The Secret Of My Boss [Soft]

The Secret Of My Boss [Soft]
Friend



( Ting! )


Sebuah pesan masuk ke ponsel Bona dan secara refleks wanita itu membuka pesan nya.


언니 (Kakak)


[Aku akan ke Seoul minggu ini.. alamat mu masih sama kan??]


(Celaka. Aku lupa memberitahu keluargaku bahwa aku sudah tinggal di kantor. -Bona)


Bona pikir, karena ia tinggal di kantor ia tidak membutuhkan apartemen nya lagi (karena cukup terbebani dengan biaya sewa)


Bona


[Maaf eon... Aku sudah pindah dan kini tinggal di kantor. Apa kau ingin ke Seoul?? Untuk apa??]


Bona menghela napas nya pelan dan kembali mengerjakan pekerjaan nya yang tertunda.


(Ting!)


언니


[Oh.. baiklah kalau begitu. Memang nya apa pekerjaan Mu??]


Bona


[Aku akan jelaskan nanti. Aku sedang sibuk eon.. bye]


(Sementara itu)


Bona : [aku akan jelaskan nanti. Aku sedang sibuk eon.. bye.]


"Sudah dewasa ia rupanya..." Ucap seorang wanita yang sedang duduk bersantai disebuah kafe.


"Maaf lama aku ada rapat tadi pagi." Ujar seorang pria yang langsung mengambil tempat duduk di hadapan wanita itu. Wanita bersurai panjang itu hanya mendengus kesal. Pasalnya ia seperti sudah menunggu lama.


"Aku hampir memesan cangkir yang kedua karena menunggu mu. Kau tau, rela menyempatkan diri datang ke Seoul karena kau ingin bertemu."


Namjoon tersenyum mendengar ucapan teman wanita nya yang satu ini.


"Mian Yong sun noona. Apa kau lupa jika aku ini sibuk sekali?? Terima kasih sudah jauh-jauh datang dari Daegu.. kau yang terbaik." Namjoon memberi dua jempol pada wanita yang ia panggil Yongsun itu.


"Jadi, kenapa kau ingin bertemu dengan ku? Kenapa??" Tanya Yongsun.


"Ini tentang Seokjin. Ia memiliki sekretaris baru."


"Sekretaris baru kau bilang???!! Aku sudah mengingatkan mu jika Seokjin belum boleh memiliki sekretaris baru karena masalah psikis nya belum 'normal'.." Yongsun memijit dahi nya yang tiba-tiba sakit saat mendengar pernyataan Namjoon.


Shin Yongsun, seorang psikiater dan teman SMA Seokjin dan Namjoon yang dulu nya bekerja sebagai Psikiater pribadi Seokjin. Namun, Yongsun berhenti dan pindah ke Daegu karena menikah. Ya, Yongsun sudah berkeluarga.


"Miaann noona... Jangan menatap ku seperti itu... Mana mungkin aku tidak menuruti hyung.. bisa-bisa ia akan meledakkan seluruh klub dan bar yang ada di Seoul ini.."


"YA!! Pemikiran mu hanya disitu saja. Bar dan klub sialan itu. Pikirkan juga kesehatan Seokjin!! Kau hanya semakin menambah banyak korban saja!!"


Jika hati nurani Yongsun tak bekerja, mungkin saja sudah berapa kali ia melayangkan pukulan pada kepala Namjoon.


"Maka dari itu noona.. kembalilah.. hanya dengan mu kami benar-benar percaya.. kau tau kan kami..."


"Dalam hati aku juga ingin membantu kalian.. tapi putri ku baru berusia 3 tahun.. aku tak mungkin pindah ke Seoul begitu saja dengan mudah..."


"Salahmu yang menikah terlalu cepat..." Sungut Namjoon. Dulu pria ini menyukai Yongsun saat SMA.


"Wae?? Kau menyesal tak cepat-cepat melamarku??" Namjoon terkekeh.


"Memangnya Eric hyung tak marah kau menemui ku??" Tanya Namjoon.


"Aniya.. karena aku sudah minta ijin padanya jika kau minta bertemu. Anggap saja konsultasi klien."


"Dia tidak curiga atau semacam nya??" Yongsun menggeleng.


"Ia percaya padaku. Jadi tak ada yang perlu dikhawatir kan.."


Namjoon hanya manggut-manggut.


"Lalu, siapa yang menjaga putri mu noona?? Apa kau membawa nya??"


Yongsun mengangguk.


"Ia bersama ayahnya." Yongsun menunjuk dua orang manusia yang sedang bermain taman depan kafe.


"Heol." Ujar Namjoon tak percaya. Keluarga yang harmonis.


"Jadi, apa aku bisa bertemu dengan Seokjin dan sekretaris nya hari ini??"


"Nanti sore. Di kantor hyung. Ia pasti senang jika tau kau datang noona.."


Ujar Namjoon senang.


"Hmm... Sampaikan salam ku pada Seokjin.. aku pergi dulu.." Yongsun pun pergi dari kafe tempat ia dan Namjoon bertemu.


(10 tahun yang lalu)


"Kudengar kasus bunuh diri lee yeori dari kelas 11-1 disebabkan oleh Seokjin dari kelas 11-2" Yongsun mendengar beberapa siswi bergosip tentang Seokjin teman sekelas nya dan sebangku nya itu. Yongsun sedang berada disalah satu bilik kamar mandi dan mendengar beberapa siswi bergosip di kamar mandi.


" Benarkah?? Kenapa bisa?? Bukan kah ayahnya Seokjin donatur terbesar di sekolah kita?"


"Teman nya Lee yeori mengatakan bahwa Seokjin dan Yeori menjalin hubungan. Tetapi Seokjin terlalu posesif hingga membuat Yeori stress.."


"Kasihan Yeori.."


(Klek)


Yongsun keluar dari bilik nya dan melihat dua orang siswi yang sedang merias diri didepan wastafel. Melihat Yongsun keluar untuk mencuci tangan nya kedua siswi itu mengalihkan topik pembicaraan kearah lain.


Selesai dengan urusan kamar mandi Yongsun tidak langsung kembali ke kelas melainkan kesuatu tempat yang pasti Seokjin ada di tempat itu.


Atap sekolah, tempatnya. Tebakan Yongsun benar. Teman sebangku nya itu sedang duduk di salah satu bangku yang tersedia di rooftop gedung sekolah mereka itu.


"Ya! Seokjin. Kau tidak masuk kekelas?!" Seru Yongsun di ambang pintu. Panggilan tak digubris. Pria itu masih saja diam menatap pemandangan dari atap walau pandangan nya dihalangi oleh kawat pembatas. Mau tidak mau manusia jenis ini harus dihampiri. Pikir Yongsun. Wanita itu pun mengambil tempat di samping Seokjin.


"Kenapa?? Apa kau sedang stress?? Atau sedang memikirkan sesuatu??" Tanya Yongsun.


"Tak apa-apa.. tak ada yang salah.." ujar Seokjin.


"Kau bisa cerita jika ingin..."


Seokjin menghela napas nya pelan.


"Apa menurut mu aku ini orang nya jahat??" Tanya Seokjin.


"Iya kau orang yang jahat dan baik sekaligus.." jawab Yongsun. Seokjin menatap teman nya itu heran.


"Saat bersama ku kau tidak pernah jahat.. kau sering mentraktirku dan meminjamkan ku barang-barang mu." Lanjut Yongsun. Seokjin masih diam menatap Yongsun.


"Tidak perlu khawatir. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kau bersalah.."


"Kau benar... Bagaimana kalau sepulang sekolah Kita ke kafe??" Ajak Seokjin.


"Aku ingin... Tapi aku sibuk membersihkan apartemen sepulang sekolah ini~~~" ujar Yongsun penuh dengan kepasrahan nya.


"Hmm baiklah.. kapan-kapan saja.."


"Aku heran dengan mu." Ucap Seokjin.


"Kenapa?? Ada yang salah dengan ku?? Apa aku terlalu membingungkan??"


"Kenapa kau mau berteman denganku?? Padahal seperti yang kau tau, semua orang membicarakan diriku saat ini."


"Suka-suka aku. Aku melakukan nya karena aku ingin. Memang nya kau pernah melihat ku menggubris omongan orang??" Seokjin diam. Yongsun terkekeh.


"Ayo masuk kelas. Nanti ssaem marah.. buat masalah lagi.. " ajak Yongsun.


(Flashback off)


(Ting!)


(Tap)


Bona langsung berjalan cepat saat pintu lift terbuka. Siang ini Seokjin ada rapat bulanan dengan para eksekutif perusahaan dan Bona diperintahkan Seokjin untuk mengatur ruangan rapat serta mempersiapkan segala yang dibutuhkan dalam rapat yang akan mulai 30 menit lagi. Dengan membawa setumpuk berkas yang akan dibahas dalam rapat nanti. Setelah mengambil berkas, wanita itu juga harus memeriksa dan mengecek segala peralatan didalam ruangan apakah semua nya berfungsi sebagaimana mestinya. Setelah dikira beres, Bona harus menyambut para peserta rapat.


(Inikah namanya kesibukan?? -Bona)


Sementara itu, atasan Bona satu ini diam menatap pemandangan kota dari dinding kaca ruangan nya. Pandangannya sangat menikmati kesibukan kota dari ketinggian ruangannya itu.


"Suka-suka aku. Aku melakukan nya karena aku ingin. Memang nya kau pernah melihat ku menggubris omongan orang??"


Seokjin tersenyum kecil saat kata-kata teman SMA nya tiba-tiba terlintas dipikirannya.


(Cklek!)


"Mr. Kim, para eksekutif sudah tiba diruangan rapat." Seokjin langsung melihat siapa yang menegurnya. Sekretaris nya, Shin Bona. Penampilan wanita itu benar-benar berantakan karena mengurus segala nya sendiri. Mulai dari yang utama hingga masalah terkecil dari Seokjin pun ia urus. Misalnya membuat kopi untuk atasannya itu hingga mencuci gelas bekas kopi Seokjin pun harus Bona yang lakukan. Padahal ada staf rumah tangga perusahaan yang bisa mengurusnya. Akan tetapi jenis atasan satu ini hanya ingin sekretaris nya yang melakukan semua itu.


"Rapikan penampilan mu. Kita akan mulai rapat." Seokjin langsung beranjak keluar menuju ruang rapat. Mendengar ucapan atasannya Bona langsung merapikan diri dan langsung mengejar Seokjin.


"Mr. Kim. Manager Kim tadi menghubungi saya bahwa setelah rapat akan ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda. Hanya itu jadwal tambahan anda hari ini." Ujar Bona saat berhasil menyusul Seokjin koridor.


"Siapa seseorang itu??" Tanya seokjin.


"Manager Kim tak menyebutkan nama orang itu." Jawab Bona.


(Apa itu Yongsun?? -Seokjin)


(3 tahun yang lalu)


"Maaf Seokjin. Aku ingin berhenti menjadi psikiater pribadi mu.." ucap Yongsun pada Seokjin di ruangan kerja Seokjin. Pria itu seketika langsung berhenti mengerjakan segala nya. Pelan-pelan Yongsun menyodorkan surat pengunduran diri nya di meja kerja Seokjin.


"Waeyo?? Kenapa kau ingin berhenti?? Apa gajih mu kurang?? Apa ada yang mengganggu mu?? Biar aku yang mengurusnya." Tak henti-henti nya Seokjin bertanya pada Yongsun.


"Ahh.. pada akhirnya kau pun meninggalkan aku juga.."


"Seokjin.. aku sebenarnya masih ingin bekerja untuk mu. Tapi, ini keputusan yang aku ingin ambil. Tolong mengertilah.. Bukankah aku pernah bilang segala sesuatu itu datang dan pergi. Itu hal yang wajar. Mungkin aku juga seperti itu. Bersikap wajarlah pada segalanya." Ujar Yongsun sembari meraih jemari Seokjin dan menepuk pelan jemari itu.


"Bagaimana jika aku tak bisa melepasmu?? Karena hanya kau yang mengerti ku."


Yongsun terkekeh geli.


"Sifat manusia itu banyak jenisnya. Orang seperti aku tidak cuma satu. Percayalah.. banyak orang diluar sana sama seperti aku." Jelas Yongsun.


"Bagaimana jika tidak ada dan hanya kau??"


"Kau bisa menghubungi ku. Nanti aku bantu cari... Heheh.." jawaban khas Yongsun, pikir Seokjin.


"Kau yakin?? Kenapa tidak menikah dengan ku saja??" Kali ini Yongsun tertawa.


"Kau itu masih muda seokjin... Terlebih kau adalah CEO sekarang. Orang seperti mu tidak baik menikah cepat.. bekerja keras lah memajukan perusahaan.. jangan memikirkan bekeluarga dulu.." ujar Yongsun. Seokjin mendengus kesal. Ia ditolak mentah-mentah oleh sahabatnya sendiri. Memang benar pikiran nya hanya perusahaan semata.


"Tuan kim.. ayolah.. kau tidak perlu memberiku pesangon sebagai gantinya.." ujar Yongsun. Seokjin menatap Yongsun tajam, tetapi wanita itu sudah biasa dan hanya tersenyum santai.


"Keluar kau.." usir Seokjin.


Yongsun langsung membungkuk 90° pada Seokjin.


"Terima kasih banyak tuan Kim atas segalanya." Yongsun pun keluar dari ruangan Seokjin.


"Terima kasih Yongsun-ah.." ucap Seokjin pada pintu ruangan nya.


(Flashback off)


(Tap!)


"Heol.. ternyata tak ada yang berubah dari gedung ini.." ujar Yongsun saat tiba di depan gedung pusat bighit Corp.


Yongsun memandang gedung tempat ia bekerja dulu seakan menjadi kunci pemutar kenangan-kenangan selama Yongsun membangun karir di perusahaan itu. Walau hanya sebagai psikiater pribadi Seokjin. Dengan bersemangat Yongsun masuk kedalam gedung tinggi itu.


"Rapat hari ini cukup." Ujar Seokjin menutup rapat bulanan mereka.


Setelah rapat selesai Seokjin langsung ingin kembali keruangan nya namun keinginan nya dihentikan oleh Namjoon.


"Dia menunggu mu di kafetaria hyung." Ujar Namjoon. Seokjin menatap Bona yang berdiri di belakang kanan nya. Wanita yang ditatap malah bingung.


"Ada apa Mr??" Tanya Bona.


"Ayo ke kefateria." Seokjin langsung memutar badannya menuju kafetaria. Sebagai sekretaris tentu saja Bona mengekor kemana perginya si atasan.


Namjoon nampak tersenyum melihat langkah Seokjin yang nampak seperti 'terburu-buru' itu.


(Kau pasti merindukan nya hyung.. -Namjoon)


[Kafetaria]


Yongsun sudah mengambil tempat duduk dan memesan kopi cappucino kesukaannya. Ia pun sudah menghubungi Namjoon jika ia sudah tiba dan menunggu di kafetaria.


"Yongsun/eonni....."


Yang dipanggil langsung menoleh dan melihat siapa yang menegurnya itu. Kim Seokjin dan Sekretaris wanita nya Shin Bona.


"Heol. Bona.. apa kau bekerja disini?!" Yongsun kaget


"Eonni.. apa yang kau lakukan disini??" Bona heran


"Seokjin.. lama tak jumpa..." Sapa Yongsun pada Seokjin.


Seokjin bingung.


Namjoon pun tiba.


"Kenapa kalian diam.??" Tanya Namjoon heran melihat Seokjin, Bona dan Yongsun diam satu sama lain. Ada apa???


"Jadi Bona adalah adikmu?!" Ujar Namjoon kaget. Seokjin hanya diam. Kini mereka berempat sudah duduk. Yongsun dan Bona tersenyum bersama dan itu terlihat mirip dimata Namjoon dan Seokjin.


"Aku tidak menyangka kau akan merekrut adikku untuk menjadi sekretaris mu, Seokjin." Ujar Yongsun pada Seokjin yang masih diam. Seakan masih belum bisa menerima jika Yongsun dan Bona adalah saudara dan mereka sangat mirip.


"Kenapa eonni kenal dengan Mr. Kim dan manager Kim?? Lalu yeonsa dan Eric oppa dimana??" Tanya Bona heran. Eonni nya ini tidak bilang jika datang ke Seoul nya adalah hari ini.


"Kami teman SMA dan aku bekerja dengan mereka dulu.. mereka di hotel sekarang. Yeonsa pasti senang jika aku ajak kesini. Ia merindukan imo nya." Ujar Yongsun. Namjoon dan SeokJin menebak Yeonsa pasti anaknya Yongsun.


"Tolong tinggalkan kami berdua." Ucap Seokjin datar. Dengan cepat Namjoon menarik Bona pergi dari Yongsun dan Seokjin.


Setelah dirasa Bona dan Namjoon telah agak jauh, Seokjin pun mulai membuka pembicaraan.


"Kenapa kau ada di Seoul??" Tanya Seokjin.


"Mengenang masa lalu mungkin..." Jawab Yongsun sekenanya.


"Aku serius Yongsun.." ujar SeokJin. Wanita itu terkekeh.


"Ternyata sifat 'lain' mu itu semakin menjadi.. baiklahh.. Namjoon yang meminta Ku kesini." Jelas Yongsun. Menurut Yongsun, dulu sifat Seokjin tak sekaku dan sedingin ini.


"Lalu... Ini lucu.. adikku adalah sekretaris mu??" Ujar Yongsun tak percaya. Seokjin masih menatap Yongsun diam.


"Berhentikan dia Seokjin. Adikku bukanlah orang yang tepat untuk kau mainkan." Seokjin tersenyum miris. Sungguh kebetulan sekali.


"Waeyo?? Bukankah ini seperti mendapatkan kau kembali??" Seokjin mengeluarkan his evil smiles. Yongsun memicingkan matanya menatap Seokjin tak suka. Ia tak suka sifat Seokjin yang sekarang.


"Apapun niat mu itu. Lebih baik kau cari yang lain. Aku sebagai eonni dan temanmu tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi antara kalian berdua.. aku sangat tau cara kau memperlakukan sekretaris mu.. oleh karena itu..."


"Setelah tau ia adalah adikmu, rasanya aku akan memperlakukan nya spesial.."


"Lebih baik jangan. Berhentikan dia saja. Itu yang terbaik."


"Dia sudah menandatangani kontrak selama 6 bulan.. kau tau kan jika aku tak mudah jika sudah berurusan dengan Kontrak?" Yongsun sangat memahami itu. Tapi, ini berurusan dengan adiknya.


"Aku akan selalu mengawasi mu Seokjin.." ujar Yongsun pasrah. Kini ia harus memperingati Bona.


"Senang mendengarnya Yongsun." Seokjin tersenyum puas.


Sementara itu.....


"Apa yang mereka bicarakan ya.. wajah eonni sepertinya tegang berhadapan dengan Mr. Kim." Ujar Bona sambil curi-curi pandang pada Yongsun dan Seokjin. Namjoon juga ikutan melihat.


"Entahlah... Mereka seperti mengobrol hal yang serius." Namjoon melihat Bona.


"Ternyata kau benar-benar mirip dengan Yongsun noona dan kenapa aku tak begitu menyadari nya." Ujar Namjoon. Bona pun melihat Namjoon yang duduk di hadapan nya.


"Mana saya tau... Ah iya.. waktu saya dan Mr. Kim ke B bank, saya mendengar percakapan Mr dan direktur Kim Taehyung. Mereka bilang tak menyukai wanita.. itu kenapa??? Lalu, beberapa hari yang lalu Mr. Kim bilang, jika saya ingin tau apa yang terjadi di apartemen Myeondong 6 tahun lalu. Saya bisa bertanya pada anda. Ada apa sebenarnya??" Tanya Bona penasaran. Namjoon agak kaget dengan pertanyaan yang diajukan oleh Bona dengan mudahnya tanpa merasa ragu sekalipun. Namjoon berdehem pelan lalu mencondongkan wajahnya pada Bona. Begitulah Bona juga.


"Kau tidak boleh menceritakan pada siapapun karena ini masalah atasan mu. Aku menceritakan ini karena kau adalah sekretaris Seokjin. Kau paham??" Bona mengangguk. Namjoon melihat sekitar. Memastikan tak ada yang akan mendengar mereka.


(6 tahun lalu)


"Hyung.. ini berkas yang kau minta... MWO!!!!" Betapa kagetnya Namjoon saat memasuki kamar di ruangan kantor Seokjin untuk mengantar dokumen yang Seokjin minta. Bagaimana tidak kaget dan ngeri, jika kita melihat langsung pembunuhan dan tubuh para korban sedang dipotong-potong oleh sang pelaku.


"Letakkan saja di meja dokumen nya. Kau tidak lihat acara yang menarik ini??" Ujar Seokjin cuek. Nampak dilayar televisi milik Seokjin sebuah video live menampilkan pembunuhan sadis dan itu sangat membuat Namjoon ketakutan dengan sosok Seokjin saat ini.


(Flashback off)


"Jadi Mr. Kim tidak menyentuh korban nya sama sekali?? Dia hanya membayar pembunuh bayaran untuk membunuh mantannya??" Namjoon mengangguk. Bona masih tak percaya... Rasanya mustahil sekali mempercayai nya.


"Yang lebih seramnya hyung menonton nya sambil tertawa seolah itu adalah acara komedi.."


"Sekarang aku merasa tubuh ku yang terpotong... " Namjoon terkekeh mendengar ucapan Bona.


"Apa sekarang kau takut pada hyung??" Bona menatap Namjoon.


"Sebagai manusia normal rasa takut padanya itu ada. Tapi.. rasanya rasa takut ku kalah dengan rasa penasaran ku pada Mr. Kim." Namjoon agak kaget mendengar pendapat Bona. Jarang sekali ada wanita yang penasaran dengan hyung nya karena sudah takut duluan (takut dibunuh).


"hyung ku itu psikopat."


"Saya sudah menebak itu.. karena setiap pekerjaan yang ia berikan itu lebih dari pekerjaan seorang budak. Eh, maaf saya bicara yang tidak sopan tentang hyung anda.." Bona merasa tidak enak menjelekkan Seokjin dihadapan Namjoon.


Adik Seokjin itu hanya tersenyum menatap Bona yang menunduk dan merasa bersalah itu.


"Kau Bisa jujur saat bersama ku.. kita kan teman.. Seokjin hyung dan Yongsun noona bisa berteman.. kenapa tidak dengan kita??" Bona menatap Namjoon tak percaya. Dalam hati, wanita itu sangat senang jika Namjoon menganggap nya sebagai teman.


"Berarti.. boleh kupanggil Namjoon??"


Namjoon mengangguk.


"Aku juga akan memanggilmu Bona.."


Bona tersenyum senang.


"Lagipula..aku kasihan padamu yang dikurung oleh hyung diruangan nya. Kau pasti sulit menemukan teman." Ujar Namjoon prihatin.


"Bagaimana lagi.. itu yang ditulis dalam kontrak. Aku tidak bisa seenaknya. Lagi pula aku juga tak sendirian selama ini karena aku selalu bersama Mr. Kim dan Hyejin sunbae sekretaris mu." Namjoon tertawa mendengar jawaban Bona tentang hyung nya.


"Tapi jika bersama hyung kau tidak bisa melakukan apa yang kau mau. Iya kan??"


"Iya sih.. yang penting tidak sendirian....hehehe...."


"Apa yang kalian Bicarakan?? Sepertinya seru sekali!!!" Sambut Yongsun menghampiri Namjoon dan Bona, sedangkan Seokjin sudah kembali ke ruangan nya.


"Bona ayo kita bicara..." Ajak Yongsun lalu keluar kafetaria. Bona dan Namjoon bingung tapi menuruti saja. Bona pun menyusul langkah Yongsul.


(Apapun yang akan kau bicarakan, noona. Kuharap jangan tentang memberhentikan Bona. -Namjoon)


Kedua saudara itu pun sampai ditaman perusahaan.


"Kenapa eon??"


"Apapun alasan nya. Jangan sampai kau menyukai Seokjin." Ucap Yongsun tiba-tiba.


To Be Continue