![The Secret Of My Boss [Soft]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-secret-of-my-boss--soft-.webp)
Selesai berurusan di kantor Taehyung. Seokjin dan sekretaris amatir nya itu kembali ke kantor tempat mereka bekerja dan entah kenapa Bona merasa sedikit lega.
" Bagaimana hari pertama mu Bona??" Tanya seorang wanita saat Bona sedang memfotokopi laporan nya di tempat fotokopi. Bona kenal wanita yang menyapa nya. Ia adalah senior nya Ahn Hyejin. Sekretaris nya Namjoon. Orang nya seksi, cantik dan juga ramah. Bona tersenyum pada Hyejin.
"Ternyata tak semudah yang ku bayangkan sunbae.. aku masih harus banyak belajar khususnya belajar menyetir..." Jawaban Bona mendapat kekehan dari Hyejin. Senior itu mengelus kepala Bona seolah menyalurkan tenaga nya pada Bona agar kuncup bunga itu segera mekar dan kembali segar.
"Sebagai sunbae mu yang bekerja di perusahaan ini dan sama-sama sebagai sekretaris. Tugas kita disini adalah yang paling berat. Kau paham akan hal itu. Tapi, jika kau benar-benar menyelesaikan kontraknya.. kau benar-benar hebat." Ujar Hyejin. Tetap saja. Itu masih membingungkan bagi Bona.
"Sunbae.. aku akan bercerita dengan mu dilain hari karena hari ini aku benar-benar tak sempat.." Bona menyusun segala hasil fotokopian nya lalu pamit pergi. Hyejin terkekeh geli melihat Bona pergi.
"Kau tak akan punya waktu itu.. Hoobae ku.." ujar Hyejin.
(Klek!)
"Mr. Kim.. ini laporan kegiatan hari ini... Sehabis ini jam 3 sore akan ada klien dari Busan datang untuk menemui mu.. itu saja jadwal hari ini. Saya akan kembali ke tempat saya..."
"Jam berapa ini??" Tanya Seokjin yang sibuk melihat laporan yang baru Bona buat. Bona melihat ponsel nya.
"12:45 pm"
"Mulai besok kau harus memakai arloji. Aku tak suka kau terus melihat ponsel ketika ku tanya waktu." Dari nada bicara nya, Seokjin sama sekali tidak Seperti menyarankan tetapi memerintah.
Sejujurnya Bona tak terlalu suka memasangkan sesuatu di tubuh nya seperti arloji contohnya.
"Akan saya usahakan." Ujar Bona.
"Aniya.. kau harus memakainya." Ujar Seokjin pelan namun terdengar seperti pemaksaan. Bona mulai merasa tidak nyaman padahal ini hari pertama nya.
"Saya akan memakai nya besok."
"Duduk." Titah nya. Bona menuruti perintah seokjin. Dia pun duduk di sebuah kursi di depan meja kerja Seokjin.
Pria itu bahkan menutup laptopnya dan menatap intens Bona. Dari pucuk kepala wanita itu. Yang ditatap tentu saja bingung sekaligus gugup. Bona sedikit terganggu jika Seokjin terus menatap nya.
"Ceritakan padaku tentang semua tentang dirimu." Ujar Seokjin tiba-tiba.
(Apa ini tes psikologi? -Bona)
Jangan tanya lagi tentang keanehan lagi. Karena Bona tak ingin ambil pusing tentang semua ini. Namjoon Berpesan pada nya bahwa jika ia ingin bertahan diposisi ini.. ia harus mematuhi perintah Seokjin.
"Baiklah. Saya akan menceritakan diri saya..." Bona pun menceritakan tentang dirinya menurut pandangan nya pada Seokjin dan pria itu ternyata menyimak cerita tentang Bona yang kebanyakan tentang belajar, makan, dan bermain.
(Kenapa kisahnya seperti anak kecil?? -Seokjin.)
"Sewaktu saya kuliah saya mendapat banyak teman yang berasal dari Seoul......."
"Apa dari kecil hidup mu hanya makan, bermain, dan belajar??" Seokjin tiba-tiba memotong cerita Bona. Padahal wanita itu belum habis cerita.
"Memangnya anda ingin saya menceritakan bagian mana??" Tanya Bona polos.
"Apa kau tidak pernah memiliki namja chingu semasa SMA?"
Bona menggeleng.
"Teman saya kebanyakan adalah perempuan dan saya sekolah di sekolah kejuruan." Entah kenapa ekspresi Seokjin kali ini terlihat 'pasrah'.
"Ada lagi Mr. Kim??"
"Ahh.. apa yang kau suka dan kau takuti atau benci??"
"Saya suka makan dan hal yang saya benci adalah sesuatu yang menjijikan."
"Bisakah kau mendeskripsikan sesuatu yang menjijikan itu??" Tanya Seokjin penasaran.
(Jangan bilang kau ingin mengerjai ku Mr. Kim.. -Bona)
"Saya juga kadang bingung. Karena daripada saya mencari kebencian ataupun ketakutan saya, lebih baik saya belajar tentang hal yang baru dan dapat saya manfaatkan untuk hidup saya. Misalnya mencoba sesuatu yang baru yang tak pernah kau coba sebelumnya." Jelas Bona. Karena menurut wanita itu, ketakutan maupun kebencian bukanlah hal yang harus dicari sebab mereka akan datang sendiri. Berbeda dengan rasa suka, kau harus mencari dan menemukan.
Seokjin diam. Apa ia kehabisa kata-kata? Kehabisan stok pertanyaan? Atau jawaban Bona sudah cukup baginya?
"Lalu, bagaimana dengan anda Mr. Kim? Bisakah anda memperkenalkan diri anda pada saya??" Bona berbalik bertanya pada Seokjin. Atasan Bona itu menatap Bona sembari berpikir apa yang harus ia ceritakan pada Bona.
"Apa yang ingin kau tau dariku??" Tanya Seokjin. Bona merenung sebentar, kemudian tersenyum.
"Semuanya... Kalau perlu kebiasaan anda setiap hari.. mantan atau kekasih.. semuanya... Heheh..."
"Baiklah aku akan bercerita.. ternyata kau ini bersemangat tentang seperti ini..." Cibir Seokjin.
Seokjin pun mulai menceritakan tentang dirinya pada Bona. Kisah hidupnya yang ia ceritakan pada Bona seolah-olah menjadi sebuah film yang terputar di otak Bona dan pemeran utama nya adalah Seokjin beserta pemeran tanpa wajah lainnya.
(Seokjin side)
Tes!
Heol.
Bagaimana bisa aku menghargai kalian para wanita jika kalian seperti ini padaku??
Dengan mata kepala ku sendiri aku melihat kekasihku Lee Hana bersama pria yang tidak kukenal berciuman panas di apartemen kekasihku.
"LEE HANA!!!" kedua s*mpah itu melepas tautan mereka dan kaget melihat keberadaan ku. Aku baru saja kembali dari Daegu karena ada urusan bisnis. Sesuai jadwal aku memang akan kembali besok namun, karena aku merindukan kekasihku aku memutuskan untuk pulang malam ini dan apa yang kutemukan!???
"S-seokjin.. aku bisa jelaskan i-ni.. te-tenanglah.." kulihat ****** itu melepas diri dari pelukan namja itu dan menghampiri ku.
"Baru 3 hari aku pergi keluar kota untuk urusan bisnis dan kau berani bermain dibelakang Ku seperti ini??" Aku mencoba menahan diri untuk tidak bermain tangan walau tangan ku sudah sangat tidak sabar untuk menampar atau membunuh ****** ini. Wajah ****** itu nampak kalut dan seperti menyusun alasan di otak nya.
"Se-seokjin kau salah paham.. ini tidak seperti yang kau pikirkan.. aku hanya makan bersama teman kampus ku saja.." Alasan macam apa itu?? Kau kira aku tak melihat apa yang kalian barusan lakukan???
"Apa kau lupa kau menjalin hubungan dengan siapa?? Kau pikir aku tak melihat 'kegiatan' panas kalian tadi?? Apa itu yang kau maksud makan malam?? Ahh.. aku jadi tau.. kau memanglah ****** profesional.."
Plakkk!!
Sakit?? Tentu saja tidak. Aku malah tersenyum saat tamparan keras Hara mengenai pipi ku. Sebenarnya siapa yang harus menerima pukulan keras disini.
"Kau benar Seokjin!! Aku memang bermain dibelakang mu. Wae?! Apa kau tak intropeksi pada dirimu sendiri??? Mana ada yang tahan menjalin hubungan dengan mu jika kau memperlakukan mereka seperti boneka??" Aku masih menunggu nya menyelesaikan ucapan nya...
"Kau seenaknya mengatur hidup ku, tidak mengijinkan ku berteman dengan siapapun, mengurung ku sementara kau menggunakan ku sebagai alat pemuas nafsu mu. Okey. Aku memang suka akan satu hal itu. Tapi, aku ingin menikmati hidup ku juga. Aku ingin bebas Seokjin."
Aku mengakui apa yang telah ia katakan. Aku memang mengurung nya diapartemen nya sendiri, melarang ia bergaul dengan pria lain selain diriku, bahkan aku memasang penyadap di apartemen nya dan dirinya. Aku memang posesif pada nya, tapi aku melakukan semua itu karena aku ingin menjaga nya. Aku ingin belajar mencintai seorang wanita. Aku ingin mempercayai nya. Namun, kenyataannya ia tak menghargaiku. Tak mengerti akan keadaan ku dan alasan kenapa aku memperlakukannya seperti itu. Hara tak pernah mengerti.
"Kita akhiri saja Seokjin.. pria seperti mu takkan bisa dengan semua orang.. kusarankan perbaiki dirimu sebelum sifat mu itu membawa mu kearah yang salah.." heol dia menceramahi ku Sekarang
"Diamlah ******.. kau tak punya hak untuk menceramahi ku. Kau tau? Kau kira aku tak tau berapa won yang kau habiskan untuk pacar "gelap" mu itu?? Aku juga tau, kau hanya memanfaatkan uang ku saja.. aishh.. bodohnya diriku karena ****** satu ini.. ahh.. terima kasih atas tamparan tidak ada rasa mu itu.. tapi kau harus ingat ini," Seokjin mendekatkan wajah nya pada Hara.
"Kita hanya akan berpisah ketika maut yang memisahkan kita." Aku benar-benar puas melihat wajah ketakutan mu Hara. Itu seperti memacu ku untuk bersemangat menghilangkan mu...
(Flashback off)
(Author side)
"Oke hanya itu. Kau seperti sangat menikmati cerita ku saja..." Ujar Seokjin pada Bona yang benar-benar menyimak Seokjin bercerita.
"Lalu, bagaimana kabar si mantan anda itu??" Tanya Bona penasaran. Seokjin tersenyum.
"Berapa usia mu saat 6 tahun yang lalu?"
"17 tahun. Waeyo?"
"Apa kau ingat kasus mutilasi di apartemen Myeondong no 2001??". Bona terlihat kaget
"Jangan bilang anda pelakunya." Seokjin tertawa.
"Mereka sendiri yang melakukan nya. Aku hanya menonton." Ujar Seokjin. Terdengar tak masuk akal bagi Bona.
"Saya tak begitu mengerti..."
"Tanyakan pada Namjoon saja. Aku merasa agak aneh jika aku menceritakan sisi gelap ku pada mu."
Ujar Seokjin. Bukan Bona jika akan menuruti begitu saja, sebab ia akan.....
"Manajer Kim?? Apa ia juga terlibat??" Seokjin berdehem.
"Saya masih bingung. Bagaimana mereka memutilasi diri mereka sendiri. Bukankah itu sakit??"
"Entahlah. Aku tak merasakan nya." Seokjin kembali membuka laptop nya.
"Itu sakit pasti.. terkena iris pisau saja sakit.. Mr. Kim aku penasaran bagaimana anda menonton nya. Apa anda ada diruangan itu atau melalui alat penyadap??" Seokjin diam tak menanggapi.
"Apa manajer Kim juga ada disitu??? Bagaimana bisa?? Maksudnya manajer Kim tak ada hubungan nya. Mungkinkah....." ucapan Bona terpotong.
"Apa kau ini seorang wartawan??" Tanya Seokjin sembari menatap datar Bona. Ia bukanlah seorang wartawan, tetapi Bona adalah sekretaris Seokjin. Ia sangat penasaran makanya ia terus......
Bertanya.
To Be Continue