![The Secret Of My Boss [Soft]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-secret-of-my-boss--soft-.webp)
(Shin Bona side)
Kurang lebih selama tiga minggu aku tidak bekerja dikantor karena keadaan tubuhku dan hari ini aku kembali ke meja kerja kesayanganku. Aku benar-benar merindukan meja kerjaku dan juga suasana kantor.
"Kau semakin aneh saja..." Cibir Hyejin sunbae padaku.
Hyejin sunbae baru saja tiba dan duduk di kursinya. Mendengarnya aku hanya terkekeh.
"Aku benar-benar bosan terkurung dirumah terus... Lama-lama aku seperti ikan buntal yang sedang mengembung..." Gerutu Bona.
Hyejin langsung tertawa mendengar ucapan Bona barusan.
"Hahaa... Nampaknya Seokjin benar-benar overprotektif padamu."
Sepertinya itu benar.
Aku hanya tersenyum hambar pada Hyejin sunbae.
"Ahh... Aku harus memberitahu jadwal Seokjin dulu." Ujarku lalu pergi menuju ruangan tempat Seokjin berada.
Kuketuk terlebih dulu pintunya baru aku masuk kedalam ruang yang sudah lama tidak kumasuki itu. Seperti biasa, dia sudah mulai sibuk dipagi hari dengan pekerjaannya. Aku melangkah menghampiri mejanya dan melihat selembar kertas yang kubawa dari mejaku.
"15 menit lagi rapat pagi akan diadakan." Ujarku.
Seokjin menatapku sebentar lalu beranjak dari kursinya dan pergi keluar sementara aku menyusul langkahnya sembari membawa bahan rapat yang sudah disiapkan. Baiklah, hari sibukku kembali dimulai.
"Anda ada janji makan siang bersama mr. Park dari GG Group..." Ujarku.
Kami baru saja pulang dari B bank dan sedang dalam perjalanan menuju restoran tempat pertemuan diadakan. Dapat aku lihat Seokjin yang duduk dibelakangku hanya berdehem dan sibuk dengan tab kesayangannya itu, sementara aku kembali sibuk menyiapkan hal yang akan diperlukan pada kegiatan Seokjin selanjutnya dan sedikit mengobrol dengan pak Kang selaku supir.
Sehabis dari restoran dan makan siang bersama kolega bisnis, kami kembali lagi kekantor untuk menyelesaikan pekerjaan kantor yang belum selesai.
Jika boleh aku berkata, lama tak bekerja seperti ini ternyata lelah juga. Terlebih tulang rusuk kananku sesekali terasa nyeri karena masih dalam pemulihan. Lama tidak menggunakan kekuatan fisik ternyata repot juga saat kembali ke rutinitas biasa.
(Bruk)
Aku merebahkan tubuhku ke kursi ku dan menatap langit-langit ruanganku kosong seperti sehabis olahraga berat, rasanya pusing dan melelahkan. Ini bahkan lebih dari olahraga kardio, kurasa aku banyak kehilangan berat badan hari ini.
"Bona, kau baik-baik saja?? Wajah mu pucat." Tegur Hyejin sunbae saat baru kembali dari suatu tempat. Aku hanya menatap Hyejin sunbae dengan tatapan kosongku.
"Aku tak sempat memakai lipstik sunbae... Hari ini aku sibuk sekali... Ah iya aku harus mengarsipkan dokumen tadi..." Aku langsung duduk tegak dan mulai menyusun tumpukan lembaran kertas diatas mejaku.
Tiba-tiba aku merasakan jika ada yang merapikan ikatan rambutku yang terlihat agak acak itu. Siapa lagi jika bukan Hyejin sunbae yang seksi, ia begitu perhatian hingga aku merasa nyaman dengan perlakuannya saat ini padaku.
"Kau harus ingat dengan profesimu juga. Jangan hanya memikirkan apa yang kau kerjakan, perhatikan juga penampilanmu sebagai seorang sekretaris. Kau mengerti sekretaris Shin? Atau Sekretaris Kim??" Ujarnya sembari sedikit menggoda ku dengan memanggilku menggunakan marga Seokjin. Ahhh... Malu juga aku.
"Ya.. sunbae.. jangan menggoda ku seperti itu... Aku tetaplah sekretaris Shin saat disini..." Ujarku padanya.
Aku menjadi diriku sendiri saat aku bekerja dan jika dirumah, aku akan menjadi apa yang kuinginkan. Dikantor aku akan menjadi sekretaris sepenuhnya untuk Seokjin dan dirumah aku akan menggunakan semua kewenanganku.
Ingat Seokjin aku jadi ingin bertanya sesuatu pada Hyejin sunbae.
"Sunbae, sudah berapa lama sunbae menjadi sekretaris Namjoon??" Tanyaku saat ia sudah kembali ke mejanya.
"Aku adalah sekretaris pertama Namjoon. Wae??"
"Sunbae hebat sekali... Aku suka... Aku ingin bertanya tentang pengalamanmu selama menjadi sekretaris Namjoon..."
Hyejin sunbae tertawa lebar dan karenanya aku ikut tertawa juga. Lalu kami kembali sunyi.
"Namjoon adalah orang yang santai namun tekun. Selama aku menjadi sekretarisnya, hubungan kami tak seformal yang kau kira. Kami sangat santai dengan satu sama lain... Seperti waktu kau sakit dan Seokjin menyuruh Namjoon mengurus pekerjaannya, aku secara langsung turun tangan berperan menjadi Namjoon dan dengan santai aku melakukan pekerjaan yang biasanya general manager lakukan bukan sebagai sekretarisnya. Mungkin terdengar biasa... Namun banyak diluar sana yang dimana hubungan antar atasan dan sekretarisnya terlalu formal sehingga saat sang sekretarisnya menggantikannya, ia pun kewalahan walau tak semuanya."
Aku jadi membayangkan jika disuatu hari Seokjin berhalangan dan tidak bisa bekerja seperti biasa dan aku yang ditunjuk menggantikannya. Kurasa aku akan mati kurang lebih sehari jika mengingat pekerjaan nya yang seperti gunung itu. Harus didaki dengan perlahan dan berhati-hati.
"Menjadi seorang sekretaris itu tak mudah kan??" Tanya Hyejin sunbae.
Aku setuju. Pekerjaanmu adalah sebagian hasil dari hasil pekerjaan atasanmu.
"Sunbae... Apa kau pernah merasa menyerah saat melakukan pekerjaan ini?"
Hyejin sunbae berdiam sejenak kemudian tersenyum padaku.
"Rasa lelah atau rasa ingin menyerah itu ada... Namun saat aku melihat Namjoon dengan sifatnya itu. Kurasa aku menikmatinya..." Ujarnya.
"Sunbae... Kau menyukai atasanmu??"
Entah kenapa pertanyaan ini lolos begitu saja dari mulutku.
Hyejin sunbae tertawa.
"Ahaha... Dia tidak memiliki kesalahan padaku, untuk apa aku membencinya."
Hmm... Itu benar, tapi...
"Sunbae... Kau pernah bilang jika hanya Taehyung yang belum pernah tidur denganmu." Kali ini aku berbisik untuk menyampaikannya dan kali ini Hyejin sunbae terbahak mendengar pertanyaanku.
Aku tahu jika pertanyaanku aneh, tapi aku penasaran. Aku tidak tahu kenapa.
"Maafkan aku, benar jika aku pernah bersama dengan suamimu sebelumnya. Itupun karena... Kau bisa tahu sendiri Kim bersaudara aneh itu." Ujar Hyejin sunbae.
Seokjin membenci wanita, namun tak dapat menahan kebutuhan biologisnya. Ia memang aneh...
"Lalu sunbae menerima begitu saja??"
"Seperti yang kau lihat sekarang." Ucapnya.
"Manusia itu berbeda ya..." Ujarku.
Walaupun begitu aku masih kurang mengerti dengan Hyejin sunbae. Tapi,ia benar-benar hebat dalam pekerjaanya dan menangani sifat Namjoon yang seperti itu.lantas bagaimana denganku? Apa aku sudah bisa menangani sifat Seokjin yang temperamen dan posesif itu? Nampaknya belum sepenuhnya, jika mengingat ia sudah menghilangkan dua nyawa selama aku menjadi sekretarisnya.
(Ting!)
[Seokjin : bawakan dokumen yang belum kutandatangani tadi.]
Dengan segera aku meraih sebuah map dan beranjak pergi menuju ruangannya itu.
"Seokjin... Ini dokumen yang kau minta." Ujarku sembari meletakkan benda yang kubawa keatas meja.
"Duduklah." Titahnya.
Akupun duduk disofa dan diam menunggu Seokjin menandatangani dokumen yang kubawa. Awalnya kukira setelah ia selesai, aku akan kembali ketempat ku. Namun, ternyata Seokjin menghampiriku dan duduk dihadapanku sembari melihatku dalam diamnya dan tentu saja, aku sangat bingung akan kelakuannya saat ini. Apa ada yang salah denganku?? Wajahku?? Rambut??
"Kenapa kau tampak pucat??" Tanyanya padaku.
"Aku lupa pakai lipstik..." Jawabku asal.
Apa aku benar-benar pucat saat ini??
"Kau bahkan tak pernah berias."
Aku tahu jika ia meledekku yang jarang terlihat memakai riasan kecuali dikantor. Itupun hanya bedak, lipstik yang berwarna cerah dan maskara. Aku hanya tersenyum hambar menanggapi komentar Seokjin tentangku.
"Baiklah...baiklah..." Ujarku.
"Apa perlu kupanggilkan Jungkook??" Tanyanya lagi.
Eh? Apa sampai segitunya? Kurasa aku baik-baik saja. Hanya saja cukup lelah dan ingin tidur.
"Tidak... Ini kan hari pertama setelah aku cuti, wajar saja jika aku lelah..." Ujarku.
Dan Seokjin benar-benar menyuruh Jungkook datang kekantor untuk memeriksaku. Ya Tuhan, aku rasa aku hanya kelelahan saja. Wajar saja menurutku jika aku merasa cukup lelah setelah sekian lama terbiasa tidak melakukan pekerjaan berat.
Kini, hanya aku dan Jungkook yang ada diruangan Seokjin, sementara sang empunya sedang keluar karena sedang berbincang dengan kolega bisnisnya.
"Bona, apa kau merasa pusing?? Kau sudah makan??" Ujar Jungkook saat memeriksa tekanan darahku.
Aku diam merasakan apa yang sedang tubuhku rasakan.
Adakah pusing?
Adakah rasa sakit atau semacamnya?
Hmmm
"Kurasa sedikit pusing serta lelah bahkan aku seperti orang yang tak bertenaga dan tadi aku sudah makan... Kurasa aku tak apa-apa. Obat yang kamu berikan sudah habis kemarin." Jelasku.
Jungkook tersenyum sembari menyusun kembali peralatannya dan memberiku sebuah benda yang biasa disebut....
Test pack???
"Kita tidak tahu... Tapi tidak ada salahnya jika dicoba." Ujarnya padaku.
Aku menerima benda yang disodorkan itu dengan gugup. Ini benar-benar diluar ekspetasiku, jika itu benar-benar ada didalamku.
"Tapi, Jungkook... Kumohon apapun hasilnya jangan beritahu Seokjin dulu..." Ujarku pelan.
"Kenapa begitu??"
Wajar saja jika bingung.
Aku tersenyum canggung.
"Ssttt... Tolong diam sampai ia tahu dariku sendiri.. jika benar-benar ada..."
Jungkook menghela napasnya dan hanya mengangguk setuju.
setelah jungkook pergi, aku langsung kembali ke meja kerjaku. Saat Seokjin bertanya padaku soal pemeriksaan tadi, aku hanya menjawab tidak ada yang salah dan semua baik-baik saja.
"Bona... Mau ikut beli eskrim di kafe seberang??" Tawar Hyejin sunbae padaku saat aku baru tiba di meja ku.
Terdengar lezat.
"Hmm!! Setuju... Aku beritahu Seokjin dulu." Ujarku Senang, lalu mengetik beberapa pesan untuknya. Entah sempat atau tidak dibacanya itu.
Aku dan Hyejin sunbae pun pergi keluar gedung sebentar untuk membeli eskrim yang tokonya terletak diseberang gedung kami.
(Author side)
(Ting)
Sebuah pesan masuk ke ponsel Seokjin.
[Chagi : aku pergi keluar sebentar bersama Hyejin sunbae untuk membeli eskrim.]
Seokjin hanya tersenyum tipis menanggapi pesan masuk itu, lalu kembali mengerjakan pekerjaannya.
(Flashback)
"Apa yang Jungkook katakan??" Tanya Seokjin saat Jungkook sudah pulang. Wanita itu sedikit tersentak lalu tersenyum pada Seokjin.
"Aku baik-baik saja. Sepertinya kurang asupan gula." Ujar Bona.
Seokjin mengernyit heran padanya.
"Selain itu??"
Bona menggeleng.
"Semua baik-baik saja."
(Flashback off)
"Ia seperti tidak baik-baik saja... Kurang asupan gula ya..." Guman Seokjin.
Sementara itu, Hyejin dan Bona telah tiba di kafe tempat mereka membeli eskrim. Hyejin dan Bona nampak sedang menunggu pesanan sembari melihat-lihat menu-menu yang terpampang didinding kafe.
"Apa yang kau pesan tadi??" Tanya Hyejin.
"Rasa stroberi dan vanila... Bagaimana dengan sunbae??"
"Hmm kalau tidak salah cappucino... Ah iya. Mumpung diluar kantor, ada lagi yang ingin kau cari??" Tanya Hyejin.
Jarang-jarang mereka memiliki waktu luang seperti ini, apa boleh mencari sesuatu lagi??
"Entah mengapa kue beras pedas yang ada di depan terlihat enak..." Ujar Bona sembari menunjuk kedai kecil disamping kafe dengan dagunya. Hyejin pun melihat kearah yang ditunjuk.
"Kau tahu caranya bersenang-senang rupanya...hehe..."
Hyejin memberi dua jempol pada Bona. Begitupun Bona membalasnya juga.
Sementara itu, ditempat yang sama dengan kedua wanita ini ada seseorang yang sedari tadi mencuri pandang dan lebih nampak sedang mengintai mereka berdua dalam diamnya.
"Sunbae, kurasa aku ingin ketoilet dulu..." Ujar Bona seraya memberikan cup eskrimnya pada Hyejin sunbae dan bergegas ketoilet.
"Anak itu pasti sudah menahannya dari tadi." Timpal Hyejin lalu duduk disalah satu kursi yang tersedia.
(Toilet)
Bona masih berdiam dibilik toilet sembari merenungkan barang yang Jungkook berikan padanya tadi. Barang itu masih terbungkus rapi dan belum Bona buka sama sekali, bahkan wanita ini membenturkan pelan kepalanya ke dinding toilet.
(Klek)
"Hummpp!!!!"
Baru saja Bona keluar dari bilik toilet, tiba-tiba saja seseorang menyekap mulutnya dengan sapu tangan dari belakang dan nampaknya sesuatu diberikan pada sapu tangan tersebut hingga membuat Bona langsung tak sadarkan dirinya dan jatuh pingsan didekapan orang misterius itu. Ia Kang Hyujin, dibalik seragam seorang cleaning service nya perlahan ia melepas sapu tangan dan memastikan keadaan Bona yang sudah tak sadarkan diri dan langsung memasukkan tubuh wanita itu kedalam tong besar dan seolah pergi seperti tak ada yang terjadi.
Sementara itu, Hyejin masih menunggu Bona yang sudah cukup lama ia tunggu itu. Merasa lamanya sudah tidak wajar, Hyejin pun menyusul ke toilet dan melihat toilet kosong bahkan ia sampai melihat satu persatu bilik toilet dan tetap sama, orang yang ia cari tak ada dimanapun. Hingga pandangannya teralihkan pada sesuatu benda yang ada didepan salah satu pintu bilik toilet.
Sebuah bolpoin berwarna pink bertuliskan "Bona" dibadan bolpoin itu dan tentu saja Hyejin mengenal benda yang sangat familiar itu. Berbagai pertanyaan terus berputar dikepalanya dan membingunkannya dengan langkah yang harus ia ambil.
Drrrtt....dddrrtttt.....
"Hmm ada apa Hyejin?" Tanya Seokjin saat ada telepon masuk saat ia sedang bekerja.
Mimiknya yang awalnya hanya datar dan dingin seperti biasa langsung tegang dan memerah, sepertinya perkataan Hyeji benar-benar menghantam benaknya.
"Kau tunggu disana!!"
Tanpa mempedulikan pekerjaannya yang belum selesai, Seokjin langsung mengambil langkah cepat dan menghubungi seseorang.
"Yoongi! Lacak keberadaan Bona sekarang juga!!!!" Titah Seokjin sembari berlari keluar kantor untuk menghampiri Hyejin.
Dari wajahnya, sudah jelas jika pria itu sangat frustasi saat ini.
Sementara itu, disuatu tempat yang lebih tepatnya sebuah kamar. Bona tersadar disebuah ranjang besar disebuah kamar yang cukup mewah namun asing baginya itu. Tak ada seorang pun dikamar itu kecuali ia.
(Bona side)
Seingatku aku tadi ditoilet tempat aku membeli eskrim dan sekarang kenapa aku terbangun di sebuah kamar?? Dimana aku?? Siapa yang membawaku kesini??
Tunggu dulu, aku dirantai??? Aku melihat pergelangan kaki kananku dipasung dengan juntaian rantai yang berat. Apa yang terjadi???!
Tes!
Apa ini yang namanya diculik???!!! Apa yang harus kulakukan??!! Ponsel... Ponsel.... Aku merogoh semua saku, tunggu??
Tidak ada???
Kemana ponselku?? Seseorang yang membawaku kesini pasti mengambilnya.
(Krieeett)
Aku terperanjat saat mendengar pintu kamar berderit dan seorang pria yang mengenakan topi dan masker masuk menghampiriku. Ia sangat asing bagiku dan juga agak menakutkan walau ia tak membawa apa-apa ditangannya. Aku bahkan bingung dengan apa yang harus kukatakan pada pria misterius satu ini. Tidak mungkin aku meminta ia melepasku, aku ingin lepas namun nampaknya ia tak akan menurutiku.
"Maaf... Kamu siapa??" Tanyaku pelan.
Walau aku tak dapat melihat matanya, aku tahu jika ia pasti melihatku dan itu menakutkan.
Pria itu tiba-tiba meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Nyonya. Aku mendapatkannya sekarang."
Nyonya?? Siapa?? Apa aku mengenalnya???
Pria itu tiba-tiba mengarahkan ponselnya padaku.
[Lama tidak bertemu nona Shin, apa Kang Hyujin memperlakukanmu dengan baik??]
Suara ini???
"Ny. Lee???"
Suara tawa wanita paruh baya langsung terdengar saat mendengar aku menyebut namanya. Dia Lee Minnah??? Kenapa???
[Aku tidak akan minta maaf padamu, karena seperti yang kau tahu, jika suamimu lah yang membunuh suamiku.]
Tiba-tiba nada bicaranya menjadi serius dan terdengar seperti ancaman bagiku. Aku tahu masalah ini, memang benar Seokjin yang membunuh tuan Lee Sunghyun. Kebenaran itu yang membuatkku langsung merasa khawatir.
"Aniya.... Itu salah.... Seokjin tidak membunuhnya!!!" Sangkalku.
Lebih tepatnya ia adalah otaknya.
Ny. Lee tertawa miris dari ujung sana dan terdengar menyakitkan bagiku.
[Pandai juga kau wanita tak tahu diri... Bagaimana kau bisa berkata demikian tentang suamimu yang memang telah menghilangkan nyawa banyak orang??]
Aku terdiam... Bagaimana bisa aku menyangkalnya???
"Lantas apa yang anda inginkan???!!!" Ujarku tak sabaran.
[Apa kau tak bisa berpikir??? Ada istilah mata dibayar mata, gigi dibayar gigi.]
Aniya.... Jangan tentang nyawa lagi kumohon...
"Kumohon... Ny. Lee. Jangan Seokjin kumohon...."
[Hahaha.... Lantas kau yang akan menggantikannya??? Itu sangat tak sebanding...]
(Bip)
Ny. Lee memutuskan telepon begitu saja. Tidak, ini tidak boleh terjadi...
"Tuan.... Kumohon... Jangan ganggu Seokjin... Kumohon...." Rengekku pada pria yang ny. Lee panggil Hyujin itu. Pria itu tak meresponku dan memilih diam.
Kulihat Hyujin hanya menunduk sembari memperbaiki posisi topinya sehingga membuatku semakin sulit melihat wajahnya.
(Grep)
Tanpa kuduga Kang Hyujin meraih kedua tanganku dan menarik mereka kebelakang untuk diborgol, tentu saja aku tidak terima dan menggunakan kakiku untuk menendangnya hingga terdorong cukup jauh. Dapat kurasa jika Kang Hyujin kesal dan kembali mendekatiku dan berusaha memborgol sebelah tanganku kembali dengan paksaan.
"YAAAAA!!!!!!!" Teriakku tepat ditelinganya saat ia mencoba menarik paksa tanganku.
(Pllaakkk)
Seketika kepalaku terasa pusing dan telingaku berdengung saat telapak tangan besarnya menampar keras pipiku.
"Hhhhaaaahhhh........" Rintihku. Aku yakin jika pipiku pasti sangat merah sekarang, bahkan mungkin terluka dan berdarah.
Kang Hyujin kembali meraih tanganku dan memborgol mereka dibelakang.
"Jika ingin terus hidup jangan memberontak seperti tadi... Kami sama sekali tidak ingin menyakitimu." Ujarnya padaku.
Tidak ingin menyakitiku?? Lantas apa tujuan ia menculikku seperti ini???
"Kau sama sekali bukan incaran kami. Namun kau adalah umpan yang berharga." Lanjutnya.
Ini sudah jelas, mereka hanya mengincar Seokjin dan menjadikanku umpan untuk memancing Seokjin untuk datang.
"Dia tidak akan datang." Ujarku.
Hyujin langsung menatapku dan aku memilih untuk menatap dinding kamar yang bercat putih itu. Mengingat segalanya membuatku tersenyum miring, apa yang mereka pikirkan?? Menculikku hanya untuk memancing Seokjin datang?? Aku saja tidak yakin apa ia akan datang. Perlahan aku menatap Hyujin yang masih berdiri disamping ranjang.
"Ia tidak akan memakan umpannya..."
(Plakkk!!!)
Aku ditampar lagi dan rasanya sama saja menyakitkan dan menyebalkan, jika saja tangan dan kakiku bebas bergerak sudah kutendang dan kuhancurkan 'masa depannya' itu. Apa dia tidak pernah merasa di tampar dua kali oleh wanita???
"Ck. Banyak bicara..." Ujar Hyujin lalu pergi dan mengunciku dikamar misterius ini.
"YA!!! DASAR GILA!!!" Teriakku saat ia berjalan pergi.
Ck. Rantai dan borgol ini juga menyebalkan. Aku melihat pergelangan kaki kananku yang dirantai dan diberi pemberat besi itu, kasihannya kakiku... Ini aneh, jika penculikan biasa akan diikat dikursi atau semacamnya dengan tali. Tapi kenapa versiku harus dirantai???!!!
"Aku lapar~~~"
Sial. Sial. Sial!!!! Kenapa aku harus mengalami hal seperti ini???!!! Mereka kira Seokjin itu bisa mudah memakan umpan hanya karena aku diculik seperti ini?? Sudah berapa sekretarisnya yang ia tidak pedulikan??? Mereka pasti tidak mengetahui itu. Sudah pasti Seokjin akan memperlakukanku sama seperti sekretarisnya yang dulu, aku ini bukan siapa-siapa dan tak ada artinya baginya.
Lalu, apa artinya cincin yang ada dijari manis kiriku saat ini??
Tidak. Aku tidak seharusnya berpikir seperti itu tentang Seokjin... Aku harap ia melakukan sesuatu diluar sana untuk datang padaku.
"Aku lapar....."
(Author side)
Bona hanya duduk merenungi segala yang ia pikirkan dengan menatap gorden kamar tempat ia berada, antara harus pasrah dan diam saja atau berharap sesuatu yang luar biasa baik datang padanya. Ia bingung saat ini dan ingin menangis tapi dirasa percuma, suara tangisannya tak sekeras pengeras suara dan hanya akan menyakiti dirinya sendiri.
(Sementara itu)
[Aku tidak begitu yakin. Tapi dari jejak ponsel Bona, mereka disekitar hotel K didaerah Incheon.]
Bip
Setelah mendengar laporan dari Yoongi, Seokjin langsung mematikan sambungan teleponnya dan kembali fokus melaju dijalanan. Kegusaran tentu menyerang benaknya berkali-kali, jangan sampai kali ini ia akan kehilangan lagi.
(Seokjin side)
Aku terus menginjak pedal gas mobilku untuk melaju dijalanan sore yang sudah mulai padat ini. Benar-benar sialan wanita itu, beraninya membawa Bona kedalam masalah ini. Dia benar-benar ingin aku yang mencekiknya sampai mati rupanya. Lihat saja, jika ia membuat lecet pada wanitaku tentu saja ia menggali kuburnya sendiri.
"AAARRGGGHHHH.... WANITA SIALAN ITU!!!"
(ddddrrrtt.....)
Seketika ada pesan masuk kedalam ponselku.
[(Plakkk!!!) "Hhhhaaaahhhh!!!!"]
[(Plakkk!!!) "Ck. Banyak bicara kau."]
Emosiku langsung tersulut begitu melihat sebuah video yang dikirimkan padaku merupakan hal yang tak ingin aku lihat sama sekali.
Beraninya mereka memperlakukan milikku seperti itu, sementara aku sama sekali tak pernah menamparnya seperti itu.
Manusia sampah itu...
(Author side)
Kembali lagi di kamar tempat Bona berada, Kira-kira sudah 4 jam ia berada dikamar itu. Tanpa seseorang yang menemani, tanpa ada sesuatu yang harus dilakukan, bahkan untuk penerangan hanya mengandalkan terang bulan yang menembus melalui gorden putih dikamar itu.
"Dari pada korban diculik, ini lebih nampak seperti orang gila yang dipasung." Sungut Bona sembari memandang pasrah jendela besar yang ada dikamar itu.
(Klek)
Kang Hyujin masuk dan menghampiri Bona yang memang sengaja tak ingin melihat orang yang sudah menamparnya dua kali itu.
"Nampaknya kau tidak ada rasa takut." Ujar Hyujin.
Bona masih diam memandang gorden putih dihadapannya yang nampak bercahaya karena sinar bulan.
"Apa aku harus menampakkan rasa takutku padamu??" Tanya Bona sembari menatap kosong pada Hyujin.
"Lebih baik kau lepaskan aku karena aku lapar..."
(Plak)
Tanpa pikir panjang Hyujin langsung menampar mulut Bona dengan sapu tangannya.
"Berani sekali kau."
Bona terdiam. Rasa perihnya bertambah lagi. Wanita itu sudah terlalu kesal, karena rasa lapar dan juga karena karakter Hyujin yang sangat ia tidak sukai itu. Tapi apa daya, tangannya bahkan tak bisa leluasa bergerak dan kakinya terlalu berat untuk diangkat.
Wanita yang sudah sangat lusuh itu bahkan tak dapat merasakan lagi jika air matanya keluar dan tubuhnya bergetar ketakutan serta kelaparan. Terlebih dugaan Jungkook tentang sesuatu didalamnya membuat Bona semakin khawatir dengan keadaannya saat di tes.
(Beberapa jam sebelum diculik)
Bona masih mengetuk kepalanya pada dinding bilik toilet dengan tidak elitnya, dirasa cukup ia menunggu, Bona menarik stik itu dan melihat dua garis terpampang pada stik kecil itu. Bagai terombang ambing oleh kenyataan, Bona bingung harus senang atau apa dan segera menghubungi Jungkook.
[Nee, bagaimana??]
Bona bingung bagaimana ia menyampaikannya.
"Ada dua garis, apa artinya itu??" Tanya Bona bingung.
[Berarti dugaanku benar. Kau harus lebih memperhatikan kesehatanmu mulai sekarang. Kupikir itu baru satu minggu.]
(Flashback off)
Hyujin terus memperhatikan korbannya itu yang menangis tiba-tiba. Bona terus terisak mengingat keadaannya yang seperti ini, ia bisa menjadi ibu yang paling buruk jika ia tak bisa melakukan sesuatu saat ini, namun apa yang harus ia lakukan?? Tangan dan kakinya tak sebebas pikirannya. Apa ia harus menunggu?? Seokjin bahkan mungkin tak mengetahui keberadaannya saat ini.
(Sementara itu)
Seokjin memberhentikan mobilnya didepan sebuah hotel besar dan bergegas masuk kedalam hotel untuk mencari Bona.
Dikamar tempat Bona berada, nampaknya Hyujin kembali membuat Bona pingsan dan bergegas melepas rantai dikakinya lalu ditaruh wanita itu dibahunya dan dibawa pergi tubuh Bona yang sedang tak sadarkan diri itu.
Seokjin terus berlari menyusuri lorong hotel yang sepi setelah Yoongi memberitahu jika ponsel Hyujin di lantai 22 dan tibalah Seokjin dilantai 22. Kosong dan sepi, Seokjin nampak kebingungan. Dimanakah Bona berada?? Haruskah ia memeriksa satu persatu kamar yang ada?? Namun matanya sedikit melirik adanya pergerakan mencurigakan dibelakangnya. Sekelebat bayangan hitam berlalu begitu saja masuk ketangga darurat. Naluri Seokjin membawa langkahnya mengikuti bayangan hitam itu dan benar, seseorang mencurigakan menuruni tangga dengan terburu-buru dan membawa Bona dipundaknya.
Seokjin tak akan melepasnya.
Hyujin semakin mempercepat langkahnya karena menyadari targetnya sudah memakan umpan dan membawa Bona kedalam mobilnya dan segera melaju.
"YAAA!!!! SIALAN KAU!!!!" Teriak Seokjin pada mobil yang membawa Bona itu pergi. Sungguh sial memang. Hampir saja ia menangkap Bona yang sudah didepan mata lalu lepas begitu saja.
(Bbbbrrrmm.....)
"Hyung!!" Tiba-tiba Yoongi dengan mobilnya datang dari arah belakang dan berhenti tepat disamping Seokjin.
Tanpa pikir panjang Seokjin langsung masuk dan Yoongi langsung melajukan mobilnya menyusul Hyujin yang belum terlalu jauh.
Pengejaran mereka membawa mereka ke pelabuhan tempat dimana mereka menghilangkan nyawa Lee Sunghyun. Ini sudah jelas bagi Seokjin, jika Lee Minah akan melakukan pembalasan dendamnya.
Yoongi langsung memberhentikan mobilnya saat melihat tubuh Bona sudah diletakkan begitu saja tanah beberapa meter dari mobil Seokjin dan Yoongi. Tentu saja Seokjin tak ingin berdiam diri saja dan ingin keluar dari mobil sementara Yoongi menahan dirinya.
"KAU TIDAK LIHAT IA DISANA?!!!" Tanya Seokjin frustasi.
Yoongi tahu jika itu tubuh Bona. Namun, bukan saatnya untuk bertindak terlalu gegabah saat ini.
"Kau ingin membahayakan dirimu???!!" Tanya Yoongi.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi saat Seokjin keluar dari mobilnya.
Kesabaran Seokjin semakin teruji saat beberapa mobil keluar dari sudut kontainer dan siap menabrak Bona yang tak sadarkan diri itu.
"Kotor juga mereka..." Gerutu Yoongi.
Sementara ditengah keadaan yang menegangkan ini, Bona sedikit tersadar. Ia menatap bingung sekelilingnya. Kali ini tubuhnya benar-benar terikat. Samar-samar ia merasa jika seseorang yang ia tunggu ada jauh menatapnya.
(Seokjin????) -Bona)
"Semua tergantung keputusanmu nyonya..." Ujar Hyujin pada Lee Minnah yang ada bersamanya disalah satu mobil saat ini.
Lee Minnah memperhatikan tubuh Bona yang tergeletak tepat beberapa meter didepan mobilnya lalu melihat mobil yang Seokjin kendarai itu.
(KEPOLISIAN CABANG METROPOLITAN SEOUL)
"Seseorang melaporkan bahwa ada kekacauan di pelabuhan Incheon!! Nampaknya perkelahian gangster!!" Ujar salah satu anggota tim Seungdong.
"Ayo berangkat!!!!!" Ujar Seungdong.
Tim Seungdong pun berangkat menuju lokasi. Begitupula Myeongsoo.
To Be Continue...