The Secret Of My Boss [Soft]

The Secret Of My Boss [Soft]
Summer Meeting



(Author side)


"Akhirnya tiba juga di Maldives.." Ujar Hyejin pada Bona yang nampak masih mengantuk disampingnya.


Seokjin, Namjoon dan Taehyung beserta sekretaris masing-masing baru tiba di Maldives. Tempat Summer Meeting Bighit corp tahun ini.


Kemarin Bona sangat tidak berharap bisa ikut, namun percuma. Ikatan nya dengan Seokjin yang membuatnya harus ikut perjalan bisnis ini. Belasan jam Seoul-Male membuat gadis ini sedikit mabuk karena masuk angin.


"Ini ternyata rupa Maldives.." ujar Bona blank pada pemandangan samudra jernih dihadapan nya. Pemandangan yang memanjakan hati namun memusingkan bagi Bona.


"Hyejin, apa Bona tidak apa-apa?? Wajahnya pucat." Tanya Namjoon pada Hyejin saat melihat Bona yang sedang mengkonfirmasi pesanan kamar di resort. Seokjin nampak acuh dan lebih memilih memandang ponselnya.


"Dia hanya mabuk udara dilanjutkan mabuk laut." Jelas Hyejin.


"Terdengar mengerikan, jun, apa kau membawa semacam obat??" Tanya Taehyung pada sekretaris nya yang bernama Wen Junhui (ia berasal dari China)


"Maaf tuan, saya tidak membawa kotak obat." Ujar pria muda sekretaris Taehyung itu.


"Tumben sekali kau Tae..." Goda Namjoon. Taehyung hanya menyikut hyung kedua nya itu.


"Dia gadis kuat... Nanti juga sembuh." Sambut Seokjin acuh.


Namjoon dan Hyejin hanya menyengir satu sama lain. Sementara Taehyung kembali diam.


(Bona kau kuat sekali... -Namjoon/Hyejin)


Tak lama Bona datang sembari membawa 3 kunci kamar.


"Mr. Kim, ini kunci kamar anda dan Manajer Kim. Dan ini milik anda direktur Kim" Bona memberikan salah satu kunci kamar pada Seokjin dan pada Taehyung.


"Oke. Terima kasih Bona. Ayo Jun." Taehyung dan Junhui pergi.


"Siapa yang bilang jika aku akan sekamar dengan Namjoon??" Tanya Seokjin sembari menatap pada Bona dan gadis itu menatap bingung pada Seokjin. ???


"Jadi saya harus memesan kamar lagi??"


Namjoon dan Hyejin hanya tersenyum tipis.


"Berikan padaku kunci mu hyung. Ayo Hyejin... Waktu kita tak banyak."


Namjoon langsung menyambar kunci kamar resort dari Seokjin dan langsung pergi.


"Kami permisi dulu." Ujar Hyejin lalu menyusul Namjoon.


Bona menatap kepergian Namjoon dan Hyejin dengan tatapan Blank nya. Kepala nya cukup pusing memahami yang ada.


"Ayo. Kita harus segera berkemas karena rapat akan dimulai nanti malam."


(Jangan banyak bertanya lagi Bona... Jelas-jelas kau sekamar dengan nya. -Bona)


Bona langsung menyusul langkah Seokjin sembari menyeret koper miliknya dan Seokjin. Tidak mengherankan, Hyejin juga membawa barang-barang Namjoon. Pikir Bona.


(Klek)


Bona membuka pintu kamar yang akan ditempati oleh Bona dan Seokjin selama berada di Maldives. Daripada sebuah kamar, tempat ini lebih seperti rumah karena bentuknya terpisah dan berada di atas air laut. Bona menyebutnya...


"Kamar ini mengapung..." Ujar Bona kagum.


Kamar high class ini bahkan dilengkapi kolam renang kecil yang langsung menghadap kearah laut. Hanya satu kekurangan dari kamar mewah ini...


(Kenapa hanya ada satu tempat tidur....??? -Bona)


Setelah melihat-lihat kamar dan membenahi barang-barang, Bona langsung melempar diri ke sofa yang ada diruangan itu karena kepala nya kembali pusing setelah melihat ombak yang menabrak tiang pondasi kamar.


(Rasanya ingin pulang... -Bona)


Bruk


Tiba-tiba Seokjin meraih kepala Bona dan meletakkan kepala Bona kepangkuannya sembari menatap wanita itu.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Seokjin.


"Kepala ku pusing. Saya mudah sekali mabuk laut." Jawab Bona. Seokjin nampak melihat arloji ditanganya lalu kembali menatap Bona.


"Masih ada waktu 4 jam karena acara nya dimulai jam 6 sore nanti. Kau boleh istirahat." Ujar Seokjin.


"Anda juga... Istirahatlah."


"Kau tidak punya hak memerintahku." Bona terkekeh geli.


"Baiklah... Lalu kenapa anda seperti ini???" Tanya Bona.


"Karena aku ingin." Jawab Seokjin enteng.


"Saya penasaran... Apa saja yang anda lakukan dengan Sekretaris anda sebelumnya??" Tanya Bona penasaran.


"Ya... Mereka harus mematuhi perintahku."


"Lalu, kenapa anda membenci mereka??" Bona tak akan bosan bertanya tentang hal ini.


"Temukan jawabannya sendiri." Jawab Seokjin acuh.


"Saya tahu kenapa."


"Kenapa?"


"Karena adanya 'ketakutan' yang selalu mengusik benak anda." Bona menunjuk dada Seokjin.


"Sejak kapan kau pandai berbicara seperti ini..."


"Sejak kemarin." Jawab Bona. Seokjin nampak tersenyum dan itu sangat tampan dimata Bona. Senang rasanya bisa akrab dengan atasan. Pikir Bona.


(Sementara itu)


@kamar Namjoon dan Hyejin.


"Ahh.. aku kasihan dengan Bona..." Ujar Hyejin pada Namjoon yang sedang membaca buku di atas ranjang. Hyejin baru selesai membereskan barang-barang mereka.


"Hehehe... Bona kan selalu bisa mengatasi segala sesuatu." Sambut Namjoon.


"Kau benar... Hanya saja kasihan saat Seokjin benar-benar menekannya." Ujar Hyejin sembari duduk dipinggiran ranjang.


Gyut.


Namjoon langsung memeluk sekretarisnya itu dari belakang sembari mulai menyesap aroma tubuh wanita itu.


"Seokjin hyung tidak sepenuhnya kejam... Saat ini pasti sedang memanjakan Bona... Nee, Hyejin-ah.. bagaimana jika beberapa ronde dulu sebelum rapat??" Bisik Namjoon.


"Justru orang ini yang menekanku..." Ujar Hyejin lalu memutar tubuhnya menghadap Namjoon dan mencium bibir pria itu.


(Kembali ke Kamar Bona)


Bona nampak mengerjapkan matanya saat merasa rasa kantuk dan pusing nya mereda. Namun, ia masih malas untuk bangun karena tubuhnya masih ingin menempel di kasur empuk itu. Wanita itu memilih memandang punggung seorang pria yang berbaring disebelahnya, siapa lagi jika bukan Seokjin.


Walau jantung berdetak tak karuan, Bona berusaha menahan senyumnya saat memandang punggung Seokjin. Padahal hanya punggung, Bona.


Srek


Seokjin membalikkan tubuhnya kehadapan Bona dan ia masih terpejam dengan lelap dan itu wajah Seokjin yang sangat Bona suka. Wajah polos saat tidur nyenyak.


(Sayang sekali, aku dilarang menyukai pria ini. -Bona)


Menurut penggambaran Bona, Seokjin itu Tampan dan baik jika dilihat dari segi caranya memperlakukan adik-adiknya.


"Kenapa?? Apa ada yang aneh dengan wajah ku??" Rupanya tatapan Bona dapat Seokjin rasakan didunia mimpi. Bona hanya tersenyum seperti biasa.


"Saya hanya melihat jam dinding di belakang anda." Jawab Bona setengah benar.


"Masih 2 jam sebelum pertemuan. Anda harus segera bersiap." Ujar Bona lalu bangkit dan beranjak dari kasur. Menyusul Bona, pria itu juga bangun dari tidur siangnya dan melangkah menuju kamar mandi.


Selama Seokjin di kamar mandi, Bona hanya menyiapkan setelan jas untuk Seokjin dan membereskan kamar. Tak lama, Seokjin pun keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk menutupi bagian bawah saja.


(Heol! Demi lumba-lumba air asin, tak kusangka pria ini memiliki tubuh bagus. Padahal jarang olahraga. -Bona)


Cukup sekilas melihatnya Bona, karena tak baik untuk lama-lama dilihat.


"Mana pakaianku??"


Seokjin menghampiri Bona yang Sedang merapikan ranjang.


"Itu di sofa." Jawab Bona sembari menunjuk objek yang dimaksud. Seokjin pun menghampiri pakaian yang telah disiapkan Bona.


Merasa tidak ada yang dikerjakan lagi, Bona pun pergi mandi.


Segar.


(Klek)


Bona tak menghabiskan waktu terlalu banyak untuk membersihkan tubuhnya, karena mengingat waktu tak banyak. Wanita itu sudah dengan setelan kemeja formal dan rok span hitam panjangnya saat keluar dari kamar mandi hanya saja riasan wajah yang belum.


"Baru pertama kali aku melihat kau memakai rok panjang..." Komentar Seokjin. Karena biasanya Bona memakai celana atau rok selutut.


"Karena jarang dipakai, makanya anda baru pertama melihatnya." Jelas Bona. Seokjin kembali diam.


"Kau cocok dengan itu."


"Terima kasih Seokjin.." ujar Bona senang.


"Hehe... Tumben sekali..." Sambung Bona lagi sembari mulai merias wajahnya dan Seokjin hanya memandang Bona yang sedang berdandan itu.


Malamnya....


Semua rapat berjalan lancar dan menyenangkan. Ini dikarenakan kekeluargaan yang ada. Selama rapat Bona sibuk bersama Seokjin mempersiapkan bahan-bahan rapat milik Seokjin, walau ditengah kesibukan itu Bona sedikit terngganggu dengan kehadiran Min Yoongi yang selalu disekitar Seokjin. Walaupun begitu, Bona dapat mengenal teman baru selain Hyejin sunbae. Bona berkenalan dengan Jun sekretaris Taehyung yang keren, semakin akrab dengan Jimin sekretaris Yoongi, anehnya dengan atasan Jimin, Bona tak begitu suka. Malah merasa terancam.


Setelah rapat, ternyata ada jamuan makan. Namun, Bona tak bisa menikmati makan sepuasnya karena harus selalu ada di dekat atasan nya Seokjin yang selalu berbincang dengan saudara-saudara nya. Malah sempat berbicara dengan Yoongi namun tak lama dan kini dengan seorang dokter muda dan tampan bernama Jeon Jungkook dan CEO dari sebuah label rekaman dibawah naungan Bighit corp Jung Hoseok, Seokjin berbincang.


"Hyung, aku baru melihatnya... Apa dia baru??" Tanya Hoseok pada Seokjin.


"Sudah sebulan lebih ia bekerja untuk ku." Jawab Seokjin.


"Dia mirip karena dia adiknya Yongsun."


"Benarkah???!!! Aku adalah penggemarnya sewaktu kuliah..." Rasanya tawa Bona ingin meledak saat Jungkook mengatakan hal konyol itu.


(Eonni, aku tak dapat mempercayai ini. -Bona)


"Eoh... Eonni sekarang berkerja si Daegu." Ujar Bona.


"Sampaikan salam ku padanya ya... Yongsun noona satu-satu nya psikolog yang bisa mengontrol Seokjin hyung..." Jelas Jungkook.


"Jungkook adalah fan berat Yongsun sewaktu ia kuliah. Ia sangat mengejar Yongsun kala itu." Sambut Hoseok dan Jungkook terlihat tersenyum malu.


"Itu karena kami berteman." Jelas Seokjin. Bona hanya mencoba memahami saja. Karena eonni adalah eonni dan Bona adalah Bona.


"Bona, kau terlihat biasa saja malam ini." Tiba-tiba Yoongi muncul dan bergabung kedalam pembicaraan antara Seokjin dan Jungkook dengan membawa topik yang aneh.


(Pria ini.... -Bona)


"Eoh Yoongi hyung... Kau semakin tampan saja... Bagaimana kabar kelompok mu??" Jungkook berusaha mengalihkan arah pembicaraan.


"Oh, seperti biasa... Selalu sukses dari kejaran polisi. Maafkan aku, tapi aku sangat ingin berbicara dengan Bona saat ini." Ujar Yoongi pada Seokjin. Pria bernama Kim Seokjin itu menatap Yoongi bingung.


"Apa urusan mu dengannya belum selesai??" Tanya Seokjin pada Bona dengan polos nya wanita itu menggeleng.


"Saya tak ada urusan dengan tuan Min." Ujar Bona. Mendengar jawaban Bona, pemimpin gangster itu hanya tertawa.


"Aku hanya bercanda... Aku hanya iri pada Seokjin hyung yang sekamar dengan mu..." Ujar Yoongi.


"Bukankah Jimin juga sekamar dengan anda??" Tanya Bona sembari melihat Jimin yang ada di sebelah Yoongi. Jungkook dan Seokjin nampak mengulum senyum.


"Pemikiran mu transparan sekali... Itu terdengar menyebalkan nona Shin." Cibir Yoongi.


"Maafkan saya Tuan Min." Bona menunduk minta maaf.


"Kalau begitu, hyung.... Aku pergi dulu.. sampai bertemu besok. Besok, pakailah bikini Bona, agar Yoongi hyung muntah darah dikolam besok." Ucapan Jungkook hanya direspon senyum oleh Bona.


"Bocah itu belum merasakan rasanya di bakar hidup-hidup." Ujar Yoongi.


Seokjin bahkan terkekeh mendengar celotehan Yoongi. Begitu pula Bona dan Jimin, tertawa dalam diam.


Acara malam ini selesai dan masih akan berlanjut besok sebagai rapat utamanya. Bona rasa ini lah titik terlelah nya, karena wanita itu baru saja merasa lebih baik dari mabuknya lalu disambut oleh angin malam pantai yang sangat kencang dan dingin hingga membuat kepala nya kembali pusing. Bona segera pergi kekamar setelah acara selesai dan meninggalkan Seokjin yang masih mengobrol dengan saudara-saudaranya.


Setelah berganti baju, rasanya Bona ingin menghempaskan rasa lelahnya di atas kasur empuk itu. Pemikiran itu akan dilakukannya jika saja ranjang dikamar itu ada dua bukan satu. Karena ia berpikir, tidak mungkin ia tidur seranjang dengan Seokjin malam ini. Walau sudah dilakukan tadi siang, tapi tetap saja Bona merasa tidak nyaman dengan Seokjin yang notabene nya adalah atasannya.


Akhirnya Bona memutuskan meminta selimut pada resepsionis agar ia dapat tidur disofa dan melepas segala lelahnya.


(Ting tong)


"Sepertinya petugas pengantar selimut~~" Bona pun pergi membuka pintu


(Klek)


"Excuse me, this is your blanket miss Bona... anything else??"


"Thank you... Eum nothing..."


"Good night and enjoy your place."


Setelah mengambil selimutnya, Bona menutup pintu kamarnya kembali namun tertahankan karena melihat Seokjin yang baru saja tiba.


(Bona side)


Setelah petugas memberikan ku selimut, aku mengira aku akan segera tidur. Nyatanya tidak, karena Seokjin baru saja datang.


"Kenapa kau memesan selimut lagi??" Tanya Seokjin padaku saat ia sudah masuk kedalam kamar.


"Karena satu selimut tidak cukup. Aku akan tidur disofa malam ini..." Sepertinya pria ini tak menyukai jawaban ku barusan. Ia terus menatapku lurus. Bisa-bisa aku mengecil karena terus kau tatap seperti itu Kim Seokjin.


"Lepaskan dasiku." Titahnya. Aku pun menghampiri Seokjin dan langsung melepas dasi berwarna hitam yang melingkar di kerah kemeja putih Seokjin.


Grep.


Geli.


Saat sedang melepas dasi seokjin, pria ini malah memegang pinggangku dan jangan lupa tatapan lurusnya itu padaku.


Akupun selesai dengan tugasku dan menatap Seokjin bingung.


"Ada apa?" Tanya ku. Kebiasaan. Ia hanya diam dan menatapku dalam diamnya.


"Cium aku." Titahnya lagi.


Aku hanya mengeryitkan dahi ku heran. Apa yang ada dipikiran orang ini sih???


"Kubilang cium aku." Ucapnya sekali lagi penuh penekanan sembari menepis jarak diantara kami.


Deg


Deg


Deg


Deg


Cup


Aku mengecup bibirnya dan lagi-lagi jantung ku berdetak tidak karuan saat bibir lembut itu kusentuh.


Seokjin masih menatapku.


"Lagi."


Apa??


"Maaf Seokjin saya tidak bisa... Akh!!" Pria ini langsung mencengkram keras pinggangku saat kubilang tidak bisa. Ada apa dengannya???


"Kubilang lagi Shin Bona." Ujar Seokjin padaku dengan penuh tuntutan di setiap katanya.


Ini benar-benar membingungkan. Satu sisi berkata jika ini berbahaya dan disatu sisi lain aku kecanduan bibirmu Seokjin.


Cup


Kurasa cukup.


"Lagi." Pria ini gila.


"Jangan berniat untuk lepas dariku Bona." Seokjin benar-benar mengunci pergerakan ku hanya dengan kedua lengannya itu dan selalu dengan tatapan datarnya itu.


Baiklah.


Persetan dengan apapun.


Aku langsung merangkul tengkuk pria ini dan meletakkan bibirku pada miliknya.


Tak peduli dengan pikiran Seokjin, aku melakukannya karena aku ingin.


"Hemmmmpp..."


Seokjin mendekapku dan ******* bibirku lembut. Rasanya akal sehat ku habis hingga aku membalas lumatan lembut nan manis nya itu. Seakan tak ingin saling melepaskan, kami berdua benar-benar memegang erat satu sama lain hingga keseimbangan kami jatuhkan pada kasur tanpa melepas tautan bibir kami.


"Kkkkhhhh..." Kami pun melepas tautan kami untuk mengambil oksigen yang telah menipis di paru-paru.


Tatapan Seokjin kini lebih lembut padaku. Sangat berbeda dengan tatapan datarnya, ia terlihat lembut saat ini. Perasaan ku seolah bergejolak senang saat melihat tatapan nya.


Posisi Seokjin yang diatas ku benar-benar mengunci pandanganku, seolah aku hanya boleh menikmati wajah tampan nya saja.


"Sudah puas Seokjin???" Tanya ku. Kurasa pertanyaan ku yang bodoh.


"Aku ingin lagi." Ujarnya namun aku tahan bibirnya menggunakan tanganku. Seokjin menatap ku heran.


"Maaf Seokjin... Saya tidak bisa melanjutkannya..."


Seokjin meraih tangan ku yang menutup mulutnya dan tersenyum padaku. Aku jadi mengingat senyum ramah misteriusnya saat pertama bertemu.


(Author side)


Bona mencegah Seokjin mencium nya lagi dengan menutup bibir Seokjin dengan mengenakan telapak tangannya. Bukannya berlaku kasar, Seokjin justru hanya meraih tangan Bona yang menutupi mulutnya dan tersenyum pada wanita itu.


(Tahan dirimu Seokjin.... -Seokjin)


"Istirahatlah... Aku tak mengijinkan mu tidur disofa." Ucap Seokjin lalu mengecup bibir Bona sebentar setelah itu baru bangkit berdiri ke kamar mandi untuk berganti baju.


Deg


Deg


Deg


Deg


(Jantung... Kumohon... -Bona)


Bona nampak meringkuk diatas kasur sembari meremas letak jantungnya berharap detakan alat pemompa darah itu dapat tenang, namun nihil bukannya semakin tenang, posisi Bona malah terlihat aneh dimata Seokjin yang baru keluar dari kamar mandi.


"Kenapa posisimu seperti posisi udang yang sudah direbus??" Tanya Seokjin heran. Bona langsung melihat Seokjin yang masih berdiri di sebelah ranjang dengan cengiran khas nya.


"Hehehe... Hanya nyaman saja jika seperti ini..." Jawab Bona.


Seokjin hanya ber "oh" ria dan langsung mengambil posisi di sebelah Bona.


"Selamat malam." Ujar Seokjin lalu memejamkan matanya.


"Selamat malam."


To Be Continue....💗