak melihatnya hyung.. suara mereka sangat mengganggu.." Seokjin setuju akan pendapat adik bungsu nya itu. Karena malas kembali ke kamarnya, Seokjin bergabung bersama Taehyung di meja makan.


" Kau sudah makan hyung??" Tanya Taehyung di sela kegiatan makannya.


"Makan saja." Jawab Seokjin. Taehyung mengangguk lalu melanjutkan kegiatan makannya.


Berbeda dengan kedua kakaknya. Taehyung tidak bermain dengan wanita dalam arti seperti yang Namjoon dan Seokjin lakukan. Namun, Taehyung lah yang paling sulit untuk didekati oleh wanita karena sifat nya yang cuek dan tidak peduli. Kepergian ibunya sejak ia masih kecil meninggalkan kesimpulan baginya bahwa tidak ada cinta yang tulus didunia ini. Mereka mudah bosan dan pasti akan mencari hal baru.


"Kenapa suasana dapur sangat sepi? Padahal ada orangnya." Tiba-tiba Namjoon masuk kedapur dan mengambil air putih di kulkas.


"Seokjin hyung bilang kita tidak boleh berisik saat makan." Jawab si bungsu.


"Sudah selesai?" Tanya Seokjin pada Namjoon.


"Hmm dia sudah pulang dari tadi. Kapan kau datang hyung?" Tanya Namjoon setelah meminum air putih.


"Belum lama. Suara kalian tadi sangat berisik. Segeralah pasang pengedap suara dikamarmu Namjoon-ah.." ucapan Seokjin membuat Namjoon terkekeh. Namjoon pun bergabung di meja makan.


"Mian hyung. Ah ya bagaimana Bona? Apa dia sudah pindah??" Tanya Namjoon.


"Eoh?! Siapa Bona? Sekretaris baru hyung atau pacar hyung?" Tanya Taehyung.


"Sekretaris baru Seokjin hyung. Dia seumuran dengan mu Tae. Menurut mu dia akan bertahan berapa lama?" Tanya Namjoon pada Taehyung yang baru selesai makan. Seokjin hanya diam menunggu jawaban Taehyung.


Si bungsu nampak berpikir.


"Aku belum melihat orang nya. Jadi aku belum bisa menebak berapa lama ia akan bertahan." Ujar Taehyung lalu pergi mencuci piring.


"Tapi... Bukankah tak satupun dari mereka yang bertahan lebih dari 90 hari??" Lanjut Taehyung.


.....


. . . . . . . .


Setelah mandi Bona langsung merebahkan dirinya di kasur empuk miliknya saat ini. Batinnya terus bertanya tentang apa yang akan ia lakukan pada esok harinya.


( Esoknya )


"Ini jadwal hyung hari ini. Hanya hari ini kau menerima jadwal kegiatan hyung dari Ku. Mulai besok kau lah yang mengatur jadwal nya sendiri dan ini adalah ponsel yang menghubungkan kau dengan para kolega bisnis Seokjin. Hanya melalui ponsel ini para kolega bisa menghubungi Seokjin. Jangan sampai kau menghilangkan nya dan merusaknya. Lalu, ini kartu namaku. Mungkin saja kau akan butuh bantuan.. jadi kau bisa menghubungi nomor yang tertera di kartu itu... Aku berpesan pada mu.. jika kau ingin bertahan.. turuti saja semua perintah hyung karena ia adalah orang yang sangat posesif dan temperamen." Namjoon menjelaskan secara panjang lebar tentang pekerjaan Bona dan juga sifat Seokjin yang


Bona tidak sangka itu. "Posesif dan temperamen?" Padahal senyuman Seokjin sangat hangat namun tak mendidih.


"Terima kasih atas arahan nya manajer Kim. Anda sangat membantu." Ujar Bona.


Namjoon tersenyum. Satu hal yang benar-benar berkesan bagi Bona saat mengenal Namjoon adalah senyuman manis nya itu dan his dimple.


"Masuklah keruangan nya. Hyung akan memberi beberapa pengarahan lagi pada mu." Ujar Namjoon menyudahi pertemuan pagi mereka diruangan Namjoon. Bona pun pamit undur diri dan langsung menuju ruangan Seokjin.


(Apapun itu.. ku harap kau bisa menjalani nya Bona...-Namjoon)


(Cklek!)


Bona masuk kedalam ruangan Seokjin dan mendapati atasan nya sudah duduk dibelakang meja kerjanya.


"Selamat pagi mr Kim."


Sapaan Bona hanya direspon gumanan dari Seokjin karena Seokjin nampaknya masih sibuk mengerjakan sesuatu.


"Jam berapa ini?" Tanya Seokjin pada Bona. Refleks Bona langsung melihat ke ponselnya, karena wanita ini tak suka mengguanakan jam tangan atau apapun seperti gelang,kalung ataupun cincin.


"07:45 mr.. "


Seokjin menghentikan pekerjaan nya lalu menatap Bona serius.


"Apa jadwalku??"


"Jam delapan anda sarapan di restoran xx bersama klien dari GG Group."


"Oke. Ayo kita berangkat. Kau yang menyetir.." tanpa babibu Seokjin melempar kunci mobil pada Bona.


Dengan segera Bona langsung meraih ransel hitam nya dan mengejar Seokjin yang sudah berjalan duluan. Ia ingin mengatakan sesuatu pada Seokjin bahwa ia tak bisa menyetir.


"Ano.. mr Kim. Saya tidak bisa menyetir..." Seokjin nampak tak begitu peduli dan masih berjalan menuju lift. Begitu juga Bona.


(Kenapa beliau tak merespon... Aku sama sekali tidak bisa menyetir mobil!!!! -Bona)


Kepanikan langsung menghantui diri Bona. Bagaimana tidak.. jika Seokjin tak menerima kelemahan nya yang satu ini apa ia akan dipecat?? Bagaimana ia bertanya lagi?? Seokjin seakan tidak peduli dengan pernyataan nya barusan. Ia begitu takut.


Mereka pun sampai di parkiran dan Seokjin langsung mengambil tempat duduk di kursi belakang supir tanpa mempedulikan Bona dengan tampang paling bodohnya. Bona mematung diluar mobil dan itu menimbulkan pertanyaan besar bagi Seokjin.


"Kenapa tidak masuk??" Tanya Seokjin pada Bona yang sudah pucat wajahnya karena memikirkan hal-hal yang akan terjadi jika ia nekat menyetir.


"Maafkan saya mr Kim. Saya benar-benar tak bisa menyetir dan tak ingin membahayakan siapapun." 45° Bona membungkuk pada Seokjin dan atasan nya hanya menatap datar. Seokjin menghela nafasnya kemudian keluar dari mobil.


"Kenapa tidak kau katakan dari tadi... Bukankah wanita jaman sekarang banyak yang sudah bisa menyetir?? Baiklah. Aku yang akan menyetir."


Bukankah Bona sudah mengatakan nya tadi bahwa ia tidak bisa menyetir. Bona pun menyerahkan kunci mobilnya pada Seokjin.


"Ayo masuk. kita sudah terlambat.."


Brrrrrrrmmmmmmmmm~


Mereka pun berangkat menuju restoran itu xx dengan kecepatan diatas rata-rata!


(Demi Tuhan! Apa orang ini tak menghiraukan pengguna jalan yang lain?! -Bona)


Bona benar-benar menggenggam erat sabuk pengamannya dan menatap horor jalanan didepan nya. Sedangkan Seokjin sibuk menginjak pedal gas dan rem jika dibutuhkan. Bahkan mulut Bona tak berani mengeluarkan kata-kata saat ini karena melalui ekor matanya, Bona dapat melihat sesosok manusia yang entah dia kenal atau tidak itu. Seokjin menyeringai pada jalanan didepan nya dan melaju seolah jalanan sedang sepi. Pria muda itu nampak sedang bersenang-senang! Ini bencana! Pikir Bona.


"Aishh... Kenapa ini seru sekali!!" Seru Seokjin tiba-tiba. Mata Bona benar-benar besar dan langsung menatap atasan nya horor.


"Mr Kim... Tolong jangan laju.. itu melanggar..". Dengan terbata-bata Bona berhasil mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.


"Waeyo?? Ini menyenangkan.. kau harus tenang dan menikmatinya.."


Seokjin tidak sama sekali menhurangi kecepatan nya.


"Saya.. takut mr Kim.." ujar Bona.


"Apa yang kau takuti?? Apa kau takut mati?? Bukankah pada akhirnya manusia akan mati??" Itu memang benar. Tapi, ini salah!!!


"Anda memang benar soal kematian.. tapi ini salah.. tolong hargai nafas kehidupan anda.." ujar Bona semakin panik saat depan mobil mereka semakin dekat dengan belakang truk dan Seokjin sama sekali tidak ingin mengerem.


(Ckiiitttt)


Hampir saja.. sekitar 1 meter lagi mereka akan benar-benar menabrak truk itu. Seokjin mengerem dan memperlambat laju mobilnya. Kepala Bona jadi penuh dengan kata 'kenapa? kenapa? kenapa? Dan kenapa?'


Seokjin menghapus senyum dibibir nya dan menjadi lebih diam dari sebelum nya.


Tak lama mereka tiba di sebuah restoran jepang. Setelah mereka mengkonfirmasi kedatangan. Seokjin diantar kesebuah ruangan tempat kolega nya berada dan Bona disebelah ruangan tempat Seokjin tempat para sekretaris berada. Mereka hanya dibatasi oleh dinding kertas lukisan khas Jepang.


Diruangan makan itu, Bona tak sendirian. Ada seorang pria tampan dan keliatan masih muda seumuran dengan Bona.


"Selamat pagi. Saya Shin Bona sekretaris mr Kim." Bona memperkenalkan dirinya pada pria itu.  Pria itu menatap datar pada Bona.


"Oh Sehun. Sekretaris direktur Kim dari GG Group." Ucap Sehun datar.


Suasana langsung canggung dan tegang setelah Sehun memperkenalkan dirinya pada Bona. Bahkan tak satupun dari kedua sekretaris itu menyentuh makanan yang tersedia. Bagaimana Bona mau menyentuhnya jika yang dihidangkan adalah sesuatu yang belum dimasak atau mentah. Sushi dan Sashimi. Bona rasanya mau muntah melihatnya. Tapi setengah mati harus ia tahan demi menjaga image nya.


Untung nya pertemuan itu tak berlangsung lama hanya berlangsung selama dua jam.


Setelah sarapan, mereka tidak langsung pergi ke kantor. Sebab dijadwal tertulis Seokjin harus pergi ke salah satu anak perusahaan Bighit Corp. Namun sebelum itu, Seokjin memutar arah kemudi nya kearah sungai Han.


"Mr Kim. Kenapa kita menuju sungai Han??" Tanya Bona bingung. Seokjin hanya diam dan fokus mengemudi hingga berhentilah mereka di pinggir sungai yang terdapat garis kuning polisi. Seokjin langsung keluar setelah memarkir mobil. Bona mengikuti pria itu dari belakang dan tak berani mengucap sepatah kata apapun itu. Bona bahkan tak sadar jika dari tadi Seokjin membawa setangkai bunga mawar putih dan melemparnya kesungai.


"Ini adalah tempat dimana mantan kekasihku ditemukan tewas setelah kabur dari apartemen ku.." ujar Seokjin.


"Mwo??! Ehem! Saya turut berduka.." ucap Bona. Ia bingung ia harus kaget atau sedih.


"Aniya.. jangan berduka... Dia tak pantas mendapatkan itu. Dia bahkan tak sanggup bersama ku dan memilih pergi." Jelas Seokjin tak ada rasa penyesalan didalam dirinya sama sekali.


"Maaf mr. Kenapa dia meninggalkan mu?" Tanya Bona.


"mungkin ada yang lebih kaya dari ku atau ada yang lebih menyayanginya daripada diriku." Jawab Seokjin.


"Kau benar. Manusia tak akan pernah puas ketika sudah mendapatkan sesuatu karena kita akan mencari yang lebih."


"Tapi, semua ada batasannya Mr. Karena hal yang berlebihan itu tak selalu baik. Contohnya kelebihan berat badan." Ujar Bona sekananya. Ya. Karena obesitas itu dapat menghilangkan nyawa.


"Haahh... Kenapa kau tak bisa menyetir..??" Tanya Seokjin pada Bona. Eh? Kenapa tiba-tiba??


"Karena saya belum belajar. Mungkin saya akan mengambil kelas mengemudi. Maafkan saya.." jawab Bona seadanya. Seokjin menghela nafasnya.


"Ayo kita pergi." Ujar Seokjin tiba-tiba.


Bona jadi merasa bersalah pada atasan nya itu. Apa ia harus mengambil kursus mengemudi? Ya. Ia harus.


( Aku adalah sekretaris Seokjin sekarang. Aku yang harusnya memudahkan nya bukannya menambah pekerjaannya. -Bona)


Tak memakan waktu lama untuk tiba di tempat selanjutnya bagi Seokjin karena kecepatan mengemudinya.


Tibalah mereka disebuah gedung yang Bona ketahui adalah gedung sebuah Bank. B bank. Salah satu anak dari Bighit corp yang mengurus masalah finansial dan merupakan salah satu bank swasta yang cukup berpengaruh bagi negara Korea Selatan.


Bona masih dengan ransel hitam nya yang menempel dipunggungnya setia mengikuti langkah Seokjin. Hingga tibalah mereka diruangan rapat yang ada digedung itu. Kali ini rapat nya tidak sesepi tadi pagi. Namun, suasana ruangan tiba-tiba menjadi tegang saat Seokjin mengambil tempat duduk di ruang itu.


"Selamat datang CEO Kim." Sambut seorang pria muda yang berada di depan podium. Nampaknya pria itu yang akan memimpin rapat.


"Tugas mu kali ini adalah mencatat semua yang aku katakan dan membuat laporan tentang itu." Jelas Seokjin pada Bona yang duduk tepat di belakang nya. Bona hanya mengangguk paham.


"Baiklah. Rapat pembahasan menurunnya nasabah akan kita mulai. Saya selaku direktur B Bank Kim Taehyung akan memimpin rapat hari ini... Bla..bla...bla..bla......."


Rapat pun dimulai.


"Menurut bagian pemasaran. Kita kekurang tenaga untuk mempromosikan nya." Kepala bagian pemasaran berkata.


"Para nasabah mengeluh karena tinggi nya bunga pinjaman. Jadi mereka lebih memilih di koperasi." Tambah general manajer bank.


"Kebanyakan nasabah lebih memilih koperasi karena tidak ada nya biaya admin tiap bulan." Jelas direktur HRD.


"Kalian hanya mengatakan masalahnya saja. TAK ADAKAH SALAH SATU DARI KALIAN MEMIKIRKAN SEBUAH SOLUSI??!!!" Ups.. bentakan Taehyung seketika memgubah suasana rapat menjadi sangat tegang sekarang.


"Jangan bilang kalian hanya mencari sumber masalahnya saja tanpa memikirkan langkah yang harus diambil." Lanjut Taehyung lagi.


Heol! Bona benar-benar merasa di tengah peperangan saat ini. Sungguh MENEGANGKAN.


Hingga sebuah tangan terangkat dari seorang wanita berkacamata dan tubuhnya cukup besar dari Bona. Tapi, nampaknya ia masih muda.


"Dari penelitian bagian humas selama beberapa hari ini, kami melihat bagaimana sebuah Koperasi mendapatkan anggota adalah melalui promosi bunga pinjaman yang murah sementara bunga tabungan sama dengan di bank bahkan lebih tinggi dari bank dan juga koperasi lebih mengarah ke pedesaan. Jadi kesimpulan yang kami ambil adalah kita bisa memperluas cabang kita pedesaan dan menawarkan pelayanan yang menguntungkan bagi warga desa."


Ujar wanita itu.


"Penawaran seperti apa yang menguntungkan itu??" Tanya Taehyung. Wanita itu sedikit takut menjawab.


"Menurut kami selaku bagian humas, menawarkan pelayanan pinjaman dengan Bunga yang sedikit.. lebih rendah dari bank biasanya.. karena ini akan memudahkan para petani atau peternak saat ingin memperluas usaha nya. Selain itu, secara otomatis nasabah akan bertambah....". Ucap wanita itu hati-hati. Bona melihat Taehyung nampak memikirkan ide dari salah satu peserta rapat itu.


"Dia bagus.." guman Bona sembari melihat wanita yang barusan bicara. Bona kagum dengan keberaniannya mengeluarkan pendapatnya kepada seorang pemimpin rapat seperti Taehyung.


Rapat menegangkan itu hanya berlangsung selama 40 menit dengan keputusan masih mengambang karena Taehyung hanya mengumpulkan pendapat dari para peserta kemudian langsung menutup rapat tersebut. Bona dan Seokjin pun belum pergi dari bank itu dan masih menunggu sang direktur utama di ruangannya.


(Klek)


"Mian hyung aku lama.. bagaimana menurutmu rapat tadi??" Akhirnya sang pemilik ruangan datang. Ia adalah Kim Taehyung.


"Seperti biasa.. kau selalu melakukan yang terbaik." Ujar Seokjin. Taehyung tersenyum pada hyung nya. Namun, matanya tiba-tiba beralih pada sosok wanita yang berdiri di belakang Seokjin.


"Apa dia sekretaris hyung yang baru??" Tanya Taehyung. Bona tersenyum tipis sembari menyaoa Taehyung. Tapi tidak ada respon dari pria itu. Segitu cuek nya pikir Bona.


"Ini adalah hari pertama nya bekerja.. Bona, ini adalah direktur B Bank Kim Taehyung. Segala urusan keuangan perusahaan ada ditangan nya." Jelas Seokjin memperkenalkan Taehyung. Taehyung hanya tersenyum tipis dan menjabat tangan Bona. Bona pun sebaliknya.


"Aku Kim Taehyung. Adik nya Seokjin hyung."


"Eh??" Bona bingung. Adik??


Seokjin menghela napas nya sedangkan Taehyung tersenyum aneh.


"Iya dia adalah adik bungsu kami." Ujar Seokjin.


"Seperti yang kau lihat. Hyung tidak terlalu suka jika aku memperkenalkan diri sebagai adik nya pada sekretaris nya. Kau tau kenapa?" Bona menggeleng. Taehyung tersenyum lagi.


"Karena aku tampan darinya. Jadi ku peringati padamu jangan pernah menyukai ku. Apapun alasan nya." Seketika ucapan Taehyung mendapat hadiah pukulan di kepala nya oleh Seokjin. Bona saja meringis melihat pukulan yang cukup keras itu. Apalagi si korban.


"Jangan mengada-ada. Justru dirimulah yang suka menggoda mereka." Ujar Seokjin.


"Heol hyung! Aku berniat menyentuh mereka saja tidak ada! Mereka yang suka menghubungi ku diam-diam." Seru Taehyung heboh.


"Sudahlah. Mereka yang bodoh. Wanita itu memang menyusahkan." Ujar Seokjin. Tentu saja yang menjadi wanita disitu langsung tersinggung. Ya Bona sedikit tersinggung.


(Tak sadar kah mereka jika aku adalah wanita?? -Bona)


"Tapi direktur Kim Taehyung. Bagaimana bisa saya tidak diperbolehkan menyukai anda sebagai atasan saya?" Tanya Bona.


Taehyung menggeleng.


"Aniya.. aku sudah mengatakan apapun alasan nya." Jelas Taehyung. Bona paham. Ada ya orang yang dengan keras melarang seseorang menyukainya.


"Tapi, walau begitu. Kau tidak boleh membenci atasan mu ataupun diriku." Lanjut Taehyung.


"Walau pun tidak menyukai seseorang tidak ada alasan untuk membenci nya." Ujar Bona.


"Abaikan saja Taehyung dan ucapan membingungkannya itu. Lalu, kenapa kau mengundangku untuk datang kekantor mu?" Tanya Seokjin tiba-tiba karena sedari tadi diam mendengar obrolan tidak penting dari adiknya dan sekretaris nya.


Taehyung mengambil sebuah map di atas meja kerja nya lalu memberikan nya pada Seokjin.


" Ini adalah kumpulan data tentang hutang yang belum lunas hyung.. salah satu nya adalah Kang Seungyoon. Perusahaan orang ini berada diambang kebangkrutan karena penjualan soju mereka yang menurun. Karena jumlah hutang nya sangat besar dan dapat merugikan perusahaan jadi aku ingin tau pendapat mu hyung." Taehyung menjelaskan maksudnya mengundang Seokjin.


"Apa dia mengatakan akan melunasi hutang nya??" Tanya Seokjin sembari melihat dokumen tersebut.


"Dari survey pegawai ku butuh waktu lama untuk ia melunasinya. Kondisi keuangan nya benar-benar tidak stabil." Jawab Taehyung.


Seokjin pun memberikan dokumen nya pada Bona untuk disimpan.


"Bawa dia ke hadapan ku secepatnya. Selain hutang nya di bank dia juga punya hutang pribadi dengan ku. Sial. Sudah berapa banyak kukeluarkan untuk orang seperti dia..". Bona merasa hawa Seokjin jadi berbeda. Bona merasa seperti berhadapan dengan gunung api yang siap meledak kapan saja saat ada pemicu nya.


"Bona, siapkan dirimu.. kita akan melihat peristiwa berdarah." Ujar Taehyung tiba-tiba pada Bona yang sedang asik melamun.


"E-eh?? Maksudnya??" Tanya Bona bingung. Taehyung tertawa sesudahnya. Si bungsu Kim ini benar-benar sumber dari segala tanya yang Bona pernah temui didunia ini.


(Dddrrrttt.....dddrrrtt.....)


Tiba-tiba fokus semua orang diruangan itu teralih ke suara dering sebuah ponsel yang berasal dari Bona.


"Selamat pagi. Saya sekretaris nya mr. Kim. Ada yang bisa saya bantu?" Refleks Bona mengangkat telepon yang diberikan Namjoon padanya pagi ini.


................…………


"Mr. Kim ini dari ayah anda." Bona langsung memberikan ponsel nya pada Seokjin. Mungkin saja penting, Seokjin langsung pergi meninggalkan Taehyung dan Bona diruangan Taehyung. Suasana pun langsung sunyi. Bahkan keanehan yang Taehyung tadi ucapkan benar-benar tak ada tersisa di raut wajah pria itu. Wajah nya langsung berubah datar dan dingin, Bona jadi bingung ingin berbuat apa. Ia hanya berdiri dan diam sembari melihat sekeliling ruangan yang cukup besar itu. Sedangkan Taehyung dengan cuek nya kembali ke kursi nya untuk melanjutkan pekerjaannya tanpa berbasa-basi menyuruh Bona untuk duduk atau pergi keluar. Bona benar-benar membenci suasana seperti ini.


"Permisi... Tuan.. saya akan menyusul Mr. Kim." Ujar Bona.


"Jangan menyusul hyung. jika appa yang menelepon, berarti ini masalah penting. Lagi pula aku belum menyuruh mu untuk pergi." Ujar Taehyung. Bona tak jadi beranjak dari tempat ia berdiri.


"Duduklah. Apa kau tidak capek berdiri terus dari tadi... Highheels mu pasti menyakiti kakimu..". Ujar Taehyung.


"Saya tidak memakai Higheels atau semacam nya. Saya hanya memakai flat shoes." Jelas Bona saat telah duduk di salah satu sofa diruangan itu. Berkat ucapan Bona, pria itu langsung melihat Bona.


"Kukira semua wanita mengenakan nya. Karena kupikir mereka pasti ingin terlihat tinggi." Ujar Taehyung. Bona terkekeh.


"Tidak semua. Ada beberapa yang seperti ku. Karena bagiku sepatu berhak itu cukup membuat lelah dibanding flat shoes. Malah yang berat adalah ransel ku." Bona menepuk ransel hitam kesayangan nya yang terlihat lumayan berat itu.


Melihat itu Taehyung tertawa keras seolah Bona adalah hal lucu yang wajib untuk ia tertawakan.


"Apa yang ada dipikiran mu sih??"


"Maksudnya???" Bona Bingung.


"Aku baru bertemu orang seperti mu. Semua sekretaris hyung tak ada yang sepolos dirimu. Mereka semua sangat pandai membuat diri mereka menarik dan rata-rata dari mereka sangat pandai menggoda." Ujar Taehyung dengan ucapan gamblang.


(Pandai membuat diri menarik dihadapan orang lain??? Pandai menggoda??? Itu sekretaris atau sales??? -Bona)


"Tapi kau salah satu dari spesies aneh. Seokjin hyung akan selalu kalah bernegosiasi jika kau tak pandai menggoda.."


"Apa hubungannya????" Tanya Bona heran.


"Ahhh... Aku lupa kalau ini hari pertama mu.. disetiap kegiatan negosiasi hyung akan mengutus sekretaris nya untuk melakukannya." Jawab Taehyung.


"Kenapa begitu?? Apa Mr. Kim malu atau sebagainya??" Tanya Bona bingung.


"Apa hyung terlihat seperti orang yang pemalu??"


Bona jadi mengingat kejadian menuju restoran xx tadi pagi. Wanita itu dengan cepat menggeleng.


"Lalu, alasan jelas nya apa??"


"Secara tidak langsung kau lah yang menjadi topik negosiasi itu. Untuk mempertahankan perusahaan sebesar Bighit, selain pertahanan hukum yang sah. Kita tidak bisa jauh dari dunia gelap." Jawab Taehyung.


"Mwo?!..." Jelas saja kaget dan heran. Kenapa Taehyung menjelaskan hal seperti ini pada Bona. Apa ia hanya menakuti Bona? Atau mengerjai nya? Inikah ujian???


"Kau mungkin kaget. Semua sekretaris yang dulu juga begitu. Reaksi mu sama persis dengan mu. Percuma jika kau ingin berhenti. Hyung tak akan melepas mu. Siapkan saja tenaga untuk semuanya...." Jelas Taehyung.


"Oh! Sudah jam makan siang. Aku pergi dulu..". Kini Bona sendirian di ruangan Taehyung dengan tampang paling bodoh nya.


Bagi Bona, ucapan Taehyung tak bisa ia percayai. Kenapa? Wajah pria itu dengan santainya menceritakan sebagian kecil rahasia perusahaan dan Bona belum melihat nya secara nyata. Apa langkah Bona kali ini salah?? Kim Seokjin. Pria itu mulai terlihat misterius. Namun, wanita itu bersikeras membuang dugaan negatif nya yang belum terbukti.


Walaupun begitu. Setiap cerita dari sebuah film akan menimbulkan rasa penasaran jika belum secara langsung menonton nya. Taehyung hanya bercerita tapi tidak memperlihatkan kenyataan cerita nya. Bona menarik napas nya dalam.


"Setidaknya ada foto nya atau apapun itu. Baru aku bisa percaya."


Sungut Bona.


To Be Continue...