![The Secret Of My Boss [Soft]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-secret-of-my-boss--soft-.webp)
(Author Side)
Segera setelah Seokjin melihat Bona siuman dari tidur lama nya, pria itu langsung memanggil para tenaga medis untuk memeriksa Bona. Kebetulan, Jungkook yang memeriksa keadaan Bona saat ini. Karena Seokjin yang meminta.
"Bona sudah lebih baik saat ini, dia hanya perlu banyak istirahat." Jelas Jungkook setelah memeriksa Bona. Ucapan Seokjin seolah menjadi penyejuk didalam benak Seokjin.
"Terima kasih Jungkook."
Jungkook tersenyum, lalu pamit pergi. Setelah mengantar Jungkook keluar kamar rawat Bona, Seokjin langsung menghampiri Bona. Walau sudah siuman, Bona belum mengeluarkan kata-kata sedari tadi dan masih diam diranjangnya. Seokjin pun duduk di samping ranjang Bona.
"Apa kau bisa mendengarku??" Tanya Seokjin pada Bona. Pemilik pupil coklat itu langsung melirik pria yang menegurnya dalam diamnya dan hanya mencoba meraih pergelangan Seokjin. Melihat respon Bona, pria itu pun langsung menggenggam jemari yang berusaha meraihnya.
"Akhirnya aku bisa menangkapmu." Ujar wanita itu lemah.
"Dasar bodoh. Kau hampir mati karena tindakan bodohmu itu." Ujar Seokjin. Ada sedikit rasa kesal dibenaknya saat Bona malah mengucapkan kata-kata itu setelah siuman.
Mendengar ucapan Seokjin membuat Bona tersenyum.
"Kalaupun begitu, aku akan menghantui mu seumur hidupmu."
Seokjin bingung saat ini, apa ia harus senang atau kesal. Ia bersyukur Bona sudah bisa berbicara seperti biasa, hanya saja rasa kesalnya karena ucapan wanita itu.
"Apa kau khawatir??" Tanya Bona.
Seokjin menatap Bona diam, dari tatapan nya Bona tau jika itu bukan tatapan datar dan dinginnya seperti biasa. Lebih tepatnya pria itu sedang ada konflik batin.
"Kau ini, kau baru saja siuman sudah banyak bicara. Istirahatlah aku akan memberitahu Yongsun dan temanmu itu." Ujar Seokjin lalu beranjak dari kursinya lalu pergi keluar dari ruangan Bona. Wanita itu hanya tersenyum saat melihat ekspresi absurd Seokjin yang menggemaskan.
"Heheee.... Aishhh..." Sekilas Bona terkekeh lalu meringis kesakitan pada lukanya.
Klek
"Hyung, aku sudah menghubungi Yongsun noona, ia bilang akan datang malam ini." Ujar Namjoon saat melihat Seokjin keluar dari ruangan rawat Bona.
"Hmm... Mana Yoongi?? Apa ia sudah pulang??" Tanya Seokjin.
"Ia pergi membeli makanan. Kenapa hyung??"
"Aku ingin memindahkan Bona ke rumah appa." Ujar Seokjin.
"Eh?? Kau yakin hyung?? Siapa yang akan mengawasinya disana?" Tanya Namjoon bingung.
"Hmm aku yakin. Disaat keadaannya seperti ini, tidak akan aman jika ia dirawat dirumah sakit. Segala kemungkinan bisa saja terjadi." Jelas Seokjin. Namjoon agak kaget dengan penjelasan Seokjin. Sesungguhnya pria ini sangat baik dan lembut pada wanita, hanya saja trauma dan sering disakiti oleh orang yang ia coba cintai membuatnya kadang kasar dengan wanita, begitulah pemikiran Namjoon tentang Seokjin.
Namjoon tersenyum.
"Baguslah jika kau berpikir seperti itu. Aku akan memberi tahu Yoongi tentang itu."
"Tidak perlu, kau temui saja Jungkook. Aku ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan Yoongi." Ujar Seokjin. Namjoon pun mengangguk dan pergi mencari ruangan Jungkook, sementara Seokjin memilih masuk kembali kedalam kamar Bona.
(Keesokan harinya)
"Bagaimana Yoongi, apa kau sudah mengetahui siapa yang menabraknya?" Tanya Seokjin pada Yoongi yang baru saja datang mengantar baju ganti untuk sepupunya itu.
"Kecurigaanku sangat besar pada antek-antek wanita itu, terlebih kita sudah membunuh suaminya kemarin. Dia pasti merencanakan sesuatu untuk membalasnya." Jelas Yoongi. Perkataan Yoongi memang ada benarnya dan Seokjin meyakini hal itu.
"Aku sudah meminta ijin rumah sakit. Bona akan dipindahkan hari ini." Ujar Seokjin sembari mengganti bajunya. Mereka ditoilet saat ini.
Namun, sesuatu tidak mereka sadari jika ada seseorang didalam bilik toilet mendengar pembicaraan mereka.
Orang itu, Kang Hyujin.
(Sementara itu)
"Ya... Bagaimana bisa orang seperti mu bisa seperti ini..." Ujar Myeonsoo pada Bona yang sudah bisa diajak mengobrol ringan itu. Wanita yang terbaring di ranjang itu hanya tersenyum.
"Seperti apa maksudmu?? Kau bercanda??"
Myeongsoo mengatur kacamata besarnya itu.
"Tak bisa kubayangkan bagaimana kau tidak selamat. Aku bahkan masuk akademi polisi hanya untuk menjaga mu." Gerutu Myeongsoo.
"Kau baik sekali... Kau memang cocok menjadi polisi... Bagaimana keseharianmu bertugas?? Apa kau pernah memborgol seseorang??" Tanya Bona penasaran.
"Tidak sembarang orang yang bisa diborgol Bona..." Jelas Myeongsoo.
Bona terdiam dan hanya mengangguk mengerti.
(Kuharap kau atau pun orang lain tidak memborgol Seokjin. -Bona)
Bodoh sebenarnya yang dipikirkan Bona, bagaimana bisa ia menyembunyikan seorang pembunuh dan membiarkan hukum melewatinya begitu saja. Benar, ini jalan yang ia pilih.
Klek
Obrolan ringan Myeongsoo dan Bona tertunda dengan datangnya Seokjin dan Yoongi.
"Eoh, nona penyidik waktu itu... Kau tidak bekerja??" Tanya Yoongi.
Myeongsoo hanya tersenyum pada Yoongi dan Seokjin.
"Sekarang saya sedang bertugas." Jawab Myeongsoo.
"Perasaanku, aku tidak melaporkan pada polisi..." Ujar Seokjin bingung.
"Anda benar tuan Kim, namun saya ditugaskan oleh atasan saya untuk menjaga Bona. Yongsun eonni yang melapor."
Tentu saja ucapan Myeongsoo benar-benar membuat suasana hati Seokjin tak senang, dan Yoongi serta Bona tau akan itu. Pria Kim ini tidak pernah mempercayai polisi sekalipun selama ia hidup. Menyadari hal itu Yoongi langsung menahan dada Seokjin agar pria itu tidak mengusir teman Bona itu.
"Inikan juga demi keamanan Bona dan kita semua. Siapa tau, pelakunya bisa tertangkap jika saling membantu seperti ini." Ujar Yoongi.
Bona tau dari sorot mata Seokjin yang datar dan tajam seperti itu, pria itu sedang menahan kesalnya.
"Bisa tinggalkan aku dan Seokjin sebentar??" Ujar Bona. Myeongsoo hanya menuruti saja dan berjalan keluar kamar rawat sahabatnya itu, begitulah Yoongi juga. Kini, hanya ada Seokjin dan Bona yang sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Ya... Tenang saja. Ini tidak ada kaitannya dengan segala bisnis gelapmu." Ujar Bona membuka pembicaraan.
"Ini hanya urusan aku dan pelaku tabrak lari sengaja itu." Lanjut Bona.
Bona berbicara dengan pria datar yang sedang menghampirinya dan duduk dipinggir ranjang. Seokjin hanya menatap lurus pada Bona, memperhatikan secara rinci wajah wanitanya yang sedikit lecet itu.
"Kenapa?? Kamu ini, kebiasaan tak merespon perkataan ku atau lebih baik tidak bicara sama sekali??" Tanya Bona.
"Aniya... Aku hanya suka mendengar kau berbicara, jadi aku selalu menyimakmu. Walau kau membicarakan hal yang tak penting." Jawab Seokjin. Bona mendengus kesal dan lebih memilih memperhatikan cairan infusnya menetes.
"Dan juga bagaimana bisa kau mengatakan jika itu tidak menyangkut diriku. Semua yang kau alami berasal dariku, harusnya kau sadar itu."
Bona mengerti apa yang Seokjin maksud, ia memang mengatakan jika ini adalah urusan ia dan pelaku tabrak lari itu dan sama sekali menyangkal jika sebab ia mengalami segala tragedi ini berasal dari Seokjin dan urusannya. Inilah faktanya, Bona tak bisa menyangkal jika ia menikah dengan seorang yang mirip dengan mafia.
"Percuma jika kau menyesal. Untuk saat ini tak ada lagi jalan kembali untukmu jadi, kuminta kau untuk bersikap seperti biasa, menjadi sekretarisku dan istriku. Kau tak memiliki jalan kembali karena aku tak akan memberimu hal itu." Ujar Seokjin. Walau terdengar egois ditelinga Bona, perasaan wanita ini sedikit bergejolak senang saat Seokjin mengeluarkan kata 'istri' dari mulutnya itu.
(Sementara itu)
Nampaknya Yoongi telah menyeret sahabat karib Bona itu ke kafetaria rumah sakit dan mengajaknya menghabiskan kopi bersama setidaknya satu gelas.
"Jadi namamu Min Yoongi. Apa pekerjaanmu??" Tanya Myeongsoo sembari meminum es kopinya. Yoongi hanya tersenyum miring dan menatap lurus pada wanita berkacamata besar itu.
"Aku ragu kau adalah seorang penyidik. Kau lebih cocok menjadi seorang penunggu rak buku perpustakaan." Ujaran Yoongi jelas saja membuat suasana hati Myeongsoo jelek seketika. Ini jelas sekali penghinaan.
"Aku bisa saja melaporkanmu atas perkataan mu barusan. Kau pikir penampilan itu segalanya?? Nampaknya anda bukanlah seseorang yang berpendidikan." Ujar Myeongsoo sembari mengelap kacamatanya lalu memakainya kembali.
"Kau bahkan tak dapat memikirkan perkataan yang barusan keluar dari mulutmu itu. Namun, walau begitu tuan Min, aku ingin tau kenapa Bona bisa ditabrak dipelabuhan??" Tanya Myeongsoo.
"Kau pikir karena kau seorang penyidik kau bisa meminta informasi semudah itu padaku?? Ini urusan keluarga dan kami tidak akan membicarakan masalah ini pada kalian." Ujar Yoongi sembari memandang Myeongsoo dengan senyum miring nan menyebalkan itu.
"Kupikir, kalianlah penyebabnya." Ujar Myeongsoo sinis. Yoongi hanya terkekeh mendengar ucapan Myeongsoo, pasalnya wanita ini terlalu imut untuk menjadi polisi yang dimana ketegasan selalu menjadi image mereka.
"Daripada membahas itu dan sia-sia bagimu, lebih baik kau ceritakan kenapa kau bisa berteman dengan Bona??" Tanya Yoongi.
"Bona banyak menolongku. Ia orangnya blak-blakkan dan terlalu jahat kurasa tapi ia baik dan aneh..."
"Kurasa aku tak mengerti, kau bilang ia terlalu jahat namun baik?? Maksudmu apa mengatakan temanmu seperti itu??" Tanya Yoongi bingung. Myeongsoo tertawa dan mulai melanjutkan ceritanya.
(7 years ago)
(Myeongsoo side)
Kim Myeongsoo (16 tahun)
(Daegu Vocational school)
Aku berjalan disepanjang koridor jurusan bisnis dan menunduk tanpa berani menatap sekelilingku karena aku terlalu malu, semua orang menatap risih padaku dan membisiki sesuatu tentangku bahkan aku dapat mendengar itu.
"Apa dia baru dari parit?? Tubuhnya bau sekali."
"Kurasa ia jatuh diselokan. Dia itu ceroboh."
"Dia selalu dikerjai oleh Kyulkyung dan teman-temannya."
Aku tau, kalian semua pasti terganggu karena bau tak sedap keluar dari tubuhku. Ini karena Kyulkyung melempar segala isi tasku kedalam bak sampah dan terpaksa aku harus mencarinya. Mana baju olahraga ku sudah disembunyikan dan aku tak tahu dimana, aku benar-benar merasa tersiksa dan ingin mati saat ini. Namun disisi lain aku tak mungkin meninggalkan ibuku sendirian didunia ini setelah kepergian ayahku dan kakakku karena sakit.
"Myeongsoo, kau bisa meminjam seragam di kantor tata usaha jika kau ingin." Tegur seorang siswa padaku saat aku duduk di bangku kelasku. Aku tahu, ia ketua kelasku Cha Eunwoo. Ia sangat baik dan populer karena kepintarannya yang bisa kusebutkan diatas rata-rata. Tapi, saat membayangkan wajah kyulkyung yang senang menggangguku karena aku sering mengobrol dengan Eunwoo yang bernotabene adalah kekasihnya membuatku takut.
"Terima kasih. Aku akan mengambilnya nanti." Tolakku.
"Sekarang saja. Kau tidak akan bisa belajar jika seperti ini. Aku akan mengantarmu." Tawarnya. Penawaran yang bagus, tapi kau bisa membunuhku secara tidak langsung.
"Tidak apa-apa. Aku akan pergi sendiri nanti." Baiklah, pria itu menyerah dan berlalu dari bangkuku.
"Heol!! Demi neptunus. Kau tidak mandi ya?? Kenapa kau bau sekali hari ini?!!!" Jika biasanya aku mendengar orang berbisik, kali ini aku mendengar suara kejujuran dari teman sebangku ku Shin Bona. Ia mengambil tempat duduk tepat disampingku dan terus menatapku heran.
"Myeongsoo, kau belum mandi?? Kenapa kau bau??"
Mana mungkin aku bercerita kebenaran yang terjadi. Kau akan tertawa mendengarnya dan malah mengejekku juga. Cukup jadilah teman sebangku yang ramah.
"Mirae... Apa kau tahu kenapa dengan dia??" Sekali lagi, Bona tidak berbisik saat bertanya pada Mirae didepannya tentangku.
Aku dapat merasakan tatapan prihatin Mirae padaku dan membisikkan sesuatu pada Bona. Sudahlah, aku pasrah saja.
"Ya. Apa kau tidak ingin melawan??" Tanya Bona tiba-tiba setelah dibisikkan Mirae. Bona menatapku serius dan lurus, ia nampaknya geram.
"Jangan ikut campur. Mereka itu sangat menyebalkan. Kau tau itu." Ujar Mirae. Kau benar Mirae, Kyulkyung dan teman-temannya memang menyebalkan dan suka menyiksa orang yang tak bersalah.
Bona sekilas memandang Eunwoo yang sedang membaca buku dibangkunya yang terletak paling depan itu.
"Apa Eunwoo tau tentang itu??" Kali ini Bona sedikit berbisik pada kami. Mirae nampak mengangkat bahunya dan terlebih aku, mana aku tahu.
"Eoh... Kalau begitu, apa kau tidak berniat mengganti baju? Hari ini kan kita ada pelajaran olahraga." Tanya Bona.
"Seseorang menyembunyikannya. Aku tak akan mengikuti pelajaran olahraga."
"Eunwoo ada menyarankannya tadi. Kenapa tidak ke tata usaha untuk membeli seragam baru??" Sambut Mirae.
"Ah itu dia. Kau ini, selalu diam saja. Ayo, aku akan mengantarmu." Ajak Bona. Mau tidak mau aku pergi bersama Bona untuk membeli seragam baru.
(Flashback off)
(Author side)
"Eoh, sebenarnya bukan itu saja. Bona itu banyak membantuku berbaur dengan yang lain, tanpanya aku tak dapat berbicara dengan Mirae hari itu juga dengan teman-teman lain. Terlebih ia memiliki teman disetiap jurusan, berkatnya aku dapat mengenal banyak orang." Jelas Myeongsoo.
"Kau nampak sangat bersemangat menceritakan tentangnya." Ujar Yoongi sehingga membuat Myeongsoo malu.
"Berkat Bona juga, Kyulkyung menjadi jarang menggangguku, dan juga Bona yang diisukan penyebab berakhirnya hubungan Eunwoo dan Kyulkyung."
"Apa ia menyukai Eunwoo??"
Myeongsoo menggeleng.
"Sama sekali tidak. Hanya suka sebatas teman sekelas. Hanya saja Kyulkyung yang terlalu posesif. Anehnya ia tak bisa membully Bona." Ujar Myeongsoo.
"Apa karena ayah Bona memiliki sekolah??" Tanya Yoongi.
"Tentu tidak mungkin. Kyulkyung tau jika membully Bona sama saja menggali lubang kubur sendiri. Bona mungkin akan mendiami semua perbuatannya Kyulkyung padanya, namun dibalik itu ia akan menampakkan siapa yang jahat disitu. Terlebih Bona memiliki banyak teman yang mendukungnya dan aku baru tau saat kelulusan jika Bona adalah sepupu Eunwoo dari keluarga ibunya."
"Licik sekali wanita itu." Komentar Yoongi. Myeongsoo tertawa.
"lebih tepatnya Bona membalas secara tidak langsung perbuatan jahat tanpa menyentuh sama sekali." Ujar Myeongsoo.
"Lalu, bagaimana dengan Seokjin?? Bagaimana bisa wanita seperti Bona bisa menikah dengan tuanmu itu?"
Nampaknya pertanyaan Myeongsoo sangat menggelitik benak Yoongi. Pria itu bahkan terkekeh dengan suara beratnya.
"Nampaknya kau tidak menyukai tuanku... Lihat dan biarkan saja mereka. Lalu apa minggu ini kau ada rencana??" Tanya Yoongi. Nampaknya sifat menggoda Yoongi benar-benar tidak pandang bulu, hingga seorang penyidik pun ia embat. Myeongsoo tersenyum miring.
"Hanya karena kau bekerja dengan suami temanku, tidak semudah itu aku mempercayaimu." Ujar Myeongsoo.
"Seorang polisi muda benar-benar bersamangat." Cibir Yoongi.
(Kediaman Lee Minnah)
"Dipindahkan?? Mereka cepat juga. Kalau begitu, kenapa tidak kau urus dijalanan saja??"
Nampaknya Lee Minnah mendapat laporan dari tangan kanannya yang sedang mengawasi Bona dan Seokjin.
"Ya. Penjagaan dirumah akan lebih ketat terlebih itu rumah Jae Wook. Pria itu akan melakukan apa saja untuk menantu pertamanya itu. Lakukan saja apa yang seharusny menjadi tugasmu."
Bip
Setelah mematikan teleponnya, Minnah hanya memandang kosong pemandangan taman depan rumahnya yang apik itu melalui jendela ruang kerjanya. Sekelebat memori lama muncul jika ia dan suami keduanya yang menata taman itu seapik mungkin.
"Walau aku yang melahirkan kalian, aku tidak akan membiarkan kalian mengusik kebahagiaanku."
(Rumah sakit Bighit, Seoul)
Bona yang awalnya sedang melamunkan ruangannya dikejutkan dengan kedatanga beberapa perawat dan Jungkook, mengingat ini belum waktunya ia diperiksa.
"Bona, hari ini kau akan dirawat dirumah tuan Kim Jaewook." Ujar Jungkook sembari mengawasi para perawat yang membawa bangsal Bona pergi keluar.
"Kenapa?? Apa ada masalah??" Tanya Bona bingung.
"Tidak. Aku akan merawat mu disana. Tenang saja. Seokjin hyung yang memutuskan ini." Jelas jungkook. Mau tak mau, Bona menuruti saja.
Bona pun dimasukkan kedalam ambulans yang mana Yoongi yang menyetirnya dan Myeongsoo yang menemani Bona di belakang, sementara Seokjin mengikuti dari belakang. Benar-benar penjagaan yang ketat dari seorang Kim Seokjin.
Sementara itu, tanpa disadari seorangpun. Sebuah sedan hitam membuntuti mobil Seokjin yang ada dibelakang ambulans. Awalnya Seokjin beranggapan biasa saja, namun lama-kelamaan pria itu menyadari sesuatu yang aneh dan segera melajukan mobilnya dan melampaui ambulans saat ingin sampai di simpang empat jalanan hingga membuat Yoongi bingung dan memperlambat laju ambulans yang ia bawa. Seokjin masih fokus menyetir dan melihat sebuah truk kontainer melaju dari arah lain dengan kecepatan tinggi menuju mobilnya. Seokjin yang sudah siap langsung melompat dari dalam mobilnya yang sedang melaju dan terguling dijalanan saat menyadari mobil yang ia kendarai akan ditabrak.
Brak!!!!!!!!!!!!
Tabrakan pun tak dapat dihindari oleh truk itu. Mobil yang biasanya Seokjin kendarai hancur dan penyok ditabrak dan dihimpit ke pinggir jalanan.
"Suara apa itu?!!!!" Bona yang awalnya sedang mengobrol dengan Myeongsoo dikejutkan dengan suara benturan keras dari luar.
"Aku akan memeriksa nya" ujar Myeongsoo sembari menjenguk keluar tanpa meninggalkan Bona.
(Beberapa waktu yang lalu)
"Apa yang anda ingin katakan??" Tanya Myeongsoo pada Yoongi saat mereka hampir menghabiskan kopi mereka.
"Ini sebenarnya permintaan Seokjin. Namun kurasa ia terlalu gengsi berbicara dengan penyidik. Kuminta, nanti saat apapun yang terjadi, jangan pernah pergi dari samping Bona sekalipun kau ingin buang air kecil." Ujar Yoongi.
Jelas saja, Myeongsoo bingung.
"Memangnya kenapa??"
"Dengarkan saja perkataanku. Ini demi kebaikan semua orang. Karena, setiap ada rencana A pasti ada rencana B dan seterusnya. Ingat itu." Jelas Yoongi lalu beranjak pergi meninggalkan Myeongsoo yang sedang bingung.
(Flashback off)
Dari jendela ambulans yang ia geser dapat Myeongsoo lihat kejadian yang mengerikan itu. Mobil Seokjin benar-benar terlihat hancur dan banyak orang menghampiri tubuh Seokjin yang tergeletak ditanah.
"Ada apa Myeong!! Apa itu kecelakaan??!!" Tanya Bona penasaran. Myeongsoo tersadar dan menatap Bona sembari tersenyum.
"Tidak apa-apa... Hanya kecelakaan biasa... Ambulans akan segera datang mengurusnya.
Sementara itu, Seokjin masih diam terbaring dijalanan aspal dan melihat Jimin yang menggantikan Yoongi menyetir ambulans yang membawa Bona, dalam diamnya Seokjin tersenyum dan menunggu Yoongi mengurus sisanya.
(Jangan salahkan anak buah bodohmu yang tidak berhasil menjalankan rencanamu... -Seokjin)
Seokjin pun bangun tanpa mempedulikan omongan para orang yang melihatnya terluka, kepalanya memang sedikit berdarah dan lecet di tangannya, belum lagi sakit diberbagai tubuhnya yang lain. Melihat Seokjin yang seperti itu hanya membuat Yoongi terheran-heran dan segera memapah sepupu gilanya satu itu dan membawa kedalam mobil yang memang sudah ada Jungkook dan Namjoon didalamnya.
"Hyung!! Kau bodoh sekali!!!" Ujar Namjoon saat Seokjin sudah duduk dibelakang supir dan mulai diobati Jungkook. Mendengar ujaran adiknya hanya membuat Seokjin terkekeh dan meringis saat Jungkook membersihkan luka di dahinya.
"Kenapa kau bisa tau jika akan ada truk yang menabrak??" Tanya Jungkook heran.
"Dari mobil yang mengikuti ku dari belakang sudah sangat mencurigakan. Kupikir, mereka tidak akan membuang sedan mewah mereka hanya untuk seperti ini. Akh!! Itu sakit!!" Seokjin membentak Jungkook saat membersihkan siku nya yang lecet. Jungkook hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
"Tapi, kau sama saja dengan membunuh dirimu saja tadi!!" Ujar Namjoon yang sedang fokus menyetir. Seokjin yang semulanya hanya tersenyum tiba-tiba berubah menjadi datar lagi.
"Aku tidak akan mati sebelum membunuh wanita itu."
"Atau kau tidak ingin wanitamu celaka lagi??" Sambut Yoongi yang duduk disebelah Namjoon. Mendengar ucapan Yoongi membuat Jungkook dan Namjoon menyembunyikan senyum masing-masing sementara Seokjin memilih diam.
Ambulans yang membawa Bona pun tiba dikediaman ayah mertuanya. Jimin dan tenaga seorang tenaga medis pun mengeluarkan Bona yang masih terbaring keluar dari angkutan yang membawanya.
"Abeonim.... Halo..." Sapa Jimin pada Kim Jaewook sang pemilik rumah. Begitu pula Bona menyapanya.
"Maafkan saya abeonim... Saya datang dengan keadaan seperti ini." Ucap Bona canggung. Jaewook hanya tersenyum tipis.
"Kau sudah melakukan yang terbaik. Istirahatlah disini. Ini juga rumahmu..." Ujar Jaewook.
"Bawa ia kekamar Seokjin." Lanjut duda paruh baya itu pada Jimin.
Bona pun dibawa kesebuah kamar yang besar dimana ruangan itu adalah tempat Seokjin menghabiskan masa remajanya hingga ia seperti sekarang. Terbukti dari segala fotonya dari jaman ke jaman hingga sekarang.
Kini tinggal Bona sendirian di kamar yang sangat luas ini. Namun, entah mengapa ia sangat merasa bosan. Wanita itu tak bisa menghilangkan pikirannya dari kejadian di jalan tadi.
(Bona side)
Ini agak aneh, kenapa Seokjin tiba-tiba memindahkan ku kerumah abeonim, padahal dirumah sakit pasti lebih mudah merawatku. Sesuatu tentu ada dibalik semua ini dan akan sulit jika bertanya pada pria es batu itu. Sudah dingin, keras pula dan sekarang dia meninggalkanku sendirian disini. Memang ini rumah abeonim, ayahku juga. Namun rasanya aneh jika sendirian seperti ini, apa masa istirahatku masih lama??
(Klek)
Pikiranku terbuyarkan oleh suara pintu kamar yang dibuka seseorang. Awalnya aku memang mengira Seokjin, namun ternyata salah. Mereka semua berpakaian pelayan dan membawa segala barang barangku.
"Permisi nona, kami ingin mengemas barang-barang anda." Ujar salah satu dari mereka. Aku hanya tersenyum tipis, tubuhku saat ini masih sangat sakit untuk duduk, aku hanya bisa meminta bantuan mereka jika ingin sesuatu.
"Nona, jika butuh sesuatu panggil saja kami. Kami permisi dulu." Kira-kira 4 orang pelayan pergi keluar dari kamarku dan meninggalkan aku sendiri kembali.
Klek
Seseorang membuka pintu kamarku kembali. Kali ini adalah Jungkook, sepupu Seokjin. Ia dokter yang akan merawatku dan mengontrol kesehatanku. Begitu katanya.
"Bagaimana keadaanmu?? Apa kepala mu masih sakit??" Tanya Jungkook sembari melakukan berbagai serangkaian pemeriksaan.
"Tidak lagi. Hanya saja kapan aku bisa beraktifitas seperti biasa??" Tanyaku.
"Aishh kau ini. Beristirahatlah dulu, jika kau makan teratur dan minum obatmu kau akan cepat sembuh." Jelas Jungkook sembari kembali memeriksa infus Bona.
"Apa kamu melihat Seokjin??" Tanyaku. Jungkook menggeleng dan menatapku.
"Aku belum bertemunya setelah dirumah sakit." Jungkook tersenyum dan memperbaiki posisi selimutku.
"Kau tenang saja. Seokjin hyung tidak akan kemana-mana. Beristirahatlah." Lanjutnya lalu pergi dari kamarku. Walaupun begitu, pemikiranku benar-benar penuh pada Seokjin seorang. Aku khawatir dia akan melakukan sesuatu yang jahat, terlebih saat ini aku tak memiliki apa-apa. Ponsel ku dimana aku nya dimana. Aku tak tahu.
Hingga waktu kembali gelap dan aku sudah makan malam, tetap saja aku belum melihat batang hidung Seokjin. Kemana dia seharian ini?? Aku bahkan kurang memikirkan diriku sendiri. Aku tidak bisa tertidur, otakku seolah menyuruhku untul tetap terjaga dan jangan tidur. Ini aneh, kenapa aku begini saat aku tidak mendengar kabar Seokjin selama beberapa Jam.
Apa aku rindu padanya??
Nampaknya benar, dia tidak disini dan aku menginginkan dia.
(Klek)
Aku yang awalnya sedang mencoba untuk tidur harusku tunda karena bunyi knop pintu benar-benar bisa kudengar, refleks aku membuka mata untuk melihat siapa yang masuk.
"Ya... Kenapa kau belum tidur?? Ini sudah lewat tengah malam."
Aku setengah mati menyembunyikan rasa senangku saat melihat siapa yang masuk, Kim Seokjin. Namun rasa senangku langsung hilang dam berganti dengan rasa khawatir setelah melihat kepalanya di plester dan lengannya di perban.
"Kepala dan lenganmu kenapa?? Wajahmu juga, kenapa??" Tanyaku heran saat melihat wajahnya yang memiliki lecet cukup banyak. Seokjin tersenyum tipis dan duduk ditepi ranjang.
"Aku hanya terlibat perkelahian biasa. Tenang saja, ini bukan seperti yang kau pikirkan...." Jelasnya. Tapi Seokjin.
"Kamu ini, mau sampai kapan begini dan membuat semua khawatir padamu." Ujarku seraya meraih ujung kemeja biru yang ia kenakan. Tanpa kuduga Seokjin meraih tangan ku dan menggenggam erat jemariku.
"Apa kau mengkhawatirkan aku??" Tanya nya. Aku mengangguk pelan.
"Bagaimana tidak, kamu yang menggajiku dan memberiku makan." Jawaban yang sangat tidak elit bagiku. Nampaknya jawabanku benar-benar tidak elit hingga Seokjin melepas tanganku dan mengalihkan pandangannya.
"Bukan hanya itu Seokjin, kamu itu suamiku, wajar jika aku mengkhawatirkanmu." Lanjutku. Apa ia marah karena ucapanku.
"Ya... Aku hanyalah suami yang hanya memberimu makan dan uang. Benarkan??" Ujarnya.
Astaga pria satu ini. Kadang pemikirannya seperti seorang gadis dan aneh dariku.
"Bagaimana bisa aku mengharapkan lebih, jika kamu pernah mengatakan padaku untuk jangan terlalu tenggelam dalam peranku sebagai seorang istri." Ujarku pelan. Maafkan aku Seokjin jika aku terlalu jujur, kamu dulu yang menyuruhku untuk tidak tenggelam dalam peranku dan aku memilih memandangmu dari sudut pandang seorang sekretaris dan beginilah sekarang.
Tidak ada yang ingin tersakiti disini Seokjin, percuma jika aku mengharapkan mu jika pada akhirnya aku yang sakit juga. Aku tahu kamu tak akan pernah menerima ku sebagai seorang yang kamu cintai atau apalah itu. Aku hanya Seorang sekretaris biasamu.
"Maafkan aku. Kau pasti merasa tersiksa." Ujarnya tanpa melirikku sedikitpun.
Rasanya memang tersiksa, namun seperti yang kamu katakan jika tak ada lagi jalan keluar lagi bagiku.
"Tidak apa-apa... Tidak hanya kita yang seperti ini, banyak yang lebih sakit dari kita." Jelasku.
Seokjin menatapku dalam diam dan mimik datarnya itu. Sedih memang, ini yang membuatku tak sanggup terus menatapmu. Aku tak bisa mengatakan jika kedua bola mata indah itu adalah hanya untukku seorang, yang artinya aku tak bisa memilikimu.
"Tapi, kau harus tau satu hal. Bahwa aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan apapun selama kau selalu bertahan denganku." Ujarnya.
"Terima kasih..." Aku senang mendengar itu Seokjin. Kamu memiliki sebuah rasa tanggung jawab padaku saja sudah sangat membuatku bahagia dan bersyukur.
To Be Continue....