![The Secret Of My Boss [Soft]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-secret-of-my-boss--soft-.webp)
(Author's pov)
Namanya Shin Bona, wanita yang sudah menjadi istri sah atasannya itu hanya bisa terdiam menunggu Yoongi sadar sementara Seokjin sedang ada berbicara dengan kolega bisnisnya melalui telepon.
Memang ditubuh Yoongi tak ada luka lain selain luka tembak dibahunya itu, namun bagi Bona tetap saja menyakitkan. Ini sudah 2 jam setelah operasi Yoongi selesai dan pria Min ini belum sadarkan diri, wajar saja karena itu merupakan efek bius atau kekurangan darah?? Terkadang Bona selalu memikirkan kemungkinan.
Saat-saat sedang melamun, Bona melihat jemari Yoongi bergerak. Wanita itupun langsung menghampiri bangsal Yoongi dan benar kelopak mata pria itu perlahan ia buka dan langsung melihat Bona disisi ranjangnya.
"Aku panggilkan dokter dulu...." Ujar Bona lalu pergi keluar kamar.
Tak lama Bona memanggil dokter untuk memeriksa kembali keadaan Yoongi saat ini dan Seokjin pun sudah selesai dengan urusan bisnisnya itu.
Dokter menjelaskan beberapa hal pada Bona dan Seokjin perihal Yoongi dan nampaknya sesuatu yang diberitahukan pada mereka adalah hal baik.
"Terima kasih dokter..."
"Itu sudah tugas saya. Sampai jumpa."
Setelah mengantar dokter yang bertugas ke ambang pintu, Bona kembali menghampiri Yoongi dan Seokjin.
"Apa Jimin masih lama?" Tanya Seokjin pada Bona. Wanita itu pun langsung meraih ponselnya untuk menghubungi Jimin.
"Dia sebentar lagi sampai." Ujar Bona setelah berbincang dengan Jimin sebentar melalui telepon. Seokjin paham lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada Yoongi lagi.
"Kupikir Yoongi membutuhkan banyak istirahat, lebih baik kita pergi dulu." Ajak Seokjin. Bona pun hanya menuruti dan mengikuti langkah Seokjin.
Seokjin ternyata membawa Bona ke sebuah restoran dan memesan banyak makanan hingga memenuhi meja mereka dan sedikit membuat Bona heran.
"Kau ingin melakukan mukbang??" Tanya Bona heran. Sementara Seokjin menatap Bona sekilas lalu mengalihkan perhatiannya pada daging yang sedang ia panggang.
"Diam dan makan saja. Ini semua untukmu." Ujar Seokjin sembari memberi Bona beberapa daging kepiring wanita itu.
"Aku bisa tidak makan selama tiga hari jika hari ini kamu memberiku banyak makanan seperti ini." Ujar Bona sembari memasukkan daging yang diberikan Seokjin kemulutnya dan mengunyahnya dengan semangat.
"Enak..." Ujar Bona sembari tersenyum pada Seokjin. Pria itu hanya tersenyum tipis dan sibuk membolak-balikkan panggangannya sambil menyuapi dirinya sesekali.
"Kau harus makan banyak agar tidak sakit lagi dan juga, jangan berbicara saat makan, kau mengerti??" Ujar Seokjin yang lebih terdengar seperti perintah itu. Bona menanggapinya hanya dengan mengangguk saja dan menikmati makanannya.
Tuk
Bona benar-benar berjuang menghabiskan semeja makanan yang dipesan Seokjin dan tentu saja Seokjin ikut membantu, karena jika tidak ia akan mendengar Bona mengoceh sepanjang kegiatan makan mereka.
"Sungguh! Aku benar-benar-benar kekeyangan, Seokjin. Terima kasih untuk makanannya..." Bona setengah mati mengeluarkan perkataannya ditengah keadaan sangat kenyang nya itu. Melihat keadaan Bona, membuat Seokjin mengulum senyum atau tertawa nampaknya.
Menyadari hal itu membuat Bona memicingkan matanya pada Seokjin.
"Nampaknya kamu sengaja membuatku seperti ular piton. Kamu ingin aku tak banyak bergerak dan berbicara rupanya." Ujar Bona sembari mencubit lengan Seokjin gemas.
"Akh! Kenapa kau mencubitku?! Ular piton? Aku hanya memenuhi kewajibanku merawatmu dan kau bilang ular piton? Aku bahkan tak terpikir pada hal seperti itu." Ujar Seokjin membela dirinya.
Bona bagai tersedak udara dan tertawa mendengar jawaban Seokjin barusan.
"Aku sangat berterima kasih jika kamu ingin merawatku..." Ujar Bona.
"Eoh, apa kau sudah bisa bergerak??" Tanya Seokjin.
Sekali lagi, Bona memicingkan matanya itu pada Seokjin.
Gyut~
"Akh! Ya! Nampaknya kau sudah berani mencubitku!" Seru Seokjin saat Bona kembali mencubit lengan Seokjin lagi. Wanita itu menatap gemas pada Seokjin seraya tersenyum hambar.
"Kamu baru saja meledekku. Biarkan aku duduk disini selama 15 menit atau kamu mau aku mengalami kram perut." Ujar Bona seraya menikmati suasana restoran dan Seokjin memainkan ponselnya. Tanpa Bona ketahui pria ini diam-diam mengambil fotonya dan menganggap tak ada yang terjadi saat Bona menatapnya heran.
"Kenapa kamu seperti orang aneh?" Tanya Bona heran. Seokjin hanya memandang layar ponselnya seraya menggeleng seolah tak ada yang pria itu lakukan.
Bona seperti teringat akan sesuatu.
"Ah iya. Apa kamu tidak penasaran siapa yang menembak Yoongi?? Apa kamu tidak melaporkannya saja kepolisi??" Tanya Bona tiba-tiba. Tentu saja topik ini langsung membawa nuansa agak canggung antara Seokjin dan Bona.
"Kau cukup diam dan biarkan aku mengurusnya..." Ujar Seokjin acuh.
Bona menatap Seokjin dalam diamnya namun, rasanya aneh dan ingin tahu lagi.
"Kamu selalu seperti ini jika aku membawa topik tentang sesuatu seperti ini." Cibir Bona.
"Sesuatu seperti apa?" Tanya Seokjin jengah.
"Ya... Seperti itulah. Kamu pasti mengerti maksudku." Jawab Bona.
Graakk
Seokjin beranjak dari kursinya dan berjalan menuju kasir, mau tidak mau mengikuti langkah Seokjin. Selalu seperti ini jika Bona mencoba membicarakan masalah "dunia gelap" Seokjin. Pria itu tak ingin membahasnya bersama Bona.
Bahkan hingga sudah dimobil Seokjin kembali menjadi Seokjin yang dingin dan Bona seperti sedang menghadapi musim dingin antartika. Bona bahkan membuka setengah jendela mobil dan lebih memilih memandang pemandangan jalan dan pohon-pohon yang penuh dedaunan dipinggir jalan. Namun sesuatu kembali mengherankan Bona.
Arah jalannya berbeda. Bukan arah rumah sakit, rumah abeonim Kim, maupun apartemen lama.
"Kita mau kemana?" Tanya Bona bingung.
"Aku membeli apartemen baru untuk kita tinggali. Mulai hari ini kita akan tinggal di apartemen baru." Jelas Seokjin.
"Kenapa pindah?? Padahal aku sudah mulai akrab dengan para tetangga diapartemen lama." Ujar Bona heran.
"Kau lupa dengan segala yang kau alami di apartemen lama???" Tanya Seokjin heran. Bona langsung bungkam dan mengingat segala yang terjadi saat diapartemen lama dan mengangguk setuju.
"Eoh, salah satu kejadian adalah penyebab kita menikah." Ujar Bona asal.
Ia tak bermaksud menyinggung. Ia hanya mengatakan contoh dari sekian kejadian yang dialaminya di apartemen lama Seokjin.
Seokjin melirik wanita disampingnya itu.
"Maksudmu apa?" Tanya Seokjin. Bona tersenyum.
"Aniya... Fokus saja menyetirnya... Aku hanya berbicara..." Jawab Bona seraya kembali menikmati pemandangan dari jendela mobil.
Sedangkan Seokjin kembali diam dan fokus menyetir. Namun, mata pria ini melirik sebentar sebuah cincin yang terpasang dijari manis kirinya lalu kembali fokus kejalanan.
La
La
Salah satu kejadian adalah penyebab kita menikah...
La
La
La
Tibalah Bona dan Seokjin di rumah baru mereka, ukuran besarnya rumah hampir sama dengan apartemen lama namun terdapat perbedaan pada desain dan interior dan Bona merasa jika banyak hal baru yang akan datang setelah mereka pindah.
"Tunggu dulu Seokjin." Ujar Bona seraya menghentikan Seokjin untuk masuk dan melihat-lihat ruang lain.
"Kenapa? Kau tidak suka?" Tanya Seokjin bingung. Bona melihat kesekeliling ruang tengah tempat mereka berdiri.
"Kamu mengatakan suka warna merah muda. Kenapa dindingnya malah putih??!!" Ujar Bona heboh. Seokjin nampak menahan sesuatu. Entah itu emosi atau kesabaran.
(Wanita ini.... -Seokjin)
"Aku tidak segila itu. Jika kau ingin, cat sendiri." Ujar Seokjin lalu kembali melanjutkan langkahnya. Sedangkan Bona hanya terkekeh geli seolah berhasil menggoda Seokjin. Wanita itu memang sengaja.
(Bighit Hospital)
Tepatnya ada dikamar Yoongi, nampak pria itu sedang duduk bersandar dibangsalnya dan ditemani oleh Jimin.
"Bagaimana keadaanmu hyung??" Tanya Jimin. Yang ditanya hanya tersenyum miring seperti biasa.
"Aku baik-baik saja, ini hanya sebuah, aku dulu pernah terkena lebih dari dua." Ujar Yoongi.
"Maafkan aku hyung. Aku terlalu lengah..." Sesal Jimin.
"Semua bisa terjadi. Lain kali kita harus lebih berhati-hati. Lebih baik kau khawatirkan keamanan Seokjin hyung daripada diriku." Ujar Yoongi. Dari mimik wajah pria Min itu dapat Jimin lihat kecemasan yang terpampang, walau tak begitu jelas namun Jimin tahu jika Yoongi tidak sedang memikirkan dirinya dan malah memikirkan Seokjin.
(Apartemen Seokjin dan Bona)
Karena baru ditempati mau tidak mau Bona harus melakukan sesuatu dengan apartemen barunya, setidaknya membersihkan segala ruangan walau tenaganya belum sepenuhnya pulih, lantas kemanakah Seokjin? Nampaknya pria itu benar-benar dikurung dalam pekerjaannya yang baru setengah hari ia tinggalkan. Bona maklumi, memang ini tugasnya dan Seokjin memang selalu sibuk.
Klek
Perhatian Bona yang sedang mengelap perabotan langsung teralihkan pada prianya yang keluar dari sebuah ruangan, tepatnya ruang kerjanya.
"Ya... Kenapa kau melakukan sesuatu yang seperti ini?" Saat melihat lap yang Bona genggam membuat Seokjin langsung menghampiri Bona dan mengambil lap yang ditangan Bona.
"Ini kan memang pekerjaanku." Ujar Bona sekenanya dan nampak bingung.
Seokjin bahkan memberi tatapan tidak suka pada jawaban yang barusan Bona berikan.
"Aku bahkan tidak menyuruhmu melakukannya."
Bona jadi semakin bingung.
"Ya... Ya... Ini memang tugasku. Lantas kenapa kamu harus memberi perintah diluar jam kantor?" Tanya Bona bingung.
Bingung pangkat tiga, benak Bona.
"Kau lupa perkataan Jungkook soal tulangmu yang belum sepenuhnya pulih itu? Kau ingin merepotkanku lagi?" Ujar Seokjin.
Bona terkekeh geli sembari memegang rusuk kanannya yang diperban dibalik kaos hitamnya saat ini, jadi ini alasannya.
"Tapi aku bosan jika tidak melakukan apa-apa." Jelas Bona sembari mengambil kembali lap nya dari tangan Seokjin pelan-pelan, namun jemari pria itu langsung menangkap tangan Bona yang diam-diam itu sembari menatap wanita itu intens.
"Kau sudah berani mengabaikan ucapanku rupanya." Ujar Seokjin.
'Glek'
Bona menelan ludahnya perlahan dan tak berani menatap mata Seokjin.
Dari tatapan pria ini, Bona merasa jika Seokjin tidak bersahabat saat ini. Apa ia terlalu santai pada Seokjin hingga lupa jika pria ini sangat tidak suka diabaikan atau tidak suka dilawan.
Seokjin masih menatap tajam Bona sembari menuntun wanitanya untuk duduk disofa yang ada diruang tengah tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun dan Seokjin ikut duduk bersamanya. Antara aneh dan lucu, Bona ingin tertawa saat ini.
"Jadi apa yang harus ku lakukan?" Tanya Bona.
Seokjin menarik seringaiannya seraya mendekatkan wajahnya pada wajah Bona sehingga hanya tersisa kurang dari 10 cm jika Bona tidak langsung menahan dada Seokjin dengan kedua telapak tangannya.
"Bukankah sudah jelas?"
Seokjin menurunkan kedua tangan Bona dari dadanya dan menarik tengkuk wanita itu agar lebih dekat dengannya.
"Melakukan apa yang sepasang suami-istri biasa lakukan saat berdua." Bisik Seokjin seduktif tepat ditelinga Bona. Bisikkan itu seolah menjadi pembeku seluruh gerakan Bona dan otak wanita itu. Infusnya bahkan baru dilepas beberapa jam lalu dan Seokjin malah seperti ini padanya.
"Seo-seokjin... Hehe... Aku akan istirahat..."
Bona langsung kewalahan saat napas Seokjin yang hangat mengenai kulit lehernya dan perlahan naik ke wajahnya, belum lagi kedua tangan kekarnya itu telah mengurung Bona dalam dekapannya.
"Kau bisa istirahat setelah kita selesai." Ujarnya sembari menatap Bona seperti sedang meminta sesuatu dan harus dituruti saat ini juga.
Bona merespon ucapan Seokjin dengan wajah kebingungan serta kepanikan tersembunyinya.
"Bukankah Jungkook bilang aku harus memperhatikan tulang rusukku?? Ya... Benar begitu kan...?"
Seokjin hanya mengeluarkan smirk evil nya dan semakin mengeratkan tubuhnya pada Bona hingga dada kedua insan ini saling bersentuhan dan memberikan sensasi masing-masing pada pemiliknya.
"Ssstttt.... Jika kau masih mengeluarkan alasan lagi. Aku benar-benar melakukannya dengan kasar."
'deg'
Akhirnya Seokjin membungkam mulut Bona dengan bibirnya agar wanita itu tak banyak berkomentar dan menekan sebuah remote kontrol yang ada didekat sofa sehingga membuat seluruh gorden yang ada diruangan itu tertutup dan menjadikan ruang tengah itu gelap walau belum malam hari.
Sementara Bona hanya harap-harap cemas tulang rusuknya akan baik-baik saja.
(Ini gila, entah kenapa Seokjin aneh hari ini. Apa sesuatu membuatnya kesal hari ini?? -Bona)
(Bighit hospital, Seoul)
Kim Namjoon, adik Seokjin ini melangkah santai disekitar koridor rumah sakit dengan tujuan kamar Yoongi.
Klek
"Yoongi hyung, aku datang berkunjung." Ujar Namjoon seraya masuk kedalam ruang yang dijaga cukup ketat itu. Ada Yoongi dan Jimin disitu.
"Namjoon. Apa kau tak bekerja??" Tanya Yoongi.
"Ada Hyejin yang mengurusnya... Bagaimana keadaanmu hyung??"
Yoongi mendengus pelan.
"Kau dan Seokjin sama saja. Suka menyiksa sekretaris kalian dengan pekerjaan." Cibir Yoongi. Mendengarnya Namjoon tertawa renyah.
"Syukurlah, Yoongi hyung yang menyebalkan telah kembali." Ujar Namjoon.
Jimin yang sedang berkutat dengan laptop disudut ruangan hanya mengulum senyum.
"Kau berani berbicara denganku disaat keadaanku seperti ini. Kau benar-benar ingin mati."
"Aku bercanda hyung. Lalu, apa rencana mu untuk menangkap orang yang menembakmu?? Kupikir seorang Yoongi hyung pasti akan membalas." Ujar Namjoon.
"Aku menunggu keputusan Seokjin... Sangat berisiko jika mengambil langkah tanpa persetujuannya." Ujar Yoongi.
"Walaupun aku sangat geram saat ini." Lanjut Yoongi sembari menarik senyum miringnya itu.
Namjoon dan Jimin hanya saling tersenyum hambar mendengar ucapan Yoongi barusan.
(PELABUHAN INCHEON)
Myeongsoo dan rekan timnya nampak sedang memeriksa sebuah kontainer yang mana terdapat sebuah mayat perempuan yang nampaknya adalah korban kekerasan seksual itu. Myeongsoo yang sedang memeriksa saksi tiba-tiba dihampiri oleh ketuanya Lee Seungdong.
"Nampaknya mayatnya sudah berada disini lebih dari 2 hari..." Ujar Lee Seungdong.
Seorang pekerja itu nampak berdiam sejenak dalam wajah kekhawatiranya yang dapat dengan mudah Myeongsoo curigai.
"Apa ada yang ingin anda sampaikan??" Tanya Myeongsoo hati-hati.
Pekerja paruh baya itu terlihat gelagapan dan tersenyum.
"Saya hanya masih sedikit kaget dengan kejadian ini... Kalau begitu saya pergi dulu..." Ujar pria paruh baya itu lalu pergi melanjutkan pekerjaannya.
Myeongsoo memperbaiki kacamatanya dan menatap paman pekerja itu bingung dan juga sedikit pensaran akan orang itu. Ekspresi Myeongsoo seketika tegang dan langsung menatap Lee Seungdong.
"Ini pelabuhan." Ujar Myeongsoo.
Ketua divisi nampak heran atas ucapan juniornya yang kadang suka mengatakan hal aneh ini.
"Maksudmu apa??"
"Temanku kecelakaan dipelabuhan." Ujar Myeongsoo. Mengingat tempat ia berada adalah tempat dimana Bona hampir meregangkan nyawanya membuat Myeongsoo penasaran seketika dan mengejar paman pekerja tadi hingga tak menghiraukan panggilan dari Seungdong yang menyuruhnya kembali.
"Paman... Tunggu!!!" Panggil Myeongsoo. Seketika paman yang dipanggil itu berhenti dan menatap Myeongsoo bingung.
"Ada apa??" Tanyanya.
"Aku ingin bertanya, apa ada kecelakaan sekitar beberapa hari yang lalu di pelabuhan ini??" Tanya Myeongsoo.
"Kurasa tidak ada... Jika ada aku pasti tahu karena ini tempat aku bekerja setiap harinya." Ujar Paman itu.
"Paman yakin?"
"Untuk apa aku berbohong... Baru hari ini aku menemukan mayat wanita dan sebelumnya tidak pernah selama aku bekerja disini." Jelasnya.
Myeongsoo tersenyum canggung.
"Saya minta maaf..."
Myeongsoo pun kembali kemobilnya untuk kembali kekantor, namun sepertinya pemikirannya masih tentang kecelakaan Bona yang tertutup itu.
(Kenapa harus ditutupi ya?? -Myeongsoo)
(Apartemen Bona dan Seokjin)
(Ddrrrrtt...dddrrrtttt...)
"Halo? Shin Bona disini."
Walau masih setengah sadar Bona tetap mengangkat panggilan masuk tersebut dan mendengar penelepon berbicara ditengah diamnya.
"Eoh... Kalau tidak salah pelabuhan Incheon. Kenapa??"
[Aniya... Aku hanya ingin tahu. Sampai jumpa.]
(Bip)
Bona menatap heran layar ponselnya.
"Myeongsoo aneh." Ujarnya sembari meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas.
"Siapa yang menelepon??" Tanya Seokjin tiba-tiba sembari memeluk tubuh Bona dari belakang.
"Myeong... Dia bertanya lokasi aku kecelakaan tempo hari." Jelas Bona.
"Kenapa ia bertanya?"
Bona terkekeh geli mendengar pertanyaan polos Seokjin.
"Jika bertanya berarti ingin tahu. Sudahlah... Hey, apa kita tidak membuat sesuatu untuk dimakan??" Tanya Bona.
Wajar jika Bona bertanya demikian, bagaimana tidak. Mereka melakukan 'kegiatan' dari sore hingga malam, tentu saja Bona pasti kelaparan lelah tentunya. Bagaimana dengan Seokjin? Nampaknya pria yang masih 'polos dibalik selimut' itu masih ingin tidur.
"Aku kenyang 'memakan' mu." Ujar Seokjin.
Mendengarnya malah membuat Bona mencubit lengan yang memeluk pinggangnya itu hingga membuat pemilik lengan kesakitan.
"Ya. Chagi kau ini..." Ringis Seokjin.
Bona hanya tertawa dan nampaknya kecanduan mencubit Seokjin.
"Kalau begitu biarkan aku mencari makan." Ujar Bona sembari mencoba lepas dari pelukan Seokjin.
"Aniya... Aku belum mengijinkanmu pergi dari sini."
Seokjin kembali mendekap erat hingga kulit punggung Bona berbentur dengan dadanya.
Dari ekspresi Bona, sudah jelas jika wanita itu agak jengah dengan Seokjin yang bisa dibilang sedang manja seperti ini.
(Bagaimana bisa orang ini membiarkanku kelaparan? -Bona)
"Tuan Kim... Apa anda tidak pernah melihat saya kelaparan???"
Seokjin terkekeh dan belum berniat melepas dekapannya. Bona masih bersabar...
Namun, sesuatu hal tiba-tiba mengusik benak Bona hingga wanita itu berbalik menghadap Seokjin.
"Hey, Seokjin." Panggil Bona.
Seokjin yang mulanya sedang memejamkan matanya pun membuka perlahan dan menatap wajah Bona yang ada dihadapannya itu.
"Kamu pasti ada sesuatu masalah." Ujar Bona penuh selidik. Seokjin hanya menatap lurus pada Bona tanpa ekspresi apapun.
"Masalah itu tak pernah tidak ada chagi... Setiap saat kita akan selalu mengalami suatu masalah. Entah itu kecil atau yang besar."
Sebenarnya yang dijelaskan Seokjin ada benarnya, namun itu bukanlah sesuatu yang ingin Bona dengar.
Bona menghela napasnya.
"Kita belum membeli barang-barang kebutuhan... Ayo bangun dan berangkat..." Ujar Bona.
(SUPERMARKET)
Disinilah Seokjin dan Bona, dengan Seokjin yang mendorong trolinya mereka menyusuri rak-rak dan memilih segala bahan yang mereka butuhkan.
"Oke... Bahan dapur sudah... Menurutmu apa lagi Seokjin??" Tanya Bona bingung.
"Entahlah... Biasanya kau yang mengaturnya."
"Kau benar.... Ayo kita memilih makanan..." Ajak Bona sembari menunjuk area makanan segar.
"Uwah... Bukankah kau Shin Bona?"
Seorang wanita tiba-tiba saja menegur Bona yang sedang memilih sayuran. Ia berambut pendek dan membawa kereta yang terdapat bayi lucu didalamnya. Melihatnya Bona seolah sedang mencari arsip lama dikepalanya.
"Ahhh....!! Bong!! Kamu pasti Bong itu kan?!!" Terka Bona.
"Nee.... Bong Hyunseo... Lama tidak bertemu..." Ujar Hyunseo seraya memeluk Bona sebentar. Pandangan Bona pun teralihkan pada seorang bayi yang ada didalam kereta.
"Wah cantik! Anakmu atau cucumu??" Tanya Bona sembari mencubit pipi tembem bayi yang sedang melihatnya dengan mata polosnya itu. Mendengar ucapan Bona langsung membuat wajah Hyunseo cemberut sementara Seokjin sudah memaklumi keanehan Bona.
"Dia itu laki-laki... Kau ingin mati ditanganku?? Tentu saja ia anakku."
"Benarkah? Wajahnya cantik seperti aku." Ujar Bona percaya diri. Hyunseo hanya terkekeh geli dan melihat Seokjin dibelakang Bona.
"Namchin??" Tanya Hyunseo.
"Aniya.... Dia suamiku." Jawab Bona.
"Kim Seokjin." Ujar Seokjin.
"Bong Hyunseo... Salam kenal."
"Yeobo!! Aishh.. kau kemana saja..." Tiba-tiba seorang pria memanggil Hyunseo dari belakang.
"Omo! Aku pergi dulu... Sampai jumpa bibi Bona~~" ujar Hyunseo seperti menirukan suara bayi pada Bona yang sedang bermain dengan pipi temben bayi laki-laki cantik itu.
"Okee... Jika rindu cari saja aku di gugel..." Ujaran Bona hanya mendapat tawa dari Hyunseo.
"Siapa dia??" Tanya Seokjin.
"Teman sewaktu aku kuliah... Aku tidak menyangka ia akan cepat memiliki bayi... Padahal sewakti kuliah ia adalah wanita setengah pria... Ah anaknya sangat menggemaskan!!" Ujar Bona geram sembari memasukkan sayuran yang ia pilih. Seokjin hanya menatap Bona dalam diamnya.
"Kau ingin punya satu??" Tanya Seokjin.
Bona langsung tertawa mendengar pertanyaan Seokjin sekaligus bingung juga.
"Aku tidak tahu... Aku bahkan sedang mengurus bayi saat ini." Ujar Bona sembari menatap Seokjin jahil.
"Wanita aneh." Ujar Seokjin sembari mendahului Bona dan pergi menuju kasir.
"Heol. Aku ditinggal pula... Seokjin, maafkan aku..."
Bona langsung mengejar Seokjin dengan menahan tawanya.
(KEPOLISIAN CABANG METROPOLITAN SEOUL, SEOUL)
Tuk
Tuk
Tuk
Nampak Myeongsoo sedang melamun didepanĀ monitornya dan melihat sebuah profil kependudukan dari seseorang.
Kim Seokjin.
"Dia seorang CEO perusahaan besar rupanya... Tidak ada yang mencurigakan darinya..." Myeongsoo menelaah lagi profil kependudukan Seokjin dan tidak menemukan apa-apa.
"Min Yoongi..."
Tak hanya Seokjin, Myeongsoo juga melihat profil kependudukan Min Yoongi, sepupu Seokjin.
"Ia pengusaha rupanya..." Ujar Myeongsoo.
Tiba-tiba Seungdong menghampiri meja Myeongsoo dan melihat apa yang juniornya itu kerjakan.
"Kenapa kau melihat profil seseorang??" Tanya Seungdong.
"Eoh. Ketua... Aku hanya iseng saja...hehe..."
Seungdong melihat lebih jelas lagi layar komputer untuk melihat lebih jelas siapa yang menjadi korban isengnya Myeongsoo.
"Ini Min Yoongi..." Guman Seungdong.
"Anda mengenalnya??" Tanya Myeongsoo.
"Hmmm... Tidak ada yang tidak mengenal ketua gangster terbesar Korea..." Ujar Seungdong sembari kembali ketempat duduknya.
Mata Myeongsoo seakan ingin keluar mendengar ucapan ketuanya tentang pria yang mengobrol bersamanya akhir-akhir ini.
"Gangster?? Ketua... Bagaimana ini... Kemarin aku bertemu dan mengobrol dengannya..." Ujar Myeongsoo. Semua orang yang ada di ruangan itu langsung memusatkan perhatiannya pada Myeongsoo.
"Kau bercanda?? Polisi saja tidak pernah menyentuhnya. Dia itu licin..." Ujar salah satu senior Myeongsoo.
Myeongsoo mengelap kacamatanya lalu mengenakannya kembali.
"Dimana kau bertemu dengannya??" Tanya Seungdong penasaran.
"Ah... Itu dirumah sakit tempat temanku dirawat... Jika aku tahu sudah aku borgol orang menyebalkan itu." Gerutu Myeongsoo.
"Jangan kau pikir kau bisa memborgol tangan orang itu dengan mudah. Kau memang sering bertemu dengannya, namun kau harus tahu saat yang tepat memborgol orang seperti dia. Karena tak semua hal yang ia lakukan adalah hal jahat. Kau mengerti??" Jelas Seungdong pada Myeongsoo.
Myeongsoo mengerti, selama ia menjadi polisi dalam setahun ini ia belum pernah mengurus kasus yang berkaitan dengan Min Yoongi. Namun ini berkaitan dengan Bona, sahabatnya. Bagaimana bisa Bona dapat hidup disekitar Yoongi? Karena Seokjin adalah sepupu Yoongi...
Bingo!
Seolah mendapat lampu hijau, wajah Myeongsoo langsung bersemangat, namun tak lama ekspresi nya kembali lesu.
(Jika Yoongi adalah seorang bos gangster, lantas Seokjin adalah seorang? Pengusaha... Lalu, bagaimana bisa Bona mengalami kecelakaan dipelabuhan dan kenapa mereka menyembunyikannya? Apa mereka akan mencari sendiri pelakunya dengan fungsi Yoongi?? -Myeongsoo.
Myeongsoo mengacak rambutnya gemas dan menatap layar komputernya pasrah.
"Semoga kau baik-baik saja Bona..."
To Be Continue