![The Secret Of My Boss [Soft]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-secret-of-my-boss--soft-.webp)
(Bona's pov)
Malam ini aku dikunjungi oleh Namjoon dan Taehyung, rasanya senang saat melihat mereka muncul dikamarku dan Taehyung membawa sekeranjang makanan yang mungkin dapat kuhabiskan dalam beberapa hari dan aku sangat berterima kasih akan hal itu juga karena mereka mau menjengukku.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Namjoon padaku.
"Sudah lebih baik, Jungkook bilang jika aku cepat dalam pemulihan dan siap melakukan aktifitas biasa." Ujarku.
"Baguslah! Jika begitu kau bisa membuat kue lagi untukku." Timpal Taehyung. Aku terkekeh, nampaknya setelah sembuh aku akan memanggang beberapa kue lagi untukmu Tae.
"Lalu, bagaimana dengan Seokjin? Siapa yang membantunya?" Tanyaku penasaran.
Awalnya kulihat Namjoon diam sejenak dan menghela napas pelan. Ada apa?? Apa ada sesuatu yang mengherankan?
"Ia seperti orang gila hingga lupa makan." Jawab Namjoon.
Aku mengeryitkan dahiku heran. Lupa makan? Setahuku pria itu gila makan dan kerja, dan sekarang lupa makan? Aneh.
"Kurasa aku terlalu memanjakannya atau apa... Karena biasanya aku yang menyiapkannya makan dan mengurus segala keperluannya." Ujarku resah. Aku menjadi sangat khawatir dan ingin bertemu dengannya saat ini, aku ingin melihat keadaannya. Apa ia tak berniat menjengukku sama sekali?? Apa ia masih marah dengan perkataanku tempo hari??
"Eoh! Nampaknya kami harus pergi. Bona tidurlah... Ini sudah larut. Sampai jumpa." Ujar Namjoon sembari melihat arlojinya.
"Eoh... Terima kasih sudah datang... Dan juga makanannya Tae. Aku akan memanggang kue untukmu setelah sembuh." Ujarku pada mereka yang sudah berdiri.
"Cepat sembuh kakak ipar!! Aku tunggu itu!." Sambut Taehyung. Aku tersenyum dan melambai pada mereka berdua.
Sepeninggalan mereka aku tak berniat untuk merebahkan diriku dan aku masih duduk bersandar pada dasbor ranjang dan belum berniat tidur sama sekali, sesekali aku melirik cairan infus yang hampir habis dan akan dilepaskan Jungkook pada esok hari. Sepertinya aku tak bisa berhenti kepikiran tentang Seokjin dan pekerjaannya, aku hanya khawatir jika ia akan kalut mengurus pekerjaannya tanpa seorang pun membantunya. Pasti mejanya penuh dengan tumpukan berkas yang belum diarsipkan dan disusun rapi. Belum yang mengatur rapat pagi, tidak mungkin ia yang melakukannya sendirian. Nampaknya, aku tak akan bisa sakit lagi jika mengingat seorang Kim Seokjin lupa makan. Aku khawatir ia akan terkena maag kronis jika lupa makan terus.
"Kenapa kau belum tidur? Ini sudah malam. Apa kau ingin sakit terus seperti ini??"
Aku tersentak kaget dari lamunanku saat orang yang kupikirkan datang dan menegurku. Kuperhatikan dengan seksama wajahnya dan dapat kulihat raut kelelahannya dan sedikit pucat yang tampak dari wajah tampannya itu.
"Eoh. Aku belum mengantuk, mungkin sebentar lagi..."
Baru tiga hari aku tak menemuinya, aku sudah merasa sangat canggung saat ini. Ayolah Bona, kenapa kau berpikir seperti ini?? Dia adalah suami sah ku dalam mata hukum dan agama. Kenapa aku harus canggung? Kulihat Seokjin melangkah menuju kamar mandi, nampaknya ia menginap dirumah ini malam ini. Haruskah aku senang? Ya, aku tersenyum saat ini.
Klek
Benar dugaanku, Seokjin mandi dan sudah memakai pakaian tidurnya.
"Namjoon bilang kamu lupa makan. Tidak biasanya??" Aku tak tahu, apa topik pembicaraanku ini baik atau semacamnya. Aku hanya ingin mengobrol ringan dengannya. Kulihat Seokjin mengambil tempat disebelahku yang memang kosong itu dan menatapku dalam diamnya.
"Pekerjaanku sangat banyak. Kau harus segera sembuh." Ujarnya padaku dengan intonasi tidak pedulinya. Ya... Tentu saja, aku harus segera sembuh.
"Besok infusku akan dilepas. Aku akan membantumu mulai besok... Bagaimana bisa kau lupa makan... Belum juga kantung matamu itu. Tak dapat kugambarkan dengan kata-kata." Aku benar-benar tidak peduli suasana hatinya saat ini, hatiku rasanya kesal dan ingin mengomelinya saat ini. Bukan karena ia menyuruhku untuk membantunya, namun kesal karena ia tak menjengukku selama beberapa hari ini.
"Nampaknya kau marah. Seharusnya aku yang begitu." Ujarnya padaku sembari merebahkan diri membelakangiku. Aku tersenyum miris.
"Atas dasar apa kamu marah padaku?" Tanya ku heran.
Seokjin diam, apa ia tidur??
"Baru tiga hari aku tak membantumu karena sakit dan kamu sangat marah serta kewalahan begitu hingga lupa segalanya. Bagaimana jika kamu sakit karena keteledoranmu, Bukankah aku yang berhak mengomelimu disini??" Lanjutku lagi sembari menatap punggungnya. Ya, aku sedang berbicara dengan sebuah punggung.
Aku kembali diam dan memeluk kedua lututku, aku sama sekali tidak mengantuk dan memilih berdiam diri. Seokjin memang ada disini, namun ia sama sekali nampak tak begitu peduli denganku. Apa ia lelah? Mungkin, wajar saja. Aku juga lelah jika begini, tingkah lakunya itu bagai gelombang. Dimana ada saat ia sangat manja dan seperti bayi dan ada saat ia seperti bukan orang yang aku kenal, dingin dan tidak peduli. Itu kadang yang membuat perasaanku bingung. Walau begitu ia berhak mendapat kasih sayang dariku.
Tanpa sadar aku mengelus lembut surai hitamnya dan tersenyum pada pria yang sedang membelakangiku saat ini. Maafkan aku yang terlalu menyiksamu beberapa hari ini, juga karena ucapanku tempo hari. Sesungguhnya aku tak menganggapmu sebagai suami yang hanya memberiku makan serta uang, bagiku kamu lebih berarti dari itu. Makadari itu, kamu jangan sampai sakit Seokjin, aku menyayangimu lebih dari yang kamu tahu.
Demi apa aku tak sadar aku kembali meneteskan air mata saat ini. Aku bahkan tersenyum geli dengan tingkah diam ku ini.
(Paginya)
Aku membuka mataku dengan setengah kesal saat cahaya matahari menembus tirai kamar, pasalnya aku belum menyelesaikan mimpi yang indahku. Dimana aku bermimpi hidup bahagia dengan orang yang kusayangi. Kulihat tak ada seorangpun denganku dikamar seluas sebelah lapangan tenis ini. Hanya ada aku dan nampan sarapan dinakas sisi ranjangku, bubur nasi lagi dan segelas air putih serta sebuah apel. Mau tak mau aku meraihnya, walau bosan tapi ini yang baik untukku.
(Klek)
Mendengar suara knop pintu kamar mandi membuatku menunda suapan selanjutnya dan melihat siapa yang keluar dari kamar mandi.
"Kukira kamu sudah berangkat..." Aku sangat senang jika dipagi hari aku masih sempat melihat Seokjin sebelum ia menjalani hari sibuknya. Pria ku satu ini sudah mandi dan tampan, berbanding terbalik denganku yang sarapan dengan muka bantal.
"Apa menu sarapanmu??" Seokjin bertanya padaku sembari mengambil duduk ditepi ranjang sebelahku dan mengambil mangkuk bubur yang ada ditanganku. Mau apa dia??
"Inilah makanan orang sakit Seokjin. Tidak ada yang spesial." Ujarku.
Tiba-tiba Seokjin menyodorkan sendok berisi bubur ke depan mulutku dan mau saja aku turuti walau sangat bingung sekarang. Mimpi apa dia tadi malam??
"Kau harus makan dan cepat sembuh..." Ujarnya padaku lalu menyuapiku lagi. Kurasa ia kemasukan sesuatu.
"Kamu tidak berangkat ke kantor??" Tanyaku heran.
"Aku menyerahkan semua pekerjaanku pada Namjoon sampai kau sembuh. Aku akan disini merawatmu." Ujarnya. Jujur saja aku sampai lupa menelan karena terkesima karena ucapannya barusan.
"Demi apa kamu melakukan semua itu?? Kepala mu tidak terbentur sesuatu kan??" Tanyaku. Seokjin tersenyum lalu kembali menyuapiku.
"Menurutmu, apa itu rumah tangga??" Tanyanya tiba-tiba dan menatapku serius.
"Ah. Aku juga bingung. Tapi, seperti pada umumnya, sesuatu yang disebut rumah tangga itu saat kita sudah menikah dan hidup bersama. Itu rumah tangga. Itu seperti sebuah rumah yang memiliki strukturnya. Dari kepala keluarga hingga para anggota keluarga. Itulah yang disebut dengan rumah tangga." Kuharap kamu mengerti dengan penjelasanku. Aku tak begitu yakin, apa Seokjin mulai menyadari tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga??
"Nampaknya kau sangat paham tentang itu. Tapi, mau kah kau menunggu hingga semua tujuan ku tercapai?? Baru aku akan benar memulai sebuah rumah tangga kita??" Tanya Seokjin padaku sembari menatap penuh harap padaku. Mungkin. Tentu saja aku tersenyum lebar. Kamu pikir aku ini penunggu??
"Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan sesuatu yang jahat." Jawabku. Namun kuharagai ucapanmu yang ingin serius itu.
"Kita bisa memulai untuk serius dari sekarang tanpa menunggu hal lain, jangan terus membuatku khawatir dan selalu kepikiran tentangmu dan rencana kejam diotakmu itu." Lanjutku. Aku mengatakan ini karena aku tak ingin kamu masuk lebih dalam lagi kedunia balas dendam mu itu.
Seokjin meletakkan kembali mangkuk yang masih berisi setengah itu pada nakas dan berdiri.
"Kupikir cukup untuk pencerahan mu kali ini.... Habiskan makananmu dan minum obatmu." Ujarnya lalu pergi meninggalkanku dikamar seorang diri. Bayi satu ini....
(Author's pov)
Sementara disuatu tempat dan masih dinegara yang sama dengan Seokjin dan Bona, dimana Yoongi nampak seperti mematai seseorang yang menjadi incarannya melalui mobilnya. Yoongi yang sedang memantau kediaman Lee Minnah dari radius ratusan meter nampaknya tidak begitu sadar akan seseorang yang sadar akan keberadaannya.
"Jimin, bagaimana pekerjaanmu??" Tanya Yoongi pada Jimin melalui telepon.
(Disebuah atap gedung)
Jimin yang sedang mengatur bidikan senapan jarak jauhnya harus tertunda karena Yoongi tiba-tiba meneleponnya.
"Alatnya sudah siap disini. Aku tinggal menunggu perintahmu hyung." Ujar Jimin sembari memantau keadaan sekitar melalui teropong.
[Tunggu saja konfirmasi Seokjin, aku akan menghubunginya...]
Setelah telepon dimatikan, Jimin kembali mengecek keadaan dan menfokuskan untuk membidik jendela ruang kerja tempat Lee Minnah berada dirumahnya. Namun sesuatu membuat Jimin penasaran dengan sesosok manusia berpakaian serba hitam yang berada di atap gedung lain dengan memegang sebuah senapan jarak jauh dan nampak sudah membidik sang objek. Jimin yakin orang itu bukan bagian dari mereka setelah memperkirakan sang objek yang ingin ditembak.
"Yoongi hyung." Ujar Jimin panik setelah melihat siapa objek yang dibidik oleh pria misterius diseberang gedung. Pria tak dikenal itu nampak menyadari keberadaan Jimin dan seolah memberi isyarat jika ia akan menembak Yoongi sekarang juga.
Dengan cepat Jimin mencoba menghubungi Yoongi untuk menghindari tembakan sebelum pria tak dikenal itu menembakkan peluru panas pada bos nya itu. Namun nihil, nomor Yoongi sedang sibuk saat ini. Apa ia harus mengubah arah bidikan untuk menyelamatkan Yoongi?? Dengan gusar Jimin langsung mengubah arah bidikan kepada pria misterius itu, ia tak mungkin membiarkan ketuanya celaka. Ia tak akan membiarkan itu.
"Nampaknya rencana kalian harus sampai disini..." Jimin tertegun saat ada seseorang menegurnya, ia langsung melihat siapa yang menegurnya dari belakang itu. Melihat siapa yang menegurnya membuat Jimin tersenyum miring saat melihat sekelompok orang datang sambil membawa senjata pukul. Ini jelas saja pengeroyokan.
"Kang Hyujin. Apa kalian sedang ada waktu senggang??" Tanya Jimin heran. Kang Hyujin nampak terkekeh.
"Eoh. Kami tidak akan ada lagi yang dikerjakan setelah menghabisimu. Setelah membereskan bos mu yang bodoh barusan." Ujar Hyujin sembari menitahkan para pengikutnya untuk menghajar Jimin.
"Dasar bedebah sialan..." Ujar Jimin sembari melempar beberapa buah bom asap yang ia keluarkan dari saku jasnya dan segera mengambil kesempatannya untuk kabur.
"Cecunguk sialan itu... KEJAR DIA BEDEBAH!!" ujar Hyujin.
Tak ingin lama terjebak dalam asap, Hyujin langsung mengejar Jimin dan diikuti anak buahnya.
Sementara itu, didalam mobilnya Yoongi sudah nampak sekarat dengan luka tembak di bahu kanannya dan melihat Jimin berlari dikejar beberapa orang yang membawa pentungan menuju kemobilnya.
(Beberapa saat yang lalu)
Setelah Yoongi menelepon Jimin, kini ia bermaksud menghubungi Seokjin untuk menanyakan tindakan selanjutnya. Karena bagi Yoongi, meminta konfirmasi ulang merupakan hal penting dalam menjalankan tugas agar tepat sasaran.
"Kami sudah siap Seokjin..." Ujar Yoongi.
[Jangan hari ini. Batalkan segala kegiatan.]
Jelas saja keputusan Seokjin barusan membuat Yoongi tak menyangka, bagaimana bisa membatalkan saat rencana sudah hampir 100% dijalankan.
"Baiklah jika itu keinginanmu."
Bip
PLUSSHH!!!
"Akhhh!!!!" Ringis Yoongi saat sebuah timah panas mengenainya tepat dibahu kanannya. Tentu saja darah segar langsung mengucur dan membasahi kemeja hitamnya dan mengalir menjulur keseluruh lengannya. Ia hanya berharap Jimin baik-baik saja saat ini.
(Flashback off)
"Hyung!!!!! Kau baik-baik saja!!???" Tanya Jimin panik saat melihat lengan kanan Yoongi sudah basah dengan cairan merah dan wajah pucat bosnya itu.
"Cepat pergi dari sini... Seokjin membatalkannya."
Jimin mengangguk dan segera mengambil alih kursi kemudi dan langsung melaju kabur dari orang-orang Kang Hyujin.
(Kediaman Kim Jaewook)
"Akhirnya aku lepas dari infus..." Ujar Bona pada Jungkook saat perawat melepas infusnya.
"Walau begitu kau tak boleh melakukan pekerjaan berat dulu sampai tulang rusuk mu membaik atau jika kau memaksa, tulang rusukmu bisa patah. Kau dengar aku kan Seokjin hyung??" Pada kalimat terakhir sengaja Jungkook tekankan untuk Seokjin yang berdiri disampingnya memperhatikan kerja para perawat. Seokjin melirik tajam pada dokter yang merawat istrinya itu. Bona nampak menahan senyumnya.
"Aku tahu itu, berapa lama tulangnya membaik? Selain itu tak ada masalah lain lagi yang serius?" Tanya Seokjin.
"Eoh, karena benturan keras, ada keretakan sedikit pada tulang rusuk istrimu. Itu perlu beberapa minggu dan pola makan yang baik agar tulang nya dapat membaik." Jelas Jungkook. Bona dapat memahami itu dan Seokjin nampak sedang mencerna perkataan Jungkook barusan.
"Terima kasih Jungkook..." Ujar Bona.
Jungkook tersenyum.
"Itu tugasku sebagai dokter. Kalau begitu aku pergi dulu... Jangan lupa ucapanku padamu Seokjin hyung." Sekali lagi Jungkook mengingatkan Seokjin yang memang memasang wajah dinginnya sejak tadi dan Bona hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi Seokjin yang dingin saat diberi tahu.
"Kau nampaknya senang banyak yang mendukungmu." Cibir Seokjin. Akhirnya Bona meledakkan tawa nya.
"Aku memang selalu disayangi oleh semua orang." Ucap Bona percayai diri. Seokjin bahkan mengernyitkan dahinya pada Bona.
"Memangnya siapa yang menyayangimu? Percaya diri sekali." Ujar Seokjin.
"Kalau itu tentu banyak. Termasuk dirimu, jika tidak sayang kamu tak akan membawaku kerumah sakit dan membiarkan aku tewas dipelabuhan..." Jawab Bona sekenanya.
"Itukan cuma tanggung jawab saja. Aku melakukannya karena aku merasa aku bertanggung jawab untuk itu... Lagipula jika bukan aku, mereka Namjoon juga bisa melakukannya." Ujar Seokjin acuh. Bona masih tersenyum tanpa arti menatap Seokjin yang mimik wajahnya benar-benar lucu saat ini. Seperti sedang menyangkal sesuatu.
"Tapi kau yang nampak sangat kalut hingga berlari cukup jauh untuk menghampiriku..."
"Sudah kukatakan aku merasa bertanggung jawab padamu... Apa yang kau pikirkan??" Tanya Seokjin heran. Bona menggeleng.
"Tidak... Aku berpikir aku akan terus menggoda mu untuk hal seperti ini dan juga aku sangat bangga padamu." Ujar Bona pada Seokjin.
Kali ini Seokjin sedikit bingung dengan ucapan istrinya. Namun, jika dipikir ia sudah terlalu sering dibuat heran dan bingung dengan istrinya yang kadang aneh ini.
"Apa yang kau banggakan dariku?"
"Kamu seorang yang bertanggung jawab Seokjin, setidaknya itu untukku yang bernotabene adalah seorang wanita, mahkluk yang kamu benci. Aku senang mendengar itu" Ujar Bona sembari menatap dalam Seokjin. Pria itu seakan mematung mendengar alasan yang Bona katakan yang terdengar tulus itu.
Seokjinpun meraih jemari halus Bona dan menggenggam erat jemari itu sembari menatap wanita itu dengan segala kekaguman dari matanya yang Bona artikan adalah tatapan keheranannya. Bona pun menepuk pelan jemari yang menggenggamnya sembari tersenyum.
"Kenapa kamu diam?? Apa perkataanku salah??" Tanya Bona heran. Seokjin nampak berpikir dalam diamnya dan tak dapat Bona terka apa yang dipikirkan pria itu.
"Aku hanya mendengarmu berbicara. Sudah kubilang aku selalu mendengarmu." Ujar Seokjin datar dan flat face Bona tak kalah datar bahkan jika hidungnya bisa berkerut mungkin sudah ikutan datar.
"Kenapa kau menatapku seperti ini?? Wajahmu benar-benar seperti triplek." Ujar Seokjin sembari mencubit pipi kiri Bona. Tak mau kalah, wanita itu mencubit kedua pipi Seokjin dan tersenyum konyol pada pria pemilik wajah tampan itu.
"Bisa kamu lepaskan, pipiku saki- hmmp..."
Belum selesai Bona berucap, bibirnya sudah dibungkam Seokjin dengan miliknya dan ******* lembut namun penuh tuntutan bagi Bona. Seokjin bahkan langsung menindih tubuh Bona diranjang dan masih memberi lumatan lembut memabukkannya tanpa peduli betapa kagetnya Bona saat ini karena tingkahnya yang mendadak ini. Bona tak begitu peduli dengan perubahan sikap dari Seokjin dan mencoba menikmati sentuhan yang Seokjin pedulikan, karena ia berpikir Seokjin memperlakukannya dengan lembut saat ini, hingga bahkan ciuman itu berpindah ke lehernya.
Klek
"Hyung!!!! Oh Tuhan maafkan aku!!!" Seru Namjoon saat masuk kekamar disaat yang sangat tidak tepat dan langsung berbalik arah. Begitu pula penghuni kamar langsung tersadar dan menghentikan kegiatan yang cukup intim bagi mereka dengan segala kecanggungan yang.
"Ada apa Namjoon??" Tanya Seokjin dingin seolah tak ada yang terjadi. Bona pun mencoba bersikap tak ada yang terjadi antara ia dan Seokjin walaupun wajahnya seperti udang rebus saat ini.
Merasa situasi sudah normal Namjoon pun kembali menghadap Seokjin.
"Yoongi hyung..."
(Bighit Hospital)
Tap
Tap
Tap
Tap
"Seokjin hyung." Ujar Jimin saat melihat Seokjin muncul bersama Bona dibelakangnya. Jimin sedang menunggu didepan ruang operasi.
"Bagaimana bisa ia tertembak?" Tanya Seokjin. Jimin langsung membungkuk 90° pada Seokjin sembari meminta maaf.
"Ini kesalahanku, aku sama sekali tidak menyadari ada sniper lain selain diriku." Ujar Jimin penuh penyesalan.
Bona dapat melihat jika Seokjin benar-benar menahan amarahnya saat ini melalui kepalan tangannya yang membuat buku-buku jemarinya sampai putih pucat.
"Bagaimana mereka bisa tahu rencana kita...." Ujar Seokjin geram.
"Ini keteledoran kami... Kami pantas dihukum." Ujar Jimin yang belum berani menegakkan tubuhnya.
"Seokjin..." Ujar Bona pelan. Ia takut jika Seokjin akan melakukan sesuatu pada Jimin saat ini.
"Nanti saja membahasnya. Bagaimana keadaannya??" Tanya Seokjin pada Jimin. Sekretaris Yoongi itu mulai sedikit berani menatap Seokjin.
"Tembakannya memang tak mengenai organ vitalnya, namun Yoongi hyung kehilangan banyak darah dan sekarang dokter sedang mengeluarkan pelurunya dari bahunya." Ujar Jimin sembari menatap pintu ruang operasi.
"Kau beristirahatlah dan bersihkan dirimu... Aku akan menunggu Yoongi." Ujar Seokjin. Jimin pun menuruti Seokjin untuk membersihkan dirinya yang juga nampak kacau itu.
"Apa Yoongi akan baik-baik saja??" Tanya Bona. Seokjin menatap Bona sekilas lalu kembali menatap pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat itu.
"Yoongi adalah manusia kuat... Lagipula hanya sebuah peluru." Ujar Seokjin.
"Tapi ia hampir kehabisan banyak darah... Kuharap yang kamu katakan benar... Tapi segala kemungkinan dapat terjadi!!" Ujar Bona panik. Melihat ekspresi panik Bona hanya membuat Seokjin jengah dan geram untuk membungkam mulut itu saat ini juga jika tak mengingat ini tempat umum.
Gyut!!!!
"Bisa tidak kau tenang?? Ini rumah sakit bukan stadion olahraga." Ujar Seokjin sembari menarik gemas hidung Bona sehingga sang pemilik hidung bernafas melalui mulutnya.
"Maafkan aku Seokjin..." Ujar Bona dengan suara lucunya karena Seokjin masih menarik hidungnya. Seokjin nampak hampir tertawa melihat tingkah Bona dan melepas hidung wanitanya itu.
"Yoongi itu kuat. Tenang saja."
"Eoh. Aku setuju... Ia bahkan pernah mengangkat tubuhku." Ujar Bona sembari ikut menatap pintu ruang operasi. Seokjin melirik wanita yang berdiri disebelahnya.
"Kau ini, duduklah... Kau baru saja lepas dari perawatan intensif, jangan sampai kau sakit lagi. Karena itu menyusahkan." Titah Seokjin sembari menarik Bona untuk duduk dibangku yang disediakan.
"Iya... Menyusahkan jiwa dan ragamu kan.... Hahaha..." Canda Bona namun tak digubris Seokjin sama sekali. Sudah terbiasa...
Bona dan Seokjin kembali diam menunggu operasi Yoongi. Dapat Bona lihat jika Seokjin sepertinya sangat kepikiran tentang Yoongi, sepupunya itu. Walau Seokjin menunggu dalam diamnya, Bona dapat melihat dari jemari Seokjin yang tidak tenang itu, jemari Seokjin saling meremas satu sama lain dan wajah serius Seokjin yang menatap kosong dinding rumah sakit yang berwarna krem itu.
Puk
Seokjin menatap heran pada sebuah telapak tangan halus yang menimpa kepalan kedua telapak tangannya, sedangkan Bona hanya tersenyum seperti biasa.
"Sini aku lihat tanganmu." Ujar Bona sembari membawa salah satu jemari Seokjin kepangkuannya. Seokjin masih diam saja melihat kelakuan Bona terhadap Jemarinya.
"Aku biasanya meminta Myeong untuk melakukan ini saat aku lelah menulis..." Ujar Bona sembari memijat telapak tangan Seokjin. Sang pemilik telapak tangan hanya diam sekaligus cukup heran juga dengan tindakan Bona.
"Aku kan tidak ada menulis."
Bona terkekeh geli.
"Aku hanya mencoba merilekskan dirimu... Setiap aku lelah menulis aku biasanya setres dan tak ingin melanjutkan menulis lagi. Myeong menyemangatiku dengan begini." Jelas Bona sembari menyatukan jemarinya dengan jemari Seokjin untuk meregangkan jari-jari Seokjin. Namun, saat jari-jari Bona mengisi rongga yang kosong di jemari Seokjin, pria itu langsung menguncinya dengan melipat seluruh jemarinya kepunggung tangan Bona.
Bona tersenyum dan menatap bingung jemari yang mengisi sela-sela jarinya, rasa senang tentu ada walau Bona tak menampakkannya. Namun saat ini jemari Seokjin yang hangat sangat menyenangkan. Tanpa ragu Bona membalasnya dan hanya bisa menyembunyikan senyum malunya dengan menunduk dan menatap ubin lantai rumah sakit.
(Bolehkah aku memiliki sedikit harapan padamu?? -Bona)
To Be Continue