![The Secret Of My Boss [Soft]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-secret-of-my-boss--soft-.webp)
(Author side)
(Esoknya)
Kira-kira sudah 20 menit Hyejin melihat Bona sibuk dengan lamunannya. Entah apa yang sedang hoobae nya itu pikirkan hingga dering ponselnya sama sekali tak dihiraukan.
Dddrrrrtt....ddrrtt....
"Ya, Bona. Ponsel mu berdering." Tegur Hyejin. Wanita itu bahkan sedikit tersentak.
"Eoh?? Iya... Halo??" Bona langsung mengangkat telepon itu.
........................................................................
Klek
"Seokjin, ini dokumen yang kau minta..." Ketika masuk ruangan Seokjin, Bona langsung memberikan sebuah dokumen pada Seokjin.
"Tumben sekali kau meminta berkas yang sudah lama?? Ada masalah??" Tanya Bona sembari membereskan sisa kopi Seokjin.
"Aku ingin memeriksa kesalahan itu. Dan juga lama sekali kau mengangkat telepon ku??" Tanya Seokjin.
"Maafkan aku. Lanjutkan saja pekerjaan mu." Jawab Bona lalu pergi dari ruangan Seokjin begitu saja.
Blam
"Biasanya ia meninggalkan senyuman." Ujar Seokjin sembari kembali memeriksa dokumen yang Bona berikan.
Laporan pengeluaran. Begitulah tertulis di lembar pertama.
Knock knock
Klek
"Seokjin... Sedang apa kau sekarang??" Tiba-tiba saja Yoongi datang dan masuk begitu saja dengan wajah kalutnya. Setidaknya pria tofu ini ada mengetuk pintu.
"Sedang bekerja. Kenapa??" Tanya Seokjin.
Brak
Yoongi melempar sebuah dokumen keatas meja Seokjin.
"Sejauh ini, itu perkembangan yang aku dapatkan."
Seokjin langsung meraih sebuah stopmap folio itu dan membuka nya.
"Disini tertulis jika Lee Sunghyun melakukan kegiatan transaksi sebesar 100 juta Won perihal bahan tekstil itu. Dan aku membayar nya sebesar 150 juta Won setelah bersepakat membeli harga asli diluar bea cukai." Ujar Seokjin.
"Walau tidak besar, namun Lee Sunghyun melanggar perjanjian." Sambut Yoongi. Seokjin menarik senyum nya.
"Aku tau itu... 50 juta Won bukanlah apa-apa, namun kepercayaan itu yang menjadi masalah. Bagaimana jika besok aku bertemu dengan nya??" Tanya Seokjin. Yoongi menatap Seokjin sedikit kaget.
"Jika kau bertemu dengan Lee Sunghyun, otomatis kau akan bertemu dia." Ujar Yoongi.
Seokjin mengangguk setuju akan ucapan Yoongi. Tentu saja ia akan bertemu "wanita itu".
"Memang itu yang kuinginkan."
"Lalu, bagaimana dengan Bona??" Tanya Yoongi.
"Ah... Kau benar, aku akan mengurusnya." Jawab Seokjin sembari mengutak kembali laptop hitam kesayangan.
(Disuatu tempat)
Ruangan yang penuh dengan buku-buku ini, lebih pas disebut ruang membaca dan sangat pas untuk bersantai bagi seorang Lee Minah. Wanita paruh baya itu sedang membaca buku sambil minum teh hangat dengan tenang, hingga seorang pria muda datang dengan mengenakan setelan has hitam lengkap serta menggunakan masker hitam menghampirinya.
"Nyonya, seperti perintah anda. Saya sudah mulai meneror Shin Bona." Ujar pria muda itu tiba-tiba. Lee Minah masih tenang membaca buku dan hanya tersenyum sedikit.
"Hmm. Lanjutkan tugas mu, buat dia berpisah dengan Seokjin dan hancurkan secara perlahan kepercayaan mereka. Karena hanya itu yang akan membuat mereka hancur tanpa kita sentuh sekali pun. Suami ku tak akan mampu melawan mereka sendirian... Makadari itu, peran mu sangat diperlukan." Ujar Minah.
"Baik nyonya." Ujar pria muda itu lalu pergi dari ruangan itu.
"Aku tau kalian ingin merebut apa yang kumiliki saat ini... Tapi, bukankah tidak sopan melawan orang tua??" Gerutu Lee Minah pada dirinya sendiri.
Ting!
[Seokjin :
Pulanglah dulu, aku mungkin akan menginap dirumah Yoongi.]
Baru saja Bona ingin membuka pintu ruangan Seokjin untuk mengajaknya pulang. Tau-taunya, pesan nya sudah tiba dan orang nya juga tak ada diruangannya. Cukup sudah Bona, hari ini kau terlalu banyak menghela napas karena hanya pasrah. Akhirnya ia urungkan jemarinya untuk meraih gagang pintu dan langsung berbalik.
[Bona :
Sebenarnya ada yang ingin ku sampaikan padamu.]
Sebetulnya, Bona sangat jarang membalas pesan Seokjin. Hanya saja, ia benar-benar ingin menyampaikan sesuatu.
Ting!
[Seokjin :
Apa itu??]
(Flashback)
[Kau tau, setiap aku melihat mu. Aku selalu berdebar dan ingin memeluk mu saat ini juga.
To : Wanita seindah bunga Shin Bona]
(Flashback off)
Bona nampak hanya terdiam dan bingung bagaimana cara ia menceritakan nya pada Seokjin. Aishh... Nampaknya kepala wanita itu gatal karena belum mandi.
Karena tak pulang bersama Seokjin, Bona memutuskan pulang dengan bus kota dan memutuskan untuk menunggu di halte depan gedung kantor.
Suasana halte sesungguhnya lumayan sepi dan hanya diramaikan dengan suara lalu-lalang kendaraan saja. Bona pun sendirian menunggu dihalte tersebut.
"Sadar tidak sadar... Aku sudah lama tak menaiki bus..." Bona berbicara dengan dirinya sendiri saat menunggu bis di halte.
Puk!
Seseorang menepuk punggung Bona.
"Hah!!"
"Nona... Nampaknya kertas ini jatuh dari tas anda..."
Bona menatap pria tua itu sedikit heran dan kaget karena tiba-tiba sembari meraih sebuah kertas putih yang pria tua itu maksud.
"Benarkah???" Tanya Bona. Pria tua itu mengangguk lalu pergi begitu saja tanpa mempedulikan ucapan serta pertanyaan Bona.
Karena penasaran, Bona pun membuka lipatan kertas itu.
Pluk.
Nampaknya sesuatu jatuh dari lipatan kertas itu. Bona tak terlalu fokus akan hal itu, karena fokusnya hanya pada isi didalam kertas itu.
[Nampaknya kau sendirian saat ini?? Boleh aku mendekatimu??
To : wanita yang ku kagumi Shin Bona]
Deg!
Seketika bulu kuduk Bona langsung merinding dan tak berani menatap sekeliling. Dengan cepat Bona langsung meraih ponselnya dan refleks menghubungi Seokjin.
Namun nihil tak ada jawabannya walau sudah tiga kali Bona menghubungi nya.
(Sementara itu)
Dddrrrttt....dddrrrttt....
Nampaknya Seokjin tidak menggubris getaran ponselnya karena sedang fokus menyetir dan saat melihat nama Bona yang terpampang ia rasa wanita itu pasti hanya ingin menasehatinya lagi.
(Kembali ketempat Bona)
Merasa gusar Seokjin tak ada mengangkat telepon nya, membuat Bona bingung harus menghubungi siapa lagi. Sementara disuasana yang cukup mencekam bagi Bona ini, ia baru sadar jika ada yang terjatuh dari kertas tadi sewaktu ia membukanya dan benda itu nampaknya adalah stiker berbentuk hati dan berwarna merah. Bona mengambil benda itu dibawah kakinya.
Tap
Tap
Tap
Samar-samar Bona dapat merasakan seseorang menuju halte tempat ia berada namun, ia berusaha berpositif thinking saja tentang itu.
Bbbrrrrnmmmm
Sebuah sedan hitam berhenti tepat didepan Bona dan mulai menurunkan kaca mobilnya.
Kedua mata Bona dapat menangkap siapa yang mengemudi. Seorang berpakaian serba hitam dan tertutup sehingga sulit menerka siapa itu. Sementara seseorang semakin dekat menuju halte dengan pakaian mencurigakan juga.
Bohong jika Bona tidak kalut saat ini. Insting nya seolah mengatakan tidak ada yang baik saat ini dan memerintahkan nalurinya untuk kabur.
Orang di mobil itu hanya diam, sementara seseorang yang sedang menuju tempat Bona berada semakin dekat.
Kegelisahan sudah menyelimuti Bona dan berhasil menggerakkan tubuhnya untuk pergi dari tempat itu.
Bona memutuskan kembali kekantor dan bersembunyi di ruang kamar nya dulu tanpa menyadari seseorang mengikuti langkahnya dari belakang.
Deg
Deg
Deg
Deg
Deg
Dengan wajah pucat Bona mempercepat langkahnya saat sudah mendekati gedung tempat ia bekerja.
Bruk!!!
Bona terpental menabrak seseorang karena larinya yang tak beraturan.
"Bona??? Kau kenapa???"
Ternyata Hyejin yang ditabrak wanita itu. Bukannya menjawab, Bona malah melihat sekelilingnya dan hampa, tak ada siapapun kecuali ia dan Hyejin saat ini. Bona pun langsung berdiri dan merapikan diri dan langsung tersenyum pada Hyejin.
"Eheh.... Aku takut menunggu bis sendirian dihalte... Maka dari itu, aku ingin memesan taksi saja." Jelas Bona. Hyejin menatap Bona bingung.
"Seokjin dimana??" Tanya Hyejin.
"Dia ada urusan dengan Yoongi dan menyuruhku pulang sendiri." Jawab Bona sekenanya.
"Kenapa tak minta Namjoon atau Taehyung menjemput?? Kau tau kan suasana sekarang sedang tidak enak." Ucapan Hyejin langsung membuat wajah Bona kembali pucat.
"Maksudmu sunbae??" Bisik Bona.
"Seseorang sedang menatap kita."
Deg!
Bona langsung merapat pada Hyejin.
"Jangan bercanda sunbae!!!" Seru Bona sembari memeluk erat lengan Hyejin.
Sesungguhnya Bona adalah orang yang penakut.
"Aku tidak mau tau!! Kau harus mengantar ku sunbae!!!" Rengek Bona. Melihat tingkah Bona membuat Hyejin tertawa keras dan membuat Bona bingung juga.
"Ahahahaa... Aku kan hanya bercanda... Tidak ada siapapun disini selain kita. Kau tak usah takut." Ujar Hyejin.
"Tetap saja sunbae harus mengantarku...."
"Hah... Baiklah.... Ayo."
Akhirnya Hyejin bersedia menemani Bona pulang.
Nampaknya perkataan Hyejin benar tentang ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dibalik kegelapan taman depan perusahaan.
(Sementara itu)
Ruangan Yoongi
Klek
"Hyung!!!"
Namjoon masuk begitu saja keruangan Yoongi dan membuat seisi ruangan heran dengan cara ia masuk yang terkesan agak buru-buru itu.
"Hyung mana yang kau panggil??" Tanya Seokjin. Masalahnya ada Yoongi dan Seokjin yang sama-sama hyung disitu bagi Namjoon.
"Seokjin hyung tentunya." Jawab Namjoon.
"Kenapa??" Tanya Seokjin.
"Hyejin memberitahuku jika ada seseorang mengikuti Bona sewaktu pulang kerja." Jawab Namjoon.
Yoongi dan Taehyung melirik Seokjin yang diam mendengar ucapan Namjoon.
"Untuk hal seperti itu, Bona pasti ada menghubungi mu sebelumnya." Sambut Yoongi.
(Apa soal dia menelepon ku tadi?? -Seokjin)
"Kau tak ingin memeriksa nya dulu hyung?" Tanya Taehyung.
Pertanyaan Taehyung membuat Seokjin berpikir sejenak.
"Kita lanjutkan saja." Jawab Seokjin.
(Apartemen Seokjin dan Bona)
Rasanya saat sampai diapartemen ini, Bona sedikit lega walau sudah merepotkan Hyejin. Walaupun begitu, kekhawatiran itu masih sedikit mengusik Bona hingga membuat wanita itu tak berani keluar dari kamarnya walau hanya untuk mengisi perutnya.
(Seokjin... Kapan kau datang... -Bona)
Bona meraih ponselnya dan mengetik beberapa pesan untuk Seokjin demi mengusir rasa takut nya.
[Bona :
Apa kau sudah makan?? Kau dimana sekarang??]
11:13 pm
Kelopak mata Bona sangat lelah dan ingin tidur. Namun nalurinya menyuruhnya untuk terus berjaga. Dalam benaknya wanita itu masih menyimpan ketakutan. Ia takut jika ia terlelap, seseorang misterius itu akan datang dan membawanya pergi.
Korban drama.
Ting tong
Deg!
Tubuh Bona langsung menegang saat mendengar suara bel apartemen yang tiba-tiba berbunyi.
Ting tong
Ting!
[Seokjin :
Aku sudah makan. Kenapa kau tidak tidur?]
Ditengah ketegangan yang Bona rasakan, balasan dari Seokjin langsung sedikit menenangkannya.
"Apa aku harus menelepon nya?" Ujar Bona.
Tanpa pikir panjang Bona langsung menelepon Seokjin.
[Ya, halo?]
Betapa senangnya Bona saat mendengar prianya mengangkat telepon.
"Seo-Seokjin kau dimana???" Setengah mati Bona menahan suara ketakutannya.
Klek
[Aku di kamar. Kenapa??]
Bip
Telepon dimatikan.
Tak perlu ditanya lagi keberadaan Seokjin. Karena mata Bona sudah menangkap keberadaannya saat ini. Pria itu tepat dihadapan Bona saat ini, masih lengkap dengan setelan jas yang ia kenakan tadi siang.
"Seokjin. Kau bilang akan menginap??" Bona langsung menghampiri Seokjin.
Seokjin hanya menatap Bona diam sembari sedikit tersenyum.
"Kau tidak apa-apa???" Tanya Seokjin.
Bona menggeleng dan hanya diam. Setidaknya ia tenang saat ini.
"Tak ada yang sakit. Aku baik-baik saja. Aku malah khawatir padamu." Ujar Bona sembari membantu Seokjin melepas dasi dan jasnya. Nampaknya Seokjin tak bisa mempercayai begitu saja ucapan Bona.
"Kau bilang ada yang ingin kau katakan." Ucapan Seokjin membuat Bona menatapnya bingung.
"Ahh... Itu... Tidak jadi." Jawab Bona lalu pergi membawa pakaian kotor milik Seokjin.
"Kalau ada masalah, kau harus katakan padaku."
Bona menghentikan langkahnya lalu berbalik memandang Seokjin.
"Aku hanya takut dirumah sendiri. Tak ada yang lain." Jawab Bona sekenanya saja.
"Bona, aku tau kau menyembunyikan sesuatu dariku."
Bona benar-benar tidak jadi membawa pakaian kotor ketempat cucian karena ucapan Seokjin yang benar-benar 'jleb' dalam benaknya itu.
Akhirnya Bona memutuskan menunjukkan kertas teror itu pada Seokjin.
[Kau tau, setiap aku melihat mu. Aku selalu berdebar dan ingin memeluk mu saat ini juga.
To : Wanita seindah bunga Shin Bona]
[Nampaknya kau sendirian saat ini?? Boleh aku mendekatimu??
To : wanita yang ku kagumi Shin Bona]
Jujur saja, Bona sulit menebak apa yang ada dipikiran Seokjin saat membaca kedua surat aneh itu. Pria itu hanya diam dan menatap datar pada Bona seperti biasa.
"Lalu, mau kau apakan kedua sampah ini?? Kau ingin mengoleksinya??" Tanya Seokjin sarkasme.
Apa Bona tidak salah dengar tentang ucapannya barusan?? Mengoleksi katanya??
(Aku setengah mati takut dan kau bilang mengoleksinya?? -Bona)
Bona langsung mengambil kembali kedua kertas itu dari tangan Seokjin. Bahasa kasar nya merampas.
"Lebih baik dari awal aku tak menunjukkan nya padamu." Ujar Bona sembari kembali menyimpan kedua benda menyeramkan baginya itu. Seokjin masih memperhatikan wanita itu.
"Kenapa tidak kau laporkan saja kepolisi??"
"Sebelum kau berkata pun, sudah kulakukan. Hanya saja bukti seperti ini mereka tidak bisa menerima." Jawab Bona acuh lalu pergi melanjutkan pekerjaan nya yang tertunda.
"Ah iya. Kau tidak jadi menginap dirumah Yoongi??" Tanya Bona saat sudah selesai mengantar pakaian kotor. Seokjin baru saja selesai mandi dan hanya berdehem menjawab pertanyaan Bona.
"Kenapa???" Tanya Bona pada Seokjin yang mulai membaca buku diranjang.
"Menurutmu??" Tanya Seokjin. Bona menatap pria disamping nya bingung.
"Karena tidak terbiasa tidur disana?? Begitu??" Bona balik bertanya.
Pluk!
Buku tebal di jemari Seokjin seketika terbentur ke pucuk kepala Bona.
"Aisshh... Kenapa kau memukulku???" Tanya Bona kesal, sembari mengusap pucuk kepalanya.
Seokjin menatap lurus Bona dan memasang wajah datar nan menyebalkan nya itu.
"Karena aku ingin memukulmu." Jawaban yang absurd.
Bugh!
Bona menghantam bahu Seokjin dengan kepalannya.
"Ya!! Kau meninju ku???!!"
Bona tersenyum.
"Kita seri Mr. Kim." Jawab Bona lalu mulai merebahkan diri disamping Seokjin. Sementara Seokjin melanjutkan kegiatan membacanya walau kadang sedikit melirik tubuh yang terbaring di samping nya.
(Beberapa saat yang lalu)
(Seokjin side)
"Hyung!!!"
Kedatangan Namjoon yang kurang biasa menunda pembicaraan ku dengan Yoongi serta Taehyung. Dapat kulihat ekspresi Namjoon yang tak nampak seperti biasanya itu. Tumben sekali?
"Hyung mana yang kau panggil??" Tanyaku padanya, mengingat jika aku dan Yoongi adalah hyung baginya. Namjoon langsung menatapku.
"Seokjin hyung tentunya."
Aku?? Ada apa??
"Kenapa??" Tanyaku bingung.
"Hyejin memberitahuku jika ada seseorang mengikuti Bona sewaktu pulang kerja." Jawab Namjoon.
Apa dia bilang?? Sejak kapan wanita itu diikuti?? Apa ini perbuatan Lee Sunghyun? Bukankah ini sudah diluar batas?? Aku pun dapat merasakan jika Yoongi serta Taehyung sedang meminta respon dariku.
"Untuk hal seperti itu, Bona pasti ada menghubungi mu sebelumnya." Sambut Yoongi.
Apa soal dia menelepon ku tadi?? Aku benar-benar tak terpikir akan hal apa dia menelepon ku tadi sewaktu perjalanan kesini. Aku langsung memeriksa ponselku dan ada 5 panggilan tak terjawab dari orang yang sama Shin Bona.
"Kau tak ingin memeriksa nya dulu hyung?" Tanya Taehyung.
Apa aku harus memastikan keadaan nya terlebih dahulu???
"Kita lanjutkan saja."
"Kau yakin hyung??? Kau tidak khawatir pada kakak ipar???!!" Tanya Namjoon heran.
Khawatir?? Nampaknya kau yang lebih mengkhawatirkannya Namjoon.
"Bukankah kau berkata jika Hyejin yang memberitahukan mu?? Itu berarti ia sudah bersama dengan Bona sekarang. Tak ada yang perlu di khawatirkan." Ujar ku.
"Sudahlah. Aku sudah lapar. Ayo selesai kan ini." Sambut Taehyung.
Kau ada benar juga Taehyung.
"Baiklah, aku akan memulai nya. Yang Namjoon katakan ada benarnya. Mereka tidak langsung mengincarmu, tetapi mengincar wanita mu."
Yoongi menyodorkan beberapa lembar foto kehadapanku. Itu foto aku memeluk Bona tempo hari di kantor. Aku menatap Yoongi heran.
"Kau menguntit kami??"
"Untuk apa aku melakukan itu, sedangkan pekerjaan ku banyak." Jelas Yoongi.
"Lebih tepatnya aku mencurinya."
Namjoon meraih selembar foto sembari tersenyum.
"Heol. Kau bisa romantis juga hyung."
Tentu saja dengan cepat aku merebutnya.
"Berisik kau. Lalu, bagaimana soal 50 juta Won itu??" Tanya ku.
"Kau aneh hyung. Kenapa kau mengincar uang itu?? Padahal kau bisa menghasilkan lebih dari itu." Sambut Taehyung.
Bocah ini.
"Kau kira mendapatkan uang itu mudah apa??"
Aku sangat percaya jika mencari uang sepeser pun tidak pernah ada cara yang mudah.
"Kau seperti orang susah saja." Gerutu Taehyung.
"Bukan seperti tapi pernah. Lalu, Yoongi kau tau siapa yang disuruh memfoto kami??"
"Kami gagal mengikuti nya. Foto ini saja kami curi sewaktu orang-orang ku menyamar menjadi pembantu dirumah mereka." Jelas Yoongi.
"Kau berani sekali ya hyung." Ujar Namjoon. Yoongi tersenyum.
"Kau harus mengetahui kandang musuh saat ingin menyerang. Kenali dan pahami. Kami juga selalu waspada jika salah satu dari musuh masuk kewilayah kami."
Aku tau kau sangat profesional Yoongi. Seperti yang ku harapkan.
"Lalu, bagaimana besok?? Kau yakin ingin bertemu dengan nya?? Kalian bahkan sedang dalam perang dingin sekarang."
Apa boleh buat, sekarang saatnya mengangkat senjata.
Srek
Aku membuka lembar selanjutnya dari buku yang kubaca. Kira-kira sudah 30 menit aku membaca dan Bona sudah berbaring membelakangiku. Ia sama sekali tidak bergerak dan hanya berdiam. Apa ia sudah masuk ke alam mimpi??
Sekilas aku melihat kilasan wajah pucatnya sewaktu aku datang tadi. Apa ia benar-benar di teror atau hanya takut sendirian?? Kertas-kertas yang ia tunjukkan padaku itu apa??
(Author side)
Seokjin pun memutuskan untuk mengakhiri kegiatan membacanya dan ikut berbaring di samping Bona.
"Seokjin."
Baru saja menutup mata, Seokjin terpaksa membuka matanya ketika mendengar manusia disampingnya memanggil namanya.
"Hmm?? Kenapa kau belum tidur chagi??" Seokjin bahkan memiringkan tubuh nya menghadap Bona.
"Aku tidak bisa tidur. Aku lapar." Ujar Bona. Seokjin mengernyit heran.
"Kau lapar?? Apa kau belum makan?"
Bona menggeleng lalu bangkit duduk.
"Aku belum makan. Bisa temani aku makan??" Pinta Bona.
"Apa kau semanja ini??" Tanya Seokjin.
"Eh??" Tanya Bona bingung. Padahal ia hanya meminta menemani saja. Apa Seokjin adalah dua orang yang berbeda??
(Perasaan dia memanggil ku chagi barusan?? -Bona)
"Kenapa kau menatap ku??" Tanya Seokjin heran.
"Aku tidak tau kenapa aku menatapmu. Sepertinya karena lapar aku jadi ingin memakan mu." Ujar Bona sembari beranjak bangun dari ranjangnya dan Seokjin dan meninggalkan kamar.
Tak mau tinggal diam, Seokjin langsung menyusul Bona kedapur. Wanita itu hanya memakan buah dan meminum air putih. Yang Seokjin herankan adalah sikap wanitanya yang satu ini. Bona sama sekali enggan melihat Seokjin dan memilih membelakangi Seokjin.
"Ya, apa kau marah saat kubilang manja???" Tanya Seokjin. Bona menggeleng dan tak mau menjawab.
Seokjin memilih duduk disamping Bona walaupun masih wanita itu abaikan.
Grak.
Nampaknya Bona telah selesai makan dan bersiap untuk pergi. Namun, langkahnya terhenti saat menyadari ada orang yang sedang tidur di meja makan.
Itu Kim Seokjin.
"Kenapa malah tidur disini???"
Ddddrrrttt....dddrrrttt....
Baru saja Bona ingin membangunkan Seokjin, tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah nomor tak dikenal.
"Ya?? Halo???"
[Jangan takut. Kau tak pernah sendirian karena aku selalu mengawasimu.... Beruntungnya aku mendapat nomormu. Jadi kita bisa saling terhubung.]
Deg!
Tanpa sadar Bona tak sengaja mencengkram bahu Seokjin hingga membuat sang pemilik terbangun dan melihat wajah pucat Bona.
"Maaf... Ini siapa???!! Halo??! Halo??!!"
Refleks, Seokjin langsung menghampiri Bona dan mencengkram kedua bahu wanita itu serta menatapnya bingung.
"Ya?? Kau baik-baik saja???" Tanya Seokjin kalut.
Deg
Deg
Deg
Tanpa menjawab, Bona mencoba menenangkan dirinya sembari menggeleng dan mengatakan tak ada masalah pada Seokjin.
"Semua baik-baik saja.... Aku baik-baik saja... Ya... tidak... Seokjin... Aku takut... Seseorang sedang mengintai ku dan berkata sedang mengawasiku..." Bona benar-benar tidak dapat menyembunyikan ketakutan nya saat ini dan dapat Seokjin rasakan dari cengkraman kuat di kaos nya dan mulai terisak.
Siapa?? Dimana?? Kenapa??
Seokjin hanya bisa menatap sekelilingnya dan diam memikirkan kemungkinan yang akan terjadi.
To Be Continue....