![The Secret Of My Boss [Soft]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-secret-of-my-boss--soft-.webp)
"Bona....."
(Beberapa waktu yang lalu)
(7:00 am)
Bona terbangun dari tidurnya saat suara bising dan sinar matahari masuk menembus tirai putih dikamar rawat Seokjin. Wanita itu tidak berniat pulang dan memilih menemani Seokjin dengan tidur disofa yang tersedia dikamar rawat Seokjin itu, tidak peduli dengan keadaannya yang juga harus diperhatikan.
Dengan wajah bantalnya Bona menghampiri bangsal Seokjin dan melihat pria itu masih tertidur dan belum sadarkan diri sama sekali. Ada senyum indah terpantri diwajah bangun tidur Bona.
"Suamiku tampan sekali..." Ujar Bona dengan bangga sembari sedikit merapikan selimut Seokjin yang tak berantakan sama sekali. Hingga jemarinya sampai pada jemari Seokjin yang ditempeli infus itu.
Digenggam erat jemari itu dengan penuh kasih sayang. Nampaknya wanita itu kecanduan menggenggam jemari Seokjin dan tersenyum tidak jelas.
Hingga terdapat perubahan ekspresi diwajah nya yang masih lusuh itu.
Tubuh Bona nampak menegang.
"Hummp!!???"
Dengan paniknya Bona langsung berlari menuju toilet.
"Hooeekk!!!"
Wanita itu muntah.
Wajahnya seketika menjadi pucat dan ia terus menerus merasa mual dan muntah ditoilet.
Setelah dirasa mendingan, Bona membasuh wajahnya dan melihat wajahnya yang basah itu melalui kaca diwastafel.
(Morning sickness??? Haha... Pasti bercanda. -Bona)
"Hummpp!!!?? Hooeekk!!!"
Baru saja pikirannya menyangkal.
"Haaah.... Sudahlah... Aku lelah jika begini terus, hei... Berhentilah membuat ibumu muntah dan merasa mual...." Ujar Bona pada perutnya yang masih rata itu.
Setelah dirasa mendingan, Bona pun keluar dari toilet dan melihat Seokjin yang nampaknya sudah sadar. Dengan langkah cepat Bona menghampiri pria itu dan benar, kedua mata Seokjin langsung menatap wajah Bona yang nampak senang melihatnya.
"Bona..." Guman Seokjin pelan.
Betapa senangnya Bona saat mendengar suara lemah Seokjin memanggil namanya pelan. Beribu-ribu kali ia mengucap syukur dalam hatinya karena melihat Seokjin yang sudah sadar itu.
"Nee.... Aku disini... Jangan banyak bicara dulu... Aku akan menghubungi dokter." Ujar Bona sembari mengelus surai hitam Seokjin lembut sebentar sebelum pergi menemui dokter.
Tak lama kemudian Jungkook bersama perawat lain datang kekamar rawat Seokjin karena Bona yang menyuruh.
Jungkook sebagai dokter yang bertugas pagi itu pun memeriksa keadaan Seokjin dan menyuruh perawatnya mencatat perkembangan dari Seokjin.
"Seokjin hyung hanya perlu beberapa hari lagi untuk pemulihan tenaganya...." Jelas Jungkook pada Bona.
Bona mengerti, memang itu yang seharusnya ia dengar.
"Lalu, untukmu... Jangan lupakan keadaanmu juga. Kau tidak ingin terjadi apa-apa kan???"
Bona mengerti maksud dari ucapan Jungkook.
"Eoh... Aku akan lebih berhati-hati..." Ujar Bona.
"Aku sudah menyuruh Yoongi hyung untuk membelikanmu sarapan... Jangan lupa dimakan nanti." Ujar Jungkook lalu pamit pergi.
"Terima kasih Jungkook samchon." Ujar Bona sembari mengantar Jungkook pergi.
Mendengar ucapan Bona membuat Jungkook terkekeh geli. Bagaimanapun juga ia adalah calon paman.
Benar yang dikatakan Jungkook, tak lama kemudian Yoongi dan Namjoon datang dengan membawa barang-barang Bona dan makanan untuknya itu.
"Kami datang. Bagaimana keadaanmu??" Tanya Namjoon pada Bona.
Bona tersenyum dan terlihat senang melihat Yoongi dan Namjoon yang baru masuk.
"Baik-baik saja... Apa yang kalian bawa??" Tanya Bona.
"Pakaianmu dan makanan untukmu... Bagaimana keadaan Seokjin hyung??"
Namjoon melihat Seokjin yang sedang melamun dan menatap kosong kearah mereka.
"Ia baru saja diperiksa... Keadaannya sudah semakin membaik..." Jawab Bona sembari ingin pergi ke toilet untuk mengganti bajunya.
"Syukurlah hyung... Kau sudah sadar." Ujar Namjoon pada Seokjin saat Bona sudah pergi mengganti baju.
"....Kau kira aku mudah mati??? Heh." Walau terdengar pelan, namun Seokjin sudah mampu mengeluarkan kata-katanya.
"Kau membuat semua orang khawatir hyung. Terlebih Bona... Kau benar-benar menyiksanya." Timpal Namjoon.
"Aku sudah banyak kehilangan." Ujar Seokjin.
Namjoon dan Yoongi tahu itu, Seokjin nampak tak ingin kehilangan seseorang kali ini. Itu sudah terlalu jelas dari tindakannya saat tahu Bona diculik dan diperlakukan kasar oleh orang asing.
"Aku bingung harus senang atau sedih. Tapi Seokjin sedikit berbeda dari yang dulu..." Ujar Yoongi.
Seokjin nampak bingung.
"Maksudmu apa??"
Yoongi tersenyum penuh misteri.
"Aniya... Kau sudah seperti menyayanginya..." Ujar Yoongi.
Seokjin terdiam.
Apa benar yang Yoongi katakan tentang dirinya??
Benarkah rasa sayang itu ada padanya untuk Bona??
"Itu benar hyung... Bagaimana perasaanmu terhadap kakak ipar?? Jangan bilang hanya sebatas perasaan yang disepakati oleh kalian berdua saja. Kau harus jujur dengan apa yang kau rasakan." Sambut Namjoon.
(Perasaanku terhadapnya??? Apa aku menyayangi atau sebatas tanggung jawab saja?? Lantas apa arti dari tanggung jawab itu sendiri?? -Seokjin)
"Apa kau tidak kasihan pada Bona yang seperti orang bodoh diperlakukan olehmu?? Aku tahu sikap lembutmu pada setiap perempuan itu sama... Bona pasti merasa seperti orang spesial bagimu, namun dipihakmu kau menganggapnya biasa saja." Baru kali ini Yoongi mengatakan sesuatu yang cukup panjang ditelinga Seokjin.
"Ku harap kau sedikit menghargai perasaan Bona, hyung." Ujar Namjoon.
Raut wajah Seokjin terlihat bingung.
"Kenapa kalian bertiga seperti orang yang sedang bermain drama??"
Bona yang sudah berganti pakaian melihat ketiga pria itu seperti sedang syuting drama, suasana menengangkan serta canggung tapi nyata dirasa.
"Hyung, kau harus jujur pada dirimu dan Bona tentang perasaanmu padanya." Ujar Yoongi seolah tak menganggap Bona ada diruangan itu.
Bona sendiri bingung kearah mana pembicaraan aneh ini.
"Hei... Kalian... Seokjin baru saja siuman. Nanti saja bicaranya..." Sambut Bona.
"Lebih baik jangan menunda-nunda. Kau tahu kan jika Seokjin memiliki tanggung jawab lebih besar dari yang sebelumnya." Ujar Yoongi menyambut ucapan Bona.
Bona sedikit kaget akan ucapan Yoongi yang tak biasa itu.
"Lebih baik kau bicara langsung ke intinya saja... Jangan bertele-tele seperti ini." Ujar Seokjin sembari menatap Yoongi tajam.
Bona bingung dengan suasana ini.
"Ya...ya..!! Hyung.. kau tidak biasanya seperti ini...!!" Ujar Namjoon saat mereka sudah berada dikoridor.
Yoongi menatap Namjoon sekilas lalu kembali memandang pintu kamar rawat Seokjin.
"Kita semua pasti ingin Seokjin berubah menjadi orang yang lebih baik bukan??"
Perkataan Yoongi sangat membingungkan Namjoon. Benar jika Namjoon sering mengingatkan Seokjin untuk menghentikan sifat kejamnya itu, dan ia pun sudah mulai perlahan menghentikan kebiasaannya bermain wanita juga.
"Ya... Memang benar. Tapi apa ada alasan dibalik semua perkataanmu tadi??" Tanya Namjoon bingung.
Kini hanya Bona dan Seokjin dikamar itu. Seokjin terus menatap Bona lurus tanpa berminat melirik hal lain, sementara Bona kebingungan sendiri dengan situasi aneh ini.
"Jadi, apa maksud ucapan aneh Yoongi hari ini? Apa kau menuntut sesuatu dariku?" Tanya Seokjin.
Bona nampak kebingungan menyusun kata-kata di otaknya. Tatapan Seokjin memang tidak tajam tapi cukup mengintimidasi.
"Sadarkah kau, jika minggu depan adalah hari peringatan enam bulan kontrakku??" Tanya Bona perlahan.
Seokjin mengangguk paham.
"Lantas apa?? Apa kau ingin berhenti??" Tanya Seokjin.
"Berhenti??"
"Eoh, berhenti dari sekretarisku." Jawab Seokjin santai.
"Lalu, bagaimana dengan status pernikahan kita??" Tanya Bona.
Seokjin nampak berpikir, apa ini yang dimaksud oleh Yoongi.
"Kau bilang tak ingin bermain dengan pernikahan." Ucap Seokjin heran.
Benar juga, bermain dengan pernikahan bukanlah gaya Bona.
Bona ingin tersenyum namun masih bingung. Ia yang awalnya masih berdiri didepan pintu toilet perlahan mendekati ranjang Seokjin dan berdiri disamping ranjang itu.
"Seokjin ada yang ingin kutanyakan padamu..."
Seokjin mengangkat sebelah alisnya, tandanya ia bingung sekaligus penasaran.
"Tanyakan saja." Kata Seokjin.
Seokjin terlihat santai sementara Bona terlihat bingung dan gugup. Otaknya seakan sulit merangkai susunan kata menjadi kalimat dan menghasilkan sebuah ucapan.
"Aku bingung bagaimana mengatakannya...." Ujar Bona sembari menahan tangisnya.
Apa yang wanita itu begitu takuti dari Seokjin sehingga ia nampak ingin menangis saat ini?? Bona terus merasa gelisah dan meremas jemarinya untuk menahan rasa gugupnya.
Bohong jika Seokjin tidak kebingungan saat melihat tingkah Bona yang cukup absurd dihadapannya ini. Seokjin bahkan memaksakan dirinya untuk duduk bersandar agar dapat meraih wajah wanitanya dan menatap wanita itu dalam.
"Aku tak pernah mengijinkanmu untuk menyembunyikan sesuatu dariku..." Ujar Seokjin sembari mengelus wajah Bona dengan lembut.
Bona menatap Seokjin tak terlalu percaya akan dirinya sendiri. Masih ada keraguan untuk mengatakan isi hati dan pikirannya saat ini.
"Seokjin... Aku ingin bertanya..."
"Hmmm???"
"Aku ingin bertanya... Bagaimana reaksimu mengetahui jika..... dirimu adalah calon seorang ayah???" Tanya Bona dengan suara yang nyaris hilang karena terlalu pelan diucapkannya itu. Bahkan karena terlalu khawatir Bona tak sadar telah menetes kan air mata yang biasanya Seokjin benci itu.
Ia terlalu takut mengakuinya.
Tatapan Seokjin yang awalnya lembut berubah menjadi tatapan yang sulit untuk Bona artikan, tatapan itu seolah mengatakan jika ia tak percaya dengan ucapan Bona dan seperti "yang benar saja???". Jemari Seokjin perlahan melemah dan turun dari wajah Bona.
Apa ia terlalu kaget??
Sementara Bona sudah tak sanggup menatap Seokjin, Bona hanya memilih menatap lantai sementara air matanya terus menerus meleleh tanpa dapat ia kendalikan. Wanita itu tak menyalahkan siapa-siapa, terutama calon bayinya yang sangat ia sayangi itu. Ia juga tak menyalahkan Seokjin yang telah memberinya. Ia hanya terlalu takut akan dirinya yang bisa saja tak sanggup menghadapi kenyataan yang akan datang.
Tak dapat diduganya, Seokjin langsung menarik tubuh Bona kedalam pelukannya dan mengecup pucuk wanita itu perlahan sembari mengelus punggung wanita yang sudah banyak mengalami penderitaan karenanya.
"Ya... Bukankah aku sudah menawarkanmu sebelumnya?? Aku pernah bertanya padamu, apa kau ingin satu?? Kenapa kau sangat sedih??" Tanya Seokjin sembari menatap lembut mata sembab Bona. Pria itu tersenyum pada Bona seolah mengatakan tak ada yang perlu kau khawatirkan.
"Hiks... Yang benar saja ucapanmu itu... Hanya karena aku melihat bayi temanku, kamu berpikir untuk memberiku bayi juga." Ujar Bona sedikit kesal.
Seokjin nampak terkekeh geli dengan ucapan Bona.
"Itu bukan hanya untukmu, itu juga untukku... Sudahlah. Jangan menangis dan khawatir." Ujar Seokjin sembari mengelap air mata Bona dengan lembaran tisu yang ada dinakas samping ranjangnya.
"Aku juga pernah mengatakan akan menjalani kehidupan rumah tangga sesungguhnya denganmu... Kau lupa??"
Bona menggeleng dan tersenyum.
"Jangan terlalu khawatir... Aku pernah berkata, jika aku tidak akan meninggalkanmu dan juga kau tidak bisa meninggalkanku... Jangan lupakan itu..." Lanjut Seokjin.
Semua yang dikatakan Seokjin memang benar adanya. Bona sedikit lega mendengar itu, dan kembali memeluk Seokjin untuk menyalurkan rasa bahagianya.
"Terima kasih Seokjin... Aku menyayangimu." Ujar Bona tepat ditelinga Seokjin. Ia terlalu bahagia saat ini.
Deg!
Sesuatu bergejolak begitu saja dalam benak Seokjin saat mendengar ucapan tulus dari Bona yang terdengar sangat menenangkan itu. Itu seperti air dingin yang menyiram benak Seokjin yang selalu panas selama ini, juga seperti angin segar yang menerpa kegerahan batin dan pikiran Seokjin selama ini.
Bona tidak mengeluarkan kata-kata manja atau hal lainnya yang terdengar seperti memaksa. Bona tidak seperti itu, ia mengatakan perasaannya apa adanya sesuai dengan perasaan sebenarnya. Perasaan seorang calon ibu yang bahagia saat sang calon ayah juga bahagia.
"Aku.... Aku juga... Menyayangimu..."
Entah kenapa kata itu tembus begitu saja dari mulut Seokjin yang selalu angkuh dan kejam itu, kata-kata itu keluar dengan adanya dorongan dari batinnya yang terus mendesak untuk mengatakannya dan membalas perasaan Bona yang tulus itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku tidak salah dengar kan??" Ujar Namjoon tak percaya.
To Be Continue...