The Secret Of My Boss [Soft]

The Secret Of My Boss [Soft]
Killer



(Bona Side)


Tiitt...tiittt....ttiiitt-


Refleks aku langsung mematikan alarm dari ponselku. Jika alarm ku sudah berbunyi, itu tandanya sudah pukul 4 pagi dan aku harus bangun.


Eh?


Kosong.


Aku mengedarkan padangan ku ke sekeliling kamar dan mempertajamkan pendengaran ku.


Benar-benar sunyi.


Aku sendirian dikamar ini. Kemanakah Seokjin??? Aku tak menemukannya di samping ku. Jujur saja, pria itu paling cepat bangun saat matahari sudah terang. Namun kini, saat matahari belum timbul pria itu sudah tidak ada ditempat.


Aku pun memutuskan untuk mencari nya ke seluruh ruangan. Namun aku tak dapat menemukannya. Ini cukup membingungkan bagiku, kemana Seokjin pergi di pagi buta seperti ini?? Kenapa aku tak sadar ya??


Akhirnya kuputuskan menghubunginya melalui telepon.


(Tut.... Tut....)


[Hmm kenapa??]


Bingo! Dia menjawabnya. Tumben sekali.


"Seokjin. Kau dimana sekarang??" Tanya ku. Dari seberang sana aku dapat mendengar suara kekehannya dan suara laut. Ya aku dapat mendengar suara kapal. Apa ia dipelabuhan.


[Kau tak perlu tau. Tidurlah lagi. Ini belum pagi.]


Belum pagi kau bilang??? Aku ini hanya penasaran apa yang membuatmu bangun dan pergi sepagi ini.


"Apa yang kau lakukan hingga kau bangun sepagi ini?? Kau bahkan tak memberitahu ku."


[ㅋㅋㅋㅋ Jika aku memberitahu mu, aku bisa menebak kau akan menghentikanku.]


Menghentikan??? Apa ia akan melakukan sesuatu yang dilarang???!!!


"Ya!! Maksudmu apa?? Apa kau akan melakukan sesuatu yang jahat??!!" Tanya ku panik. Ya Tuhan, kenapa aku selalu lengah dalam hal ini.


"Seokjin!! Aku mau kau pulang sekarang!!"


Apa yang barusan ku katakan?? Mana mungkin Seokjin mau menurutiku begitu saja.


[Kau pikir dengan ucapan mu kau dapat mengubah jalan pikiranku begitu saja?? Diam saja dirumah. Kau akan menyaksikannya sebentar lagi.]


Bip!


Dia mematikan telepon ku?!! Apa yang akan dia lakukan??!!


(Author side)


(Pelabuhan Incheon)


"Itu Bona??" Tanya Yoongi saat melihat Seokjin kembali ke dalam sebuah Kontainer.


"Jangan dipikirkan. Pikirkan saja bagaimana kita mengubur jasad pak tua ini." Ujar Seokjin sembari menatap datar pada Lee Sunghyun yang sedang terikat tak berdaya dihadapan nya dan Yoongi. Ini lah urusan yang dimaksud Seokjin.


"Sisanya biar Jimin yang menangani. Orang penting seperti mu jangan terlibat terlalu dalam." Ujar Yoongi. Mendengar pendapat sepupunya, Seokjin hanya menarik seringaiannya.


"Ikan teri seperti kalian beraninya membuat ku seperti ini." Ujar Lee Sunghyun.


"Tak kusangka anda masih mampu berbicara rupanya." Ujar Seokjin.


"Anda bahkan terlihat tak berdaya lagi saat ini." Seokjin berbisik tepat dihadapan wajah Lee Sunghyun sembari menyeringai.


Cuih


Yoongi dan Jimin kaget akan tindakan tiba-tiba Lee Sunghyun pada Seokjin. Pria tua itu bahkan meludah di wajah Seokjin.


"Psikopat seperti dirimu tak akan bisa mendapat apa yang kau inginkan." Ledek Lee Sunghyun.


Dengan cuek Seokjin mengelap wajahnya dan hanya tertawa pada Lee Sunghyun.


"Ahahah... Apa kau belum siap untuk mati??" Tanya Seokjin sembari menodong pistol dihadapan Lee Sunghyun. Seokjin siap menarik pelatuk itu kapan saja.


"Ya... Anak muda jaman sekarang sudah berani rupanya... Kau akan menyesal jika melakukan ini padaku." Ucap Lee Sunghyun.


"Hyung. 30 menit lagi pengangkatan." Sambut Jimin.


Ddrrrrttt....dddrrrrttt....


Ponsel Seokjin bergetar dan pria itu tau siapa yang mencoba menghubunginya.


(Disisi lain)


Dengan gusarnya Bona mencoba menghubungi Seokjin namun tak diangkat oleh pria itu. Berpuluh-puluh kali sudah dicoba nya. Belum lagi pesan singkat.


(Seokjin!!! Kumohon jangan gila!!! -Bona)


(PELABUHAN INCHEON)


"Aku tau kau adalah pria yang membuat keluarga ku hancur dan kau memang pantas mendapatkan kehancuran."


Ucapan Seokjin seolah menjadi kaset pemutar memori lama Lee Sunghyun saat ia muda dulu. Dimana ia mendekati ibunya Seokjin saat menjadi Sekretaris Kim Jae Wook dan berhasil menghasut Lee Minah untuk menikah dengan nya. Membuat Lee Minah berpaling dari suaminya dan anak-anaknya hanya dengan mengimingkan harta.


"Mana mungkin aku bisa bernafas dengan orang seperti kalian didunia ini.... Matilah bersama kebencianku."


Mendengar ucapan Seokjin hanya membuat Lee Sunghyun tertawa seolah itu sangat menggelitik ditelinganya.


"Ya. Apa kau dibesarkan orang tua mu dengan benar?? Apa yang kau pikirkan tentang dunia ini??!! Kau bahkan masih seperti bayi saat ini. Kau belum siap menjadi orang didunia yang keras ini."


Seokjin masih diam.


"Dunia ini tentang mengambil dan diambil. Kau harus memutuskan atau kau yang akan diputuskan. Ibumu memutuskan untuk bersama ku dan meninggalkan kalian yang bahkan mungkin hanya beban bagi-"


DOR!


Satu tembakan sengaja Seokjin arahkan dibahu Lee Sunghyun.


"Aku bahkan tak melihat mu sebagai manusia lagi." Ujar Seokjin pada Lee Sunghyun yang meringis kesakitan saat peluru panas mengenai bahu kirinya.


(Sementara itu)


Bbbrrmmmmmmmmm.......


Bona bingung harus bagaimana lagi jika Seokjin sama sekali tak mengangkat teleponnya. Makadari itu ia terpaksa memaksa Namjoon untuk ikut bersama nya mencari Seokjin. Ia bisa saja mengajak Myeongsoo. Namun, ia takut jika harus membawa polisi. Ia bahkan kalut dengan Seokjin bukan yang lainnya.


"Pelacak ponsel ini mengatakan jika Seokjin ada di pelabuhan Incheon... Ayo Namjoon... Aku tak ingin ada korban lagi!!!"


"Kau yakin??!! Aku bahkan tak berani mencampuri urusan yang seperti ini." Ujar Namjoon sembari kembali menginjak pedal gas demi menambah laju mobilnya di jalanan yang cukup sepi ini.


"Dia kan hyung mu!! Apa yang kau pikirkan!!!???" Seru Bona.


"Baiklah...baiklah... Demi apapun itu. Kau harus menanggung semua yang akan terjadi padamu."


Apapun itu nampaknya Bona masa bodoh.


(Sesuatu tak bisa dihindari jika itu akan terjadi disaat seperti ini.. -Bona)


Bbbbrrrrrmmmmmmmm......


Tak lama selang percakapan kacau antara Namjoon dan Bona, mobil yang dibawa Namjoon telah tiba di pelabuhan besar itu. Yang menjadi pertanyaan adalah, dimana mereka?


"Kau yakin ingin menghentikan hyung??" Tanya Namjoon pada Bona saat mereka sudah keluar dari mobil. Wanita yang masih lengkap dengan training tidur nya hanya mengangguk. Namjoon nampak diam berpikir.


"Apa kau berpikir itu tak mungkin?!!!" Seru Bona geram.


"Bukan begitu!! Kau juga dalam bahaya jika seperti ini!!" Balas Namjoon.


Bona terdiam dan menatap Namjoon tak percaya.


(Bona Side)


Deg


Aku tau itu, bahkan aku paham jika nyawaku dalam bahaya jika aku ikut campur masalah Seokjin.


Aku tak peduli itu. Aku pun langsung berlari mencari keberadaan Seokjin tanpa peduli teriakan Namjoon yang melarangku.


Aku akan merasa lebih sia-sia jika aku tak melakukan ini. Bahkan jika aku harus mengelilingi pelabuhan ini untuk mencari dan mencegah Seokjin melakukan hal yang tidak baik, aku akan mencarinya.


(Dor!!!)


Suara tembakan??!! Aku mendengar suara seperti tembakan itu dari sisi kananku. Refleksku, aku langsung menuju arah suara itu berasal tanpa keraguan sekalipun.


Insting ku benar. Dapat kulihat beberapa pria berdiri di depan sebuah kontainer yang tertutup. Apa Seokjin disana??


Sekali lagi aku mencoba menelepon Seokjin.


Dan masih diabaikannya.


(Author side)


Ddrrrrtt...drrttt


"Kau yakin tidak mengangkatnya?? Kau bisa serahkan sisanya padaku." Ujar Yoongi pada Seokjin yang masih diam menodongkan pistol pada Lee Sunghyun yang sudah berlumuran darah itu. Lee Sunghyun benar-benar dalam keadaan kritis.


BRAK!!!!


suara pintu yang dibuka paksa membuat tatapan Seokjin teralihkan dan langsung membuat nya menarik senyuman miringnya.


Si pendobrak itu adalah istri nya sendiri Shin Bona. Tak lama Namjoon muncul di belakang Bona.


"Maafkan aku hyung. Ia sulit sekali ditahan."


Bona tersentak kaget saat melihat Lee Sunghyun yang ada dibelakang Seokjin dan berganti pada pistol dijemari Seokjin.


"Berani sekali kau datang ke rapat penting kami. Shin Bona." Ujar Seokjin sembari memainkan pistolnya di jemarinya dan menatap Bona.


(Kau mencari mati Shin Bona. -Yoongi)


"Apa yang kau lakukan Seokjin???!!!! Kenapa kau memperlakukan Mr. Lee seperti ini??!!!" Seru Bona panik saat melihat Lee Sunghyun yang benar-benar tak berdaya lagi.


Seokjin menatap Yoongi lalu melempar pistol itu pada Yoongi. Itu adalah isyarat bagi Yoongi untuk menghabisi siapa saja.


"Selesaikan seperti biasa. Nampaknya, aku ada urusan baru." Ucap Seokjin lalu pergi begitu saja setelah sekilas melirik tajam pada Bona.


"Kenapa kau masih disini?? Apa kau ingin seperti dia juga??" Ucapan Yoongi sontak membuat Bona kaget dan menatap Yoongi bingung.


"Pergilah. Jika kau tak ingin Seokjin semakin marah."


"Bagaimana aku bisa pergi jika ada orang kritis dihadapan ku??!!! Kumohon hentikan ini Yoongi...." Ucap Bona.


Mendengar ucapan Bona membuat Yoongi terkekeh geli.


"Aku tidak dibayar untuk menyelamatkan seseorang. Pergilah.. kau tak akan sanggup mendengar dan melihat ini." Ujar Yoongi sembari mengisyaratkan pada Jimin untuk membawa Bona keluar dari dalam kontainer.


Mau tidak mau Jimin pun menyeret Bona keluar.


DOR!!


DOR!!


tes!


(Bona side)


Deg!


Seketika kakiku melemah saat mendengar dua kali suara tembakan yang keluar dan hatiku langsung nyilu saat membanyangkan tubuh Mr. Lee yang tak lagi berdaya harus diperlakukan begini oleh Seokjin, orang yang ku kenal. Aku mencoba melepas genggaman Jimin di pergelangan tanganku dan berlari menuju Seokjin yang berjalan tak jauh dari ku. Jujur saja kini aku merasa jika aku telah bertemu dengan pria paling bodoh didunia ini. Bisa-bisanya ia seenaknya menghilangkan nyawa seseorang seperti ini. Apa ia tak memikirkan keluarga mereka yang sedih karena kehilangan?? Apa ia hanya berpikir tentang dirinya sendiri?? Harta nya?? Ego nya???


(Author side)


Setelah memaksa lepas dari genggaman Jimin, Bona langsung mengejar orang yang membuatnya kalut dari pagi buta hingga pagi yang ingin terang ini.


"Seokjin!!!!" Panggil Bona geram.


Beberapa kali Bona memanggil namanya, Seokjin sama sekali tak mengindahkan nya dan bersikap masa bodoh. Hingga tiba di tempat ia memarkirkan mobilnya ia masih tak mempedulikan dan masuk begitu saja kedalam mobilnya dan langsung pergi begitu saja.


"Hiks.... Dia pergi lagi!!! Akhh!!!" Ujar Bona kesal sembari menendang udara.


Bbbrrrrrmmmmmmmmmm...


Deg!


Tanpa diduga sebuah sedan hitam melaju dari sela-sela kontainer dan sengaja menabrak Bona hingga tubuh wanita itu terhempas dan tergeletak ditanah dengan darah yang langsung keluar dari berbagai luka disekujur tubuhnya. Wanita itu sama sekali tak berdaya dan hanya merintih kesakitan dan hanya menggumamkan kata-kata yang tak begitu jelas.


"Seokjin....."


Seokjin tak percaya apa yang dilihatnya dari kaca spion mobilnya. Pria itu langsung menghentikan mesin mobilnya dan berlari menuju tubuh wanitanya yang tergeletak beberapa puluh meter darinya.


"Bona!!!" Seru Namjoon yang memang menyusul lari nya Bona diikuti oleh Jimin dan Yoongi yang langsung berlari menghampiri tubuh Bona yang sudah basah dengan cairan merah itu.


(Ini sakit Seokjin... -Bona)


Bona tak mampu bergerak karena badannya benar-benar tak bisa digerakkan dan hanya dapat melihat Seokjin yang sedang berlari menujunya. Walau penglihatannya sedikit buram oleh air matanya, wanita itu tau jika ekspresi Seokjin tidak datar saat ini dan ia dapat merasakan jika banyak yang mengelilinginya saat ini.


"Ya!! Bona!!! Jangan pingsan!!!! Sadarlah!!!" Seru Seokjin saat tiba.


Tanpa berpikir panjang Seokjin langsung membopong tubuh Bona dan berniat melarikan Bona kerumah sakit.


"Seo..Seokjin... Hhaa...aku sakit..." Ucap Bona terbata.


"Sudahlah!!! Diamlah kau!!! Kita akan kerumah sakit sekarang!!!!" Ujar Seokjin frustasi sembari membawa Bona kemobilnya. Diikuti oleh Yoongi dan Namjoon.


(Daegu)


(Rumah sakit Daegu)


Drrrttt....


"Kenapa Namjoon??" Tanya Yongsun.


Yongsun diam menyimak ucapan Namjoon ditelepon.


"Kau bilang apa??? Bona dirumah sakit??!!! Katakan kenapa??!!" Tanya Yongsun sembari menyusun barang-barangnya dan bersiap pergi. Namun seketika tindakan nya langsung terhenti.


"Ditabrak katamu??? Aku akan ke Seoul sekarang." Ujar Yongsun.


( Bighit Hospital, Seoul)


Setelah mengabari Yongsun, Namjoon langsung menghampiri Seokjin yang duduk di depan ruang operasi itu. Mimik wajah pria itu sangat kacau dan kalut. Namjoon bahkan tak berani membuka pembicaraan.


"Lee Sunghyun sialan. Apa ia takut mati sendirian sehingga ingin membawa istriku bersama nya??" Gerutu Seokjin.


"Tenanglah hyung. Kau terlihat kacau saat ini." Ujar Namjoon.


Si sulung Kim itu diam.


Seokjin menatap kosong pada pintu ruang operasi.


"Kau benar Namjoon. Semua akan baik-baik saja." Ujar Seokjin. Namun, sepertinya ucapan pria itu tak sesuai dari yang ia rasakan.


Duk!


Namjoon kaget saat Seokjin menghantam tinjunya pada dinding rumah sakit. Seokjin bahkan menggerutu dan mengacak surainya kacau.


Grek


Seokjin sontak langsung berdiri saat dokter yang mengoperasi Bona keluar dari ruang operasi.


"Bagaimana keadaan istri saya dokter??" Tanya Seokjin.


Dokter itu tersenyum tipis seolah menandakan adanya sedikit harapan bagi Seokjin.


"Untungnya anda cepat membawa nya kerumah sakit. Istri anda mengalami luka dalam yang cukup serius dan adanya keretakan pada tulang dadanya. Bahkan saya berpikir jika ia benar-benar diambang keadaan kritis, jika memikirkan benturan yang sangat keras dikepalanya. Namun, diluar dugaan saya. Istri anda dalam keadaan stabil saat ini. Kami akan segera memindahkannya ke ruang rawat biasa."


Perkataan dari sang dokter sedikit membuat Seokjin dapat bernapas. Begitu pula Namjoon. Sedikit lega rasanya jika mendengar kabar itu.


"Terima kasih banyak dokter." Ujar Seokjin.


Dokter itu hanya tersenyum lalu pergi dari hadapan Seokjin.


Drap! Drap! Drap!


"Permisi!! Dimana Bona!!!" Tiba-tiba saja Myeongsoo muncul dan menanyakan Bona pada Seokjin. Yang menjadi pertanyaan adalah, dari mana wanita ini tau jika Bona dirumah sakit??


"Maaf, kau siapa ya??" Tanya Namjoon bingung. Myeongsoo menatap Namjoon bingung.


"Eoh!! Aku sahabatnya Bona. Min Yoongi yang memberitahukan ku soal Bona." Jelas Myeongsoo.


Namjoon menatap Seokjin seolah meminta penjelasan.


"Dokter bilang ia akan dipindahkan ke ruang rawat." Ujar Seokjin.


Mendengar ucapan Seokjin membuat Myeongsoo menarik napas lega. Wanita berkacamata besar itu beberapa kali mengucap kata-kata bersyukur.


Grekk....


Suara geseran pintu membuat Seokjin, Namjoon serta Myeongsoo mengalihkan perhatian pada wanita yang mereka tunggu.


Dapat Seokjin lihat, jika Bona masih belum sadar saat dibawa keluar dari ruang operasi. Seokjin bahkan tak mampu mengeluarkan kata-kata dan hanya mengikuti kemana para tenaga medis membawa wanitanya itu.


(Kediaman Lee Sunghyun)


Nampak Lee Minnah sedang berdiam diruang kerja suaminya, wanita itu hanya duduk di kursi yang biasa suaminya tempati sembari menatap kosong pada sekelilingnya. Hanya ia dan sekretaris suami nya Kang Hyujin didalam ruangan itu.


"Apa kau sudah menemukan suami ku??" Tanya Lee Minnah.


"Maafkan saya nyonya. Saya tidak dapat menemukan tuan Lee. Namun saya berhasil mencelakai Shin Bona." Sambil menunduk, Kang Hyujin menjelaskan apa yang telah ia buat.


Tuk


Tuk


Lee Minah nampak sedang menghela napas dan perlahan menatap pria muda yang sedang menatap kelantai itu.


"Aku bahkan meragukan apa suami ku masih bernafas atau tidak. Dadaku seakan sangat perih hingga membuatku sulit untuk menarik napas...aigoo..." Ujar Lee Minnah.


"Nyonya?? Anda tidak apa-apa???" Tanya Kang hyujin panik. Lee Minnah hanya menggeleng sembari memijit pelipisnya.


"Jika begini cara mereka ingin menghancurkan ku... Terpaksa aku akan mengambil jalan pintas..." Ujar Lee Minnah pada Kang Hyujin.


"Aku mau kau menghancurkan mereka. Mulai saja dari wanita yang kau tabrak itu."


(Bighit hospital)


Puk


"Hyung, kau harus mandi. Sedari pagi kau sama sekali belum mengganti bajumu." Tegur Namjoon.


Seokjin yang awalnya hanya melamun menunggu Bona di kamar rawat inap harus dikejutkan dengan tepukan di bahu nya oleh Namjoon.


Mau tak mau, Seokjin pun bangkit berdiri dan berniat untuk membersihkan diri.


Klek


Niat Seokjin langsung tertunda saat melihat siapa yang masuk kedalam kamar Bona.


"Yongsun noona..." Ujar Namjoon.


Tanpa basa-basi Yongsun langsung menghampiri ranjang adiknya dan melihat adiknya yang masih tertidur itu.


"Ya... Kenapa ini bisa terjadi!!??" Tanya Yongsun pada Seokjin dan Namjoon. Yang ditanya hanya diam dan enggan untuk menjawab.


Yongsun hanya menghela napas pasrah dengan keadaan yang seperti ini.


"Yaa... Ini terlalu kejam untuk mu Bona..." Ujar Yongsun pada Bona yang masih belum sadar itu.


"Apa kalian tau siapa yang menabraknya???"


"Aku sudah menyuruh Yoongi mencari orang itu. Lagi pula ini salah dia sendiri yang ikut masuk kedalam urusanku." Ujar Seokjin. Mendengar ucapan Seokjin membuat Yongsun menatap pria itu tajam seakan ingin dibunuh saat itu juga.


Bugh!


Namjoon bahkan meringis saat melihat wajah tampan Seokjin mendapat bogeman mentah dari Yongsun dengan tidak elitnya. Jika biasanya seorang wanita menampar, namun untuk versi Yongsun ia memberi kepalan tangannya untuk wajah Seokjin.


"Pria macam apa kau ini. Kau pikir Bona mau masuk begitu saja kedunia mu tanpa berpikir terlebih dahulu?? Saat ini aku tidak membunuh mu karena adikku masih bernapas. Kau bahkan tak nampak bersyukur saat ini. Aku bisa saja membawa hal ini keranah hukum Seokjin." Ujar Yongsun. Wanita itu bahkan berani mencengkram kerah kemeja Seokjin.


"Ini sama sekali bukan urusan mu Yongsun. Ia wanita ku sekarang. Hal seperti ini tak dapat kau hindari jika sudah hidup bersama ku. Yongsun, aku tau jika dia tidak begitu saja masuk kedalam hidupku... Maka dari itu, ia pasti sadar akan hal seperti ini yang akan terjadi padanya." Ujar Seokjin. Yongsun masih mencengkram kuat kerah kemeja Seokjin dan sama sekali tak berniat melepasnya.


"Ehem... Kalian akan mengganggu ketenangan pasien jika begini terus... Hyung, karena sudah ada Yongsun noona disini, ada baiknya kau mengganti baju dulu." Terpaksa Namjoon harus turun tangan melepas cengkraman Yongsun dan berusaha mencairkan suasana.


Klek


"Halo... Aku disini untuk memeriksa pasien..." Seketika perhatian langsung teralihkan pada Jungkook yang tiba-tiba datang untuk memeriksa. Tanpa mempedulikan Jungkook, Seokjin langsung pergi keluar ruangan.


"Noona, suasana hati Seokjin hyung benar-benar kacau saat ini. Aku titip Bona ya..." Ujar Namjoon lalu menyusul Seokjin keluar.


Yongsun langsung duduk dan meratapi adiknya yang sedang Jungkook periksa.


"Kau ini... Tukang bikin khawatir saja... Mau saja kau diperlakukan pria itu begini..." Ujar Yongsun. Tentu saja tak ada respon dari Bona.


"Tenanglah sunbae... Keadaan alat vitalnya semakin stabil dan aku yakin ia akan sadar dalam beberapa jam kedepan." Jelas Jungkook. Yongsun hanya diam sembari menepuk pelan punggung tangan adiknya itu.


"Bona ini adalah jenis manusia yang tak ingin mati begitu saja. Aku yakin itu." Ucapan Yongsun membuat Jungkook terkekeh geli.


(Kepolisian cabang metropolitan Seoul, Seoul)


(Divisi kejahatan kriminal)


Tuk


"Yaa... Opsir Kim, ini kopi mu. Kau melamun saja dari tadi... Apa kau tidak sadar kita sangat banyak kasus saat ini??" Seorang patner nya mengejutkan Myeongsoo dari lamunannya.


"Apa yang kau pikirkan?? Kau tidak bisa menyelidik kasusmu saat ini jika kau terus melamun." Ujar salah satu patner Myeongsoo lagi.


"Maafkan aku ketua Lee, terima kasih kopi nya letnan Park." Ujar Myeongsoo.


"Ah iya.. ketua Lee, bagaimana menurut mu jika kecelakaan mobil tidak ditempat sewajarnya??" Sebenarnya, pertanyaan yang diajukan Myeongsoo sangat membingungkan.


"Ya, apa yang kau maksud???" Tanya sang ketua divisi Lee Seungdong


Myeonsoo nampak tersenyum lebar.


"Teman ku ditabrak kecelakaan mobil tadi pagi di pelabuhan Incheon... Dan anehnya kenapa ada mobil di pelabuhan??"


Aneh ya??


"Memang nya dimana posisi temanmu ditabrak??" Tanya salah satu patner Myeongsoo.


"Untuk itu, mereka tak memberi tahu jelas padaku. Teman ku bahkan dibawa kerumah sakit tanpa menggunakan ambulans. Jadi lokasi kecelakaan ini agak aneh menurutku. Bagaimana bisa tabrak lari di pelabuhan yang notabenenya ialah tempat nya kapal atau kendaraan pengangkut lain." Jelas Myeongsoo heran.


"Memang nya mobil apa yang menabrak??" Tanya sang ketua. Myeongsoo menatap sang ketua divisi.


"Itu yang menjadi masalah. Kecelakaan ini seakan disembunyikan. Saat aku bertanya detail dari kecelakaan ini, mereka sama sekali enggan menjawab." Jelas Myeongsoo.


"Siapa nama temanmu itu??"


"Shin Bona."


(Bighit hospital Seoul)


Tak dapat dipungkiri, Seokjin memang memasang keamanan ketat disekitar kamar rawat Bona. Itu nampak dari beberapa orang-orang Yoongi yang menjaga pintu masuk. Bahkan Yoongi juga turun tangan menjaga kamar tempat Bona dirawat.


Yongsun sudah pergi dan berkata pada Seokjin akan kembali lagi pada keesokan harinya. Kini hanya Seokjin yang ada diruangan rawat inap tempat Bona berada.


"Kau ini bodoh sekali..." Ujar Seokjin sembari menatap Bona yang masih diam itu. Ini sudah malam, namun wanita itu tak kunjung sadarkan diri. Akhirnya Seokjin meletakkan kepalanya disisi ranjang Bona dan hanya menatap wajah wanita itu dalam diamnya.


["Anda seperti nya membenci wanita.."]


["Kamu bisa mempercayai ku Seokjin."]


Seokjin menarik senyum tipisnya saat kata-kata Bona terngiang kembali di ingatan Seokjin. Pria itu pun menyandarkan kepalanya di pinggir ranjang Bona sembari mencoba memejamkan mata. Ia sangat lelah hari ini dan sangat ingin istirahat.


["Seo..Seokjin... Hhaa...aku sakit..."]


Dalam pejamnya Seokjin kembali melihat wajah bona yang merintih kesakitan. Bayang-bayang kejadian hari ini yang membuat wanitanya harus mengalami sakit seperti ini membuat Seokjin sulit mengistirahatkan pikirannya.


(Seharusnya kau tak mengejarku... Apa aku yang seharusnya tak meninggalkan mu?? -Seokjin)


Terlebih, ia sangat tidak menyukai wajah kesakitan dan rintihan dari Bona. Ia merasa terus dihantui oleh ketidaknyamanan itu.


Puk


Seokjin terbangun dari lamunannya saat merasakan tangan seseorang menepuk kepalanya serta mengusap lemah surai hitam nya. Dia Bona, wanita itu siuman.


To Be Continue